Aku masih diam sambil menatap lekat-lekat kedua mata wanita yang di bagian pundak dan punggungnya telah bergelantung kabel-kabel kecil, bukan hanya kabel walkie talkie sepertinya.

“Kamu kan tadi bilang bahwa kamu suka Suju, nah aku mau ngajak kamu berkenalan sekaligus berbincang dengan sang leader–”

“LeeTeuk Oppa?!” seruku, oke suaraku sudah mulai naik. Kontrol Deyo, please.

“Oh! Iya, iya, betul! Dengan dia. Kamu mau nggak? Tapi kalau semisal kamu nggak mau, kamu maunya ngobrol sama siapa, nanti aku usaha–”

“Oh! Aku nggak apa-apa kok, Eonni!” Oke, aku keceplosan manggil dia eonni. Padahal kami baru kenal! Ada bantal nggak sih, rasanya aku pengen mengutuk diriku sendiri yang bertindak di luar kendali otakku. “Nggak apa-apa, aku dari dulu suka Suju juga. Pasti seru deh ngobrol dengan LeeTeuk Oppa.” Segini udah cukup kok, nada suaraku seperti sudah mulai terdengar menurun.

“Oh! Oke, oke. Wah, kalau gitu aku hubungi LeeTeuk-ssi dulu, ya. Nanti semisal udah oke, aku datang ke kamu dan akan sampaikan kabar selanjutnya. Oke?”

Aku mengangguk-angguk antusias.

“Sip, sip, terima kasih. Kamu boleh duduk lagi, gih.”

Aku kembali duduk dan membeku di kursiku sendiri. Pandanganku kosong… Sampai detik itu aku masih menganggap staf wanita itu bohong. Ah, mana mungkin aku yang dipilih dari sekian banyak foreigner yang datang. Mustahil. Pikirku.

Aku kembali menikmati suasana ketika itu. Melihat sekumpulan orang-orang mulai menghampiri kursi mereka masing-masing. Tiga orang MC keluar dan memberikan salam pembuka. Mereka menyapa penonton dari berbagai penjuru stadion. Ah, suara LeeTeuk Oppa terdengar menenangkan dan menghangatkan meskipun ketika itu sebenarnya suasana dingin semakin menusuk.

Usai ketiga MC melakukan ice breaking, mereka kembali masuk ke backstage dan panggung kembali sepi. Langit semakin gelap (kalau di Indonesia biasanya aku menyebutnya dengan langit maghrib). Stadion itu tidak beratap, tapi tidak hujan. Syukurlah.

Aku kaget ketika penonton yang duduk di sebelah kiriku menepuk-tepuk lengan kiriku. Pandanganku mengikuti arah jarinya yang menunjuk kepada staf wanita yang tadi berbicara denganku. Aku menghampirinya.

“LeeTeuk Oppa udah setuju untuk ngobrol sama kamu. Jadi, nanti temen-temen kamu yang juga dari Indonesia ajak ngumpul di titik ini, ya. Nanti aku kabari kamu lagi 30 menit menjelang sesi ngobrolnya. Oke? Kabari temen-temenmu ya untuk selalu stand by di hape-nya.”

“Oke, terima kasih, eonni!!”

Staf wanita itu pergi. Dan aku…

….

…..

AAAKKKKKK!!!!! AKU BAKAL KETEMU LANGSUNG LEETEUK?! INI PASTI MIMPI. TAPI MANA MUNGKIN, RASA SAKIT DI KULITKU AJA SEMAKIN NYATA TERASA TANPA HARUS MENCUBIT DIRI……

 

Dan masih banyak suara-suara lainnya di hatiku yang pecah tak karuan. Ya wajar, bagaimana tidak histeris, aku datang ke sini nggak membawa niat atau rencana yang neko-neko, tapi malah ditakdirkan sama sesuatu yang di luar imajinasiku. Jangankan ngobrol, bertemu atau berpapasan dengan Idol Korea aja itu sudah merupakan anugerah. Apalagi ini, mereka memberi kesempatan kepadaku untuk ngobrol langsung dengannya, sang leader boygroup Super Junior.

Percuma nangis di tempat pun, air mataku pasti langsung jadi es batu. Hebat. Aku menyimpan hingar-bingat kegembiraanku dalam hati saja. Sebagai gantinya, aku menyampaikan kabar ini ke keluarga dan orang-orang terdekatku saja. Hahaha.. Sama halnya denganku, mereka pun mengira aku cuma membual saja. Yah, aku juga masih tidak sepenuhnya percaya dengan staf wanita itu. Kita lihat saja nanti malam.

Ketiga MC kembali naik ke panggung dan acara Dream Concert hari itu benar-benar dibuka meriah. Diisi oleh penampilan-penampilan beberapa grup yang, sepertinya, masih rookie karena aku baru pertama kali itu mendengar nama-namanya.

Waktu semakin berjalan dan sudah menunjukkan pukul 19.30. Salju turun. Tubuhku sudah beku dengan sempurna. 😀

Karena sudah kebekuan, diri ini sudah tidak kuat lagi untuk berteriak-teriak menyoraki para performer. Kerjaanku hanya mengacungkan hape dan merekam penampilan mereka yang lagunya asik. Paling lama, tanganku bertahan merekamnya sekitar dua menitan saja. Selepasnya, darah di tanganku bisa-bisa semakin beku dan nggak bisa mengalir.

Belum lagi orang Korea di sebelah kiriku masih asik teriak-teriak sambil mengacung-acungkan light stick khas grup idola mereka. Aku mah apa atuh.

Sementara sebelah kananku, asik berkutat dengan kamera laras panjang! Jepret sana, jepret sini. Zoom in, lalu zoom out. Di sela-sela kegiatan memotretnya itu, ia juga menyempatkan diri memakan camilan. Salah satunya bondegi! Baunya ya ampun, jangan ditanya. Aku sampai menahan muntah lebih dari satu jam gara-gara dia makan bondaegi panas itu. Ugh!

Omong-omong, bondegi itu ulat sutra Korea yang cara masaknya direbus. Jangan tanya bumbunya apa padaku, boro-boro nanya tentang bumbunya, lihat makanannya aja langsung assalamualaikum, deh. Ngibrit dah tuh.

Setelah bersakit-sakit dahulu, akhirnya kini waktunya bersenang-senang kemudian. Staf wanita yang tadi sore menemuiku memberikan sinyal kepadaku untuk segera mengabarkan ketiga temanku yang berpencar di berbagai titik.

Kukabari di klaster mana diriku berada dan mereka langsung stand by di depan pintu masuk klaster kursiku. Aku keluar untuk menghampiri mereka dan memperkenalkan mereka kepada si staf wanita itu. Kami pun di-briefing.

Ternyata tidak sesuai bayanganku, kukira aku dan teman-teman yang akan menghampiri LeeTeuk Oppa ke panggung. Tapi rupanya LeeTeuk Oppalah yang akan menghampiri kami, tepatnya di kursiku. Kami akan diberi beberapa pertanyaan mengenai transportasi umum, sarana dan prasarana, serta tempat wisata yang berlokasi di Gangneung dan sekitarnya.

Ini sebagai langkah untuk memperlihatkan kepada dunia luas bahwa Gangneung sudah siap untuk menerima tamu dari berbagai macam negara di penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang 2018. Ini juga sebagai penegasan bahwa Korea Selatan sudah membuka kedua tangan untuk menyambut kedatangan para turis mancanegara.

Dalam hati aku bersyukur bisa menjadi salah satu warga yang tinggal di Gangneung, tepatnya di asrama mahasiswa asing. Aku senang bisa melihat Ilham, Tiara, dan Siwi juga ikut sumringah dan antusias luar biasa. Mereka sampai berkali-kali heran dan bertanya padaku, kok bisa mendapat kesempatan super langka ini… Saat itu aku cuma bisa jawab, nggak tahu deh!

Namun, setelah dipikirkan lagi, ternyata kerudungku inilah yang membuat aku mendapat kesempatan langka ini.

Puas cekakak-cekikikan di belakang kursi penonton, kami pun segera duduk di kursi terdepan (iya, barisan pertama!) sesuai permintaan staf wanita itu.  Hanya kami berempat yang mengisi barisan itu, loh. Heuheu..

IMG_2874

Kami duduk di situ, heboh sendiri karena sangat menanti-nantikan kedatangan LeeTeuk Oppa sambil membayangkan, kira-kira LeeTeuk Oppa itu bagaimana penampilannya kalau dari dekat…?

Aku sibuk bertanya-tanya dalam hati, sementara Ilham dan Tiara sibuk menyuruhku mengeluarkan hape untuk merekam. Heuuu, boro-boro merekam video, aku lagi sibuk menenangkan diriku juga, woy-_-

Saat-saat yang dinantikan pun tiba. Aku tidak sadar dia sudah ada di dekat kami saat seorang perempuan Korea berteriak histeris hingga mampu membuat kami menoleh cepat ke arah kiri kami. Dia di sana. Aku mendapatinya sedang memakai coat putih panjang –menyesuaikan tinggi badannya yang… tinggi!– dengan rambut dicat semi oren.

Dalam satu gerakan lambat, (iya bener, ini kayak di drakor) dia menghampiri kami berempat, berdiri di hadapan kami dan menyapa! Iya, menyapa! Sambil tersenyum, dia bertanya. “Uhh, kalian kedinginan pasti, ya?”

Ilham, Tiara, Siwi menjawab cepat, “Iyaa, iya nih, Oppa/Hyung!”

Dia membalas lagi, “Tahan, ya. Pastikan kalian menghangatkan diri kalian. Oke? Bentar lagi kita mau mulai.”

Aku masih sibuk mencerna apa yang sedang terjadi. Di depanku ini siapa… dan, aku lagi di mana, sih? Kok mendadak amnesia?-_________-

Bola mataku terus mengikuti gerak-geriknya. Ia melepaskan coat putih panjang dan tebal miliknya (btw, itu coat mahal banget. Branded!), menyisakan setelan formal berupa kemeja, jas dan celana hitam. Aku baru sadar, pakaian yang dia kenakan detik itu lebih tipis dari yang kukenakan ini.

Tak lama, dia berlutut di depanku dan beberapa kali sempat memegang lutut kiriku untuk berpegangan. Dengan postur yang tinggi itu, LeeTeuk Oppa terbilang lebih kurus dari yang kulihat di TV. Kulihat jelas, bibirnya bergetar menahan hembusan angin dingin disertai salju tipis itu. Rasanya ingin kurengkuh dia. (Et, mulai bandel kamu, Yo!)

Staf wanita tadi mem-briefing Oppa dan memberi beberapa poin pertanyaan untuk diajukan kepadaku. Kita latihan sebentar dan… lancar-lancar aja, kok. Apalagi aku lebih pede ketika ada tiga teman di sisiku.

 

 

NAMUN KENYATAAN BERKATA LAIN.

 

 

Saat pengarah kamera sudah meneriakkan, “Kamera, rollingsijak (mulai)!” Oppa tersenyum ke arah kamera utama dan membuka segmen itu dengan baik. Suaranya renyah, aku suka. Memang cocok sekali dia jadi pembawa acara.

Dia menjelaskan secara singkat tentang olimpiade yang saat itu akan dilaksanakan pada Februari-April 2018.

“Acara Dream Concert ini memang untuk perayaan D-100 hari menuju hari pembuka olimpiade nanti. Dan karena dibuka seluas-luasnya untuk seluruh masyarakat di Korea, alhasil acara ini tidak hanya didatangkan oleh orang Korea, tapi juga foreigner yang datang dari berbagai macam negara. Salah satunya yang saat ini sudah bersama dengan saya, mereka adalah mahasiswa asal Indonesia yang sedang berkuliah di Gangneung. Kita langsung ngobrol-ngobrol sedikit dulu yuk sama mereka.”

Begitulah kira-kira kalimat pembukanya. Tadi aku bilang kan kalau latihannya lancar. Ketika sudah mulai acaranya, tanpa kusangka, bibirku bergetar hebat, napasku berhembus cepat, dan lidahku terasa kelu bahkan sampai gigiku terasa linu di beberapa titik. Ada apa ini? Kok mendadak begini?! Aku berteriak pada diriku sendiri.

Alhasil, ketika pertanyaan yang sama kembali diajukan kepadaku, aku banyak terbata-bata dan keliru mengucapkan beberapa kata. Konyol sekali. Itu tidak bisa dikatakan demam panggung karena lokasinya di kursi penonton, bukan panggung. Rasanya, aku benar-benar pengen nangis di tempat!

Tapi aku bersyukur, iya lagi-lagi bersyukur, karena ditemani oleh ketiga temanku. Mereka bantu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Lega rasanya. Kalau aku sendirian, pasti aku dan Oppa akan kikuk banget. Maafkan aku Oppa. Entah karena angin salju yang semakin kencang, atau karena mataku silau melihat ketampanan Oppa. Hahahha.. Dasar anak kecil.

Kupikir-pikir, angin pada malam itu memang cukup kencang. Aku baru ingat, LeeTeuk Oppa saja dari awal dia berlutut di depanku hingga akhir segmen interview itu dia terus-terus memegang lututku untuk menyeimbangkan tubuhnya yang tertiup angin juga.

Akhirnya sudah di penghujung segmen. Kami berempat ditanyai satu-persatu tentang siapa yang kami dukung dalam acara ini. Tiara mendukung Monsta X, Ilham mendukung Wanna One —of course–, Siwi mendukung Aillee, sedangkan aku? Hmm.. Aku lupa ketika itu aku menjawab apa! 😦

Pokoknya segmen interview itu ditutup dengan meriah. Hahaha.. Dominannya suara Tiara dan Ilham, sih. Aku masih membeku di tempat. Ya ampun, malu rasanya kalau ingat momen itu. Tapi momen itu selalu berhasil memotivasi aku bahwa tidak ada mimpi yang tidak terkabul kalau kita serahkan semuanya kepada-Nya.

Aku nggak pernah menyangka, doaku atas mimpiku untuk bertemu dengan anggota Suju yang kupanjatkan di bangku SMA langsung dikabulkan di awal tahun ketigaku di bangku kuliah. Walaupun nggak bertemu dengan semua member, aku tetap senang.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Korea, aku tidak tahu bahwa uluran tangan-Nya ada di setiap langkahku. Harapanku benar-benar dikabulkan dengan cara-Nya sendiri yang, tentunya, jauh lebih indah dari rencanaku.

 

Terima kasih tak terhingga kuucapkan pada-Mu. Kasih-Mu nyata kurasakan sampai detik ini. Momen ini tidak akan pernah kulupakan.

Terima kasih juga untuk Ilham karena udah nekad ngambil video pas aku di-interview meskipun pabaletot. Hahahaha..

deyo dan leeteuk

 

IMG_2840
Just wanna drop it here. The lucky girl having a lucky chair.

5 tanggapan untuk “꿈과 같은 나의 첫 드림 콘서트 (인니어 글) – Part II

  1. Sebagai pembaca, saya pun ikut deg-deg-an kak. Saya sudah berharap mendapatkan foto Leeteuk bersama kakak dengan teman. Saya berharap, pada kesempatan lainnya Kakak bisa bertemu langsung, berbincang dan tentu saja mengabadikan moment menyenangkan ini.

    Salam.

    1. Hehehe.. ngga ada foto bareng, adanya video pas lagi di-interview saja. Dan cuma saya upload di feed Instagram, kalau di blog takut jadi berat blognya. Waktu itu memang nggak sempat foto bareng, dan saya memang ngga berharap foto bareng karena angin kala itu cukup kencang dan dingin sekali. Saya malah tadinya tidak ingin mengambil video, tapi salah satu teman saya bersikeras. Alhasil videonya apa adanya sekali hahaha..
      Terima kasih sudah baca. Salam dari Jakarta.

    1. Waahh terima kasih loh sudah diingat, Kak. Huhuhu..
      Hahaha.. iya sengaja dibuat persis seperti keadaanku dulu yang jauuhh lebih deg-degan daripada yang kutuliskan di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s