“Hm?” balas Javin.

 

“Kemarin Mario datang menemuiku, Mas..,”

Tangan kanan Javin yang hendak membuka lembar katalog selanjutnya mendadak terhenti. Pandangannya beralih ke kedua mata cokelat Astrid.

“Ada apa kok tiba-tiba nemuin kamu? Nagih utang?”

“Nggak, bukan utang. Akui nggak pernah utang apapun ke d–”

“Maksudku utang hati,” lanjut Javin, memotong pembicaraan Astrid.

“Ut-utang hati? Ng-nggak.” Entah kenapa lidah Astrid tiba-tiba kelu.

“Terus apa?”

 

Panggilan hati memaksa Astrid untuk berkata jujur pada Javin. Ia ingin menceritakan semuanya, tidak, ia memang harus menceritakan semuanya. Namun, Astrid bingung harus mulai dari mana. Ini bukan hal yang semestinya Javin ketahui. Calon suaminya tak perlu tahu ini. Tapi, bukankah Javin kelak akan menjadi suaminya? Dan sebagai seorang suami, Javin memang harus mengetahui segala hal dari dirinya.

Tiba-tiba Astrid mengutuk dirinya sendiri karena tak kunjung menemukan kata yang tepat untuk mengawalinya.

“Trid? Halo?” Javin melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Astrid, bermaksud membuyarkan ritual melamun Astrid.

“Ah, iya? Sampai mana tadi?” sahut Astrid yang baru kembali dari lamunannya.

“Tadi kata kamu Mario datangi kamu. Ada apa? Kok tiba-tiba begitu?”

“Nggak ada apa-apa, dan kamu jangan salah paham. Dia datangi aku cuma berniat untuk menjelaskan kejadian apa aja yang menimpanya selama di Jerman, dan juga kejadian menjelang hari pernikahanku dengan dia dua tahun yang lalu.”

“Oh. Kamu udah cerita ke dia kan kalau kita mau menikah dalam waktu dekat?” tanya Javin yang semakin serius. Dia membenarkan posisi duduknya, mencari posisi yang pas untuk pembahasan ini.

“Aku nggak kasih tahu sama sekali. Y-ya sebenarnya aku berniat untuk mengundang dia juga ke acara pernikahan kita. Tapi sebelum aku sempat mengirimkan undangan ke rumah dia, dia udah datangi aku lebih dulu dan malah mengucapkan selamat kepadaku. Aku nggak tahu dia tahu kabar pernikahanku dari mana, yang jelas, bukan aku.”

Javin sedikit terkekeh. “Aneh.” Lalu menyeruput amerikanonya yang tinggal setengah cangkir.

“Kok aneh?”

Javin menggeletakkan cangkir di atas meja kaca itu. “Ya jelas aneh. Dia datangi kamu dan menjelaskan kejadian dua tahun lalu baru sekarang ini. Eh, akhirnya kok malah dia ngasih ucapan selamat ke kamu? Apalagi coba kalau bukan aneh?”

Tanpa sadar, muncul kerutan di tengah kening Astrid. Ia heran dengan tanggapan dari Javin mengenai Mario.

“Maksud kamu, Vin?” Nada suara Astrid sedikit naik.

“Kamu pikir sendiri aja, deh.” Javin melemparkan pandangannya ke arah lain. Dia muak melihat wajah Astrid begitu mendengar nama Mario terucap di meja mereka.

“Kamu nih yang aneh. Aku nanya tuh karena nggak paham maksud kamu, minta penjelasan, malah disuruh mikir sendiri. Aku bukan dukun yang bisa baca pikiran kamu, Javin. Jangan kayak anak kecil, deh.” Astrid tak mau kalah.

“Aku? Anak kecil? Walaupun aku masih berjiwa anak kecil kayak yang kamu omongin tadi, seenggaknya aku cukup peka untuk menyadari bahwa Mario masih mengejar kamu, Trid!” Akhirnya suara Javin memenuhi seisi kafe itu. Katalog yang tadinya Javin pegang kini berhasil lolos dari tangannya dan jatuh tergeletak di dekat kaki Javin.

“Kok bisa? Kan dia cuma berusaha menjelaskan hal yang seharusnya aku ketahui dari dua tahun lalu. Dia cuma pengen jelasin itu ke aku, nggak ada maksud lain.”

Javin terkekeh cukup keras. Astrid tahu persis, kekehan Javin itu penuh dengan rasa amarah. “Hahahaha.. Kamu masih nggak ngerti juga? Nih ya, kujelasin pelan-pelan.” Javin menghirup napas panjang. “Dua tahun lalu dia menghilang. Lalu beberapa hari lalu dia datangi kamu di rumah sakit pas kamu lagi down banget dan nyeritain segala kejadian yang menimpa dia yang, jika menurutku, kamu nggak mengetahui hal itu pun nggak jadi masalah, toh kamu mau menikah sama aku, kan? Kamu tadi bilang kalau dia udah tahu duluan bahwa kita mau menikah. Lalu tujuan dia apa nyeritain kejadian dua tahun lalu ke kamu kalau bukan karena ingin membuat hatimu goyah hingga akhirnya jatuh ke dalam hati dia? Sampai sini kamu paham?”

Astrid mematung di tempatnya.

“Lihat, kamu aja nggak bisa menjawab. Kamu nggak akan menyadari hal itu karena kamu masih ‘anak kecil’.”

Badan Astrid tersandar lemas di sandaran kursi. Pandangannya ke arah meja terlihat kosong, tak fokus.

“Vin, aku emang nggak pernah memikirkan sampai ke situ karena buatku dia tetap masa lalu. Dan kamu masa depanku, bukan dia.”

Lalu yang terjadi hanya hening. Mereka sama-sama terdiam. Astrid tertunduk lesu mendengar penjelasan Javin.

Javin meneguk amerikanonya hingga habis.

“Lalu bagaimana kalau Mario adalah masa lalumu yang ditakdirkan juga sebagai masa depanmu, Trid?”

Astrid mengangkat kepalanya dan menangkap pandangan kedua bola mata itu. Javin terluka, dan Astrid bisa melihat itu. Tiba-tiba Astrid merasakan hatinya yang menjadi perih.

“Vin, tapi–”

Tanpa basa-basi, Javin bangkit dari kursinya.

“Aku tidak memaksamu. Pernikahan ini belum dimulai. Kamu masih bisa memikirkannya kembali lagi, Astrid.” Lalu ia pergi menuju meja kasir dan melewati pintu kafe. Javin menghilang di antara kerumunan orang di luar. Astrid tidak tahu tangis matanya ini untuk Javin, keluarganya, Mario, atau dirinya sendiri.

To be continued…

11 tanggapan untuk “Ingkar – 6

      1. Hahaha byeolmalseumeulyoo~

        Wah, semangat menulisnya semoga menular ke aku juga yaa. Huhuhu.. Karena kalau untuk memposting harian, jujur aja aku masih belum bisa. Tapi kuusahakan banget tiap bulannya ada yang kuposting.

        Yap, salam kenal juga kak!

        Suka

      2. Aku raiso bahasa Korea. Ha ha ha

        Wah hayuk belajar bareng-bareng, biar spiritnya dapet. Kalau mau ikut komunitas menulis juga boleh, biar ditemenin temen-temen anggota komunitas yang lain.

        Kalau harian… aku juga enggan. Seminggu sekali lah, atau 2.

        Hoke sip. 👊

        Suka

      3. Hahaha aku malah raiso boso jowo, isone sitik-sitik wae wkwk

        Wah, mau banget! Boleh gabung kaah? Ehiya, tapi aku domisili Jakarta.

        Yess betul. Maksimal posting mingguan lah, yaa.

        Suka

      4. Hahaha podo wae.

        Wah boleh. Temen-temen banyak yang dari Jakarta-Bekasi. Ada yang dari luar jawa juga. Kalau mau gabung boleh kamu kunjungi postingan terbaruku tentang sebuah komunitas. Sudah aku jelaskan di 5 paragraf awal. Selebihnya kritikku itu hahaha. Baik aku tunggu kamu join ya.

        Okesip. Mantap Jiwa!

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s