Tanggal 9 November udah lewat tapi aku pengen angkat ini di blog. Soalnya ini pengalaman pertama, dan aku pengen diriku di masa depan mengingat bagaimana ketegangan dan kegugupan yang kurasakan ketika ditunjuk jadi pembicara di kegiatan World Indonesia Scholarships (WISH) Festival yang dilaksanakan di Universitas Pertamina itu.

Dimulai dari dua minggu sebelum hari H, tiba-tiba aku mendapat pesan via WhatsApp. Pengirimnya bernama Hanifa (aku memanggil dia dengan sebutan ‘Kak’). Dia mengaku bahwa dia mendapat namaku berkat rekomendasi dari Mas Helmi. Iya, Mas Helmi anak Radio PPI Dunia ituuu..

Di sini, aku masih loading. Wkwk. Soalnya setelah kutelusuri, itu acara besar, maaaan. Dan kenapa juga sih Mas Helmi rekomendasiin aku?! Kan banyak yang jauh lebih pro dari aku… Detik itu juga rasanya aku pengen tertawa-tawa girang sekaligus menangis-nangis darah karena rasa senang dan sedih yang kurasakan dalam satu waktu. Aku juga jadi panik ngga jelas gitu, deh.

Tapi karena aku rindu berkumpul dengan generasi yang sebaya denganku, maka kuindahkan saja ajakan Kak Hanifa. Setelah kupencet tombol send, satu detik kemudian aku menyesal semenyesalnya.

Makin menyesal lagi ketika tahu bahwa aku kudu bikin slide presentasinya sendiri. Woah, tambah paniklah aku. Manalago kerjaanku belum beres, ada waktu lowong cuma pas akhir pekan aja sedangkan acara itu pun diselenggarakan pas akhir pekan alias hari Sabtu! Mati aku.

Akhirnya, aku bertekad menyelesaikan semua pekerjaanku sampai dengan hari Kamis. Beres itu, malamnya aku langsung ngebut bikin PPT sambil latihan-latihan presentasi sedikit. Eh, nggak terasa udah jam 23 WIB. Manalagi besok (Jumat, 8/11) masih kerja😭

Ah, tapi bodo amat. Yang penting PPT beres, langsung pergi tidur, dah.

Hari Jumat tiba. Aku dihubungi LO-nya untuk datang tepat waktu. Aku menurut.

Tiba di hari H, aku malah datang satu jam sebelum sesiku dimulai. Alhamdulillah.. lebih baik datang lebih dulu daripada telat dan terburu-buru.

Mas Helmi dapat giliran presentasi lebih dulu. Aku terpana dengan gaya presentasi dia yang lugas, santai, penuh humor, dan sederhana. Materi yang dia angkat benar-benar tentang beasiswanya. Informasinya pun cukup lengkap dan mendetail. Kulihat, banyak peserta yang langsung menundukkan kepala dan sibuk mencatat pokok-pokok penting yang disampaikan Mas Helmi. Aku salut. Apa nanti ketika giliranku juga begitu?

Tiba-tiba muncul rasa takut dan khawatir dalam benakku. Takut materi yang kubawa ini tidak berfaedah, dan khawatir mereka akan kecewa padaku. Namun, lagi-lagi aku tetap berusaha tersenyum dan berusaha melihat/memandang materi yang kubawa ini sebagai materi tambahan saja karena kupikir materi yang diangkat Mas Helmi ini benar-benar paket komplit.

Ketika tiba giliranku, jantungku berdentum-dentum keras sampai aku berpikir Host-nya bisa mendengar suara dentuman jantungku ini. Bukan, bukan berarti aku jatuh cinta pada Host-nya, tapi karena aku gugup! Iya, aku gugup bicara di depan generasi calon penerima beasiswa. AKU MERASA KECIL DAN TIDAK PANTAS!!

Tapi lagi-lagi, aku berusaha menampilkan versi terbaik diriku dan menyampaikan segala hal yang sekiranya bermanfaat dan bisa jadi bekal untuk para peserta.

Sudah sampai di slide 9, mereka masih diam. Di mataku, tidak banyak dari mereka yang memberikan tanggapan. Akhirnya aku menobatkan diriku sebagai orang yang payah dalam presentasi. Kamu payah, Yo! Lihat, mereka semua pada tidur kan, tuh?! Duh, jujur aja, kalau untuk jadi seasik Mas Helmi, aku ndak bisa 😔

Akhirnya aku pasrah sajalah. Bukannya malah tambah lemes, suaraku malah makin keras dan mantap. Usai presentasi, Mbak April, pasangan Mas Helmi (ihiw), berkomentar bahwa presentasiku lebih bagus dari Mas Helmi (ini berlebihan sih wkwk). Dia berkata bahwa di awal presentasiku itu dia sempat berpikir presentasiku tidak nyambung, tapi ternyata sangat masuk akal dan nggak kalah penting untuk para calon penerima beasiswa.

Mbak April juga melanjutkan, menerima beasiswa itu memang penting, tapi mereka juga harus tahu terlebih dahulu bahwa mahasiswa penerima beasiswa juga harus siap dengan segala sesuatu dan harus punya mental sekeras baja agar tidak mudah hancur.

Sebenarnya aku tidak berpikir sampai situ, tapi mendengar penjelasan Mbak April, aku sangat berterima kasih karena dia berhasil melihat sesuatu yang positif dari presentasiku. Padahal presentasiku itu, kalau sekilas, terlihat hanya seperti membangga-banggakan diriku sendiri. Sekilas loh. Makanya lihatnya jangan sekilas kayak Mbak April hehehe.. sekali lagi, terima kasih, Mbak Apriiiill!!!❤️

Justru di mataku malah presentasi Mas Helmi yang baguuuss dan aku malah iri. Iya, pengen bisa memiliki gaya presentasi seperti yang dilakukan Mas Helmi yang sangaaatt asek sekaliiii.

Tapi, setelah dipikir-pikir, materi yang kubawa dengan Mas Helmi itu adalah paket lengkap. Jadinya presentasi dengan paket super jumbo, deh! Hahaha..

Yang satu, presentasinya mendetail mengenai beasiswanya, yang satu lagi, presentasinya terfokus pada kenyataan yang nantinya akan para peserta hadapi ketika jadi mahasiswa penerima beasiswa.

Saat itu aku langsung tersenyum puas, otomatis aku dan Mas Helmi saling ber-high five hahahah..

Pokoknya hari itu sangat berfaedah sekali, dah. Ohiya, buat kamu yang mungkin juga pencari beasiswa, jangan pernah menyerah, ya. Kamu tidak sendiri, ada Tuhan yang senantiasa di sisi kamu.

Salam pejuang beasiswa!

PS: terima kasih banyak buat Kak Mbayung dan Kak Nadya yang udah nemenin kita. Lain waktu kita kudu main-main lagi, yaaa! 🤗

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s