Dok. Pribadi

Entah kenapa, aku sudah tidak terkejut lagi dengan keadaan sekarang dan keputusan pemerintah yang menetapkan kehidupan The New Normal. Laiknya sebuah déjà vu, aku hanya bisa menatap datar keadaan sekitarku lalu menatap nanar orang-orang yang memaki, menyumpahserapahi, mengeluh, menangis, meronta, dan mematung ketika dihadapkan dengan kondisi saat ini.

Bukan, aku menatap nanar pada mereka bukan karena ikut bersimpati dengan keadaan sulit yang mereka temui, tapi karena iba dengan mereka karena masih juga tidak menyadari hal terpenting dari hanya sekadar mengotori mulut mereka dengan kata-kata kasar yang mereka tujukan pada pemerintah. Dengar-dengar, mereka mengamuk karena menilai keputusan pemerintah ini tidak logis, pemerintah tidak tahu-menahu bahwa pandemi ini berbahaya.

Apakah mereka tidak pernah berpikir bahwa pemerintah tidak sebodoh itu? Apakah mereka pernah mencoba berpikir bahwa bisa saja diri sendirilah yang sebenarnya bodoh karena tidak mengerti situasi di lapangan yang lebih keras dan kejam dibandingkan isi kepala mereka, sedangkan mereka yang tidak tahu apa-apa hanya langsung memaki-memaki pemerintah?

Sekarang kutanya, apa mereka yang memaki pemerintah itu pernah keluar rumah untuk melihat keadaan keluarga menengah ke bawah yang ‘dapurnya kering’? Apa mareka pernah melihat pasangan suami-istri yang menangis penuh keputusasaan karena tidak bisa memberi makan bayi mereka yang baru lahir atau anak-anak mereka yang masih balita? Apa mereka tahu rasanya menjadi seorang anak yang merupakan tulang punggung keluarga dan kena PHK karena pandemi ini? Oh, atau apa mereka pernah berpuasa makan selama tiga hari atau lebih? Silakan, jawab dalam hati saja.

Sudah bisa menebak jawabannya? Sekarang mengerti ‘kan maksudku?

Aku tahu, bentuk protes mereka merupakan bentuk rasa peduli mereka terhadap negara ini juga. Namun, kalau setiap hari yang mereka keluarkan hanyalah keraguan dan cacian yang hanya menyudutkan nama pemerintah, pendam saja dalam hati. Jejaring sosial sudah penuh sesak dengan omongan-omongan yang tuduhan serta cercaan yang memusingkan pening. Tenanglah, pemerintah pasti tidak akan mengorbankan rakyatnya sendiri dan pasti akan mengusahakan yang terbaik (walaupun kau dan aku sama-sama tahu bahwa tidak semua bagian pemerintahan yang ‘betul-betul peduli’ dengan rakyat).

Tapi setidaknya unggahlah sesuatu yang menenangkan, menyenangkan, dan menentramkan hati serta pikiran, terlebih di tengah keadaan pelik ini. Jangan membuat semuanya tambah runyam. Saat inilah waktunya kita saling bergotong-royong membantu sesama. Tengoklah tetangga satu desa atau satu perumahanmu. Mungkin saja mereka sedang kesulitan. Mereka pasti akan senang jika kamu muncul di waktu yang tepat sebagai malaikat penolong. Kebaikan bisa dimulai dari hal-hal kecil dan mudah terlebih dulu.

Berbeda dari mereka yang cenderung liar, aku hanya biasa saja karena aku sudah bisa menebak ini akan terjadi. Bagaimana ku bisa tahu? Aku… seperti sudah melihat ini di kehidupan sebelumnya atau biasa kita sebut déjà vu.

Lucu, ya? Atau mungkin aneh?

Wajar kalau kalian berpikir seperti itu. Karena akupun juga terkejut ketika pertama kali menyadari bahwa aku ‘sudah pernah melihat’ ini sebelumnya. Iya, melihat pemandangan orang-orang yang memakai masker, jalanan yang tidak sepadat dan seramai dulu, pedagang kaki lima yang mencuri kesempatan berjualan di trotoar untuk menyambung hidup keluarganya (tak lupa menggunakan atribut yang dianjurkan pemerintah), dan masih banyak lagi.

Namun, berbeda dari kondisi saat ini, pada kondisi yang ada di penglihatanku manusianya memakai perlengkapan pelindung virus yang lebih rumit dan kompleks dibandingkan dengan kondisi kita sekarang.

Aku ingat sekali, ketika aku dapat penglihatan ini, aku bergumam dalam hati, “Di situ manusia pakai perlengkapan aneh banget, kayak peneliti yang mau masuk ruang isolasi. Tapi mereka udah biasa deh kayaknya. Kenapa ya, kok manusia di penglihatanku nggak aneh lagi dengan kondisi itu? Apa mungkin segitu kotornya polusi udara di Jakarta? Eh bentar, apa iya, kondisi di penglihatanku itu cuma terjadi di Jakarta aja? Jangan-jangan di penglihatanku, kondisi itu terjadi di seluruh dunia? Hmm.. Eh, ngomong-ngomong kayaknya menarik nih kalau kutulis jadi sebuah novel. Genrenya fiksi ilmiah gitu, deh. Wah, boleh, deh.”

Namun, entah karena kesibukanku sendiri atau bagaimana, ide pikiran ini tenggelam dimakan waktu dan aku sudah lupa tentang penglihatan itu. Sampai akhirnya salah seorang temanku yang bergerak di bidang peduli lingkungan melakukan diskusi denganku mengenai kondisi alam di permukaan planet Bumi yang semakin rusak karena ulah manusia. Karena diskusi yang berkualitas itu, aku jadi punya gambaran sebuah kronologi kisah dua orang tokoh utama di tengah kondisi yang sangat mengenaskan. Dua tokoh utama itu terjebak dalam suatu kerusakan alam yang besar dan di sekelilingnya banyak berjatuhan korban-korban yang berdarah-darah.

Setelah menyampaikan gambaranku itu kepada temanku, ia juga ikut menambahkan ide ceritanya ke dalam gambaran kasarku itu hingga jadilah sebuah gambaran awal dari sebuah cerita yang -sepertinya akan- menakjubkan. Kami memutuskan untuk berkolaborasi menulis sebuah novel fiksi ilmiah yang berkaitan dengan kerusakan alam. Aku dan dia sama-sama menulis, namun aku kebagian tugas sebagai penulis dan editor sedangkan dia penulis dan researcher (karena tema cerita yang kami bawa butuh banyak sekali riset dan penelitian mengenai alam, untungnya ia bersedia karena memang dia sudah ahlinya).

Namun sayang sekali, cerita itu mandek dan belum sempat kami teruskan lagi. Temanku yang sudah menyerah lebih dulu. Ia berdalih sudah tidak punya bayangan mengenai ceritanya sehingga ia menolak untuk meneruskan. Aku ingin sekali meneruskan novel itu, tapi aku tidak banyak memahami mengenai permasalahan lingkungan alam dan bagaimana solusinya. Sepertinya aku harus banyak riset lebih keras lagi seperti Dee Lestari dan karya-karyanya.

Aku berharap, lewat novel itu, pembacaku sedikit-banyak bisa benar-benar sadar (tidak hanya sekadar mengetahui) bahwa Bumi ini sedang sakit dan kita harus mengubah pola hidup kita secara total kalau tidak mau menerima ‘amukan’ alam.

Ya, seperti wabah yang sedang terjadi sekarang ini. Itu ‘kan memang sedikit-banyak terjadi karena ulah manusia yang serakah, memakan segala macam binatang. Sekalipun itu binatang liar, manusia tak peduli selagi itu bisa mengenyangkan. Padahal sudah jelas-jelas, menurut ahli kesehatan pun daging binatang liar itu berbahaya dan bisa mengandung virus baru yang akan bersarang di tubuh manusia yang bisa menular ke manusia lainnya.

Lalu entah dari mana asalnya, ketika aku sedang merenung, aku seperti didatangi pikiran bahwa kesusahan yang kini kita alami adalah bentuk kesusahan yang kita berikan kepada makhluk lain di dunia ini, sebut saja hewan dan tumbuhan. Sekarang kutanya padamu, hal baik apa yang sudah kamu lakukan untuk tumbuhan dan hewan di sekitarmu? Kapan terakhir kali kamu melakukan hal baik itu dan sudah berapa kali?

Tenang saja, aku memang bermaksud menumpahkan keresahan dalam diriku ini untuk menyadarkan kalian, mereka, dan diriku sendiri juga. Aku sedih dan menyesal sudah sedari lama karena tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan alam dan habitat hewan di luar sana karena aku tidak punya kuasa atas itu. Aku hanya titik kecil di dunia ini. Aku bahkan tidak terlihat ada jika dilihat dengan mata telanjang dari satelit Bulan.

Sekarang saatnya kita untuk berhenti menyudahi sifat serakah kita ini. Bukankah kalian juga ingin selamat dari wabah ini? Sekarang semua keputusan ada di tangan kalian, Para Manusia.

Satu tanggapan untuk “‘The New Normal’ Ini Seperti Déjà vu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s