한국어 글은 링크가 다음과 같이 있습니다.

꿈과 같은 나의 첫 드림 콘서트 글을 읽기

 

Masa-masa pendemic membuat aku sering flashback ke masa lalu. Begitu sudah puas flashback dengan melihat foto-foto masa lalu di galeriku, aku kembali sibuk berkutat di rumah Mas Google untuk mencari rekomendasi dorama atau film Jepang yang bagus-bagus. Tapi ternyata pelarian itu nggak mempan.

Buktinya aku kembali teringat masa lalu lagi. Banyak hal yang kurindukan dari masa lalu. Salah satunya saat aku sedang kuliah di Korea Selatan. Aku yang masih cenderung newbie dalam dunia Korea-Koreaan, begitu sampai dan melihat langsung Korea Selatan, aku cukup terkejut karena banyak sekali hal yang aku tidak tahu.

Salah satunya adalah aku belum tahu bahwa tinggal di Korea Selatan semenyenangkan itu. Diam-diam aku sangat bersyukur dalam hati yang menuruti keterpaksaanku ketika didorong-dorong teman-temanku untuk mendaftar program beasiswa pertukaran pelajar.

Iya, awalnya aku sempat angkat tangan dengan program ini. Namun, siapa sangka, menjelang hari terakhir pengumpulan berkas pendaftaran beasiswa, teman-temanku memaksaku keras untuk mendaftar. Aku ingat sekali, salah satu di antara mereka bahkan ada yang menyebut aku bodoh karena melewatkan kesempatan ini. Akhirnya, aku coba. Aku menyiapkan berkas dalam dua hari. Iya, dua hari.

Aku diterima. Mungkin temen-temen yang sudah mengikuti blog ini sedari lama juga sudah mengetahui kisahku ini. Namun, aku tidak ingat pernah mengatakan bahwa aku ke Korea Selatan dengan harapan penuh akan bertemu dengan boygroup atau girlgroup atau bahkan aktor Korea. Seingatku, aku nggak pernah berharap itu sama sekali. Bagaimana bisa? Wong, awalnya aku mendaftar beasiswa saja karena didorong. Bisa nonton konsernya langsung saja aku sudah bersyukur sekali.

Yang aku harapkan sepulang dari Korea Selatan sebenarnya adalah bisa membawa banyak cerita menakjubkan yang bisa kubagi dengan orang-orang di sekitarku. Iya. Itu saja.

Selama tinggal di Korea Selatan, bulan November 2017 menjadi bulan terfavoritku kala itu. Iya, aku dipertemukan dengan seorang idola. Bukan, bukan pertemuan biasa di mana seorang fan menunggu idolanya lewat kemudian berteriak “Oppaaa, Oppaa saranghae!!” saja, melainkan pertemuan yang diselingi obrolan juga.

Aku sempat membahasnya pada pos ini menggunakan bahasa Korea. Aku lupa bahwa aku belum pernah membahasnya menggunakan bahasa Indonesia. Jadi belum banyak yang tahu bagaimana kronologi pertemuanku dengan sang idola secara langsung.

Sebenarnya, postingan berbahasa Korea itu pun kutulis sebagai sebuah hadiah atau pos yang memang kupersembahkan untuk dosen-dosenku di Korea yang selalu mendukungku. Mereka heboh sendiri menyaksikan diriku yang nongol di salah satu channel TV Korea kala itu. Mereka bilang, mereka akan selalu mendukungku kalau tiba-tiba jadi terkenal. Hahaha.. Ah, aku rindu bercanda dan bertukar cerita dengan mereka.

Akhirnya aku berjanji kepada mereka untuk menulis pos yang benar-benar kudedikasikan khusus untuk mengenang pertemuanku dengan sang leader Super Junior. Kali ini, pos akan kupersembahkan untuk diriku sendiri di 10 tahun mendatang dan tentunya untuk temen-temen yang mengikuti blog ini.

Lagi-lagi, semua berawal dari ajakan teman. Aku diajak untuk menyaksikan sebuah konser. Temanku menyodorkan hape-nya, memperlihatkan poster konser itu.

171016-포스터최종

Aku lupa tepatnya siapa yang pertama kali mengajakku untuk menyaksikan konser ini. Yang jelas, berhubung aku suka sekali menonton acara musik seperti ini, jadi langsung aku iyakan saja ajakannya.

Aku menyipitkan mata untuk membaca tulisan hangeul dengan lebih jelas. Rupanya tidak ada bintang tamu yang menarik hatiku, kecuali CBX (Chen, Baekhyun, dan Xiumin). Iya, aku pernah sangat mengidolakan EXO. Tapi saat itu aku tidak pernah update berita tentang EXO lagi. Seketika aku merasa payah pada diri sendiri. Ah, trus ke sini mau ngapain? Nonton aja? Payah, nggak rame dong kalau nggak ngedukung siapa-siapa? Begitu ujarku pada diriku sendiri.

Sebenarnya aku tahu Aillee, Red Velvet, Sunmi, EXID, dan Monsta X. Berhubung aku juga tidak terlalu mengikuti berita mereka, jadi kupikir ya aku datang ke konser itu bukan untuk mendukung siapa-siapa, melainkan hanya untuk kesenanganku saja. Aku datang untuk diriku sendiri! Balasku pada diriku lagi.

Tiba pada hari Sabtu (4/11/2017), aku dan ketiga temanku pergi ke Terminal Gangneung untuk menaiki bus ke Kota Hwenggye. Dari situ, kita langsung ke Kabupaten Pyeongchang.

Setibanya di sana, aku tak bisa menahan gurat senyum dan perasaan bahagia di dadaku begitu melihat sekumpulan orang berbondong-bondong datang untuk menonton konser ini. Untuk foreigner, ternyata bukan hanya kami saja kok pada waktu itu.

Aku senang sekaligus sedih karena salah kostum. Di tempatku, Gangneung, sudah tidak begitu dingin. Makanya kupikir musim dingin sudah berakhir. Tapi ternyata tidak dengan Pyeongchang. Bekulah aku di situ. 😥

IMG_2831
Lihat, di belakangku pada memakai outfit yang tebal-tebal dan gelap. Aku cingcalang sendiri :)))

 

Tapi ya sudahlah, karena sudah terlanjur, mau diapakan lagi, ya kan? Akhirnya aku mencoba bertahan dengan outfit ini. Btw, ini udah empat lapis baju tebal, loh.

Aku bertanya pada Ilham, kira-kira sampai jam berapa acara ini selesai. Dia bilang, paling sampai jam sembilan malam. Oke. Bisalah pasti bisa. Hiburku pada diri sendiri.

Aku lupa persisnya gimana, yang jelas, Tiara dan Siwi berpisah dari aku dan Ilham. Kalau tidak salah untuk menukar tiket. Sementara Tiara dan Siwi pergi, aku dan Ilham memutuskan membeli Ttokpokki berkuah panas dan pedas. Huahaha..

Karena di mana-mana ramai sekali, akhirnya Ilham mengajakku ngemper di tanah. Tenang, ada alasnya kok. Ilham cepat sekali menghabiskan tteokpokkinya. Aku ketinggalan. Lihat tuh, masih utuh malah kelihatannya.

IMG_2889

Selama kami menikmati hidangan murmer ini, tidak sengaja kami melihat teman sekelas kami jauh. Aku langsung memanggil mereka. Lucu sekali, mereka berdua seperti orang hilang. Dan betul saja dugaanku, mereka memang sedang kebingungan mencari seseorang yang sudah membuat janji dengan mereka.

IMG_2796

Katanya, mereka berdua beli tiket dari orang lain yang batal untuk menonton acara ini. Aku kurang tahu apa sebutan untuk ini, yang jelas mereka jadi tangan kedua dari tiket itu. Hebat sekali, mereka sampai rela nyari tiketnya dengan blusukan di Twitter. Dalam hati aku bersyukur, untung Tiara sudah memesankan tiket untukku, yah walaupun nomor kursi kita berempat berpencar semua. 😥

Setelah mengobrol dengan mereka, tidak lama kemudian Tiara dan Siwi datang. Mereka sudah menukarkan dengan tiket aslinya. Usai aku menghabiskan tteokpokki, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke sekeliling stadion. Karena pemandangannya cukup bagus, Ilham meminta aku untuk selfie menggunakan hape-ku. Beklah, hamz~

IMG_2798_(1)

Akhirnya, setelah bosan berjalan-jalan tak tentu arah, salah satu staf berteriak kepada kerumunan penonton yang datang untuk berbaris sesuai dengan urutan nomor gerbang masuk yang tertera pada tiket. Dan kita berempat pun berpisah.

Kalau kalian bertanya, stadion apa yang pertama kali kumasuki, bukan Stadion GBK, tapi stadion Pyeongchang. Heuheu.. Yep, itu adalah kali pertama aku masuk ke sebuah stadion yang, menurutku, besar. Tapi, katanya, stadion GBK jauh lebih besar, sih. Hmm..

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di dalamnya, aku takjub, karena para stafnya sedang sibuk mengatur lighting, rehearsal, dan lain-lainnya. Umm, enaknya jadi staf, bisa bertemu dan berinteraksi dengan bintang tamunya. Tapi capek, sih. Sudahlah, menjadi penonton memang jalan ninja terbaikku. Bisa menikmati penampilan dan duduk anteng di kursi. Nggak perlu wara-wiri.

Aku menduduki kursiku dengan hikmat. Tapi lama-kelamaan kulit luarku membeku juga. Aku melipat tanganku di dada sambil berharap semoga cara ini ampuh untuk meningkatkan suhu panas dalam tubuhku. Sudah 20 menit berlalu, ternyata hasilnya nihil. Malah aku merasa semakin dingin. Oke, aku harus berdiri dan banyak gerak, mumpung di klasterku juga belum banyak orang.

Huh hah huh hah..

Begitulah aku yang sibuk mondar-mandir di deretan kursi penonton. Nggak lama, seorang perempuan paruh baya datang bersama seorang anak kecil. Mereka duduk di kursi sebelahku. Aku melempar senyum pada mereka yang dibalas senyum ramah juga. Leganya, kukira mereka akan mengurungkan senyum.

Aku berbalik menuju kursiku setelah melangkah beberapa kali lalu melihat perempuan paruh baya itu melambaikan tangan padaku. Aku menghampiri mereka cepat-cepat. Dia menyuruhku duduk lalu dia mengeluarkan suara terbata-bata. Aku nyaris tidak bisa mencerna suara itu saat menangkap satu kata yang membuatku langsung berseru, Ah! Dia berusaha bicara pakai bahasa Inggris! Aku tertawa dalam hati.

Aku langsung menjawabnya dengan bahasa Korea. Dia cukup terkejut karena ternyata aku bisa berbahasa Korea. Aku melihat garis kelegaan di air wajahnya. Ia langsung menjelaskan kepadaku apa yang ingin ia sampaikan.

Jadi, ia datang ke konser ini bertiga dengan anak dan adiknya. Tapi adiknya masih dalam perjalanan dan kursi mereka berdua terpisah dari kursi adiknya. Ia menawarkan padaku sebuah tiket dengan nomor kursi yang terletak di baris ketiga dari kursi paling depan. Itu dekat sekali dengan panggung.

Aku yang menonton tanpa keluarga pun langsung mengiyakannya. Kasihan mereka, sekeluarga tapi harus berpisah. Ketika aku mengiyakannya, sang ibu sangat senang dan bersyukur sekali bisa bersebelahan dengan adiknya.

Setelah bertukar tiket dan memberi salam pamit, aku pun pindah ke kursi itu dan beginilah nampaknya. Hmm.. kalau dari foto, panggungnya tetap kelihatan jauh, sih. Tapi beneran deh, kalau lihat secara langsung, beneran dekat sekali. Aku saja sampai bisa dengan jelas mendengar suara staf-stafnya berbicara dan lalu-lalang di hadapanku.

IMG_2844_(1)

Yah, aku sendiri lagi. Ketika itu, aku tak banyak membagikan pengalamanku lewat Instagram Story. Bisa dibilang, aku rada pelit. Aku hanya membagikan 1-2 stories saja, itu pun sebelum acara dimulai. Lagipula aku malas kalau harus sibuk sendiri menjawab DM yang masuk nantinya. Aku kan juga ingin menikmati penampilan-penampilannya dengan hikmat. Alih-alih membagikan cerita lewat Instagram, ketika itu aku berjanji akan membagikan pengalamanku ini di blog saja. Ehehe..

Aku sedang asik-asiknya mengabarkan temanku di Line ketika salah satu stafnya menghampiriku dan bertanya apakah aku bisa berbahasa Korea. Tentu aku jawab iya. Dia bertanya cukup banyak, apakah aku datang sendiri, dengan siapa saja aku datangnya, datang ke Korea untuk urusan apa, datang ke konser itu ngedukung siapa (pas ini aku jawabnya Bangtansonyeondan! Hahhaha.. dia bilang, wah sayang banget BTS-nya lagi sibuk di luar negeri dan nggak hadir di sini. Lalu kujawab Suju, tapi Suju nggak ada, adanya pun LeeTeuk tapi dia sebagai MC-nya. Akhirnya aku pasrah menjawab bahwa aku juga suka EXO. Datang ke konser ini untuk mendukung CBX juga bolehlah ya dijadikan alasan).

Setelah basa-basi yang lumayan panjang itu, akhirnya dia menyampaikan maksudnya yang sebenarnya. Dia membawaku agak jauh dari penonton lain yang sudah mulai berdatangan. Sebelum bicara padaku, dia mematikan walkie-talkie-nya. Pelan-pelan dia bilang begini,

“Gini loh, kenapa tadi aku tanya-tanya ke kamu, itu karena kamu kan berkerudung dan yang paling kelihatan wajah foreigner-nya, jadi aku berniat untuk mengajak kamu ngobrol-ngobrol dengan seseorang.”

“Dengan siapa?”

“Tadi kan kamu bilang kamu suka BTS, tapi sayangnya BTS nggak ada. Kamu juga bilang kamu suka EXO, tapi sekarang pun yang hadir cuma 3 orang. Ada Chen, Baekhyun, dan Xiumin aja. Itu pun mereka mau perform di panggung. Pasti nggak akan sempet ngobrol-ngobrol…,” wanita itu sengaja menggantung kalimatnya.

“Iya?”

“Jadi yang mau kutawarkan padamu adalah seseorang yang juga nggak kalah terkenal, kok.”

Dalam hati kataku, Presiden Mun Jaein, kah? Kalau iya, aku mau mengajukan satu permintaan. Aku pengen Korea-Indonesia bebas visa! Uh.

Aku masih diam sambil menatap lekat-lekat kedua mata wanita yang di bagian pundak dan punggungnya telah bergelantung kabel-kabel kecil, bukan hanya kabel walkie talkie sepertinya.

“Kamu kan tadi bilang bahwa kamu suka Suju, nah aku mau ngajak kamu berkenalan sekaligus berbincang dengan sang leader–”

“LeeTeuk Oppa?!” seruku, oke suaraku sudah mulai naik. Kontrol Deyo, please.

 

 

 

 

TO BE CONTINUED…

6 tanggapan untuk “꿈과 같은 나의 첫 드림 콘서트 (인니어 글)

      1. Di Seoul mbak, 2 Minggu aja aku di sana. Kegiatan Residensi ke Yonsei University, dan Severance Hospital. Oiya brp lama mbak Deyo disana? Keren ih bisa tembus pertukaran pelajar.

        Yap, ditunggu wawancara bareng Oppanya. Hehehe 😂

      2. Wah Yonseidae! 😀
        Di sana cuma 10 bulan kok, mbaak. Alhamdulillah..

        Mbak Dian tahu Super Junior, yaa? Paling suka lagu yang judulnya apa, nih?🤭

      3. 10 bulan lama loh mbak… pasti udah banyak tempat yg dikunjungi juga kan?
        Yonsei keren yah mbak, aku keliling kampusnya berasa ada dalam drama korea.. heheheh 😂

        No Other.. dulu jaman aku kuliah hits banget. Di Suju aku ngefans sm Oppa Kyuhyun dan Donghae.. wkwkwk

      4. Dibandingkan yang program S2, lebih sebentar sih mbak. Wkwkwk..
        wah belum banyak mbaak.. huhuhu
        Iyaaa Yonsei keren! Kyunghee jugaak huhuhu
        Wahahah iya emang kalau kuliah di Korea, keseharian kita berasa kayak di drama korea. Apalagi pas cinlok. Eh.

        Ah, iya No Other! Waa aku juga suka mereka berdua mbak 😭

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s