Ingkar – 2

Suatu hari di sebuah kafe, kamu sedang bersama dengan seorang wanita dan nampak asyik menikmati mentari sore dari balik jendela besar ditemani secangkir amerikano panas.

“Sudahlah, Mario. Lupakan saja dia. Toh salah dia sendiri yang nggak mau dengar penjelasanmu terlebih dulu, main asal memutus komunikasi saja,” sahut wanita paruh baya di hadapanmu sambil menyesap secangkir amerikano.

Kamu menundukkan kepala, menatap kosong lantai kafe karena kamu tak tahu harus bereaksi apa terhadap pernyataan wanita di hadapanmu itu.

Dia menghembuskan napas panjang, sedangkan kamu masih bergulat dengan pikiranmu. “Ngomong-ngomong, gimana kabarnya? Apa dia baik-baik aja?” tanya dia, kebetulan sekali, kamu juga sedang bertanya-tanya tentang kabarnya.

Kamu terkekeh, merasa lucu dengan sikap wanita di depanmu. “Kok malah ketawa? Aneh lu.”

“Lucu aja. Sedetik sebelumnya kamu seperti tidak menyukainya, eh sedetik setelahnya kamu seolah care banget sama dia. Kamu ini sebenarnya di pihakku atau di pihak dia sih, Sher?” ledekmu pada wanita itu.

“Yaa.. bukan gitu, aku udah pasti di pihakmu, Yo. Santai aja dong, aku cuma nanya aja, kok,” balas wanita bernama Sherli itu dengan nada sedikit sewot.

Kamu tertawa keras karena berhasil membuat amarah Sherli terpancing. Perlahan tawamu mereda. Ingatan tentang Astrid kembali tergambar jelas lagi di pikiranmu.

“Kok ketawanya berhenti?” tanya Sherli yang melihat wajahmu kembali murung. “Ah, padahal aku suka suara tawamu loh, Yo. Nggak seru, ah.”

Kamu meneguk amerikano lagi. “Aku kemarin menjenguknya di rumah sakit. Dia.. dalam keadaan lemah. Nggak lama, mama– eh, maksudku Ibu dan adiknya datang. Mereka minta kepadaku untuk nggak datang ke kehidupan dia lagi.”

“Serius? Kok kamu nggak cerita dari kemarin? Kenapa baru sekarang? Terus kamu jawab apa?”

“Ya aku langsung keluar dari ruangan itu.”

“Aduh, parah banget sih ini, Yo.”

“Aku udah nggak ada kekuatan lagi buat menggenggam dia, Sher. Aku udah pasrah,” ucapmu, akhirnya hatimu memutuskan untuk menyerah saat ini juga. Lalu beberapa saat kemudian, hening memenuhi ruang antara kamu dan Sherli.

“Yo, kamu merasa dia jodohmu?”

Kamu bingung dengan pertanyaan Sherli yang terkesan random. “Maksudmu?”

“Kamu yakin nggak kalau Astrid adalah jodoh sejatimu?” tanya Sherli lagi.

“Aku..aku pun.. sebenarnya masih bingung kalau kamu tanya kayak gitu, Sher.”

Sherli memajukan badannya ke arahmu dan mulai berbisik dengan suara yang cukup keras. “Kalau memang kamu merasa dia adalah jodoh kamu, belahan jiwa kamu, dan pasangan hidup kamu yang kamu nggak akan pernah bisa terbayangkan gimana dunia bila tanpanya, berarti kamu harus perjuangkan dia selama kamu bisa. Kamu harus berusaha, sebelum semua terlambat dan kamu akan memendam penyesalan seumur hidup kamu,” jelas Sherli.

Sherli memundurkan badannya kembali dan menyandarkannya pada sandaran kursi. “Tapi sebelum itu, kamu tanya dulu pada hatimu. Apa benar dia orangnya? Setelah kamu yakin, baru deh kamu punya kekuatan dan keyakinan untuk meraih dia ke pelukan kamu lagi, Yo,” lanjut Sherli. Kedua bola matamu dan matanya saling menatap dalam, tersirat di wajahmu tergambarkan keraguan itu.

“Pikirkan saja dulu, jangan terburu-buru. Lagipula pernikahan dia masih lama, kan?”

Lagi-lagi kamu hanya bisa diam. Diam-diam kamu membenarkan semua yang dibicarakan oleh Sherli.

“Terima kasih, Sher.”

“Untuk?”

“Semuanya. Kau sudah banyak membantuku. Kau harus berjanji untuk menghubungiku kalau kau ada kesulitan, oke?”

Sherli mengangguk sambil tersenyum kecil. “Pasti. Diminum amerikanonya. Udah dingin, tuh.”

Meskipun terasa masih gamang dan abu-abu, tapi kamu merasa semuanya kembali ceria. Hatimu yang terasa penuh sesak oleh masalah hati dengan Astrid kini sudah mulai berkurang walaupun kamu masih tidak tahu apakah Astrid adalah orangnya atau bukan. Yang jelas kini kamu rasakan adalah semuanya terasa baik-baik saja. Hatimu bisa sedikit lebih tenang.

Namun, tidak dengan Sherli. Dalam hati, dia menyesali apa yang telah dirinya katakan padamu. Dia takut kamu akan kembali pada Astrid. Dia takut kalian tidak bisa berbagi cerita pribadi seperti ini lagi. Dia takut posisimu kembali tergantikan oleh Astrid seperti saat di Jerman. Ketakutan itu belum usai, tapi Sherli kembali mengucapkan hal bodoh.

“Pokoknya pikirkan aja hal itu dulu. Setelah itu kamu bisa kembali padanya untuk menjelaskan padanya dan juga keluarganya bahwa bukan maksudmu untuk membatalkan rencana pernikahan kalian begitu saja, tapi semua itu karena kamu juga ada masalah selama di Jerman. Lagian keputusan itu kan udah kamu pikirkan matang-matang. Kamu boleh panggil aku kalau kaubutuh, Mario.” terukir senyuman manis di wajah Sherli, memperlihatkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kamu tidak menyadari bahwa jemari Sherli sudah gemetaran hebat di bawah meja. Butuh keberanian kuat baginya untuk mengucapkan itu semua kepadamu tapi kamu tidak juga tahu akan perasaan Sherli. Sepertinya sampai kapanpun kamu tidak akan pernah menyadari itu.

 

 

 

____

Untuk Johan, aku sudah memenuhi tantanganmu untuk memakai sudut pandang kedua, ya. Semoga suka.

Buat semuanya, tunggu kisah selanjutnya, ya! Trims.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close