Dok. Pribadi

Haloo! Setelah minggu lalu sempat absen satu kali, akhirnya hari ini bisa muncul kembali. Maaf yaa bagi yang menanti-nanti konten SNC ini. Terima kasih sudah menunggu dengan sabar. Hehehe..

Seperti biasa, bukan SNC namanya kalau aku hadir di sini sendirian. No. Aku pasti bawa teman dong, dan akan kuperkenalkan kepada temen-temen semua. Ia adalah seorang teman yang datang jauh, lengkapnya Zidnie Dzakya Urbayanii~

Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada ini sudah menyelesaikan pendidikan masternya di Australia. Mbak Zidnie pulang ke Indonesia dengan segudang pengalaman serta pandangannya yang menarik tentang dunia, terutama seputar ekonomi dan bisnis.

Nah, di masa ini, ekonomi menjadi salah satu bidang yang paling dirugikan. Tidak hanya aku dan kamu, seluruh dunia juga sedang menghadapi masa-masa genting. Kali ini, Mbak Zidnie yang punya ketertarikan di bidang ekonomi finansial bakalan membahasnya dengan konsep sederhana (nggak perlu yang rumit-rumit, deh. Yang sederhana aja dulu) agar lebih mudah dimengerti.

Yuk, simak obrolanku dengan Mbak Zidnie yang satu ini.

Setelah sekian purnama tidak mendengar kabarnya, akhirnya sekarang bisa ketemu lagi di sini ya, Mbak Zidniiee! Hehehe.. Sekarang lagi di mana, Mbak? Terakhir, aku tahunya Mbak Zidnie di Solo. Aman nggak di tempat Mbak Zid?

Halo, Deyo. Iya nih kangen sama Deyo dan suaranya. Sekarang kita ketemu di media yang berbeda, yaa.. Hahaha..

Iya aku di Solo sekarang. Bolak balik sih, Solo – Jogja. Alhamdulillah sekarang sudah mulai kondusif, ya. Meski awal itu Solo heboh juga karena ada orang Solo yang meninggal klaster dari seminar Bogor. 

Waduh, tapi keluarga sehat semua kan, yaa?

Alhamdulillaaaah. Karena anjuran #dirumahaja, jadi keluarga kumpul semua dan banyak habisin waktu bareng keluarga. Alhamdulillah..

Alhamdulillah, syukurlah kalau gitu. Di situ ikut lockdown juga? Atau ikut melaksanakan PSBB?

Soalnya kalau di Jakarta kan awalnya pengen di-lockdown per wilayah tuh, cuma ya sulit karena roda perekonomian negara jadi bener-bener berhenti. Sistem itu nggak bisa diterapkan ke wilayah Jakarta. Jadinya sekarang kalau di Jakarta, kita menerapkan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar, bukan lockdown, walaupun memang ada beberapa wilayah yang berinisiatif me-lockdown-kan diri.

Di Solo, sejak ada kasus pertama warga Solo meninggal dari klaster Bogor itu, Solo dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh walikotanya, Pak FX Hadi Rudyatmo, pada 15 Maret 2020. Sekolah-sekolah juga sudah libur sejak hari itu. Kantor banyak yang diminta bekerja dari rumah. 

Konsekuensinya sudah banyak warga yang tetap tinggal di rumah saja. Mall, terminal, stasiun dan tempat umum lainnya sempat sepi sekali pada pekan dinyatakan KLB itu. Daerah rumahku juga sepi sekali hahhaa..

Ah, begitu, ya.. Hmm, kalau sepi begitu, berarti jadi nggak ada kegiatan ya di daerah Mbak Zidnie.. Entah lockdown ataupun PSBB, dua-duanya sebenernya sama-sama bisa menghambat perekonomian seluruh umat, sih. Manusia butuh makan, tapi kalau nggak ada duit, ya gimana ya? Susah juga. Apalagi Jakarta, kalau disuruh bercocok tanam pun tetap nggak bisa karena udah nggak ada lahan kosong lagi. Masih mending yang di desa, kalau punya kebon sendiri sih tinggal tanam dan langsung panen aja. Makanya banyak perantau yang pulang ke kampungnya masing-masing karena udah nggak ada duit.

Kalau dari Mbak Zidnie sendiri, bagaimana Mbak Zidnie menyikapi kondisi ini (bahwa pendatang dari Jakarta akan semakin bertambah di daerah tempat tinggal Mbak Zidnie)? Hal apa yang pertama kali Mbak Zidnie lakukan ketika kondisi ini semakin parah?

Hmm, di kota Solo sendiri, sudah ada pencegahan yang sangat baik ya. Pemudik yang turun di terminal, bandara dan stasiun langsung dibawa oleh pemerintah kota ke Posko Covid-19. Di sana para pemudik akan dicek kesehatannya. Jika dirasa tidak ada masalah, maka diizinkan pulang untuk melakukan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari. 

Di beberapa kecamatan, kalau ada pemudik atau orang yang kiranya ODP tapi ngeyel (bandel-red) akan dijemput paksa oleh pihak Kecamatan dan diisolasi di Rumah Sakit Rujukan untuk Covid-19. 

Berkaca dari dari keadaan sekarang, tentu saja ini tidak hanya merugikan aspek kehidupan manusia di bidang kesehatan, tapi juga bidang ekonomi. Nah, yang mau aku tanyakan ke Mbak Zidnie ini seputar finansial, seperti yang sering Mbak Zid pernah bahas juga di snapgram mengenai finansial. Tipsnya bagus-bagus dan mencerahkan sekali. Boleh dong, bagi tips mengatur finansial versi Mbak Zidnie. Mungkin tips Mbak Zid nanti bisa bermanfaat juga bagi para ibu muda di luar sana.

Hahaha.. Terima kasih ya apresiasinya, Deyo. Aku sering bikin instastory tentang keuangan itu awalnya bener-bener cuman pengen berbagi aja mengenai apa yang aku kerjakan untuk keuangan pribadi dan di rumah tangga baruku ini. Ternyata banyak banget yang balesin di DM, mulai dari minta tolong disimpan di highlight, sampai akhirnya konsultasi. Bahkan ada yang berlanjut konsultasi di Whatsapp, loh! Hahaha..

Ternyata benar ya, aku pernah baca tulisan tahun 2019 dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa tingkat literasi keuangan Indonesia ini masih cukup rendah. Itu juga yang akhirnya bikin aku lebih giat tambah ilmu-ilmu baru biar bisa dibagi dengan teman-teman di Instagram. Karena ternyata masalah teman-teman dalam pengelolaan uang adalah mereka merasa itu ribet dan tidak penting. Padahal sebenarnya itu mudah lho dan sangat penting agar di masa-masa genting wabah seperti ini, kita masih bisa hidup dan ada uang pegangan. 

Kalau tips dari aku, baik untuk ibu-ibu manajer keuangan rumah tangga atau masih lajang seperti Deyo, adalah hidupkan 2 (dua) kebiasaan untuk mencatat dan mengalokasikan keuangan. 

Mencatat ini penting sekali loh. Sepertinya malas ya mencatat pengeluaran dan pemasukan kita? Padahal ini data yang kemudian bisa kita review nanti bagaimana kebiasaan kita untuk membelanjakan uang kita. Dari mencatat ini juga bisa tampak apakah kita menghabiskan uang lebih banyak daripada pemasukan kita. Dari catatan ini juga menunjukkan dimana kita menghabiskan uang bulanan kita. Nanti tinggal dipertimbangkan sendiri, apakah pengeluaran ini termasuk pengeluaran rutin yang harus dialokasikan tiap bulan ataukah pengeluaran itu termasuk pengeluaran tidak penting yang sebenarnya bisa ditabung.

Bagi yang suka digital, sudah banyak aplikasi di handphone yang dapat membantu kita mencatat pengeluaran kita. Bagi yang masih old school, bisa gunakan notes kecil untuk catatan pengeluaran. Intinya terletak pada kebiasaan kita untuk selalu mencatat. Dibiasakan saja dulu baru nanti dilihat bagaimana keuangan kita di bulan tersebut

Setelah mencatat dan mereview keuangan kita sebulan, yang dilakukan selanjutnya adalah mengalokasikan keuangan kita. Alokasinya untuk apa saja, Zid? Ini aku dapat dari perencana keuangan favoritku ya, mbak Prita Ghozie, bahwa kita bisa alokasikan ke beberapa pos, antara lain: 

1. Alokasi untuk hak orang lain dengan zakat infaq shodaqoh (bagi yang muslim) atau donasi (bagi non-muslim).

2. Alokasi untuk masa sekarang dengan alokasi pengeluaran bulanan

3. Alokasi untuk masa sulit dengan menabung dana darurat

4. Alokasi untuk masa depan dengan menabung dan investasi

Wah, tercerahkan sekali! Patut dicoba, nih.

Tapi aku juga jadi kepikiran nih, mbak. Di situasi seperti ini, mungkin ada beberapa temen-temen di sini yang bekerja sebagai karyawan tapi gajinya dikurangi atau bahkan tidak digaji dulu. Apakah menabung tetap menjadi prioritas di tengah keadaan kayak gini, mbak? Kalau misalkan, “Ah, bulan ini nggak usah nabung dulu, ah. Masa bela-belain nabung tapi perut keroncongan?” Kayak gitu apakah bagus? Atau gimana nih baiknya menurut Mbak Zidnie..?

Baik. Nah, Deyo, masa krisis seperti ini kembali mengingatkan kita bahwa memiliki penghasilan meski sedikit tetap harus disyukuri. Jadi ketika pertama dapat gaji, yang pertama dilakukan adalah bersyukur. Ucap Alhamdulillah.. Semoga kebiasaan bersyukur ini tetap kita lakukan usai pandemi ini berakhir, yaa..

Nah, untuk pertanyaan jika gaji dikurangi atau malah menghadapi unpaid leave, apakah masih perlu menabung, aku jawab begini ya, Deyo.

Memiliki kebiasaan mencatat keuangan akan sangat bermanfaat, terlebih di masa sekarang ini.

Bagaimana bisa, Zid?

Misal gaji kita dikurangi 30% dari bulan-bulan sebelumnya, tinggal dilihat catatan kita bulan lalu. Apakah pengeluaran bulanan rutin kita hingga 70%? Aku kasih contoh ya, misal gaji normal 5 juta rupiah dan pengeluaran bulanan pokok yang rutin untuk makan, bayar kosan, paketan internet adalah 2,5 juta rupiah. Lalu meski gaji dipotong 30% menjadi 3,5 juta rupiah, kita masih bisa hidup normal seperti bulan-bulan lalu, bukan begitu? Nah sisa uang tersebut sebenarnya masih bisa untuk ditabung sebagai hak masa depan atau dimasukkan dana darurat sebagai hak masa sulit

Bagi yang unpaid leave bagaimana, Zid?

Nah, ini pentingnya mengalokasikan uang bulanan untuk hak masa sulit dengan dana darurat.

Dana darurat ini apa sih, Zid? Kenapa dialokasikan sebagai hak masa sulit?

Dana darurat ini adalah dana yang kita kumpulkan sedikit demi sedikit dari uang penghasilan bulanan dan digunakan ketika masa darurat (saat pandemi seperti ini, atau di-PHK, atau sakit sehingga tidak bisa bekerja). Fungsinya agar meski tidak ada penghasilan, kita masih bisa hidup sesuai dengan kebutuhan pokok. 

Besaran target ideal dana darurat adalah 6 hingga 12 kali dari pengeluaran bulanan kita. Aku kasih contoh nominal ya, Deyo.

Tadi dibahas contoh pengeluaran bulanan 2,5 juta rupiah. Maka sebaiknya kita ada uang (boleh tunai, boleh di buku tabungan, intinya yang mudah diambil sewaktu-waktu), sejumlah 6 x 2,5 juta rupiah, 15 juta rupiah.

Angka 6 hingga 12 kali itu apa, Zid?

Seperti contoh di atas tadi, dengan 15 juta rupiah, kita ada uang untuk bisa hidup selama 6 bulan meski tanpa penghasilan. Nah, selama 6 bulan itu kita bisa mencari peluang penghasilan baru dengan mencari kerja atau mencoba usaha kecil-kecilan.

Lalu gimana, Zid dengan yang belum punya dana darurat tapi sekarang sudah kena unpaid leave?  

Kondisi ini mengharuskan kita untuk kembali melihat aset keuangan kita. Apakah ada tabungan? Jika ada, itu boleh digunakan untuk masa sekarang ini. Apakah ada barang-barang di rumah yang sebenarnya nggak terpakai tapi masih disimpan? Itu boleh dijual untuk menambah dana darurat yang belum terkumpul. Begitu, Deyo. 

Ooh, oke, oke. Aku paham. Tapi tadi kan kita lebih membahas untuk yang memang punya penghasilan tetap per bulannya, nah, bagaimana dengan temen-temen di sini mungkin yang mengandalkan penghasilan harian dan itu pun tidak tetap…? Contohnya seperti yang berprofesi sebagai pedagang, tukang ojek, supir angkot, buruh harian, pegiat pariwisata dan perjalanan, dan semacamnya… Ada nggak tips yang bisa Mbak Zid sampaikan buat mereka? Atau masukan lain untuk seenggaknya bisa menyemangati mereka untuk tetap bertahan di kondisi seperti ini?

Oke Deyo. Aku sebutnya freelancer ya untuk teman-teman yang pendapatannya tidak tentu. Bahkan aku juga masuk lho ke bagian ini hahaha. Karena bisnis kecil-kecilan, maka pendapatanku juga tidak menentu. Kadang penghasilan banyak sekali, kadang juga deg-deg an untuk bulanannya hahaha. Nah, bagi teman-teman freelancer dan bisnis, perlu alokasi dana darurat yang lebih besar. Kenapa? Karena ketidakpastian kita lebih besar, kan? 

Aku share yang biasanya aku lakukan ya? Sebaiknya setiap ada pemasukan, pertama kita bersyukur, alhamdulillah ada pemasukan. Kedua, kita alokasikan ke pos-pos yang tadi aku bahas. Jika penghasilan bulan ini lebih banyak dari pengeluaran pokok bulanan kita, maka silahkan dialokasikan ke alokasi masa sulit dan alokasi masa depan. Khusus untuk freelancer dan pelaku usaha, alokasi masa sulit harus lebih banyak dari teman-teman yang berpenghasilan rutin. Jika tadi dana daruratnya untuk 6 bulan, maka kita perlu sedikit lebih banyak, bisa 9 atau sampai 12 bulan. Aku kasih contoh ya, misal pengeluarannya sama, 2,5 juta rupiah per bulan. Maka dana darurat yang harus kita kumpulkan adalah 9 x 2,5 juta yaitu 22,5 juta rupiah. 

Nah, misal kondisi seperti ini, teman-teman yang berpenghasilan dari pariwisata sedang benar-benar lesu, boleh hidup menggunakan dana darurat yang sudah dikumpulkan sebelumnya. Saranku selanjutnya, selain melihat aset kita adalah melihat peluang lain untuk jadi pemasukan kita. Contoh yang kemarin aku lihat di twitter, teman-teman yang mengelola jasa penyewaan sound system kemudian membuka jasa titip belanja di pasar. Intinya menjadi kreatif dan melihat peluang, insyaa Allah ada jalan keluar. 

Okee, baik. Ini boleh dicoba, ya. Di sini kuncinya kita harus bisa bertahan. Itu ya, Mbak Zid? Duh, seketika merinding, takut karena nggak ada di antara manusia bumi yang ingin untuk berada di situasi seperti ini. Tapi kita sebagai manusia, ya kembali lagi kepada prinsip bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan dan saling bergotong royong. Situasi seperti ini nggak boleh membuat kita menyerah.

Mungkin Mbak Zid bisa sampaikan pesan buat temen-temen di luar sana dari berbagai kalangan usia, profesi, dan latar belakang…

Betul sekali, Deyo. Masa sekarang ini benar-benar bukan masa yang mudah bagi siapapun. Dan benar sekali lagi, Deyo. Mari saling bergandengan tangan. Bagi yang ada keluangan rejeki, penghasilan bulanan aman, dana darurat juga aman, maka bentuk bersyukurnya bisa dengan memberi alokasi hak orang lain yang diperbanyak. Ingat, dalam rejeki kita ada hak orang lain. Jadi saling membantu di kondisi seperti ini akan memberikan nafas bagi orang lain yang membutuhkan. 

Pesanku buat teman-teman pembaca website Deyo, kita saling mendoakan dan menyemangati, ya. Semoga kita bisa melewati pandemi ini dengan baik, sehat, selamat, dan happy. Insyaa Allah ini akan berlalu. Mungkin ini salah satu cara Tuhan mengingatkan kita untuk tetap rendah hati dan mempersiapkan masa depan (yang penuh ketidakpastian) dengan lebih baik. Semangat yaaa!!

Okee. Pesan yang timbul dari hati mudah-mudahan bisa tersampaikan juga ke hati. Terima kasih Mbak Zidnie atas tips dan semangatnya yang udah ditularkan lewat sini hahaha.. Makasih juga buat temen-temen yang udah nyimak sampai sini. Moga-moga bermanfaat dan nggak puas dengan informasi yang disampaikan. Nah, kalau kepo dan pengen berdiskusi lebih jauh mengenai finansial dengan Mbak Zidnie, bisa langsung kontak aja Mbak Zidnie melalui..

Yap, kalau teman-teman masih bingung, silakan, boleh tanya-tanya ke DM Instagram aja di zidniedzakya, ya. Insyaa Allah akan aku jawab dengan baik.

Sip. Itu dia ya, hubungin Mbak Zidnie ke situ aja. Jangan kirim pesan yang aneh-aneh kalau ingin pesannya dibalas. Wkwkkw.. Sekali lagi, terima kasih, Mbak Zidnie. Sukses buat karirnya dan sehat selalu buat keluarganya. Sampai ketemu di lain waktuu~

Sama-sama, Deyo dan teman-temaaan! Aaamiinn.. Semoga bermanfaat ya pembahasanku ini. Mohon maaf atas kata-kata yang salah. Semoga sehat, happy, dan sukses selaluu! Selamat malam mingguuu! 😉

Wow. Dari penjelasan Mbak Zidnie di atas, aku jadi tercerahkan sekali. Malah jadi tersadarkan bahwa aku masih kurang sekali dalam pengelolaan alokasi keuanganku. Tapi tenang, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Mulai bulan depan akan aku terapkan tips dari Mbak Zidnie, deh. Soalnya ini udah akhir bulan. Nanggung, dong? Hohohow.

Ohiya, hari ini juga bertepatan dengan hari terakhir puasa, yang sekaligus menjadi malam takbiran. Bagi temen-temen yang biasanya takbiran di masjid, tahun ini absen dulu, yaa. Yuk, kita sama-sama takbiran di rumah masing-masing aja dulu. Insyaa Alloh tahun depan sudah bisa takbiran di masjid bareng temen-temen lainnya dengan baju baru jugaak..

Aamiin..

Wah, udah buka puasa, nih. Aku tinggal dulu, ya. Sampai ketemu minggu depan dengan bintang tamu yang berbeda dan tema yang menarik lainnya!^^

2 tanggapan untuk “Saturday Night Chit-chat with Zidnie Dzakya | Tips Kelola Keuangan Di Tengah Pandemi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s