Astrid kembali menutup laptop lalu menyesap amerikanonya. Ia memejamkan mata sekali lagi. Gigi depannya menggigit-gigit bibirnya sendiri. Begitulah Astrid ketika sedang mengkhawatirkan sesuatu, nyawanya sudah tidak pada layar monitor yang menampilkan jendela Ms. Word berisi artikel yang harus dia sunting. Seolah tiba-tiba otaknya jadi tumpul karena satu hal. Iya, satu hal.

“Seandainya kemarin aku menuruti logikaku untuk tidak mengikuti Mario, aku pasti tidak akan mendengarkan penjelasan yang dia lontarkan. Aku benar-benar benci Mario,” maki Astrid pada dirinya sendiri.

Drtt.. Drrtt.. Ponsel Astrid bergetar. Sebuah nama tertulis di screen saver. Astrid mengusap ke atas layar ponselnya dan membaca pesan yang dikirim oleh seseorang itu.

 

JAVIN

5 menit lagi aku sampai. Tunggu aku ya, sayang.

 

Astrid tersenyum kecil kemudian membalas pesan itu dengan jahil.

 

ME

Untung aku dan segelas amerikano ini penyabar, kalau tidak, sudah kita tinggal kamu, Mas. Hahaha.

Hati-hati, sayang.

 

Ia meletakkan kembali ponselnya. Tak lama, pesan masuk lagi. Astrid bisa melihat isi pesan itu lewat screen saver-nya. Javin mengirimkan emoji love kepadanya. Senyum berhasil merekah di wajah Astrid. Sederhana dan sepele sebenarnya, tapi bukankah itu yang berkesan di hati para wanita?

Sebenarnya Javin bukanlah tipe pria yang romantis, tapi ia sangat paham bagaimana cara memperlakukan wanita dengan sangat baik, terlebih lagi wanita yang ia puja. Saking diperlakukan dengan baik, selama satu tahun hubungan mereka berjalan, tak pernah satu haripun Astrid tidak merasa seperti seorang Ratu. Javin itu pas, ia layaknya pasangan yang sempurna bagi Astrid dan ia bersyukur akan hal itu.

Sedang asyik-asyiknya melamun, tiba-tiba Astrid merasakan sentuhan hangat tangan seseorang menutupi kedua matanya. Secara spontan Astrid berteriak, “Javin?!” lalu menoleh ke belakang dan benar saja, Javin yang ia dapati berdiri di belakangnya dengan pakaian kasualnya.

“Makasih ya udah mau nungguin aku. Uh, sini-sini aku minum kamu dulu,” ucap Javin pada secangkir amerikano yang sudah diantar oleh pelayan dari 20 menit lalu.

Astrid tertawa. “Kamu nih, gila, ya? Habis ketemu fans yang tipe kayak apa kok bisa bikin kamu sampai gila kayak gini? Cangkir kopi aja disapa duluan, sampai diajak ngobrol pula. Aku yang udah kering nungguin di kursi ini malah dilewatin,” ledek Astrid.

Javin meletakkan cangkirnya lalu menggenggam jemari tangan kanan Astrid dengan gemas. “Uuh, kamu juga nungguin aku, yaa? Maaci, yaa. Uunch,” kata Javin dengan nada suara yang sengaja diimut-imutkan. Astrid bergidik merinding.

“Hiii.. Kamu bikin aku merinding dengernya, nih. Heuuu..,”

Lalu Javin tertawa puas. Ya karena memang itu tujuan dia, membuat Astrid kegelian melihat tingkat dirinya dan itu sudah membuat Javin bahagia.

“Hush, udah ah, ketawamu kencang banget, Mas.”

“Ya habis, kamu sih lucu kalau udah kegelian gitu. Haduh haduh.” Javin geleng-geleng.

“Ada-ada aja. Ohiya, gimana tadi manggungnya? Lancar?”

Javin mengangguk malas. “Ya, begitulah. Seperti biasa.”

“Trus, album perdanamu mau rilis kapan? Jadi berapa total lagunya?” tanya Astrid dengan nada antusias.

“Mm.. doain aja November tahun ini bisa rilis, ya. Totalnya delapan lagu, termasuk dua lagu bikinan kamu, sayang.”

“Serius? Asiik!! Aku seneeeng banget, dengarnya.”

“Dan tenang aja, yang pasti, nama kamu kita cantumin di albumnya.”

“Ah, itu bukan yang utama, cukup didenger dan dinikmati banyak orang, itu aja aku udah seneng banget. Apalagi ada suara kamu, Mas.”

“Emang kenapa kalau pakai suaraku, hm?”

“Mm.. suaramu itu khas banget, suara bariton yang bikin orang kecanduan, pengen dengerin terus. Makanya kalau aku nelepon kamu pengennya dilama-lamain aja.”

“Pantesan kuotaku cepet habis, ya? Hmm..,”

“Ihh, apa sih, masa lebih sayang kuota daripada aku. Rese.”

Lagi, Javin terbahak-bahak melihat Astrid yang merajuk. Astrid membalas dengan mencubit lengan kirinya yang disusul dengan suara mengaduh yang lolos dari mulut Javin.

“Aduhh, kamu nih, nyubitnya bikin linu.”

“Ya habis kamunya ngeselin, ngeledek mulu.”

“Nggak seru tahu kalau nggak ngeledek kamu, tuh. Berasa ada yang kurang.”

“Tahu, ah.” Astrid memanyunkan bibirnya.

“Yah, jangan marah dong, sayang.”

Tiba-tiba, Astrid menjulurkan lidahnya. “Wle, siapa yang marah. Satu orang telah tertipu merasa malu, kasihan deh, lo,” ledek Astrid sambil sedikit berdendang.

“Ah, satu sama, deh,” Javin pura-pura merasa tersaingi.

 

Itu baru intermezzo. Setelah itu, mereka mulai membicarakan hal-hal serius. Apalagi kalau bukan tentang persiapan pernikahan mereka yang akan diselenggarakan awal tahun depan?

 

Javin sedang serius membuka lembar demi lembar katalog baju pernikahan milik salah satu desainer ternama di Jakarta sampai akhirnya Astrid bersuara. “Mas?”

 

“Hm?” balas Javin.

 

 

“Kemarin Mario datang menemuiku, Mas..,”

 

 

To be continued

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s