Belajar Nulis Skenario Film Bareng Kak Rayya Makarim, Penulis 27 Steps of May

Akhir pekan lalu (28 Juli), bisa dibilang jadi akhir pekan yang paling menyenangkan selama aku menetap di Jakarta, tepatnya Jakarta Barat. Aku dapat kesempatan untuk belajar kepenulisan skenario film dengan teman-teman lainnya yang juga berdomisili Jakarta.

Kebanyakan dari mereka memang sudah bergelut di bidang perfilman. Berbeda dengan aku, aku tak punya latar belakang ilmu film sama sekali. Sempat berkecil hati karena saat sesi bedah film berjalan, aku hampir tidak mengeluarkan suara apapun. Selain karena belum tahu akan ke arah mana pembahasannya berjalan, juga karena aku takut salah ucap hahaha.. (sudah cukup di pengalaman-pengalaman sebelumnya aku menjawab dengan pede tapi ternyata salah)

Bukan berarti aku takut menjawab sih, lebih ke aku mau melihat dulu pembahasan pada workshop ini fokus ke arah mana. Tapi seiring berjalannya waktu, aku bisa mengikuti walaupun masih terseret-seret. Ternyata bukan hanya aku saja, ada Kak Elis (Jurusan Sastra Jerman UI’13) yang juga tidak bergelut di bidang film ataupun televisi seperti teman-teman lainnya merasakan hal yang sama.

Aku dan Kak Elis sama-sama lulusan bahasa dan memiliki ketertarikan dengan bidang kepenulisan. Sejauh ini, Kak Elis baru fokus di bidang kepenulisan cerpen. Sedangkan aku, sudah mencoba banyak hal, baik kepenulisan cerpen, cerbung, novel, puisi, naskah drama, artikel berita, artikel konten web, artikel promo, dsb, tapi tidak sampai mendalam, hanya setengah-setengah saja alias coba-coba. Biasalah, aku anaknya memang ingin mencoba banyak hal.

Jadi saat aku tahu bahwa Kak Elis juga serupa denganku, aku juga ikut senang karena seenggaknya ada temannya (maksudnya teman yang sama-sama mengikuti workshop itu dari nol).

Selama mengikuti workshop-nya, aku sempat dibuat takjub oleh banyak hal, terutama oleh detail-detail yang disampaikan oleh teman-teman lain ketika kita sedang menganalisis unsur pada film itu. Lebih dibuat takjub lagi dengan penjelasan dan pencerahan yang dijelaskan oleh Kak Rayya. Tak jarang aku menggeleng-gelengkan kepala karena tidak menyangka, Kak Rayya bisa melihat sisi/unsur yang aku tidak sadari sama sekali. Maklum, aku masih pakai kaca mata orang awam, bukan kaca mata anak film. Lol

Bahan-bahan pembelajaran yang digunakan oleh Kak Rayya adalah film-film pendek karya luar negeri, baik Jerman, India, Pakistan, New Zealand, Inggris, dsb, sehingga bahasanya pun campur aduk. Anw, aku sempat agak keteteran juga pas baca subtitel Inggrisnya, biasanya baca Hangeul soalnya 😦

Oke lanjut.

Meski bahan pembelajarannya nggak banyak banget, tapi pembahasannya banyak banget, sampai-sampai rasanya nggak cukup kalau cuma mencatat lewat buku, aku juga kudu merekam suara Kak Rayya ketika berbicara.

Yang dibahas pun banyak. Misalkan kita nonton film pendek yang hanya 10 menit. Pasti kalian pikir, “Halah, mau bahas apaan kok nonton film pendek yang cuma 10 menit aja? Itu mah belum masuk konflik kali.”

Eits, jangan salah, meski cuma film pendek yang berdurasi kurang dari 10 menit, tapi banyak banget unsur-unsur film yang kita bedah.

Di hari pertama, sesi dimulai sekitar pukul 14.30 WIB. Pembahasan di hari pertama itu mengenai alur cerita dari sebuah film.

Berhubung aku datang telat (maklum, baru beres gawe jam 13.50, otomatis baru bisa jalan jam 15.10 dan tiba di tempat jam 16.06, huhu telat banget), jadi aku mengikuti materinya juga nggak full. Begitu aku masuk ke dalam ruangan workshop, film pendek tengah diputarkan. Nampak peserta workshop yang juga tengah serius menatap tembok yang memantulkan sinar dari proyektor.

Meski dalam keadaan gelap, aku bisa merasakan keseriusan mereka dari heningnya suasana di ruangan. Dalam hati kataku, apa saja yang sudah kulewatkan dari dua jam tadiHuhu..

Film pun usai. Kak Rayya mengajukan pertanyaan berkaitan film tadi dengan fokus terhadap kepenulisan jalan ceritanya.

Seperti yang sebelumnya sudah kubilang, tidak hanya satu film saja yang diputar, tapi banyak film dengan jalan cerita yang unik-unik!

Yang kusuka di workshop hari pertama ini adalah pembahasannya lebih terfokus terhadap kepenulisan skenario film atau tentang bagaimana kita menulis sebuah jalan cerita. Dan itu berlaku untuk semua jenis karya, baik novel, cerpen, cerbung, bahkan skenario film atau drama (tapi tidak dengan sinetron loh, ya 😀 ). Ini jadi menambah ketajaman insting, feeling, serta kepekaan aku dan peserta lainnya sebagai seorang penulis.

Kak Rayya menyampaikan kepada kita semua, bahwa karya seorang seniman itu lahir dari sebuah keresahan yang menggaung dalam pikirannya. Dirinya juga menyebut bahwa ia membuat skenario film 27 Steps of May pun memang lahir dari keresahannya terhadap pelecehan seksual yang makin banyak menimpa para perempuan. Sedikit cerita tentang film ini, kali pertama ditayangkan di Busan International Film Festival yang terletak di Busan, Korea Selatan dan berhasil masuk dalam sembilan nomine Kim Ji Seok Award.

Setelah perilisan perdananya di Busan, film ini pun akhirnya dirilis di Indonesia. Sejak saat itu, film yang digarap oleh sutradara Ravi Bharwani ini banyak mendapat simpati dan perhatian dari para perempuan, bahkan perempuan korban pelecehan seksual di Indonesia. Temanya yang berani dengan konsep yang kental, membuat film ini istimewa.

Aku pun sebenarnya belum sempat nonton film ini, tapi begitu diberi tahu oleh Kak Rayya bahwa sepanjang film ini nggak banyak dialognya, aku sempat nggak percaya. Begitu melihat naskahnya secara langsung, aku tercengang, yang ada hanya paragraf narasi dan paragraf deskripsi saja. Sebenarnya dialognya ada, tapi itu pun hanya satu-dua dialog saja, singkat pula. Dan itu membuatku kagum.

Salah satu jawaban yang diberikan Kak Rayya yang paling membekas dalam pikiranku adalah..

Jangan mentang-mentang film bisu, bukan berarti film itu nggak punya skenarionya dan juga bukan berarti seorang penulis nggak nulis skenarionya. Justru apa yang dia tulis jadi lebih banyak karena dia harus bisa menggambarkan latar suasana, ekspresi pemain, hingga tindak tanduk pemainnya. Dan tentu saja itu bukan pekerjaan mudah.

Dan ya, aku hanya bisa mengangguk sambil mengerutkan dahi saat Kak Rayya menyampaikan hal itu.

Selain itu, kita juga membahas tentang pemilihan tema (baik yang unik ataupun yang terkesan berani), genre cerita, karakter tokoh, dan masih banyak lagi. Tapi kalau dibahas semua, bakal panjang banget. Jadi cukup sampai situ aja, ya. Kita beralih ke hari selanjutnya.

Memasuki hari kedua, tepat di hari Minggu, aku datang tepat waktu di lokasi. Masih dengan orang-orang yang sama, kita semua sempat mengobrol sebentar. Yaa kenalan, yaa PDKT, yaa chit-chat, bahkan sampai ketawa-ketiwi. Kalian tahu, aku senang banget ketemu mereka, soalnya aku dan mereka ini sama-sama penulis!

Singkat cerita, akhirnya workshop siang itu pun dimulai. Seperti biasa, Kak Rayya yang membuka sesi siang itu dengan mengulang kembali pembahasan kemarin dan menyampaikan fokus pembahasan pada siang hari ini.

Pada dasarnya, pembuatan film itu kan ada tiga tahap, yaitu tahap pra-produksi, produksi, dan pasca produksi. Nah, pada hari pertama, kita lebih membahas dari kaca mata kepenulisan jalan cerita yang mana terdapat pada tahap pra-produksi film, sedangkan hari kedua ini lebih fokus membedah film dari kaca mata filmmaker yang mana terdapat pada tahap produksi. Jadi lebih ke teknisnya gitu, deh.

Nah, kali ini fokus pembahasannya ialah realistic VS non realistic (ingat, dari kacamata filmmaker, bukan penulis).

Berhubung kali ini aku ndak datang telat, alhamdulillah aku bisa nonton film pendek yang yang diputar pertama kali oleh Kak Rayya. Hehehe..

Saat pemutaran film yang pertama, aku masih belum bisa menangkap maksud Kak Rayya untuk menilai semua film pendek itu dari segi filmmaking.

Jadi ketika Kak Rayya bertanya kepadaku dan peserta lainnya, “Film ini termasuk film apa? Realistic or non realistic?”, aku hanya berpikir film itu adalah film non realistic dengan alasan bahwa film itu nggak masuk akal dan nggak mungkin terjadi di kehidupan nyata. Iya, mana mungkin ada seorang suami yang berharap untuk membunuh istrinya yang juga sedang main permainan papan (aku lupa nama permainannya) lalu terkabul saat itu juga? Bukankah itu mustahil?

Lantas karena itulah aku menganggap bahwa film itu non realistic. Tapi ternyata alasanku salah. Aku masih menilai film itu dari kaca mata penulis skenario, bukan dari kaca mata filmmaker. Memang benar, film itu termasuk film non realistic, tetapi jika dilihat dari kaca mata filmmaker, film itu termasuk film non realistic karena tone atau sinematografinya nabrak banget.

Pada awal film, sinematografinya kuning terang (bener-bener kuning banget, bikin aku makin benci sama warna kuning heuheu), seolah menggambarkan kehangatan antara suami dan istri yang sedang bermain permainan papan bersama.

Tetapi ketika masuk pada scene sang suami mengucapkan harapan agar sang istri segera mati, mendadak sinematografinya menjadi biru gelap dan semakin mencekam. Perubahan sinematografi tersebut terlalu ekstrim sehingga film itu tidak enak untuk ditonton, khususnya aku. Pokoknya sinematografinya kontras banget.

Itu film pertama. Begitu seterusnya sampai kita membedah tujuh film hingga jam 16.00. Setelah itu, Kak Rayya memutuskan untuk istirahat sejenak selama 30 menit.

Selama waktu istirahat, aku kembali mengobrol dengan Kak Elis. Di sebelah Kak Elis, telah duduk juga seorang laki-laki bernama Kak Bob. Aku baru melihatnya hari ini. Sepertinya kemarin dia tidak ada. Dan benarlah, rupanya Kak Bob datang ke workshop ini menggantikan Kak Helga yang berhalangan datang. Barulah di situ aku menyadari bahwa Kak Bob ini juga satu tempat kerja dengan Kak Helga.

Usut punya usut, Kak Bob ini ternyata malah produsernya Cameo Project. Itu loh, yang tahun lalu bikin lagu sekaligus video klipnya Ayo, Nonton Asian Games untuk memeriahkan Asian Games 2018. Ya, Kak Helga ini di Cameo Project berperan sebagai Asisten Sutradara. Kebetulan saat workshop bareng Kak Rayya ini diselenggarakan, dia sedang bertugas di Bali. Uh, enaknya, tapi sayang juga nggak bisa ketemu.

Kuharap nggak cuma di workshop bareng Kak Ceppy Gober (Sutradara Jodoh Wasiat Bapak ANTV) aja, tapi di kesempatan lainnya juga bisa ketemu lagi dengan Kak Helga (Anyway, aku tahu tentang adanya workshop bareng Kak Rayya ini juga dari Kak Helga, tapi justru malah Kak Helganya yang nggak bisa datang huhu).

Usai istirahat, kita kembali menempati kursi masing-masing. Kak Rayya kembali bertanya, apa lagi yang mau dibahas. Akhirnya kami pun sepakat untuk membahas tentang film 27 Steps of May. Kak Rayya pun sepakat.

Durasi 1.5 jam itu kita habiskan untuk membahas satu film karya Kak Rayya. Ia juga menyampaikan pendapat serta pandangannya terhadap film Indonesia yang dirasa akhir-akhir ini sedang berkembang.

Satu yang kusuka dari Kak Rayya ialah dia wanita berkemauan keras. Dalam proses menulis skenario pun, tidak ada dalam pikirannya tentang sebuah keuntungan atau bisnis. Yang ada hanya berkarya, berkarya, dan berkarya. Karena sesungguhnya berkarya itu adalah tentang bagaimana kita menyampaikan keresahan yang ada dalam pikiran kita, membuka pikiran masyarakat, dan menebarkan pesan kebaikan (nilai moral) kepada khalayak umum.

Kak Rayya menutup sesi pada hari kedua dengan satu pertanyaan,

Membuat film itu susah, jadi apakah kamu serius akan tetap mau terjun ke dunia perfilman Indonesia?

 

dan dilanjut dengan sesi foto bersama.

8268f39e-dc3a-46b2-9999-463c49e10471

Sejak itu (bahkan hingga detik ini), aku jadi berpikir ulang, kamu benar-benar mau terjun ke bidang yang kamu belum pernah coba itu? Seriusan?

Hmm..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close