Ingkar – 3

“Kamu nggak dengar apa yang ibuku bilang waktu itu? Aku ini mau menikah dengan orang lain, buat apa sih kamu tetap menghampiri aku ke sini?”

Dia berlutut di depanmu. Kamu bingung dengan sikap dia yang malah makin melembut ketika kamu kasari. “Heh, mau apa kamu? Kok malah berlutut begini? Bangun, Mario,” perintahmu padanya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Tubuh Mario semakin membungkuk. Kamu bertambah kesal dibuatnya.

“Kalau kamu nggak mau bangun, aku akan teriak sekarang juga biar tetangga lain mengira yang nggak-nggak terhadap kamu. Ayo, bangun, dong. Jangan kayak gini, ah.”

Mario bergeming, kamu jadi salah tingkah dan bingung harus berkata apa lagi agar Mario mau bangkit dari posisinya itu.

“Aku akan tetap bersimpuh di hadapanmu sampai kamu mau mendengar ceritaku selama aku di Jerman,” kata Mario, akhirnya dia mengeluarkan suara.

“Aduh, sebenarnya apa lagi sih yang mesti dibahas dari kejadian waktu itu, hah? Aku anggap semuanya udah selesai dan kamu nggak perlu repot–”

“Tapi nyatanya semua belum selesai, Astrid!” sahut dia dengan nada sedikit membentak. Perlahan kepalanya mendongak untuk menatap kedua matamu. Kamu menunduk menatap kesungguhan dari sinar matanya.

“Kamu belum dengar ceritaku. Kamu tidak pernah bertanya padaku apa yang sudah kulewati selama di Jerman. Kamu tidak tahu betapa ingin aku pulang ke Indonesia untuk bertemu denganmu dan memelukmu. Aku ingin lari dari semua masalahku di Jerman, tapi aku tidak bisa!” jelas Mario dengan penuh emosi. Kepalanya perlahan menunduk kembali, mungkin kini Mario sedang menatap sepasang sepatu heels-mu sambil menahan air mata di pelupuk matanya.

Mario telah meneriakimu. Tubuhmu membeku di tempat dalam beberapa saat. Teriakan Mario menghentakkan kesadaranmu.

Mario perlahan bangkit, kedua tangannya menggenggam kedua tanganmu. Kamu masih terdiam, sedangkan Mario berpikir diamnya kamu itu pertanda bahwa kamu bersedia mendengarkan penjelasannya. “Izinkan aku menjelaskan semuanya kepadamu. Setelah itu, kuserahkan semua keputusan kepadamu.”

 

***

 

Mario menuntunmu ke sebuah taman kota yang cukup ramai. Namun, sudut taman yang ia pilih cukup tenang sehingga cocok untuk dijadikan tempat diskusi seperti sekarang.

Kamu dan dia duduk bersebelahan di satu bangku taman dengan jarak. Dia duduk di ujung bangku, dan kau pun juga.

“Waktu itu.. aku.. memang benar-benar menyukaimu. Bahkan.. saking sukanya, aku beberapa kali memimpikanmu. Sampai sekarang pun masih segar diingatanku, bagaimana kita mengawali hubungan ini dengan indah. Semakin ke sini, aku semakin merindukanmu. Tapi yaa kau tahu, aku harus menahan itu semua, harus sabar. Kesabaranku saat itu juga diuji dua kali lipat saat aku mendapat nilai jelek dari pihak kampus. Hahaha..”

Kamu menoleh ke arahnya, mencoba membaca ekspresi dan pesan yang dia coba sampaikan padamu. Dia tertawa tapi tidak benar-benar tertawa. Sebaliknya, kamu melihat ada kesedihan yang dalam terpancar di raut wajahnya.

“Aku.. harus mengulang studiku lagi karena nilaiku banyak yang anjlok. Sementara itu, orang tuaku sudah tidak bisa mengirimkan uang sebanyak sebelumnya. Jadi intinya, aku di sana sedang dalam titik terendahku.” Mario menelan ludah sejenak dan mencoba menormalkan suaranya yang nyaris terdengar bergetar akibat menahan luapan emosi dalam benaknya.

“Ketika itu pikiranku bercabang banyak, bahkan sebelum kamu datang di kehidupanku, masalah hidupku sudah banyak. Namun, jadi bertambah banyak bahkan setelah kamu masuk di kehidupanku. Aku dilema antara tetap mempertahankanmu di sisiku atau melepasmu dan menyelesaikan semua masalahku di sana sendirian. Keduanya berat bagiku. Di satu sisi, aku merasa tak mampu menyelesaikan semua masalahku sendirian, aku takut terpuruk sendirian. Di sisi lain, kamu adalah obat bagiku.” Dia kembali terdiam kemudian menghela napas panjang.

“Namun, tetap saja, keputusan harus tetap kubuat. Aku tak bisa menginginkanmu tetap di sisiku sementara aku pun jarang mengabarimu. Aku tak bisa egois. Tapi aku berani bersumpah, kamu tak pernah luput dari pikiranmu barang satu hari pun.”

Tak sadar, kamu terkekeh pelan ketika mendengar kalimat terakhirnya.

“Aku tahu, ini terdengar seperti gombal sekali, alasan yang kubuat pun terdengar klise, tapi ini sungguh terjadi padaku. Aku merasa diriku masih belum bisa menemukan jalanku sendiri, aku masih tersasar di tempat yang aku sendiri pun nggak tahu di mana. Dan kamu tahu, ketika itu ,rasanya mengakhiri hidup sempat terasa lebih menenangkan dibanding menyelesaikan permasalahan hidupku sendiri. Konyol memang. Dan aku akui, aku punya mental sebesar batu kerikil. Berbeda sekali denganmu yang punya mental sebesar bumi. Kamu justru mengagumkanku. Keyakinanmu, semangatmu, segala yang ada pada dirimu, aku mengaguminya. Kamu jadi motivasiku untuk berubah, untuk bisa setegar batu karang di pantai ketika dihadang ombak besar.”

 

“Sejak saat itu aku membulatkan keputusanku untuk belajar merelakanmu. Walaupun dalam hati aku juga berdoa agar kamulah pasangan hidupku. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menghadapi semuanya dengan tegar. Ketika sudah menyelesaikan semuanya di Jerman, aku tak sabar untuk pulang ke Indonesia bertemu denganmu dan meminangmu. Tapi ternyata aku sudah di Jerman terlalu lama. Maaf ya karena telah membuatmu menunggu lama. Aku tahu, kedatanganku sekarang pun tidak pernah kauharapkan, ya kan?” Mario menoleh kepadamu, melemparkan senyum kesedihan kepadamu. Itu menyayat hatimu dalam sekali.

Tiba-tiba rasa penyesalan datang di hatimu. Penyesalan karena telah membencinya selama kurun waktu tiga tahun ini. Ternyata selama ini hanya salah paham saja. Baik kamu dan dia, sama-sama saling merindukan.

“Jadi.. begitu ceritanya,” katamu, akhirnya bersuara.

Mario mengangguk, “Ya, begitulah. Sekarang aku lega bisa menceritakan semuanya padamu… Selamat atas pernikahanmu nanti, ya.”

Hatimu terpukul mendengar ucapan selamat darinya. Masih ada secuil rasa tak rela dalam hatimu. Kamu berat untuk membalas ucapan selamat itu dengan ucapan terima kasih. Justru sebaliknya, kamu memberikan ekspresi yang tak mampu dibaca olehnya.

“Astrid? Kamu nggak apa-apa? Wajahmu…”

“Aku butuh waktu, Yo.” Kamu langsung bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Mario sendirian di taman. Kamu membiarkan dia melihat punggungmu yang terlihat semakin mengecil hingga menghilang di tikungan gang.

 

***

To be continued

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close