WhatsApp Image 2020-02-21 at 19.26.24
Gala Premier Sebelum Iblis Menjempu Ayat 2 bersama Mas Hari

SPOILER ALERT!

Aku bukan orang yang ahli dalam mengkritik sebuah film. Namun, dalam postingan ini, aku pengen banget mengungkapkan kesan apa yang kudapat dari film yang baru kutonton hari Sabtu (22 Februari) lalu, yaitu Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 di Senayan City, serta hal-hal apa drai film ini yang mungkin perlu untuk diperbaiki ke depannya demi kemajuan perfilman Indonesia.

Sebenarnya sudah dari seri kesatu Sebelum Iblis Menjemput aku geregetan pengen nonton. Berhubung waktu itu sibuk banget dan ngga ada temen nonton, alhasil aku relakan aja film itu sampai akhirnya tutup layar dari bioskop.

Awal melihat trailernya di YouTube, aku sempet pesimis. Ah, palingan ayat keduanya pun bakal kulewatin lagi kayak yang sebelumnya…

Aku bener-bener sudah pasrah karena pekerjaanku sekarang benar-benar menyita waktuku. Untuk pergi ke luar di hari Minggu pun berasa malas sekali, pengennya rehat di kos.

But, fortunately, God has planned something amazing than mine! Through my brother, God gave me chance to watch this movie on theater located near from my kos-kosan! My brother gave me a free gala premiere ticket!

Dia juga iseng bilang bahwa dia akan mengenalkanku pada Timo. Aku? Jelas senang, tapi tak mau berharap banyak. Bisa dapet tiket GP gratis aja senengnyaaa minta duit, eh minta ampun. Mengenai bertemu atau tidaknya aku dengan Timo, urusan belakangan. Aku juga tambah penasaran dengan hasil akting masku itu, doi bilang katanya doi juga main dalam film itu. Hmm, antara percaya dan nggak percaya sih. Heeeeehe.

Setiba di sana, aku bertemu dengan banyak teman-teman artis, baik yang senior maupun yang junior. Contohnya seperti Luna Maya, Rizky Nazar, Syifa Hadju, Morgan Oey, Kevin Ardillova, Jefri Nichol, Angga Yunanda, Shena Cinnamon, dll. Dari kalangan kru pun yang kuingat ada Joko Anwar. Mereka seakan tumpah semua di satu tempat itu.  And I was like, omg I don’t even imagine I can meet easily with them here, right NOW!!! Yeah, I was freaking out at that time but tried to be stay cool outside.

Saking banyaknya, aku sampe capek sendiri menyebutkan nama-nama artis yang aku temui ketika itu. Yang jelas, artis-artis yang kuidolakan ingin aku mintai foto bareng. Tapi ketika baru datang, aku baru bisa minta foto bareng dengan Timo. Aku terlalu grogi jika harus langsung minta foto dengan yang lainnya.

Pintu bioskop dibuka. Masku, aku, dan penonton lainnya langsung memasuki ruang bioskop. Tenang saja, kita tetap antre kok, masuk satu-persatu dan tidak rusuh sama sekali. Yang bikin aku kaget, yang berjaga di pintu bioskop dan menyobek tiketku adalah Pevita Pearce. Ingin kusapa, tapi kelihatannya dia juga lagi kerepotan. Kubiarkan kesempatan itu lewat begitu saja dan langsung memasuki ruang bioskop, menyusul Mas Hari.

Aku lupa duduk di kursi nomor berapa, yang jelas aku duduk di sebelah masku. Kursi kita memang lumayan dekat dengan kursi bintang utama film SIMA2 yang masih kosong. 

Sedangkan kursi tempatku duduk itu sederetan dengan kursi yang diduduki oleh Pevita Pearce. Ia sudah duduk manis di kursi sembari memainkan handphone-nya. Di belakang Pevita juga telah duduk anteng seorang sutradara kenamaan, Joko Anwar (sstt, dulunya dia seorang kritikus film di Sinema Indonesia, loh).

Nggak ketinggalan, istrinya Timo juga telah duduk menanti. Ia tampak cantik dengan balutan pink keunguan terang yang ia kenakan. Tapi nampaknya Timo belum memasuki ruangan. Bisa kulihat, kursi sebelah istrinya masih kosong.

Sepuluh menit berlalu. Film masih belum diputar juga. Lalu lalang orang membuatku semakin agak gelisah di tempat. Beberapa kali aku menengok ke arah jam lima (arah belakang, agak serong ke kanan) untuk melihat keceriaan dan gurat penantian di wajah  penonton dari kalangan artis.

Yang terlihat dariku, kalangan artis yang bukan pemain dari film ini datang ke gala premier ini untuk memberikan dukungan dan juga untuk belajar. Tentu saja nantinya mereka akan menilai baik itu dari kualitas akting, pengambilan gambar, hingga hal-hal lainnya yang tak kutahu. Dari mereka, akan ada penilaian pribadi yang akan muncul di pikiran mereka masing-masing.

Sepuluh menit sudah berlalu. Sudah 20 menit aku menunggu, tapi belum ada tanda-tanda film akan dimulai.

Lima menit berselang, suara seorang pria lantang terdengar dari sebuah pengeras suara. Ia memanggil nama orang yang dimulai dari Timo, sang Sutradara. Disusul nama para pemain utamanya. Suara pria itu menyadarkanku bahwa film ini akan segera dimulai dari sesi pengenalan tokoh dan karakter secara langsung.

Chelsea dan Baskara mendapat giliran untuk memberikan sepatah-dua patah kata kepada penonton yang datang. Mereka berharap penonton dapat menikmati filmnya dan penonton juga diminta untuk ikut mempromosikan film ini di media sosial.

Aku tersenyum bangga ketika mendengar suara Chelsea menyampaikan salam pembukaan untuk penayangan SIMA2 hari itu. Ia terdengar sangat bersemangat.

Usai sesi itu, para pemain langsung duduk diiringi oleh riuh suara penonton menyambut mereka hingga mereka duduk di kursi masing-masing. Mereka langsung mengambil posisi nyamannya. Terlihat ada beberapa orang yang menghampiri mereka untuk sekadar memberikan selamat.

Serupa dengan para bintang utama, ketika film hendak dimulai pun aku langsung diam anteng di kursiku. Layaknya seorang kritikus handal, pandanganku serius tertuju pada layar bioskop.

Film dimulai. Namun, di sudut mataku masih terlihat dengan jelas para pemain utama yang baru saja duduk itu masih saling tertawa dan melempar canda di deretan kursi yang jaraknya hanya tiga langkah dari kursiku.

Mas Hari yang duduk di sebelah kiriku langsung menyadarkan aku dari pandanganku terhadap mereka. “Filmnya udah mau mulai, Yo!” seru Mas Hari. Aku mengalihkan pandanganku lagi ke layar besar itu.

Film ini dimulai dari penggambaran Timo terhadap sosok Alfie yang makin aneh. Singkatnya, karakter Alfie di sini bener-bener liar dan kayak orang yang habis tinggal lama di hutan. Dia dekil, liar, kasar, galak, dan nggak pernah tersenyum. Iya, Alfie nyaris nggak pernah senyum di film ini.

Tapi aku paham, apa alasan yang membuat dia jadi wanita yang liar seperti ini. Apalagi setelah aku nonton SIM, aku makin merasa bahwa karakter liarnya Alfie di SIMA2 itu sangat wajar.

Semua memang disebabkan oleh ulah Bapak Lesmana, Bapaknya Alfie di SIM, yang menginginkan kekayaan dengan cara instan. Itu semua memang terjadi karena trauma dan tertanam dalam hatinya. Kekasaran Alfie itu hanya tamengnya untuk bisa melindungi diri dari orang atau sesuatu lain yang berniat jahat pada dirinya.

Ditambah lagi dengan adanya Nara dalam hidupnya, keliaran Alfie makin menjadi setelah mencoba melindungi Nara, adik tirinya, ketika hendak anak-anak yatim piatu dalam rumah itu hendak memisahkan mereka berdua. Walaupun bukan adik-kakak kandung, kelihatan sekali bahwa Alfie menganggap Nara sudah seperti keluarganya sendiri.

Kalau dilihat dari alur cerita dan konfliknya, sebenarnya ceritanya nggak begitu punya benang merah yang kuat dari SIM yang sebelumnya. Menurutku, yang menjadikan kedua film seri ini terikat adalah konflik yang mirip, yang mana kedua film ini sama-sama bermain di atas nama ilmu hitam. Dan ilmu hitam itu sama-sama diperoleh dari orang yang sama, yaitu seorang dukun wanita yang diperankan oleh Ruth Marini.

Aku sempat mempertanyakan, lantas kenapa harus ada Alfie di seri kedua ini? Dan untungnya terjawab di dialog yang disampaikan oleh Budi yang diperankan Baskara Mahendra.

Alfie terlibat lagi (atau lebih tepatnya dilibatkan lagi oleh anak-anak yatim piatu itu) karena dia adalah orang yang pernah membunuh manusia yang sudah dipengaruhi oleh ilmu hitam. Manusia itu adalah ayahnya dan kakak tirinya sendiri.

Di akhir cerita, Timo pun menunjukkan kepada penonton bahwa Alfie ini adalah anak yang sangat kuat dan tak mudah menyerah sehingga iblis memilihnya untuk menjadi pengikutnya. Namun, tentu saja, Alfie menolaknya.

Lucunya, hampir di setiap sorot mata Alfie, membuat aku makin yakin ini orang nggak waras. Ternyata sorot mata Alfie yang kulihat itu adalah sorot mata iblis. Kalau Voldemort dijuluki sebagai Dia-Yang-Kau-Tahu, maka Alfie pantas untuk dijuluki sebagai Dia-Yang-Terpilih-Iblis.

Nggak cuma Chelsea aja, aku juga memperhatikan kualitas akting pemain lainnya, meskipun nggak semua, sih. Yang aku perhatikan yaitu aktingnya Baskara. Intermezzo dulu, nih. Aku suka aktingnya Baskara sejak dia main web seri sebuah brand mobil. Judulnya Jejak Warna dan penulis naskahnya pun Timo juga.

Dia berkarakter pendiam di situ. Aku nggak terlalu fokus ke dia, aku cuma fokus ke alur cerita dan pengambilan gambar aja. Barulah aku sadar bahwa seorang Baskara Mahendra bisa memainkan dua karakter yang 180 derajat bertolak belakang setelah aku menonton film Bebas. Setelah itu, aku langsung banyak mencari tahu tentang Baskara. Wow! Aku suka dengan aktingnya!

Balik lagi ke Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2. Aku sempet benci ke Budi (nama peran Baskara) karena dia sudah melibatkan Alfie lagi. Ibaratnya, Alfie ditarik ke ruang penyiksaan lagi. Aku juga sempet tertawa puas ketika Alfie menonjok hidung Budi. Sukurin! Hahaha, akibat rasa empatiku yang mungkin terlalu dalam ke Alfie jadinya aku menyumpah-serapahi Budi juga.

Ada yang bilang, dalam akting, lawan pemain bisa bagus juga berkat komunikasi dan kerja keras yang sama-sama dibangun oleh setiap pemain sehingga tidak ada yang terlihata paling dominan sendiri. Semuanya sama-sama menonjol kualitas aktingnya, sesuai cara dan porsi masing-masing. Itu yang bisa aku gambarkan bagaimana akting para pemain Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 di mataku.

Lalu, kalau untuk teknisnya, semuanya udah all out. Tapi ada satu hal yang mungkin bisa lebih diperbaiki, yaitu efek api yang menimpa iblisnya. Iblisnya ialah Pak Ayub, yang ternyata diperankan oleh masku sendiri, Mas Hari!

Kenapa? Karena efek api ini masih kelihatan editannya. Hmm, mungkin ini potensi juga buat kamu atau anak-anak muda di luar sana yang pandai di bidang ini. Bisa loh hubungi aku, nanti kukenalin ke masku, biar bisa dikenalin ke Mas Timo, sang Sutradara. Hihihi.

Film ini, menurutku, masih berakhir dengan tanda tanya. So, we need the third sequel!

Aku masih penasaran, bagaimana nasib Alfie, Nara, dan Baskara? Mereka semua kan sama-sama yatim piatu. Kejadian ini pasti akan menghantui mereka dan jadi trauma seumur hidup.

Nggak kebayang kalau sampai kisah ini beneran terjadi di dunia nyata. Karena pasti bakal menyeramkan banget. Kayak kata Alfie, aku nggak pernah mau bertemu dengan dunia mimpi, tapi aku juga takut untuk bangun karena dunia nyata lebih menakutkan.

Itu satu kalimat yang ngena banget.

Intinya, aku suka sekaligus benci banget sama film ini. Hahaha.

Keluar dari bioskop pun aku sampe pusing karena teriak melulu. Capek. Tapi lebih capek lagi nonton film zombi, sih. Kalau aku yang sekarang ditawari nonton film zombi, ogah deh. LOL.

Ohiya, pesan buat Timo, lain kali kasih waktu penonton buat istirahat, bisa kali ya? Sepanjang film tuh napasku putus-putus. Sekalinya sudah banyak mengumpulkan napas, eh malah dikeluarin lagi pas Pak Ayub muncul. (Inget banget, ada scene yang lagi hening dan aku teriak dong. Kan bodoh, padahal nggak ada apa-apa. Udah parno duluan) 🙂

Anyway, untuk Mas Hari, sumpah mas, dirimu serem banget di sini! Pas masih jadi manusia, wajahmu kayak psikopat! Ups. Selamat lah pokoknya atas debut filmmu yang pertama sebagai peran antagonis. Chukkhahamnida!!

 

Keluar dari ruang bioskop, aku langsung dibawa jalan-jalan sama Masku buat nemuin mereka. Hmm, mereka adalah orang-orang yang ada di bawah ini. Silakan lihat-lihat.

WhatsApp Image 2020-02-21 at 22.16.26
Sutradara favorit!! Setelah ketemu langsung, ternyata dia tinggi banget. Hahahah.
WhatsApp Image 2020-02-21 at 22.21.23
Kak Chelsea ramah banget! Sekali panggil, langsung mengiyakan untuk diajak foto bareng.
WhatsApp Image 2020-02-21 at 23.04.26
Ini Kak Baskara. Inget banget sama dialog dia yang, “Al, jangan mati.”
WhatsApp Image 2020-02-21 at 22.15.53
Nah, ini Pak Ayuuub alias Mas Hari! Aku sampe ngeyakinin diri sendiri, yang di sebelahku ini beneran Mas Hari kok, bukan Pak Ayub.

 

WhatsApp Image 2020-04-12 at 17.41.05
Suka Kak Shareefa sejak serial Di Sini Ada Setan. Sayang banget, di SIMA2 harus berhenti di tengah-tengah film 😦
WhatsApp Image 2020-04-12 at 17.41.05 (1)
Mas Hari lahir dari perut Kak Widi!! T_T

 

BONUS SATU FOTO LAGI NIH. SELAIN KUARSIPIN DI FACEBOOK, AKU MAU ARSIPIN DI SINI JUGA, AH!

WhatsApp Image 2020-02-21 at 22.21.03
Kol, Twitter-mu, mbok diurus lagi to, udah jarang-jarang main Twitter sekarang mah ya, huhu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s