itaewon class2

Aku baru saja selesai baca review di laman Magdalene yang ditulis oleh Patresia Kirnandita, alumnus Cultural Studies di Universitas Indonesia. Dia me-review drama ini dari sudut pandang yang unik.

Konflik Orangtua-Anak yang Kuat

Pada artikel tersebut, Patresia cukup cerdas karena sedikit banyak ia menulis review drama Itaewon Class dari sudut pandang tokoh single parent yang muncul dalam drama ini. Mereka adalah Park Seongyeol (Ayah Park Saeroyi), Jang Daehee (Ayah Jang Geunwon dan Jang Geunsoo), dan Oh Byeongheon (detektif sekaligus Ayah Oh Hyewon).

Hubungan antara orang tua-anak, menurutku, memang selalu menarik untuk diangkat menjadi sebuah konflik dalam film atau drama. Ini juga menjadi salah satu faktor aku nangis bombay ketika melihat perjuangan Saeroyi demi mencapai tujuannya untuk membanggakan Ayahnya.

Uniknya, meskipun singkat, pasangan orang tua-anak antara Saeroyi dan Ayahnya ini sangat kuat dan berkali-kali mengingatkanku pada orang tuaku yang sejak aku kecil selalu menanamkan karakter terpuji dan hero dalam diriku. I can relate to this drama. Karena itulah aku nangis bombay hampir tiap kali muncul adegan orang tua-anak.

Sifat Terpuji Saeroyi dan Jo Yiseo

Ada beberapa adegan yang menamparku dan membuatku merasa malu sekaligus iri dengan Saeroyi. Aku belum bisa seperti Saeroyi, yang sedari SMA sudah membuat target hidup berjangka panjang.

Sedangkan aku, ketika aku SMA sepertinya di pikiranku hanya bersenang-senang dan bermain-main saja. Tak hanya itu, aku juga suka dengan Saeroyi yang mempunyai setumpuk keberanian tak terbatas untuk menerobos semua hal yang menghalangi jalannya dalam menggapai mimpi.

Dia tak pernah takut dengan risiko yang akan terjadi. Yang dia tahu hanyalah bertahan dan terus berjalan meski harus tertatih dan berdarah-darah.

Ya, aku juga iri kepadanya yang punya hati berkulit baja. Bayangkan saja, seorang anak yatim piatu dan mantan Napi berusaha dari nol untuk mengumpulkan uang demi bisa membeli tanah dan bangunan untuk membangun restorannya di sebuah daerah yang harga sewa tanahnya saja mahal, apalagi harga belinya.

Ia dijatuhkan lagi, tapi mampu berdiri. Ditendang lagi, tapi mampu untuk berjalan tengkurap. Dan bahkan sampai diinjak-injak, ia masih mampu berjalan meski harus terseret-seret.

Saeroyi pernah berkata seperti ini. “Walau terlahir tak punya apa-apa, tapi aku juga ingin punya banyak hal.” Ini ia katakan kepada Oh Sooah, teman sekelasnya sekaligus perempuan yang ia taksir ketika ia masih di penjara.

Keluar dari penjara, ia memulainya dari melakukan pekerjaan sebanyak mungkin walaupun itu terasa menyiksa dan menyakiti. Ia pergi ke kota lain dan mulai bekerja sebagai nelayan, kuli bangunan, dan pekerjaan lainnya yang bisa menghasilkan uang. Dia terima itu. Hanya ada satu hal yang tidak ia terima,

“Kau atau bahkan siapapun tak berhak menentukan nilai hidupku.”

Itu kata-kata yang paling membekas. Apalagi Saeroyi mengucapkan kata-kata ini pertama kali saat ia sedang bertengkar dengan teman satu kamar di penjara. Penuh emosi tapi juga penuh keyakinan.

Dari mulai situlah mataku semakin melek terutama pada hal-hal menyangkut dunia bisnis, dunia yang dulunya kupikir aku tidak akan pernah bisa masuk ke dalamnya.

Beralih dari Saeroyi, peran Jo Yiseo yang dimainkan oleh Kim Dami juga tak kalah menarik. Ia adalah seorang anak perempuan berambut pendek yang sangat berbakat di banyak bidang. Saking berbakatnya, ia dijuluki psikopat karena dia memiliki jiwa kompetitif yang sangat besar dan sangat sangat ambisius.

Ada suatu masa, Jo Yiseo mendorong temannya untuk bisa mencapai garis finish lebih dulu dan berharap keluar menjadi pemenangnya dalam pertandingan lari.  Namun, setelah kejadian itu, ia justru dijauhi dan dikucilkan oleh teman-teman SMP-nya.

Oleh teman-temannya, ia dianggap curang karena nampak seperti perempuan yang menghalalkan segala cara untuk bisa memenangkan sebuah kompetisi lomba lari di sekolahnya.

Unik. Entah mulai dari titik mana aku menyukai karakter Jo Yiseo, padahal ketika di awal episode, aku menganggap Jo Yiseo agak aneh karena penampilan dan tingkah lakunya yang nggak banget buat aku.

Seperti yang penonton umumnya sukai, aku pun menyukai karakter wanita kuat,  independen, ramah, dan baik hati. Sebenarnya Jo Yiseo memiliki semua itu, tapi karakter kompetitifnya yang sangat amat tinggi yang membuatku agak risih.

Belum lagi ditambah dengan sifat dingin dan ke-bodo amat-annya yang muncul nyaris di tiap adegan dalam drama, membuatku berpikir ulang untuk menonton drama ini hingga selesai. Namun, ternyata di situlah kesenangannya. Entah di episode berapa aku mulai punya pikiran bahwa Saeroyi dan Yiseo adalah perpaduan yang tepat.

Jo Yiseo Menang

Jujur aja, untuk wanita yang baru beranjak ke umur dewasa seperti Yiseo, tentulah bukan keputusan yang mudah untuk memilih tidak melanjutkan kuliahnya dan malah memilih bekerja di restoran yang masih seumur jagung.

Dari keputusan ini juga Yiseo berani mempertaruhkan hubungannya dengan ibunya yang sudah membesarkan ia seorang diri. Yiseo tahu pengorbanan yang sudah dilalui oleh ibunya, tapi sayang, egonya terlalu besar. Ia tipe yang tak segan mengorbankan sesuatu demi menggapai yang ia mau sekalipun sesuatu itu berharga baginya.

Hubungan Yiseo dan ibunya sempat retak. Namun, Yiseo mampu membuktikan pada sang ibu bahwa omongannya untuk membuat Saeroyi mencapai mimpinya itu bukan main-main. Dari situ, sang ibu pun bisa melihat bahwa anaknya sudah benar-benar menemukan pria yang tepat ketika tahu bahwa usaha yang dibangun Saeroyi dan anaknya itu mulai beranjak naik.

Salah satu adegan lucu dan so sweet muncul di episode terakhir, ketika ibu Yiseo datang ke rumah sakit untuk menjenguk Saeroyi yang sedang dirawat setelah berjuang menyelamatkan Yiseo.

Saeroyi yang cenderung kuno, tiba-tiba langsung bangun dari tempat tidurnya dan duduk bersimpuh menghadap ibu Yiseo di atas kasur rumah sakit. Singkat cerita, ibu Yiseo sudah bisa melihat masa depan yang cerah pada Saeroyi. Dengan begitu, dirinya bisa dengan mudah merelakan anak semata wayangnya kepada Saeroyi.

Lucunya, di sini Saeroyi nampak kikuk dan tanggapan dia sangat kaku. Mungkin lebih tepatnya, ia tak tahu harus memberikan reaksi yang seperti apa. Maklum, Saeroyi memang orang yang payah dalam hal percintaan.

Saeroyi yang kuno itu akhirnya jatuh juga dalam pelukan Yiseo. Jo Yiseo bisa membuktikan pada Oh Sooah bahwa ia bisa membuat Saeroyi berpaling dari Oh Sooah, teman lama Saeroyi.

Ending yang Tak Main-main

Ketika menonton sebuah seri drama atau film, tidak semua ending bisa kita terima atau sukai. Banyak faktor yang bisa membuat itu terjadi. Mungkin karena banyak pertanyaan yang belum terjawab bahkan hingga akhir episode, kurang nendang, tidak masuk akal, tidak sesuai ekspektasi, dan masih banyak lagi.

Drama ini termasuk drama yang tidak sesuai dengan ekspektasiku. Kupikir drama ini akan berakhir dengan Saeroyi yang sudah berhasil membuat perusahaannya sendiri dari nol kemudian dia menikah dengan Yiseo. Tapi ternyata aku salah.

Hubungan Yiseo dan Saeroyi tidak diperlihatkan hingga ke jenjang pernikahan walaupun memang di adegan akhir episode 16 mereka berakhir bahagia. Okelah, ini masih bisa diterima. Namun, ada juga hal lain yang membuat aku speechless, perusahaan Jangga Group akhirnya benar-benar bisa diambil alih oleh Saeroyi.

Semua itu berkat Oh Sooah yang melaporkan segala tindak KKN yang terjadi di perusahaan Jangga dengan menyerahkan harddisk berisi laporan keuangan perusahaan tersebut. Kabar ini mencuat ke media masa hingga banyak investor yang menarik uangnya dari perusahaan tersebut.

Aku benar-benar tidak menyangka, aku bisa melihat seorang Jang Daehee pucat pasi, tak bisa berkutik ketika barang-barang di perusahaannya diobrak-abrik oleh petugas hukum. Tidak tanggung-tanggung, Jang Daehee hari itu juga langsung jatuh miskin, bahkan untuk seporsi makanan yang ia beli di Danbam saja tidak bisa ia bayar.

Merasa malu, akhirnya ia berlutut di hadapan Saeroyi dan berusaha untuk negosiasi. Namun, sia-sia saja, Saeroyi sudah kenal akal bulus pria tua itu. Ia pun menolaknya dan pergi meninggalkan Jang Daehee dalam posisi bersujud.

Perusahaan Jangga kalang kabut dan benar-benar di ujung tanduk. Singkat cerita, setelah mempertimbangkan dengan matang, akhirnya Saeroyi bersedia untuk mengambil alih perusahaan itu untuk masuk sebagai anak perusahaannya masih dengan konsep produk makanan yang sama tapi dengan nama yang berbeda.

Sampai di sini aku langsung menyahut, “CERDAS, ROY!!”

Usai soundtrack berjudul Start Over yang dinyanyikan oleh Gaho berputar, saat itu aku baru sadar, aku baru saja menonton drama yang sangat mendidik. Banyak hal yang bisa kupetik dari kisah hidup Saeroyi dan Jo Yiseo. Syukurlah, 16 jamku tidak berakhir sia-sia.

Bagaimana? Apakah kamu ingin seperti Saeroyi? Atau Jo Yiseo? Nampaknya mudah untuk menjadi Saeroyi, tapi 15 tahun kedengarannya bukanlah waktu yang sebentar. Ada ribuan momen tawa dan tangis yang harus dilalui.

 

 

Kamu siap?

2 tanggapan untuk “Park Saeroyi, Mantan Napi yang Bisa Bangun Perusahaan dalam Itaewon Class

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s