Akhir-akhir ini banyak banget hal yang mengganjal di pikiranku, termasuk tentang BPJS Kesehatan.

Kenapa? Ada apa dengan BPJS? bermasalah lagi?

Hm, kurang tahu juga. Kurasa bukan BPJS Kesehatannya yang bermasalah, tetapi eksternal dari BPJS Kesehatannya yang cukup bermasalah.

Kebetulan aku ini hanya kuli yang menjabat posisi interpreter di salah satu perusahaan Korea yang bergerak di bidang teknologi kesehatan dan kecantikan. Karena masih ada hubungannya dengan hal yang berbau kesehatan, alhasil mau tidak mau aku pun harus banyak berkecimpung dengan segala hal yang menyangkut tentang kesehatan pula, dari mulai penyakit, obat-obatan, hingga keluhan tamu.

Posisiku ini juga membuatku lebih sering bercengkerama dengan tamu dan membicarakan keluhan mereka. Tak jarang, mereka juga suka menceritakan hal yang bersifat pribadi padaku. Di antara cerita-cerita yang kudengar dari para tamu, banyak di antaranya yang bercerita bahwa mereka sudah menjalani operasi.

Pernyataan itu seringkali membuat keningku berkerut keheranan dan bergumam, “Kenapa harus operasi? Sepertinya keluhan tamu ini tidak sebegitu parah hingga harus mendapat tindakan operasi dari dokter. Atau aku aja yang sok tau?

Berulang kali aku berpikir demikian, tapi aku berpikir kembali, “Oh, mungkin aku yang terlalu berpikir negatif terhadap dokter. Mungkin saja memang perlu operasi. Mungkin saja memang keluhan si tamu ini lebih parah dari apa yang kubayangkan.”

Namun, seiring bergulirnya waktu, semakin jelas bahwa sudah terlalu banyak tamu yang kutemui dan banyak di antara mereka yang, menurutku, ditipu oleh para dokter-dokter ini.

Bayangkan saja, ada tamu yang bercerita padaku bahwa ia jatuh dari motor dan pundaknya sakit bahkan sampai detik ini belum pulih juga. Ia sempat memeriksakannya ke rumah sakit. Ia pikir ia akan diberikan obat atau tindakan ringan di Rumah Sakit itu, tapi ternyata malah lebih parah.

Dokter justru menyarankan kepadanya untuk menjalani operasi. Padahal menurutnya sendiri pun rasa sakit di pundaknya tidak sebegitu parahnya hingga harus ditindak seserius itu.

Mendengar cerita ibu itu, akupun sependapat dengannya. Akupun menyarankannya cukup dengan melakukan terapi di tempatku dan rasa sakit di pundaknya bisa sembuh.

Entah aku dan si ibu yang masih terlalu awam dengan organ-organ tubuh, atau memang dokternya yang berbicara berlebihan, yang pasti aku dan ibu sepakat bahwa dokter yang memeriksa si ibu pun hanya membual.

Tapi aku tidak sesempit itu, yang langsung beranggapan bahwa semua dokter itu lebay atau membual kepada pasien. Tidak, aku tidak seperti itu. Aku tetap berpikir bahwa diriku yang sok tahu, tapi entah kenapa aku tetap bersikeras mempertahankan ke-sok tahu-anku ini.

Kenapa? Karena bukan hanya si ibu tadi saja yang mengadu hal tersebut, bahkan bapak dan ibu-ibu lain pun mengadu hal yang sama persis apalagi ketika mereka menyebutkan bahwa mereka menggunakan BPJS Kesehatan. Sampai di titik ini keyakinanku makin kuat bahwa sudah banyak dokter-dokter yang memanfaatkan ketidaktahuan pasiennya.

Aku geleng-geleng dibuatnya. Masih nggak menyangka, lah kok iso? Padahal kan dokter itu pekerjaan yang mulia, kok malah memanfaatkan sikon pasien. Maaf, tapi ini sungguh keterlaluan.

Meskipun biaya operasi si pasien ditanggung BPJS Kesehatan yang mana modalnya pun dari pemerintah, tapi itu juga kan asal-muasalnya dari uang rakyat juga, uang masyarakat dari belahan Indonesia lainnya juga. Tindakan para dokter atau bisa kita sebut sebagai oknum, ini adalah tindakan yang tidak hanya sangat merugikan negara, tapi juga merugikan masyarakat lainnya!

Makin gemas lagi ketika pagi ini aku lihat wawancara yang dilakukan di MetroTV, membahas tentang modus dokter terhadap pasien. Dalam video itu, Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, mengatakan bahwa dinyisinyalir tekornya BPJS Kesehatan dikarenakan pemberian tindakan medis yang tidak perlu sehingga klaim rumah sakit membengkak. Pernyataan ini disampaikan oleh Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar. Dan parahnya lagi, posisi pertama yang menyebabkan klaim rumah sakit membengkak adalah operasi sesar. Duh!

Dari penjelasan Pak Timboel, aku langsung membayangkan, para ibu hamil yang dengan terpaksa harus merelakan perutnya dibelek agar bisa melahirkan anaknya, padahal si ibu hamil ini 100% mampu dan layak untuk mendapatkan tindakan melahirkan normal. Aku sebagai perempuan pun merasa sedih, kecewa, kesal, kasihan, dan dongkol juga mengetahui hal ini.

Sungguh miris dan sangat disayangkan.

Namun, dari video tersebut, aku juga sangat berharap, semoga tidak ada lagi modus seperti ini. Rumah sakit itu kan, bagi orang awam, adalah tempat terakhir bagi banyak orang yang terkena penyakit atau yang mengalami hal medis lainnya. Lah kenapa kok malah… seperti ini pengelolaannya?

Yasudahlah, tidak mau berkomentar lebih panjang lagi. Hanya bisa berharap, semoga Pak Menteri dan jajarannya bisa segera membereskan ini. Dan juga, berharap, semoga pihak-pihak rumah sakit serta pengelola BPJS Kesehatan bisa bekerja maksimal dan tulus untuk kesejahteraan umar manusia lainnya.

Sumber: https://images.app.goo.gl/SHxyCi6CA4KEGLRX6

Referensi tulisan: https://www.youtube.com/watch?v=jhLTg_aUuc8

3 tanggapan untuk “‘Dokter Bandel’ Di Balik Tekornya BPJS Kesehatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s