1534341715511

 

Selamat malam!!

Deyo kembali menyapa, nih~

Hai, kamu yang lagi asik di rumah~~ Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan. Selamat rebahan bagi para jombloers. Tenang, dengan adanya COVID19 ini jadi menyamarkan imej jomblomu, kok. Karena semua orang berdiam diri di tempatnya masing-masing, nggak ada yang ketemuan buat malam mingguan. Hahaha..

Oke. Seperti biasa, kalau sudah tiba malam minggu, ini berarti waktunya Saturday Night Chit-chaaatt!!

Edisi minggu ini (asek), aku mau bahas tentang dunia tulis-menulis dengan temanku yang juga sesama penulis. Kita menyebut diri kita sebagai penulis seenggaknya karena kita sama-sama punya blog. Kalau tamuku ini juga memang sudah menelurkan beberapa karya dalam bentuk buku kumpulan cerpen bersama penulis lainnya. Keren banget, nggak? Makin penasaran, kan?

Setelah aku cek akta kelahirannya dalam mimpi, nama lengkap dia adalah Nur Amalina Widya. Di SMA, dia akrab kupanggil Alin. Dari yang terakhir kuketahui, sampai sebelum hari perpisahan angkatan, aku dan Alin punya hobi yang sama, yaitu menulis dan nongkrong di ruang OSIS.

Hm, hobi dia sudah berubah belum, ya? Yuk, langsung aja simak obrolan kami di bawah ini. Eheheh..

 

 

Woow, akhirnya kita dipertemukan lagi di sini, Lin. Hahaha.. Gimana kabarmu? Udah lama nggak ketemu, lama nggak ngobrolin tentang drama, buku, film, musik, dan cemiwiw. HAHAHA..

  • Hai, Deyo! Alhamdulillah kabarku baik. Semoga kamu juga selalu baik ya di tengah pandemi sekarang ini.
  • Iya nih, terakhir kita ketemu di Jogja kan, ya? Walau masih banyak haha-hihi nggak jelasnya, tapi obrolan kita hari itu rasanya lebih banyak berbobot. Mungkin karena kita udah jadi ‘anak kuliahan’? LOL.

Iyaa, terakhir ketemu di Jogja! Ohiya, jadi teringat masa SMA dulu, pas kita suka nongkrong di ruang OSIS, kita suka banget ngomongin cowok, entah itu kakak kelas, temen seangkatan, atau adik kelas. Aku udah nggak begitu inget jelas sih, Cuma, di kepalaku pokoknya kita tuh sering ngejulid-in orang lain! HAHAHAH.

  • Hahahaa.. Bener juga! Dan kayaknya sebagian besar topik itu berasal dari aku, deh. Maaf ya, sering menghujani kamu dengan kisah-kisah asmaraku yang menye-menye. Tapi, toh pada akhirnya kita jadi punya banyak kenangan lucu buat ditertawakan, kan? Hihi.

Ah, iya juga ya, apalah aku yang culun pas SMA. Tiada kisah asmara yang spesial. HAHAHA!

Selepas SMA, aku juga belum pernah ikut Karawang Edu Fair. Padahal itu salah satu kesempatan untuk bisa reunian lagi bareng temen-temen SMA. Hiks hiks.. Waktu itu kayaknya kamu bilang, kamu ikut Karawang Edu Fair kan, ya? Mewakili kampus apa, Lin? Yang pasti kampusmu sendiri, kaaan? Bukan kampus doi?

  • Iya, tapi aku sendiri nggak pernah tergabung sebagai panitia KEF sih, jadi cuma ikut meramaikan stan Universitas Padjadjaran aja karena aku emang kuliah di sana, kan. Tahun-tahun berikutnya, aku hampir nggak pernah ngisi lagi. Kalau ke KEF, aku lebih suka keliling aja, jajan, ngobrol sama temen-temen SMA yang udah lama nggak jumpa. Pokoknya, selalu menyenangkan ketemu temen-temen lama!

Iya, kalau ketemu temen lama, pasti yang dibahas ya masa lalu. Hahaha.. Ah, aku sedih nggak pernah bisa ikut KEF. Huhuhu..

Tapi dari itu semua, sebenernya aku paling rindu sharing cerita tentang buku, drama, dan film ke kamu loh, Lin. Karena kamu termasuk orang yang enak banget untuk diajak ngobrol tentang ini.

Sampai sekarang, masih suka baca buku apa? Ada yang seru nggak? Aku lagi pengen baca buku yang genre romkom. Ada rekomendasi? Spoiler-in dikit, dong. Hahahaha, banyak mau banget aku.

  • Hmm.. kalau jenis buku favoritku masih seputar self-improvement. Untuk novel bergenre romkom, sayangnya aku nggak punya rekomendasi huhu. Ternyata setelah aku tengok lagi, aku nggak bener-bener punya novel yang ceritanya ‘ringan’ dan bernuansa romkom. Hm.. Malah jadi pengen baca, nih. Daripada itu, beberapa bulan lalu aku sempet baca novel bestseller New York karya Liane Moriarty yang berjudul Big Little Lies. Konflik dalam cerita ini seru karena melibatkan antar keluarga, tapi di sisi lain setiap keluarga punya problema masing-masing. Ada bumbu-bumbu misteri juga. Keren!

Hmm, boleh juga. Oke deh, nanti spoiler lengkapnya di next project aja kali, yaa? Mueheheh..

Ngomong-ngomong soal buku nih, kenapa kamu tetep baca buku? Padahal, seperti yang kita juga tahu, zaman sekarang kan udah banyak e-book. Ngapain susah-susah uang saku kamu dipakai untuk beli buku? Biasanya kan cewek sukanya beli skincare, make up, baju, atau untuk nongki-nongki cantik di kafe. Kalau pengeluaran perbulannya harus ditambah dengan pembelian buku, bukannya tambah boros?

  • Menurutku, setiap orang punya gaya atau cara nyamannya masing-masing dalam memahami sesuatu (dalam hal ini, membaca). Aku pribadi kurang suka baca e-book, kecuali memang terpaksa karena nggak bisa beli bukunya. Prefer memegang buku itu secara fisik dan membolak-balik setiap lembarnya ketimbang scrolling di layar ponsel. Memang sekarang udah marak e-book, bahkan audiobooks (mau tahu isi buku gak perlu lagi dibaca, tapi cukup didengerin! Wow!). Tapi balik lagi, senyamannya kita aja dalam memahami sesuatu. Konsepnya kurang lebih sama dengan adanya tipe-tipe pembelajar, kali ya? Ada yang lebih bisa memproses informasi lewat audio, visual, atau kinestetik.
  • Hahaha.. Iya sih, tapi kalau menurutku, masalah boros atau enggaknya, itu pinter-pinternya kita aja ngatur keuangan dan ngasih batasan ke diri sendiri. Perihal buku, kalau aku pribadi bikin aturan cuma boleh beli maksimal 3 buku dalam satu bulan, atau maksimal budget ‘jajan’ buku Rp 250.000. Kadang aku ke Gramedia sengaja bawa uang pas-pasan biar gak latah beli banyak! Hahaha.

Betul, betul. Kalau aku memang cenderung ngikutin mood, sih. Tapi walau gimanapun, membaca buku fisiknya jauh lebih nyata sensasi ‘membaca buku’-nya.

Bener banget. Harus dibatasin yaa, takutnya nanti udah habis lebih dari sejuta hanya untuk beli buku aja. Heuu.. Kalau aku sendiri termasuk yang jarang beli buku dan skincare, keseringannya makanan. Jadi duitnya berakhir di toilet. WKWKWKWK..

Oke, balik lagi. Ha-ha. Menurut kamu, emang bener ya sebuah buku bisa mengubah hidup seseorang? Kenapa bisa begitu? Padahal buku kan benda mati. Apa di setiap buku punya sisi magisnya tersendiri?

  • Hahaha.. Bisa aja!
  • Yep. Aku setuju. Sebuah buku bisa mengubah hidup pembaca, bahkan penulisnya sendiri. Setiap buku itu unik, karena buku adalah bentuk buah pikiran dan refleksi diri dari si penulisnya. Apa pun jenis buku dan isi pembahasannnya, si penulis pasti bermaksud menyampaikan sesuatu yang bermanfaat bagi pembaca. Meski ‘hanya’ lewat cerita fiksi dari imajinasi yang diniatkan untuk menghibur. Kalau muatannya cocok dengan preferensi si pembaca dan relatable dengan realita hidupnya, maka gak menutup kemungkinan buku itu menjadi salah satu faktor yang mengubah hidup si pembaca. Kayak skincare kali ya, cocok-cocokan. Hahaha.

Berarti kalau gitu, kamu setuju dengan pernyataan, buku adalah jendela dunia, ya? Dan itu berarti, Alin yang sekarang di hadapanku adalah Alin yang sedikit-banyak terbentuk dari buku yang kamu baca, dong..?

  • HAHAHA! Seharusnya begitu. Apalagi aku emang seneng baca buku seputar pengembangan diri. Tapi, gak semua bisa aku realisasikan karena, umm.. bisa dibilang, itu semua karena perbedaan pendapat atau nilai yang kuanut. Menurut penulisnya A, tapi menurutku B.
  • Alasan lain karena akunya aja mungkin yang bebal. Haha.. Sederhananya, misal, dari buku Mark Manson yang Seni Bersikap Bodo Amat, Filosofi Teras-nya Henry Manampiring maupun  buku Tak Mungkin Membuat Semua Orang Senang karya Jeong Moon Jeong disebutkan kita harus memilah mana yang benar-benar dianggap penting untuk kita pedulikan. Aku paham konsep mereka, tapi nyatanya toh aku masih overthinking juga kadang-kadang. Barangkali beberapa hal memang sepantasnya kita ketahui atau kritisi aja, jadi nggak mentah-mentah diserap dan semudah itu dilakukan semua.

Kalau gitu, aku penasaran, buku apa yang pertama kali mengubah sudut pandang kamu terhadap kehidupan dan mengubah Alin yang dulu dengan Alin yang sekarang? Konteks ‘berubah’ di sini maksudnya yaitu pola pikir loh, ya.

  • Wah, cukup banyak buku yang aku baca dan hampir semuanya meninggalkan kesan tersendiri buat aku. Aku nggak yakin mana yang bener-bener ‘pertama kali’. Tapi, waktu SMA aku pernah baca buku Mimpi Sejuta Dollar-nya Merry Riana. Di situ dia menceritakan kisahnya dengan sangat mendetail saat menjadi mahasiswi miskin di Singapura. Bagaimana cara dia bertahan, sampai akhirnya mencapai kebebasan finansial di usia 26 tahun. Dibanding filmnya, jelas yang dituliskan di buku itu lebih menggugah. Itu adalah bukti nyata siapapun bisa mendobrak beragam tantangan bila memiliki tekad dan rencana yang jelas, juga tak lupa mengandalkan Tuhan. The Answer karya Allan & Barbara Pease, Rahasia Magnet Rezeki-nya Nasrullah, dan The Life Changing Magic of Tidying Up Marie Kondo juga nggak kalah keren, loh.
  • Btw, aku juga suka buku-buku Islami. Membacanya ngasih impact buat aku untuk terus berusaha mengamalkan hal-hal baik dan mempelajari seputar agama Islam itu sendiri.

Pantas aja, kamu jago banget menulis karena memang referensi bukumu luas sekali. Ini yang kusuka. Kosakatamu juga pasti makin bertambah. Dan aku setuju, baca buku Islami nggak melulu ngebahas tentang Islam aja, tapi tentang dunia dan kehidupan. Itu bisa membuka mata kita terhadap dunia luas.

Ngomong-ngomong soal menulis, aku suka banget tulisan-tulisan kamu, Lin. Kalau aku lagi galau, blogmu jadi salah satu blog yang pasti aku kunjungi. Aku suka baca posmu yang isinya sedang gundah-gulana. Karena menurutku, yaa itu hal yang wajar dan malah bagus untuk membaca sesuatu yang serupa dengan emosi yang lagi aku rasakan. Jadi tulisanmu kayak ‘ada rasanya’ gitu. Beda halnya kalau aku lagi galau, tapi bacanya artikel berita tentang Donald Trump, atau tentang nilai tukar rupiah yang lagi anjlok. Itu kan pasti nggak nyambung banget. LOLOLOL

Nah, kalau kamu sendiri, cenderung yang suka nulis atau baca sesuatu yang sesuai dengan suasana hatimu nggak? Atau termasuk tipe yang ‘suasana hati mau bagaimana pun, selama bacaan itu adalah bacaan yang penting atau sedang viral, ya aku akan tetap baca meskipun nggak sesuai dengan suasana hati’?

  • Nope, sama kayak kamu, Yo. Tentu aku akan baca apa yang memang pengen kubaca. Isi bacaannya sebagus apapun kalau kita lagi nggak mood untuk baca itu, percuma nggak akan masuk ke otak. Menurutku sih gitu, kayak masuk kuping kanan ke luar kuping kiri. Kitanya jadi nggak enjoy. Paling kalau aku nemu bacaan yang penting tapi belum ada mood-nya, aku simpan dulu untuk dibaca nanti.

Yep, yep, yep. Sama bangeet.

Nah, semua penjelasanmu tadi kan udah memperlihatkan sekali bahwa memang kamu udah punya bekal yang cukup untuk bisa memulai karir di bidang tulis-menulis atau pernovelan Indonesia. Ada pikiran mau fokus ke pembuatan suatu karya kah, Lin? Penulis kan banyak, tapi nggak ada orang yang pandai di berbagai macam jenis karya tulis.

Sedangkan kalau kamu ini merasa punya kepercayaan diri di jenis karya tulis yang mana? Cerpen? Novel? Artikel? Iklan (copywriting)?

  • Waduh, aku nggak bisa menyebut diriku jago karena aku masih sangaaat jauh dari pro. Banyak yang masih harus kupelajari. Sejauh ini, aku belajar sendiri lewat konsep just do it. Kalau suatu hari kepikiran suatu cerita, ya udah aku tuliskan aja dan taraa.. Jadilah novel (tapi gak pernah bener-bener selesai). Ada kompetisi menulis cerpen dan temanya menarik perhatianku, aku ikut aja. Alhamdulillah walau belum pernah jadi juara, tapi ceritaku selalu terpilih untuk ikut dimuat dalam buku. Jadi kontributor terpilih gitu.
  • Ketika mau sharing sesuatu yang informatif, aku kirim artikel ke Hipwee. Pernah sekali ke IDN Times (bener-bener sekali, wkwk). Untuk copywriting, aku pernah bekerja di bidang itu selama kurang lebih tiga bulan. Ini menarik sih karena berkaitan dengan strategi atau konten marketing, tapi pengetahuanku masih minim soal itu. Jadi, nggak bisa komentar banyak. Yang pasti, aku bersyukur pernah dikasih kesempatan merasakannya 🙂

Wah, keren, Liiin! Seneng banget dengernya, kamu jadi penulis kontributor. Keren, keren.

Semisal nih, kamu lagi ada proyek menulis atau semacamnya, di tengah jalan kamu mengalami writer’s block, kira-kira apa yang kamu lakukan untuk bisa menghilangkannya? Barangkali bisa kasih tips buatku dan buat temen-temen blogger di sini juga yang mengalami hal serupa.

  • Hihihi.. Seringnya sih aku baca ulang koleksi bukuku sesuai mood saat itu. Nonton film atau drama Korea sambil ngemil, dan… beres-beres!
  • Btw, soal writer’s block syndrome, aku pernah baca artikel di laman The Guardian yang bunyinya, “Diagnosing yourself as having writer’s block, rather than just not currently writing, will make matters worse. Naming something gives it object power. People can overthink themselves into deep dark corners, and writer’s block is a good example.”  hmmm… that’s why I just do what I wanna do at that time. Nggak ada hal khusus untuk menyikapinya.

Oke, oke, I got it. Itu quotes bagus banget, nanti mau kupajang, deh.

Wah, Lin, nggak terasa udah di penghujung waktu chit-chat kita, nih. Kita akhiri sampai di sini dulu, ya. Terima kasih Lin, udah mau berbagi cerita dan pandangannya mengenai bidang tulis-menulis. Sebagai sesama blogger, jujur ini yang kubutuhkan, saling sharing biar makin kaya ilmunya.

  • Terima kasih kembali!! Seneng loh bisa kolaborasi macam ini sama kamu. Blog kamu salah satu yang kujadikan referensi kalau mau menulis sesuatu~. Terus berkarya ya, Dey! Aku yakin pernah ada yang bilang gini ke kamu, but let me tell you once again, YOU ARE AWESOME! 

Aamiin.. Thank you, Lin. Ah, sama-sama saling menginspirasi, Lin. Semangat! Ohiya, sekalian dong, kasih tahu akun media sosial kamu ke temen-temen di sini, mungkin dari mereka ada yang mau kenalan atau mau ngajakin kamu untuk membuat proyek lagi. Ye kali aja kaan..

  • Ah, iya boleh! Temen-temen bisa mampir ke Instagramku alinawdyn. Atau boleh juga mampir ke blogku, namanya A Piece of Candy. Tapi isinya belum seoke blog ini. Hihihi..

Hahaha.. Owkaayy. Sekali lagi thank you, Liiinn! Semoga kamu dan keluarga sehat selalu dan sukses terus buat karirnya. Salam buat keluarga di rumah, yaaa!

 

 

Yah, obrolanku dengan Alin tiba-tiba udah selesai aja, nggak terasa. Oke, itu dia tadi ya perbincangan aku dan Alin tentang dunia tulis menulis. Dari obrolan di atas, aku setuju banget dengan Alin di banyak poin, salah satunya adalah do what you wanna do and make you feel happy for it. Biarkan aja semuanya mengalir, jangan sampai dibuat pusing dengan masa depan yang belum pasti. Let it flow.

Yap, asalkan di setiap hal atau pekerjaan yang kamu jalani, kamu harus maksimal melakukannya. Jangan sampai dari hal yang kamu kerjakan itu, tiada satupun hal yang bisa kamu ambil. Itu artinya kamu menghasilkan NIHIL.

Seperti Alin, ketika dia dapat kesempatan untuk bisa unjuk gigi di perlombaan kepenulisan cerpen, dia kerahkan ide dan semangatnya untuk menghasilkan cerita yang terbaik yang dia bisa. Soal menang atau kalah, itu urusan belakangan. Yang penting dia sudah maksimal.

Siapa sangka, akhirnya cerpen ia tetap terpilih dan masuk ke dalam daftar cerpen yang akan diterbitkan menjadi sebuah buku bersama cerpen-cerpen lainnya.

Eits, tapi nggak cuma Alin kok, kamu juga pasti bisa. Semangaaatt!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s