Tiara Maya

 

Ini bulan April! Baru empat hari lalu kita memperingati hari Kartini. Kalau dengar nama beliau, hanya satu hal yang muncul dalam pikiranku, yaitu tentang emansipasi wanita.

Dari awal tahun 1900an, Indonesia sudah sepakat menetapkan tanggal 21 April sebagai harinya wanita, tapi apakah para wanita atau perempuan Indonesia sudah mendapatkan hak yang setara dengan laki-laki seperti yang dulu digaung-gaungkan?

Kayaknya nggak perlu sibuk merepotkan diri dengan mencari tahu kebenarannya melalui artikel, kamu bisa dengan mudah menengok kanan-kirimu. Apakah kamu atau perempuan di sekitar kamu sudah cukup mendapatkan haknya?

Kalau di lingkunganku, masih banyak perempuan yang pikirannya terkungkung dalam ideologi kuno. Rasanya, hari Kartini menjadi kisah yang usang dan tak punya arti kalau begini keadaannya.

Daripada resah sendiri, malam ini, aku akan ajak kamu, kamu, dan kamu yang di sana untuk nemenin aku ngobrol dengan temanku semasa kuliah di Korea dulu, Tiara Maya Azizah Yoga Nusantaraaaa…

 

 

Tiaraa, gimana kabarnyaaa? Lagi kuliah di Korea, ya? Ambil pendidikan dan jurusan apa, nih?

  • Baik, Yooo! Iya nih, sekarang aku ambil ekstensi pendidikan Strata I di Korea. Jurusannya Korean Language and Literature atau Sastra dan Bahasa Korea.

Uuuww, di Univ mana tuh? Kotanya oke?

  • Pernah denger Ewha Womans University? Yap, sekarang aku lagi menempuh pendidikan di situ, tepatnya di Kota Seouuul!

Wow! Waahh, anak ibu kota Korea, nih. Hahaha. Gimana keadaan di sana? Aman?

  • Keadaan di sini, meskipun lagi merebak virus corona, syukurnya masih tetap aman dan terkendali, Yo. Pemerintahnya proaktif.

Syukurlah kalau gituu. Btw, kamu udah berapa lama di sana, Tir?

  • Aku di sini udah sekitar delapan bulanan, nih! Kalau dipikir-pikir, nggak kerasa juga ya, aku udah mau satu tahun aja di sini.

Orang tua dan keluarga, gimana? Komunikasi tetep berjalan lancar?

  • Iya, dong. Komunikasi sama orang rumah memang harus selalu lancar. Karena kalau saling komunikasi, nanti entah aku atau keluargaku akan mengkhawatirkan satu sama lain. Untungnya keluarga selalu memberi kabar tentang kondisi di Indonesia, mereka syukurnya baik-baik aja.

Selama self-quarantine di sana, kamu pasti ‘kan banyak menghabiskan waktu di asrama dong, ya kan? Apa aja tuh yang biasanya kamu lakukan untuk mengisi waktu kosong?

  • Selama self quarantine ini, aku menjalani kuliah online, karena kebetulan kampus memberi kebijakan kuliah online selama satu semester. Nggak cuma kuliah yang pakai cara online, kerja part time-ku juga dilakukan secara online, bersyukur juga karena kerjaanku bisa dilakukan di rumah juga. Di luar kuliah dan part time, palingan aku baca buku, artikel, Netflix-an gitu, sih.
  • Ohiya, aku mau sedikit bagi cerita, nih. Aku lagi suka banget sama Jo Namjoo, beliau ini penulis novel Born 1982, Kim Jiyoung. Bukunya juga sempat difilmkan, loh! Mungkin kamu pernah denger atau pernah menontonnya, Yo! Yang main itu Jung Yumi dan Gong Yoo. Mereka dipasangkan lagi di film ini setelah sempat dipertemukan di film Train to Busan. Penulis Jo Namjoo ini sering banget mengangkat isu feminisme di Korea ke dalam bukunya. Karena memang aku tertarik dengan woman studies dan feminism, jadi artikel yang kubaca juga kebanyakan tentang perempuan dan feminism. Entah kenapa aku akhir-akhir ini aku tertarik ke situ, Yo.

Ulalaa.. Kamu seorang feminis, rupanya (pake gaya bicaranya Miss Ums wehehe). Ngomong-ngomong soal feminis, menurut kamu, feminisme itu apa, sih? Dan bagaimana tanggapan kamu tentang pernyataan, “laki-laki lebih superior dibandingkan perempuan”?

  • Wahahah.. Aduh pertanyaannya nggak ada yang lebih berat lagi, nih? LOL
  • Mmm.. Aku juga sebenarnya masih termasuk awam banget mengenai feminism ini, masih harus banyak cari tahu juga. Tapi sepemahamanku, feminisme itu sebuah gerakan yang, of course, dilakukan perempuan untuk memperjuangkan suaranya demi mendapatkan hak yang setara dengan laki-laki. Hak disini maksudnya adalah sesuatu yang memang sudah sepatutnya seorang individu dapatkan dalam kehidupan sosial di masyarakat, seperti hak untuk mendapat kesempatan kerja, belajar, hingga bebas berpendapat setara dengan laki-laki.
  • Nah, kalau tentang laki-laki lebih superior dibandingkan perempuan.. Mm, gimana ya.. Aku sendiri kurang setuju atau bahkan tidak setuju sama pernyataan itu. Karena kalo laki-laki dikatakan lebih superior, secara otomatis perempuan berada di bawahnya, dong? Lantas, karena laki-laki lebih superior, kesempatan dalam hal apapun akan lebih banyak didapatkan oleh laki-laki daripada perempuan. Tentunya ini nggak adil banget, menurutku.

Menurut kamu nih, Tir, apa perempuan zaman sekarang perlu untuk mempunyai karakter feminis dalam dirinya?

  • Menurut aku, perlu. Setiap perempuan perlu punya karakter feminis, kenapa? Agar mereka tahu saat mereka sedang diperlakukan tidak baik, oleh laki-laki maupun sesama perempuan. Dan juga, supaya perempuan bisa punya kekuatan dalam dirinya sendiri untuk mempertahankan haknya sebagai sesama manusia juga.

Hmm, ini menarik, nih. Soalnya gini, kalau yang aku lihat di lapangan kan belum semua perempuan punya karakter feminis dalam dirinya. Ini ke depannya, menurutmu, bakal jadi masalah nggak? Dari yang kamu sebutkan tadi, masalahnya akan separah apa?

  • Nah! Ini perempuan, di Indonesia lebih tepatnya, aku lihat banyak yang belum punya karakter feminis dalam dirinya. Cukup sedih juga pas tahu kenyataan ini. Karena jelas ini bakalan jadi masalah ke depannya.
  • Aku pernah baca salah satu postingan di Twitter, salah satu mutualku bercerita tentang temannya yang mengalami pelecehan seksual secara verbal tapi orang ini nggak menganggap hal itu sebagai pelecehan seksual secara verbal. Nah, kalau perempuan nggak sadar mereka dilecehkan secara verbal, maka pelecehan seksual secara verbal itu nantinya akan dianggap hal yang lumrah, hal yang biasa dan akan menjadi hal yang wajar.
  • Meskipun sekarang ini memang masih dianggap lumrah atau dianggap ‘bercanda’ tapi ke depannya bisa semakin parah. Lingkungan di sekitar pun akan menjadi ikut-ikutan menganggap ini hal yang lumrah dan bisa dijadikan bahan candaan. Dan yang menganggap ini hal yang lumrah nggak hanya dilakukan oleh laki-laki, tetapi juga perempuan!

Nah itu dia. Aku juga kepikiran tentang pernyataan “perempuan menindas sesama perempuan lainnya.” Kita bisa temukan ini pada kasus pada peristiwa pemerkosaan, yang mana malah kebanyakan orang menuding dan menyalahkan si korban (perempuan) sebagai orang yang mungkin menikmati atau mungkin juga menuduh korban berpakaian minim. Gimana pendapat kamu tentang ini?

  • Wah, kalo di Indonesia, nggak dipungkiri juga sih, victim blaming (tindakan menyalahkan korban) pada kasus pemerkosaan itu hal yang sangat sering terjadi. Padahal seharusnya korban pelecehan seksual itu kita rangkul, kita bantu untuk bangkit. Kalau masalah disalahkan karena pakaian yang menyebabkan pelecehan itu aku sangat tidak setuju. Seminim dan seseksi apapun pakaian yang kita pakai, kalau orang yang lihat tidak punya pikiran aneh-aneh atau sanggup menahan pikiran kotornya, besar kemungkinan pelecehan seksual nggak akan terjadi.
  • Lalu untuk korban yang disalahkan  karena dia terlihat seperti orang yang menikmati hubungan seksual itu juga salah. Seseorang bisa aja menikmati berhubungan seksual atau hal-hal seksual lainnya tapi itu tidak kemudian membuat orang lain bisa melakukan hal tersebut tanpa izin dari orangnya sendiri alias paksaan. Kalau konteksnya sudah tanpa izin dan memaksa seperti ini, ya jelas ini merupakan pelecehan.

Sedih banget jadinya ya, ternyata kaum kita sendiri pun belum bisa untuk merangkul dan membantu sesama perempuan yang tertimpa kasus pelecehan ini. Lalu menurutmu, bagaimana solusinya untuk bisa menanamkan karakter feminis ke dalam diri seorang perempuan atau ke banyak perempuan sekaligus dengan tanpa terlihat terlalu menggurui atau menghina? Sebab terkadang perempuan, bahkan aku sendiri pun, ketika ada orang yang menegur tuh nangkepnya jadi seperti digurui banget. Dan malah jadi terkesan menutup telinga.

  • Kalo aku biasanya, nggak akan langsung memberi tahu soal feminisme dan lain-lainnya ke temen-temen sekitarku. Biasanya aku mulai dari ngobrol-ngobrol cantik dengan topik ringan soal perempuan gitu, jadi mereka nantinya tertarik. Nah, kalau udah mulai tertarik dan obrolannya semakin dalam, kita akan semakin banyak bertukar pikiran. Dan nantinya mereka pun akan cari tahu sendiri usai menyudahi obrolan itu. Nanti kalau ada kesempatan untuk bertemu atau ngobrol lagi pun, topik ini bakal dibahas lagi.
  • Beda halnya jika untuk orang yang nggak kukenal dekat, biasanya aku menegur pakai fakta dari jurnal maupun artikel. Aku sendiri sih sebenernya tipe yang jarang negur orang yang nggak aku kenal, karena ya itu tadi, nggak mau dianggap menggurui.

Oke. Dari kamu sendiri, langkah-langkah konkrit apa aja yang udah kamu terapkan di kehidupan sehari-hari? Misal, kamu dan pacarmu ada pikiran buat nikah, trus kamu menetapkan benteng besar sebagai penekanan bahwa kamu pun berhak untuk bekerja dengan catatan harus tetap menomorsatukan urusan rumah tangga. Nah, kalau yang belum lama ini kamu lakukan, ada langkah apa aja?

  • Untuk sekarang, aku udah nerapinnya sama pacarku kayak semisal ada suatu hal yang aku bisa lakukan sendiri, aku nggak akan minta tolong ke pacar selagi aku bisa. Yaa bisa dibilang, nggak pengen bergantung sama doi lah. Aku juga selalu menegaskan ke doi bahwa aku juga butuh waktuku sendiri, I need my own space. Selain dating time, aku juga butuh me time, dong. Untungnya pacarku udah mengerti itu. Aku juga bukan tipe yang mau dikasih stempel ‘milik’ sama pacarku karena diriku ya milikku sendiri dan milik Tuhan. Soalnya kalo aku dikasih stempel ‘milik’ sama pacarku, kalau di aku tuh kesannya kayak aku adalah salah satu ‘barang’ kepunyaan doi gitu makanya nggak mau ada stempel ‘milik’ gitu, deh. Aku ya aku, dia ya dia.

Iya sih, ya. Semakin dewasa, kayaknya kalau stempel ‘milik’ itu berasa kita kayak ‘barang’ gitu, loh. Kalau pas jaman masih cinta monyet dulu sih, masih okelah.

Ohiya, sampaikan dong harapanmu buat perempuan-perempuan Indonesia, terutama mungkin harapanmu buat perempuan yang belum bisa mendapatkan haknya sebagai seorang manusia berjenis kelamin perempuan yang belum ia dapatkan sampai detik ini.

  • Duh apa ya, sebagai perempuan, yaa.. Buat kamu, perempuan Indonesia, entah nantinya kalian akan jadi wanita karir atau ibu rumah tangga, aku berharap kalian semua tetap memperbanyak dan memperkaya ilmu melalui bacaan tentang berbagai hal terutama tentang perempuan dan hak-haknya. Dengan membaca, kalian akan banyak tahu, kalian tidak akan diremehkan dan dipandang sebelah mata.
  • Jika bukan kita yang memperkaya diri kita sendiri, lantas siapa? Jika kita kaya akan ilmu pengetahuan, maka tidak akan semudah itu orang lain meruntuhkan dan merampas mimpi serta hak kalian. Kalian, perempuan Indonesia, adalah pahlawan bagi diri kalian sendiri.

Aamiin. Wah, keren kata-katanya, Tir!! Duh, jadi merinding aku, nih.

Yaah, nggak terasa udah di akhir perbincangan nih, Tir. Sekalian dong promoin media sosial kamu atau kasih tahu ke kita projekmu yang sudah atau sedang berjalan biar temen-temen juga bisa hubungi kamu buat kasih dukungan. Kali aja bisa jadi tambah semangat gitu, loh.

  • Ohiyaaa! Untuk projek, belum ada sih karena sedang dalam tahap berpikir langkah yang tepat untuk menyampaikan pikiranku tentang feminisme  tanpa terkesan over-agresif tapi juga nggak terkesan lembek. Tapi aku sering membahas soal feminisme juga sih di akun media sosialku meskipun nggak terlalu aktif karena lebih aktif di koran kampus. HAHAHA..
  • Tapi siapa tahu ada yang tertarik buat ikut gabung membahas tema serupa denganku, bisa follow aku di Instagram Tiara Maya (@trmyn), yaaa. Sampai ketemu di sana, yeoreobuun!

Gils, giiils, feminis sejati. HAHAHA.. Btw, makasih banget udah mau bersedia kuajak chit-chat di sini yaa, sukses terus buat karirnya di sanaa.. Jaga kesehatan!

  • Dengan senang hati, Yooo. Aaamiin.. Makasih doanyaa, kamu juga semoga sukses buat karirnya. Sampai ketemu di lain waktuu~

 

Ngobrol dengan Tiara, membuat aku semakin yakin bahwa memang Indonesia masih krisis perhatian terhadap perempuan. Kejadian di lingkungan Tiara dan lingkunganku menjadi saksi dan buktinya.

Bagaimana pun juga, topik mengenai ini nggak akan pernah tuntas karena kasusnya begitu luas dan kompleks. Dari workshop yang pernah kuhadiri juga menjelaskan bahwa suara perempuan masih kecil, begitupun dengan haknya.

Bicara mengenai hak perempuan dalam kasus pelecehan seksual pun rasanya satu hari saja nggak cukup. Ini menarik. Mungkin di lain waktu, tema yang serupa akan kuangkat lagi dengan tamu yang berbeda.

Hmm…

Kebanyakan baca artikel, jadi lapar lagi, nih. Padahal tadi udah makan pas buka puasa 😥

 

 

Artikel terkait:

http://www.balairungpress.com/2020/04/corak-domestifikasi-perempuan-dalam-sistem-politik-indonesia/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s