img_1034

Kalau ada orang yang bertanya, “Siapa orang yang paling kurang kerjaan di dunia ini?”, mungkin aku akan dengan lantang menjawab, “Aku!!” karena belakangan ini aku banyak mengerjakan hal yang tidak berduit.

Bicara soal uang, banyak orang yang memang melakukan atau mengerjakan sesuatu karena, of course, duit. Tak terkecuali dengan aku. Selepas aku menginjak usia 20-an, segala hal dalam hidupku bermuara ke satu kata, duit.

Tidak ada yang salah dengan itu. Manusia yang hidup memang untuk bertahan. Dan untuk bisa bertahan di dunia yang kejam ini, manusia perlu makan. Sedangkan di era ini, makanan bisa diperoleh setelah kamu memberikan duit kamu ke penjual makanan tersebut. Dari situ kita bisa tahu, manusia butuh duit.

Lalu bagaimana caranya untuk bisa menghasilkan duit?

Ya caranya adalah kamu, aku, kita semua harus bekerja. Makin keras kerja kita, makin banyak duit yang bisa kita hasilkan.

Oke. Berarti kuncinya kerja keras, ya?

Iya. Aku tahu, tidak hanya aku saja yang bekerja keras, kamu, dia, mereka, kita semua pun bekerja keras di bidang pekerjaan kita masing-masing. Saking kerasnya, sampai ada yang abai dengan jam istirahat dan jam makan, hingga abai terhadap kesehatan dirinya sendiri.

Ada juga yang saking kerasnya bekerja, sampai merasa jenuh dengan semua pencapaian yang telah diraih di tempat kerjanya. Mungkin ada yang punya pikiran untuk menghilangkan kejenuhan ini tapi tidak tahu caranya.

Ada juga yang karena jenuh, sampai berniat untuk resign. Rela mencari tahu bagaimana cara resign yang baik hingga berkali-kali mencari alasan untuk meyakinkan diri bahwa ini adalah saat yang tepat untuk resign melalui video-video yang dibuat Tim Satu Persen, misalnya.

Dan masih banyak lagi. Tapi aku yakin, kamu tidak termasuk. Ya, kan?

Di antara dari tipe-tipe yang tadi kusebutkan, aku pernah merasakan semuanya. Kita mungkin pernah atau malah sedang merasa tidak betah di tempat kerja kita yang sekarang, atau merasa jenuh, padahal posisimu di tempat kerjamu sudah aman dan mapan.

Tapi, kira-kira kamu bisa menebak nggak, kenapa hatimu tiba-tiba merasa gundah, tak tenang, sedih, marah, dan berbagai macam emosi lainnya..?

Sekarang aku mau kamu bertanya pada dirimu sendiri, kapan terakhir kali kamu membuat dirimu bahagia? Yakin sudah bahagia? Bagaimana cara kamu membahagiakan dirimu sendiri? Tapi kenapa masih ada keganggalan di hati? Atau jangan-jangan, pergi ke mall, nonton film di bioskop, jalan-jalan ke Kota Tua, nongkrong di kafe, dan shopping itu bukanlah solusinya..?

Tenang, jangan khawatir. Aku juga pernah di posisimu, dan itu sungguh sangat memuakkan. Duit habis, tapi hati masih belum tenang. Ujung-ujungnya kamu menyadari, menghambur-hamburkan duit dengan tidak jelas tidak menghasilkan apa-apa.

Tadi kukatakan padamu bahwa aku pernah di posisi itu, bukan berarti aku sedang di posisi itu. Sekarang, aku sudah sembuh, dan tentunya lebih bahagia! Saking bahagianya, selalu muncul ide baru dalam otakku. Kamu juga ingin seperti ini?

Karena aku pernah di posisi ini, tentu aku tidak diam saja, yang aku lakukan adalah mencari tahu jawabannya lewat internet. Aku berselancar di ‘rumah Mbah Google’ sampai akhirnya aku dipertemukan dengan Satu Persen.

Dari banyaknya video yang kutonton di Satu Persen, aku menyimpulkan satu hal. Kamu tahu, apa jawaban yang kudapat? Sederhana. Inginnya diriku adalah menulis. Iya, aku cinta menulis dan ketika itu aku sudah lama sekali tidak menulis.

Akhirnya kuputuskan untuk mulai menulis lagi. Tema yang kubawa adalah tentang jurusanku, Bahasa Korea. (Kamu bisa scroll down postingan di blog ini, ya.) Setelah puas, akhirnya kupublikasikan dan kubagikan link blogku kepada teman-temanku.

Dan reaksinya, WOW! Mereka suka dengan tulisanku. Aku baru sadar, inilah yang selama ini aku cari.Sejak satu postingan comeback itu, akhirnya aku memberanikan diri untuk meramaikan blogku lagi, mengisinya dengan konten-konten yang aku suka.

Menulis memang segalanya bagiku. Rasanya otakku akan meledak kalau tidak menulis. Sama seperti manusia yang akan menjadi gila jika tidak bersosialisasi dengan manusia lainnya. Ya, itu karena manusia adalah makhluk sosial. Otak manusia selalu bekerja dan menghasilkan pemikiran-pemikiran baru setiap harinya.

Selain blog, kegiatan menulis yang sudah lama kulakukan sejak kecil ini juga menghasilkan karya lainnya. Itu karena menulis merangsangku untuk semakin kreatif, membuatku mempelajari bidang lain yang masih linier dengan hobi menulisku. Beberapa di antaranya adalah…

 

1. Bidang Akting

Saat SMA, aku tergabung dalam tim penulis skenario dan penyusun konsep Musikalisasi Puisi Percakapan Tentang Mati (sayangnya penampilan timku ketika itu tidak terekam karena tidak siap kamera) bersama dengan teman baikku, Azhara Ramadhanti Widodo.

Teatrikal Puisi Percakapan tentang Mati
Sesi foto bersama dengan Bu Lati Indriani (Guru Bahasa Indonesia) dan anak-anak TEXAS.

Dalam pentas Teatrikal Puisi itu, aku juga ditawarkan Azhara untuk ikut mengambil peran sebagai tokoh Ibu dalam skenario yang kami buat. Si Ibu disiksa di neraka oleh para malaikat. Ini pertama kalinya aku mengeluarkan bakat aktingku. Ternyata memerankan peran orang lain itu menyenangkan!

Selain itu, aku juga berpartisipasi dalam penyusunan konsep Drama Pagelaran Budaya (kelas X) dan Drama Musikal (kelas XI). Kali ini fotonya nggak kusertakan, ya.

Karena pernah berkutat di bidang ini, sekarang aku jadi suka sekali menonton teater atau seni pertunjukkan drama secara langsung. Mulai dari sini, aku juga menyadari, betapa menyenangkannya untuk sejenak menjadi orang lain.

 

2. Bidang Promosi (Iklan)

Belum beranjak dari masa SMA, aku juga berpartisipasi dalam pembuatan iklan tokoh. Timku ketika itu memilih Pak Soekarno sebagai tokoh yang akan kita iklankan. Iklan Soekarno ini digarap bersama empat temanku yang lainnya. Penghargaan terbesarku saat itu adalah ketika guruku meminta file iklanku. Katanya untuk disimpan sebagai arsip pribadinya.

Esok harinya, aku kaget ketika aku baru tiba di sekolah, ada temanku dari kelas lain yang mengucapkan selamat kepadaku secara tiba-tiba. Mereka bilang katanya mereka ikut takjub dengan iklan yang kubikin itu. Bahkan ada yang merinding dan sampai meneteskan air mata saking nasionalisnya hati mereka.

Usut punya usut, ternyata guruku itulah yang menayangkan videoku ke kelas-kelas lainnya. Alhasil ketika itu, sekitar tiga bulan aku dan teman sekelompokku jadi bahan pembicaraan angkatanku.

Kalau ditonton lagi sekarang, tentu video ini jauh dari sempurna. Tapi pada masanya ini adalah karya terbaikku. Semenjak merilis video ini, aku menyadari, membuat konten di YouTube yang sesuai dengan karakter kita itu sangatlah menyenangkan. Di masa lockdown ini, sepertinya membuat konten  YouTube bukanlah ide yang buruk.

 

3. Bidang Marketing Digital (Freelance sebagai Copywriter)

Beranjak ke jenjang yang lebih tinggi, tepatnya ketika aku kuliah, masa ini adalah masa pertama kalinya aku bekerja. Posisiku saat itu adalah copywriter.

Aku kuliah nyambi bekerja dengan membuat artikel pemasaran produk kesehatan. Aku melakukan pekerjaan ini bukan melihatnya dari upah, tapi aku melihat ini sebagai kesempatan sekaligus pengalaman berharga untuk bekal di kemudian hari.

Pengalaman pertama sebagai copywriter juga menyadarkanku bahwa nantinya dunia kerja adalah dunia yang serius, bukan main-main. Jadi aku bekerja di sini juga serius. Walaupun begitu, aku juga menganggap ini sebagai pelepas jenuh dari kegiatan kampus.

Bermodalkan pengalaman ini, aku jadi punya gambaran bagaimana baiknya memasarkan produk melalui platform website atau akun media sosial terutama pada bagian penulisan caption. Sedikit banyak, ilmu ini bisa kumanfaatkan untuk kepentinganku sendiri.

 

4. Bidang Jurnalistik

Di kampusku yang terletak di Jogja, aku ikut pers kampus dan terdaftar sebagai anggota Tim Redaksi yang kemudian naik jabatan menjadi Tim Editor. Aku menikmati sekali masa ini. Bahagia sekali rasanya bisa berdiskusi dengan tim untuk membicarakan tema, bertemu dan berbincang dengan narasumber, menyaksikan peristiwa penting, dan mendapat kartu PASS untuk memasuki acara-acara berbayar. Menarik, bukan?

Tak hanya di Jogja, aku pun ikut organisasi pers kampus ketika aku sekolah di Korea Selatan. Saat itu aku lulus dan terdaftar sebagai Tim Redaksi Koran Berbahasa Korea. Sebenarnya aku juga tertarik untuk masuk ke Tim Radionya, tapi setelah kupikir lagi, aku pasti akan kikuk kalau harus siaran berbahasa Korea. Jadi kupilihlah untuk masuk Tim Koran Berbahasa Korea.

img_4800
Hari Perpisahanku dengan Tim Redaksi Koran Gangneung-Wonju National University. Huhu.

 

5. Bidang Penyiaran Radio (Program Spesial)

Di akhir masa-masa kuliah, aku terlibat dalam proses penulisan skenario drama di Radio PPI Dunia. Projek pertama adalah drama bergenre roman-komedi yang berjudul Warung Kopi Mpok Midun, dan yang kedua adalah film radio bergenre misteri-semihoror yang berjudul Leony: Temani Aku Bermain yang kugarap ketika aku sudah bekerja di salah satu cabang perusahaan yang terletak di Jakarta.

Dua projek ini sengaja kubuat supaya semangatku dalam menjalani hidup kembali muncul. Walaupun yang kukerjakan menjadi bertambah sebanyak dua kali lipat, tapi alih-alih mengeluh, aku malah tersenyum-tersenyum ketika sudah tiba waktunya jam pulang kerja. Tidak sabar untuk kembali berkutat dengan laptopku lagi.

Tiba di kosan, aku harus bekerja lagi, menulis naskah dan mengedit audio yang telah siap di database. Saking gemarnya membuat projek ini, empat jam yang sengaja kuluangkan untuk mengerjakan projek ini selalu tidak terasa lama.

Ini juga yang menghidupkanku kembali dari kejenuhanku dengan kuliah dan kejenuhanku dengan pekerjaan. Bagi yang penasaran, bisa cek audio trailernya di sisi kanan blog ini (jika buka di komputer) atau di widget paling bawah. Masing-masing projek ada dua trailer.

 

6. Bidang Musik

Selain dari hal-hal yang kusebutkan di atas, aku juga suka musik dan suka mendengarkan lagu. Kamu pernah patah hati? Kalau aku, tentu saja pernah. Patah hati itu sangat mengganggu konsentrasi dalam bekerja. Bukan hanya kamu, aku pun jadi uring-uringan nggak jelas, merasa bodoh, dan tidak berguna.

Aku suka sekali mendengarkan musik-musik random, bahkan musik metal. Benar-benar random. Anehnya, saat itu, aku bisa tidur nyenyak ketika mendengarkan musik rock atau metal. Heran? Sama, aku juga.

Tapi itu tidak mampu menutupi kekalutanku dan sakit yang tergores dalam hati. Alhasil, tiba-tiba aku mendadak melow dan menuliskan beberapa baik kata-kata random. Setelah kubaca ulang, kenapa aku malah menulis puisi yang isinya tentang orang jatuh cinta?! Pikirku. Sungguh, aku benar-benar heran ketika itu.

Pelan-pelan kubaca lagi sambil bermelodi yang akhirnya menjadikan bait-bait ini sebagai sebuah lagu. Jauh dari kata bagus, memang. Tapi aku sungguh bisa terhibur dengan lagu ini. Terima kasihku yang terdalam untuk Rini yang bersedia mengisi lagu ini dengan suara gitarnya dan Cho yang bersedia mendendangkan melodi lagunya. Tanpa kalian, aku hancur.

 

Tidak berhenti sampai di situ. Saat ini akupun sedang mencoba produktif lagi di tengah maraknya wabah COVID-19. Aku, beberapa temanku, dan adikku sedang terlibat dalam satu projek baru. Mudah-mudahan projek ini bisa terealisasikan awal Mei nanti.

 

Dari apa yang kulakukan di atas, selain bisa mengusir kesepian, ini juga bisa mengusir stres dan jenuhku saat aku sekolah, kuliah, bahkan sampai aku sudah bekerja. Tak hanya itu, melakukan apa yang aku suka juga melatih kekreativitasanku yang kurasa mulai makin menumpul di masa pandemi ini.

Tepat seperti yang tercantum pada situs Satu Persen, aku tetap mencoba untuk menghilangkan rasa malas. Waktu luangku memang sengaja kuinvestasikan ke diriku sendiri dengan mencoba hal-hal baru dan bersosialisasi dengan orang-orang baru lewat komunitas menulis yang kuikuti, bernama Ikatan Kata.

Sejauh ini, satu-satunya hal yang bisa mengobati luka hati karena ‘hidup,’ bagiku, adalah hanya dengan menulis. Dan untuk saat ini, itu hanya bisa kulakukan dengan menulis karya atau mengisi konten di blog ini. Bukan hanya aku saja, kamu juga bisa untuk produktif.

Produktif bukan hanya tentang menghasilkan karya. Lebih luas dari itu, produktif adalah melakukan sesuatu yang bisa membahagiakan diri sendiri, mengembangkan kemampuan diri, dan sebagainya.

Hobi atau kesenanganmu yang sempat tertunda, bisa kembali kamu teruskan hari ini. Mimpi yang belum sempat kamu rajut, bisa kamu rajut kembali hari ini. Semuanya bisa, asal ada kemauan. Dan aku percaya, tidak hanya aku, dia, mereka, tapi kamu pun punya kemauan itu.

Kuncinya, jangan malas dan jangan meragukan diri sendiri. Aku percaya, kamu hanya belum membangunkan singa yang tertidur dalam dirimu saja, kok.

Jangan mau kalah, adikku saja sudah membangunkan singa kecil dalam dirinya. Kalau dirawat, singa itu akan menjadi besar. Karya yang adikku buat dari hasil melawan rasa malas adalah gambar di bawah ini.

Tak berjudul17_20200419113433
Karya dibuat oleh Afifah Naddif Thalaatha

 

 

Beginilah caraku untuk hidup bahagia dengan caraku sendiri.

In collaboration with #SatuPersenBlogCompetition

8 tanggapan untuk “Iseng-iseng Tak Berduit, Tapi Menyenangkan

  1. Tulisanya nyantai, enak dibaca. Dan membuka pikiran juga, ampuh lah buat menggembleng diriku yang malas-malasan ini hehe…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s