Dua tahun lalu, satu minggu pasca pernikahan dibatalkan…

“Iya, katanya sih gitu. Dia batal nikah minggu lalu. Kayaknya cowoknya udah ngebuang dia,” kata seorang perempuan.

“Ah, yang bener? Masa cantik-cantik gitu dibuang sama cowok? Lah, gimana aku?” sahut perempuan lainnya.

“Iya beneran! Kasihan banget, ya?”

“Eh, udah ah, balik kerja. Pagi-pagi udah ngomongin orang. Tuh, layanin, ada tamu yang mau beli obat penyakit maag.”

 

Begitulah kurang lebih omongan orang-orang di sekitarku. Semenjak pernikahanku batal diselenggarakan, aku tidak pernah benar-benar fokus dengan pekerjaanku. Omongan mereka juga tidak pernah kuhiraukan. Kerjaanku sebagian besar hanya melamunkan pria yang sudah membuat hidupku kacau balau.

Tak lama, ada sebuah tangan yang menyangkutkan headset di telinga kananku. Aku menoleh dan mendapati seseorang yang akhir-akhir ini akrab denganku.

Aku menatapnya malas. “Mau apa kamu?”

“Nggak ada. Cuma pengen ikutan nimbrung di sini aja. Butuh temen buat ngasih pendapat tentang musik ini, nih,” jelas Javin sambil asyik mengunyah siomaynya itu.

Aku terdiam sejenak, mencoba menghayati musik itu. “Mm.. bagus.”

“Itu aja? Oh, ayolah, kamu nggak biasanya kayak gini. Biasanya kamu kalau udah kukasih instrumen musik macam ini, pasti langsung jingkrak-jingkrak trus semangat bikin lirik lagunya. Gimana sih, kok jadi loyo gini?”

“Ah, kamu, Jav. Aku lagi nggak bersemangat, nih. Lain kali aja, ya?” balasku. Javin merenggut.

“Aahh, jangan gitu, doong. Mana Astrid yang kukenaal? Masa kamu mau aku nerbitin album cuma ada 4 lagu doang? Kan nanggung, seenggaknya minimal 5 lagu kek. Ayolah, bantu aku lagi kali ini, Trid. Please?” bujuk Javin yang langsung melahap potongan terakhir siomaynya.

Aku menimbang-nimbang sejenak, memikirkan jawaban apa yang bisa kuberikan pada Javin. Meski hatiku sedang tak karuan sekarang, tapi aku tidak mau menyakiti hatinya dengan menolak mentah-mentah ajakan kolaborasinya itu. Tentu saja aku tergiur, karena menulis lirik adalah salah satu hal yang paling kusuka sedari kecil, tapi kejadian minggu lalu benar-benar kejadian terburuk sepanjang hidupku dan aku masih belum bisa melupakannya. Pikiranku sungguh sedang kalut.

Sambil menghela napas panjang, aku jawab, “Baiklah, tapi jangan salahkan aku kalau liriknya nanti yang keluar itu lirik yang sedih-sedih, ya? Ya kau tahulah, suasana hatiku lagi nggak tentu,” pada Javin.

“Nah, gitu, dong. Duhh, kau memang temanku yang paling mengerti, deh!” celetuknya yang langsung menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Meski sesaat, pelukan Javin menghangatkan dan menenangkan. Aku bisa ikut meraskaan dneyut jantung Javin beberapa saat.

Aku masih bergeming di posisiku tanpa membalas pelukan Javin. “Kamu yang terbaik pokoknya, Trid!” serunya sambil melepas pelukannya padaku.

Sebenarnya aku mengerti, niat Javin memberikan aransemen musik ini padaku bertujuan untuk menghiburku dari kesedihan minggu lalu. Usahanya sangat kuhargai. Tapi tetap saja, peristiwa itu meninggalkan lubang yang terlalu dalam dan terlalu besar dalam hatiku. Sungguh, jangan minta aku untuk bangkit dari kesedihan ini detik ini juga, karena itu hal yang mustahil bagiku, atau bahkan mungkin bagi seluruh orang di dunia ini.

Javin pergi meninggalkanku sendiri di atap. Aransemen musik Javin kuputar puluhan kali sore itu. Rasa-rasanya lagu ini memang lagu sedih. Belum tiga puluh menit, aku sudah bisa langsung menulis liriknya dengan mudah, bahkan sampai lirik terakhirnya.

Satu jam berlalu. Akhirnya aransemen itu telah menjadi sebuah lagu utuh. Kuberi judul Jemari Tak Menggenggam di bagian atas kertas sobekan yang diberikan oleh Javin tadi. Mudah-mudahan Javin suka dan tak menganggap aku terlalu bucin (budak cinta; orang yang memiliki reaksi yang berlebihan jika menyangkut permasalahan cinta).

Sebenarnya ini masih rahasia. Tapi diam-diam, aku juga menyalin lirik itu di dalam notes ponselku.

 

Jemari Tak Menggenggam

Langit membentang luas

biru nan cerah

Namun, ku tak suka

dia pisahkan kita

 

Maafkan aku, ternyata akulah

orang teregois yang inginkan kau di sisi

 

Kukira kusanggup menahannya untuk masa depan berdua

Nyatanya ini lebih sulit dari yang kubayangkan

 

Reff:

Tak pernah kukatakan yang sejujurnya padamu

Kaupun di sana sedang meresahkan hal lainnya

Ku tak mau buat kau gelisah

Apapun, jika itu yang terbaik untukmu, ku ‘kan senang

 

Aku melepas headset dan kembali masuk ke dalam gedung, menuruni tangga menuju ke lantai bawah. Tanpa kusadari, kesedihanku terhadap peristiwa minggu lalu sudah berkurang 0,01%. Kutinggalkan kesedihan itu di atap gedung Apotek, tempat kerjaku saat ini. Semua tentu saja berkat aransemen musik Javin. Aku meluapkan semua emosiku ke dalam lagu ini. Rupanya benar kata orang, saat terpuruk adalah saat yang tepat untuk menghasilkan karya dan bangkit dari keterpurukan. Mungkin ini adalah giliranku untuk bangkit. Mungkin.. Atau mungkin Javinlah orang yang bisa membantuku kembali menemukan bahagiaku.

 

__

Notes: lirik lagu di atas, mudah-mudahan, bisa segera digarap deh. Pokoknya, nantikan terus aja kisah Astrid dan Mario yang selanjutnya! 😀

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s