Boleh Tertekan, Asal Bahagia

Pernah kudengar ada yang bilang begini, “Kalau nggak mau tertekan, mending jadi orang gila aja.” Begitu dengar ini, hati rasanya perih. Walaupun memang aku nggak pernah ada pikiran untuk seperti itu, tapi kerasa aja gitu sedihnya.

Aku jadi mikir, gimana kalau nanti aku juga jadi tertekan parah lalu disuguhi kalimat seperti itu sama orang lain, bisa terpuruklah aku. Tapi setelah itu aku juga berpikir bahwa setiap manusia pasti tertekan entah karena masalah internal dirinya ataupun eksternal. Jadi kupikir itu sudah menjadi suatu kewajaran.

Namun masalahnya, kalau terlalu tertekan hingga menyebabkan gejala depresi bahkan menimbulkan penyakit mental, bisa jadi fatal. Kalau udah begini, kita jadi butuh ahli penyakit mental untuk membantu diri kita bangkit dari kegelapan.

Dan terkadang, biaya konsultasinya pun tidak murah jika membutuhkan konsultasi harus dilakukan secara rutin. Tentunya ini bisa menguras dompet kita hingga ke akar-akar. Huhu..

Nah, supaya itu semua tidak terjadi, kita harus pandai-pandai kenali diri kita. Kapan kita memperbolehkan diri kita untuk sedikit tertekan dan kapan kita harus membahagiakan diri kita sendiri. Atau, apakah yang kita kerjakan ini sudah membuat kita bahagia atau malah sebaliknya?

Dalam hal ini, mari kita persempit lingkupnya hanya sekitar lingkungan kerja saja.

Menurutku, ada dua jenis rasa tertekan yang dapat kita rasakan di lingkup kerja, yaitu tertekan yang tidak membahagiakan dan tertekan yang membahagiakan. Mari kita bahas satu per satu.

1. Tertekan yang Tidak Membahagiakan

Banyak contoh kasus yang bisa digolongkan dalam poin ini, salah satunya ialah ketika kamu sudah masuk ke lingkup kerja di mana orang-orangnya enerjik, semangat, bahkan bosnya pun ramah, punya rasa kekeluargaan, dan suka memberikan motivasi agar kita terus semangat kerja di tempatnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, ternyata motivasi dan dukungan itu malah makin menekan kita, membuat hati kita berteriak dan meronta untuk keluar dari tempat kerja itu. Bukan karena lingkungan kerjanya, tapi karena ada mimpi lain yang ingin dicapai. Namun apa daya, yang aku lakukan tidak ada, aku masih terikat dengan tempat ini. Pikirmu.

Padahal mimpi yang terus-menerus muncul dalam pikiran kita bukan sekadar mimpi yang baru muncul di siang bolong, tapi mimpi dari kecil yang hingga kini tertahan dalam pikiran. Kita dibuat penasaran oleh sang waktu, apakah kita akan terus bertahan di tempat yang sekarang atau menunggu kesempatan lain dalam diam dengan kesabaran penuh?

Orang yang cerdas pasti akan memilih pilihan yang kedua. Tentu saja ia ingin resign dengan baik-baik tanpa mencemarkan nama baiknya sendiri. Masuk baik-baik, maka keluar pun harus baik-baik.

Namun, beda halnya dengan orang yang memilih pilihan kedua. Orang dengan pilihan pertama cenderung pasrah dan bahkan perlahan melepaskan mimpi masa kecilnya itu seperti dia melepaskan balon gas ke langit biru dengan mudahnya.

Kalau benar begitu, maka hari-hari yang dilalui selama di tempat kerja itu hanya penuh dengan.. omong kosong. Maaf jika harus kasar, tapi kamu harus sadar itu. Ada mimpi yang harus digapai tapi kita malah melepasnya dan memilih bertahan di tempat kerja yang tidak membuat kita bahagia.

Itu salah satu contoh Tertekan yang Tidak Membahagiakan.

Jadi, bagaimana? Sudah punya keberanian mengambil keputusan bijak itu?

 

2. Tertekan yang Membahagiakan

Kita ambil satu contoh. Misalnya kita termasuk orang yang suka sekali dengan isu kemajuan dan kedaulatan tanah air. Kita bertekad untuk ikut mengambil peran dalam pembangunan negara. Ilmu-ilmu yang sudah kita dapat dan kumpulkan pun dirasa sudah cukup untuk menjadi modal dasar.

Kemudian, tidak beberapa lama, kita mendapat kesempatan untuk menempati kursi penting dalam pemerintahan, yaitu sebagai staf di Kementerian Pertahanan Negara. Jika menilik latar pendidikan dan ilmu yang sudah didapat, kemungkinan besar kita akan mengambil kesempatan itu.

Anggaplah, kita sudah menempati kursi di Kementerian Pertahanan Negara. Banyak sekali permasalahan negara yang belum terselesaikan, termasuk di bidang ketahanan dan kedaulatan negara sehingga tugas kita pun semakin hari semakin menumpuk. Tanggung jawab besar negara ini ada di pundak kita.

Tertekan? Pasti, tapi kita menyukai itu. Hal itu karena inilah yang kita impikan. Kita ingin negara kita berdaulat di atas tanahnya sendiri, kita ingin negara kita terjaga aman dan masyarakatnya dapat hidup dalam kedamaian.

Contoh lain misalnya kita ini adalah pegiat dunia kreatif dan kita belum punya pengalaman yang cukup dalam bidang ini. Bisa dibilang, kita ini masih pemula (beginner). Kita sudah wisuda beberapa bulan lalu tapi belum juga dapat kesempatan untuk terjun dalam proses pembuatan film, misalnya.

Kita masih sibuk mencari-cari kesempatan itu, baik lewat internet maupun lewat kenalan. Apakah kita mencari kesempatan itu dengan penuh kesedihan? Menurutku, ya tentu tidak, justru kita akan mencari kesempatan itu dengan penuh perjuangan dan penuh semangat.

Karena kita sedang berjuang di jalan kita untuk menuju ke mimpi kita. Sebanyak dan seberat apapun tanggung jawab yang kita emban, jika memang sudah cinta, kesulitan untuk akan jadi tantangan yang menarik dan kita bahagia untuk memenuhi tantangan itu.

 

 

Itu adalah gambaran kecilnya. Semua kasus nggak bisa dipukul rata seperti contoh-contoh yang kusebutkan di atas, sih. Tapi ya kembali lagi, aku hanya mengambil contoh kecilnya saja. Aku juga ingin menyadarkan teman-teman semua yang mungkin masih punya keraguan di hatinya agar kembali menatap cermin dan bertanya pada diri sendiri apakah jalan yang kini ditempuh merupakan pilihan yang tepat atau belum.

Sekali lagi aku ingin mengingatkan, bahagiamu itu yang utama. Jika kamu bahagia mengerjakan apa yang kamu kerjakan kini, maka tak perlu diragukan lagi, rezeki akan selalu mengikuti. Jika belum, maka kamu berhak mencari kebahagiaan itu. Sesungguhnya bahagia dalam bekerja adalah kesuksesan hidup yang hakiki.

Jadi, apakah kamu siap untuk mencari kebahagiaanmu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close