IMG_2004
Foto diambil di PKKH UGM, saat sedang berjalan dengan Riski (Ketua Pelaksana) untuk menyiapkan sebuah event.

Mungkin membuat lagu tentang kasmaran di saat hati sedang hancur adalah pertanda seberapa parah kehancuran itu sendiri. Saking hancurnya, sampai dia sudah tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata menggunakan emosi yang sebenarnya. Alhasil, otaknya hanya bisa menggunakan ingatan tentang rasa senang saja saat ingin meneriakkan kesakitannya. Namun, kata-kata yang keluar malah puji-pujian terhadap seseorang. Ini parah.

Di pos sebelumnya yang berjudul Saking Galaunya, Bikin Lagu Bertema Ceria, aku sedikit membocorkan tentang inspirasi pembuatan lagu itu. Tapi sadar nggak, kalau judul dan isi tulisannya nggak sinkron sama sekali. Coba baca ulang pos itu, deh.

Nah, setelah baca, apa kalian sudah menangkap mana bagian galaunya dari pos itu? Nggak, kan? Itu karena aku berbohong di pos itu. Walaupun nggak sepenuhnya berbohong, sih. Tapi memang ada bagian yang sengaja kusembunyikan.

Barangkali saat itu, untuk berkata jujur, mulutku agak berat. Jemariku juga jadi gemetar. Tapi itu dulu. Sekarang, aku sudah punya keberanian itu. Aku sudah berani ceritakan ke kamu tentang bagaimana aku bisa dapatkan inspirasi untuk lagu ini. Sebelum ke pembahasan, sepertinya ada baiknya kalian dengarkan dulu lagunya. Ini.

 

Nah, itu lagunya. Kualitasnya tentu masih jelek. Karena perkakasnya juga apa adanya. Tapi karena aku dan teman satu timku nggak mau kehabisan akal, mau seterbatas apapun kemampuan kami, kami tetap memproduksinya dengan proses yang sederhana.

Namun, di pos kali ini, aku bukan mau membahas tentang proses produksinya, aku mau membahas tentang asal-usul terciptanya lagu ini ke kamu.

 

Hmm.. Mulai darimana ya enaknya?

Oke. Dari ini aja, deh.

 

 

Semua berawal dari berakhirnya hubunganku dengan seseorang. Um, tunggu, ini bukan sebuah hubungan yang benar-benar hubungan kekasih, ya bisa dibilang hanya hubungan dekat aja (karena aku nggak begitu mengenal dia, begitu juga sebaliknya).

Tapi karena kami berdua sudah sering bercerita dan saling berbagi mimpi, jadi aku merasa kita ini spesial dan istimewa. Persetan dengan hubungan kekasih, aku tak peduli.

Tapi ternyata Sang Waktu berkata lain. Seolah waktu berhenti di kala semua telah berakhir. Benteng mimpi-mimpi itu runtuh. Apa yang kurasakan? Banyak. Aku marah, kecewa, tidak terima, sedih, hancur, kesepian, menyesal, tidak berharga, dan berbagai macam rasa lainnya yang lahir dari ketidakterimaanku terhadap sebuah penolakan.

Kondisi ini juga membuatku pecah fokus saat kerja. Hari itu rasanya semua orang yang kutemui seperti wajahnya. Brengsek. Begitu makiku padanya, walaupun sebagian diriku yang lain juga sangat mengerti kalau semua ini sama sekali bukan salahnya.

Entahlah, aku seperti tetap harus memaki untuk mengeluarkan emosi ini. Kalau tidak, aku bisa meledak. Akhirnya, aku memutuskan untuk menumpahkan emosiku yang sejujur-jujurnya ke dalam sebuah tulisan. Random. Sangat random.

Hingga di ketikan huruf terakhir, aku baru tersadar, ya ampun! Kenapa yang kutulis malah kayak orang lagi kasmaran?

Kubaca ulang tulisan itu dan tanpa sengaja aku melagukannya. Wah, enak juga. Kayaknya bisa nih kalau dijadiin lagu.

Aku antusias. Saking antusiasnya, aku langsung mengirimkan lirik itu dan mengabarkan temanku bahwa aku sudah membuat sebuah lagu bahkan kurang dari satu jam!

Temanku yang mendengar rekaman melodi yang kunyanyikan, langsung membuatkan aransemen gitarnya. Aku senang sekali mendengar aransemen sederhana ini mengiringi suara imut khas dari temanku satunya. Secara keseluruhan, benar-benar terdengar seperti seorang yang sedang kasmaran.

Terpikirkan olehku untuk membuat video klipnya. Berhubung aku dan kedua temanku ini sedang terdampar di tiga kota berbeda, alhasil aku menggunakan video-video random yang pernah kurekam saat masih berkumpul bersama mereka di kampus kami dulu.

Tak lama, aku mendapat tawaran untuk menjadi penulis naskah dan sutradara dari drama musikal anak SMAN 24 Jakarta. Aku menyetujuinya dan malah menawarkan mereka untuk membawakan laguku di panggung drama mereka. Mereka pun mengiyakannya.

Nggak lama setelah pertemuan dengan anak-anak SMA itu, video klipnya sudah beres kubuat dan langsung kuunggah menggunakan akun YouTube kami bertiga. Kami menamai diri kami sebagai Corin Day (Cho, Rini, Deyo). Tanggal 15 November 2019 menjadi hari debut lagu kami bertiga.

Beberapa hari setelahnya, anak-anak SMA yang bekerja sama denganku mengabarkan bahwa mereka akan membatalkan penampilan mereka di acara pentas yang dilaksanakan di sekolah mereka itu. Itu semua karena waktunya terlalu singkat, sedangakan naskahnya belum selesai.

Aku mengangguk pasrah saja. Bagus juga, karena aku tidak perlu terbebani dengan naskah lagi. Kalau tidak salah ingat, waktu itu kerjaanku sedang banyak sekali. Jadi aku oke oke saja.

Nah, sesaat sebelum proyek dengan anak-anak SMA itu dibatalkanlah aku membuat pos ini. Saat itulah aku membuatnya seolah ditulis dalam rangka kerja sama dengan anak-anak SMA itu, padahal tidak. Entah disengaja atau tidak, pikiranku seolah ingin mempublikasikan lagu ini tapi tidak betuk-betul ingin menceritakan backstory dari lagu ini.

Entah kenapa, baru sekarang aku sanggup menceritakan backstory yang sesungguhnya. Lega rasanya, berasa nggak punya beban(?) Mungkin ini karena aku telah menceritakan ke seseorang yang juga mengetahui kisahku dari awal.

 

Untuk kamu yang mungkin juga sama denganku, pernah atau sedang mengalami sakit di hati, silakan luapkan saja dengan caramu sendiri. Hanya dirimu yang tahu bagaimana untuk bisa meluapkan dan melepaskan rasa sakitnya. Jangan dipendam terus, bukankah kamu bilang kamu ingin terbebas dari rasa sakitnya?

Selamat berjuang.

Satu tanggapan untuk “Backstory of ‘Kala Bertemu’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s