Apakah kalian termasuk orang yang senang bicara di depan publik (public speaking)? Atau kalian termasuk orang yang anti sama hal yang seperti itu?

Apapun jawabannya, aku yakin, kalian pasti punya alasannya masing-masing. Mungkin bagi yang suka bicara di depan umum bakal angguk-angguk atau mengiyakan atau bahkan agak mengkritik apa yang kutulis ini karena tahu betul dengan apa yang kubicarakan. Malah mungkin juga mereka itu pernah merasakan dan mengalami persis seperti pengalamanku ini. Sedangkan, yang nggak suka bicara di depan umum mungkin bakal bergumam-gumam di dalam hati, “Masa iya, sih?” atau “Bisa gitu, ya?” atau bahkan jadi tersadar dan ingin ikut menerapkan langkah-langkah di bawah ini (wah, kalau bisa sampai gitu sih aku bakal ikut seneng banget!)

Ngomong-ngomong soal public speaking, hari ini aku lagi senang, bangga, dan bersyukur banget dengan pencapaian yang sudah kuraih hari ini. Iya, aku berhasil membantu pimpinanku (yang mana sudah jelas ia adalah orang Korea) untuk presentasi di hadapan mereka semua (orang-orang Indonesia) bersama denganku yang memegang kendali sebagai penerjemah bahasa Indonesia di sampingnya. Sebenarnya sudah sejak minggu lalu aku harap-harap cemas dengan ini. Selama kurang lebih satu minggu itu, aku berpikir dan terus-menerus bertanya pada diriku sendiri, apakah presentasi hari ini akan berjalan lancar ataukah akan berjalan biasa saja karena aku yang terbata-bata?

Namun, pada akhirnya hari ini, Selasa, 2 Juli 2019 bisa terlewati dengan lancar dan meriah. Aku mendapat banyak pujian, tentunya. Tapi entah kenapa kalau aku dapat pujian dari pihak eksternal, aku justru merasa sedih. Entah kenapa aku berpikir bahwa lebih baik diberi masukan agar bisa lebih baik lagi ke depannya, ketimbang dipuji. Karena, pikirku juga, presentasi yang kulakukan hari ini masih jauh dari sempurna, hanya sekadar lebih baik dari yang sebelumnya. Namun begitu, aku tetap bersyukur, bahkan sangat bersyukur, usaha keras serta doaku dan keluargaku terkabul. Alhamdulillah..

Eits, semua kepuasan batin yang kudapatkan hari ini nggak lepas dari usaha keras yang kulakukan selama kurang lebih tiga hari.

“Tunggu. Apa? Tiga hari?! Lama amat?

Atau, “Bentar banget?!”

Atau, “Yah itu sih standar.” Dan beragam tanggapan lainnya yang bermunculan.

 

Aku akan langsung jelaskan apa aja yang kulakukan selama tiga hari itu demi mencapai peforma yang maksimal saat menerjemahkan bahasa Korea dalam suatu kegiatan presentasi atau seminar besar (dalam hal ini tentunya tempat kerja yang juga melibatkan peran orang Korea).

1. Cari Tahu Banyak = Banyak Tahu

Yap, ini adalah langkah awal yang harus kalian, para calon penerjemah bahasa Korea, lakukan ketika akan menerjemahkan di depan umum. Banyak banget hal yang harus kalian cari tahu, dari mulai gaya presentasi dan karakter pimpinan, suasana tempat, karakter peserta dan lingkungan sekitar, peforma rekan kerja, sistem kerja secara keseluruhan, materi apa yang akan disampaikan pada presentasi mendatang (Hari H), hingga target besar yang diinginkan setelah melaksanakan presentasi atau seminar tersebut. Mungkin beberapa hal yang saya sebutkan di atas ada yang terlihat sepele, tapi nantinya itulah yang kurang lebih dapat menentukan sukses atau nggaknya presentasi kalian. Setidaknya, kalau kalian cari tahu informasi tempat kerja kalian sendiri, kalian pasti bakal banyak tahu dan tidak planga-plongo. Jangan kayak aku dulu ya, gess :’)

 

2. Belajar Bahasa Akrab

Lah, apa itu bahasa akrab? Emang ada?

Sebenarnya ini cuma buatanku aja biar lebih mudah diingat. Bahasa akrab itu maksudnya adalah kalian belajar bahasa Indonesia yang terdengar lebih akrab di telinga peserta atau hadirin yang akan datang menghadiri presentasi atau seminar yang akan kalian laksanakan. Beneran deh, ini berguna banget!

Misalnya dalam kasusku ini, aku pernah ada di posisi di mana aku paham apa yang diucapkan oleh pimpinanku itu tapi aku tidak bisa menyampaikannya dengan lancar, jadinya sedikit terbata-bata dan akhirnya kurang tersampaikan di telinga para penontonnya. Kenapa? Karena pilihan kata yang kugunakan saat itu menggunakan bahasa yang formal, atau bisa dibilang sih, cenderung agak kaku. Padahal notabene-nya peserta presentasi atau seminar kala itu adalah bapak/ibu yang sehari-harinya menggunakan bahasa non-formal alias nyunda pisan. Alhasil, reaksi yang kuterima dari para peserta pun lemah, tidak meriah. Di situ kadang hatiku sedih huahua.. Itulah kenapa aku minta kalian buat belajar bahasa akrab.

Lah, kita kan orang Indonesia, udah pasti pahamlah sama yang bahasa akrab. Nggak perlu belajar segala, kelamaan.

Gini deh gampangnya, pas kita sekolah dulu, pasti kan ada ujian bahasa Indonesia kan, ya? Apa kita terus-menerus dapat nilai seratus ketika menghadapi ujian bahasa Indonesia? Kalau aku, jelas nggak. Bahasa sehari-hariku aja masih amburadul, apalagi bahasa Indonesia baku! Ditambah lagi bahasa daerah sekitar, udah pusing deh.. Masih jelas diingatanku, waktu itu aku rasanya pengen nangis banget kalau udah denger orang pakai bahasa Karawang karena di telingaku masih terdengar asing. Ini juga disebabkan oleh aku yang jarang mengobrol dengan orang-orang Sunda. Semenjak duduk di bangku SMP aku sadar bahwa aku nggak terus-menerus menutup diri dari orang Sunda. Akhirnya kuceburkan diriku aja hahaha.. Asal ngobrol sama orang Sunda, kalau ada yang nggak mengerti, aku tanya mereka sampai aku udah benar-benar mengerti. Lewat proses inilah aku jadi tahu mana bahasa Sunda yang biasa dipakai atau yang sedang populer di kalangan masyarakat. Inilah yang disebut bahasa akrab.

Kenapa musti tahu bahasa akrab, sih?

Kalian pasti nggak mau dong dikacangin sama peserta presentasi atau seminar? Aku yakin, kalian pasti sama sepertiku yang ingin sekali mendpaat perhatian penu dari peserta 🙂

 

3. Rajin Mencatat Hal yang Perlu Diingat

Selama kurang lebih dua hari aku mencari sebanyak-banyaknya informasi, tak lupa aku juga mencatatnya di buku tulis. Tidak usah dengan penjelasan panjang-lebar, cukup dengan penjelasan singkat, jelas, dan muda diingat yang dapat kamu tulis di note kecil. Jangan lupa, selalu sediakan catatan kecil di saku seragammu, ya!

 

4. Belajar dan Latihan Melalui Video

Setelah mencatat hal-hal teknis mengenai lingkungan kerja, kalian boleh langsung buka YouTube. Eits, tapi bukan untuk nonton drama Korea loh, ya, tapi untuk belajar presentasi!

Yap, betul banget. Misalkan dalam kasusku, aku membuka video yang berkaitan dengan kesehatan dan penyakit, maka aku juga buka video yang memiliki keterkaitan dengan dua hal tersebut sehingga jika ada kosakata yang tidak ketahui itu muncul, kita bisa langsung mencatatnya di note kecil dan menghafalkannya.

Kalau sudah hapal makna yang terkandung kosakata tersebut, kalian baru boleh ulang video tersebut dari awal. Kemudian coba putar kembali. Melalui video ini, cobalah melakukan latihan presentasi kecil di depan kaca layaknya sedang presentasi di depan khalayak umum. Hal ini berguna sekali untuk melatih indera pendengaran dan tingkat kesensitifanmu dalam menangkap informasi yang disampaikan. Ingat, indera pendengaran dan tingkat kesensitifan masing-masing orang harus dilatih rutin juga, loh.

 

5. Tidur yang Cukup

Ini juga nggak kalah penting. Kenapa? Semisal presentasi atau seminar tersebut diselenggarakan di pagi hari, maka yang kalian butuhkan adalah konsentrasi penuh. Konsentrasi penuh ini akan muncul jika kebutuhan tubuh untuk istirahat sudah terpenuhi dengan cukup. Namun, aku juga punya tips, kalau kalian jam tidurnya kurang dan mata masih terasa enyep-enyep, kusarankan untuk minum minuman segar yang bikin konsentrasi tubuh dan otak kembali pada tempatnya. Kalau saya pribadi suka minum kopi di pagi hari. Alhamdulillah membantu, tapi nggak banyak. Makanya aku nggak mengandalkan kopi sepenuhnya, yang kuandalkan hanya jam tidur cukup yang kuatur untuk tubuhku sendiri. Kopi sih, pilihan paling terakhir kali, ya? Haha lol

 

6. Bangun Satu Jam Lebih Awal

Yaampun, udah mah presentasi pagi banget, malah disarankan bangunnya satu jam lebih awal. Nanti kalau ngantuk gimana?

Eh, jangan salah, satu jam itu kupakai melakukan banyak hal. Di antaranya untuk melakukan ibadah sunah, menyegarkan pikiran, dan mengulang materi latihan yang sudah dilakukan pada malam sebelumnya agar lebih matang. Pada tahapan ini, para penerjemah pasti sudah mencapai pada titik kegugupan yang maksimal. Tapi tak apa, dinikmati saja, yaa. Hahahha.. Ohiya, jangan lupa, minta doa restu orang tua juga, ya!

Sebenarnya poin ini optional, sih. Jadi, terserah ke kalian lagi mau dijalanin apa nggak, tapi bakal lebih bagus lagi kalau kalian juga menjalaninya. Aku tahu, pasti terasa berat banget apalagi bagi kalian yang nggak terbiasa bangun lebih awal demi memperjuangkan sesuatu. Pada tahapan ini juga akan terasa sekali bagaimana berartinya peran kedisiplinan. Akan terasa banget sih gimana berharganya punya kemampuan dalam mengatur waktu (time management). Kalau nggak punya, kalian bakal kelabakan sendiri nantinya.

 

7. Penampilan Rapi

Ini jelas penting, dong. Penampilan rapi akan membuat orang lain juga enak melihat kita dan menyambut kita dengan tangan terbuka. Kalau sudah begitu, itu artinya kita sudah berhasil mendapatkan respon peserta atau lawan bicara tanpa harus banyak berbicara. Iya, toh? 😀

 

8. Isi Perut dan Banyak Minum Air Putih

Inget, kalian juga manusia yang perlu diisi tenaganya. Menerjemahkan juga butuh untuk berpikir, sedangkan berpikir itu butuh banyak tenaga. Kalau kitanya nggak bertenaga, ya jelas nggak bisa berpikir. Ditambah lagi, berpikir juga butuh konsentrasi penuh agar tidak salah menerjemahkan. Oleh karena itulah perut kalian sanat perlu untuk diisi makanan dan air putih. Makanannya apa saja deh, terserah, yang penting bisa membuat tenaga kalian terpenuhi kembali. Jangan lupa minum air putih juga agar sistem peredaran lancar sampai ke otak sehingga kita bisa berpikir dengan sangat lancar tanpa macet-macet dan terbata-bata ketika menerjemahkan.

 

9. Selalu Tersenyum dan Jangan Lupa Menghela Napas

Ketika sudah naik podium, banyak-banyak menghela napas dan menebarkan senyuman ramah ke orang sekitar, yaa. Ini salah satu langkah untuk menanamkan sugesti bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja dan berjalan dengan lancar. Tips pada tahapan ini juga dapat membantu kalian untuk meredakan kegugupan di atas podium, loh.

 

10. Mengucap Syukur

Terlepas dari lancar atau tidaknya presentasi kalian, kalian tetap harus mengucap syukur kepada-Nya. Mau hasilnya bagus atau tidak, kalian harus tetap berjanji pada diri kalian sendiri untuk belajar bahasa Korea dan presentasi lebih serius lagi agar di kesempatan datang akan jauh lebih memuaskan lagi dari hari ini.

 

Itu dia beberapa tips rutin yang kulakukan hampir di setiap kesempatan presentasi. Saat aku sedang ada keperluan penerjemahan isi presentasi pimpinan, aku berusaha untuk berubah dan melakukan yang terbaik yang kubisa. Dari poin-poin yang kusebutkan di atas, aku yakin setiap orang punya caranya masing-masing dan pasti nggak sama persis kayak yang kusebutkan di atas. Aku bakal senang sekali kalau kalian juga bagi tips versi kalian sendiri pada kolom komen di bawah ini. Harapannya, supaya kita semua bisa saling berbagi ilmu dan berkembang bersama-sama. Wehehee.. lol

 

 

2 tanggapan untuk “Tips Menerjemahkan Bahasa Korea dengan Lancar Saat Presentasi

  1. Penggunaan bahasa akrab itu sangat manjur loh buat saya, makanya saat belajar bahasa asing, saya usahakan untuk tau bahasa akrabnya mereka, hehe..

    salam kenal ya 🙂

    1. Iya betul banget, bahasa akrab dan bahasa gaul pada bahasa asing itu jarang diajarkan di pendidikan formal. Kalaupun ada, hanya sebagian kecil aja..
      Salam kenal juga, Kak Angiez
      Wah pengguna wordpress juga, mutualan yuk, kak! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s