Astrid masih mematut wajahnya di depan cermin. Kedua mata cokelat itu memandang lurus bayangan dirinya sendiri di dalam cermin. Lagi-lagi bayangan pria itu muncul dalam benaknya. Mood baiknya sejak bangun tidur pun hancur seketika. Kini wajah Astrid kembali murung kembali.

Tangan kanannya melemas. Spons bedak padat yang ia genggam terjatuh di pangkuannya. Rok putihnya kini ternodai dengan bedak dari spons itu. Hembusan napas panjang berhasil lolos dari paru-parunya. Rasanya sesak jika harus teringat pria itu lagi. Semua jadi terasa pilu. Yang ada hanya kenangan-kenangan manis yang perlahan memudar karena tergantikan dengan satu peristiwa itu. Satu peristiwa yang tak akan pernah ia ingat lagi. Dalam hati Astrid bersumpah, ia akan belajar sekeras mungkin untuk melupakan pria itu.

Bajingan. Puas kau sudah menghancurkan hidupku? Puas, hah?!

Begitu gumamnya. Air di pelupuk matanya tak terbendung lagi. Astrid menangis sekencang-kencangnya tanpa suara. Dadanya sangat sesak. Sesak sekali sampai kepalanya pening hingga kesadaran perlahan menghilang.

***

Dok, gimana keadaannya? Kenapa dia masih belum bangun juga?” tanya sebuah suara. Dia terdengar panik.

Bapak tenang saja. Harusnya sih hari ini, Bapak tunggu saja ya. Kalau tidak siang, ya sore ini mudah-mudahan dia bisa segera siuman. Saya permisi dulu,” sahut sebuah suara disusul langkah sepatu yang semakin menjauh.

Langkah sepatu yang lainnya mendekat ke arahku. Terasa sebuah tangan yang mengusap-usap keningku. Tangannya terasa dingin dan lembab. Sebenarnya siapa orang yang sedang di sisiku ini?

Dia tak bersuara sama sekali. Yang kudengar hanya hembusan napasnya yang sangat sangat pelan. Untungnya suasana di sekitarku hening, jadi aku bisa memantau orang ini dengan seksama lewat pendengaranku. Aku yakin, ini bukan mimpi. Tapi aku tak mau bangun dulu sebelum tahu siapakah orang yang sedang bersamaku ini, aku akan tetap berbaring.

Tak lama, pintu terbuka. Suasana yang semula hening, kini menjadi sedikit ‘ramai’ hanya karena.. satu orang.

“Mario?”

Terasa sedikit gerakan cepat di sisi kasurku. Mungkin orang ini sedang menoleh.

“Mama..,” gumamnya pelan, tapi tetap bisa kudengar jelas. Sangat jelas. Suara yang dulu pernah kurindu-rindukan.

Mama katamu? Mau apa kamu ke sini?” Oh, aku tahu, ini suara Mama. Sepertinya Mama baru dari supermarket. Ramai suara plastik memenuhi ruanganku. Bawaan dia pasti banyak.

“Kak Mario? Ngapain di sini?” Oh, tidak. Itu suara Anggi.

“Anggi, ini Mas Mario.”

“Jangan berani-beraninya nyebut diri Anda dengan sebutan ‘Mas’ di hadapan saya. Anda tidak pernah dan tidak akan pernah jadi kakak ipar saya. Jauhi Kak Astrid,” ketus Anggi pada pria di sisiku ini.

“Iya, lebih baik kau pergi dari sini. Astrid sudah melupakanmu. Dia tidak butuh kamu!” bentak Mama.

“Saya ke sini hanya ingin menjenguk calon is– maksud saya, menjenguk teman saya,” elak Mario, dia terdengar sedikit gelagapan setelah diserang oleh Mama dan Anggi.

“Kan sudah kubilang dia tidak membutuhkanmu lagi, Mario. Kurang jelas apa, sih? Atau kamu mau dengar ini, Astrid sudah tidak mencintai kamu lagi. Dia akan segera menikah, tapi.. tentu saja bukan dengan kamu. Jangan pikir saya akan memaafkan semua kesalahan yang telah kauperbuat kepada anak saya, ya?! Pergi dari sini sebelum saya panggil satpam ke sini, Mario,” tegas Mama dengan penuh penekanan di kalimat terakhir.

Sebuah tangan yang tadinya menggenggam erat tangan kiriku kini hilang sudah. Aku harus kehilangan dia lagi. Ada rasa kehilangan yang besar dalam hatiku. Namun, rasa sakit tempo hari yang telah ia torehkan masih basah. Aku juga tak mungkin kuat memanggilnya kembali. Segala hal tentang dia seperti sebuah duri jika kupaksa untuk kugenggam di tanganku.

“Ma, Ma, lihat sini!” teriak Anggi.

“Ada apa, sih?!”

“Ma.. Kakak sepertinya tahu kalau tadi kita habis mengusir Kak Mario. Lihat tuh, kakak nangis, Maaa.. Anggi udah berbuat salah lagi ke kakak, Maaa.”

“Astrid… Kamu dengar, Nak? Bangun, Nak. Kita ngobrol bareng dulu. Jangan nangis sendirian begini, Nak. Ada Mamamu di sini.”

Bukan ini yang kuharapkan. Bukan tangisan dari Mama dan Anggi yang kuinginkan. Aku harus bagaimana lagi ya, Tuhan? Aku harus bagaimana lagi ketika kesedihanku ini juga jadi kesedihan juga bagi keluargaku? Aku tak mau menyusahkan mereka dengan keadaanku yang sekarang sedang terbaring sakit di sini. Tidak setelah pilu-pilu yang mereka rasakan pasca batalnya pernikahanku ya, Tuhan. Hapuskan sakit dari hati mereka. Kali ini, kabulkanlah pintaku, Tuhan.

***

Dua tahun lalu..

Kamu ke mana, Mario? Aku nggak bisa menghubungi kamu. Kamu di sana nggak kenapa-kenapa, kan? Setahuku, tidak ada pemberitaan pesawat jatuh atau kecelakaan apapun. Tapi tak juga kuterima kabar darimu. Kaubilang akan datang tepat waktu, tapi apa? Semua itu omong kosong. Kamu tega membiarkan aku di sini menanggung malu, kekecewaan, dan kesedihan yang mendalam dari diriku sendiri dan orang-orang di sekitarku? Kamu benar-benar bukan manusia. Iya, manusia punya perasaan, sementara kamu tidak! Aku… kecewa berat, Yo. Aku harap, kita nggak akan pernah ketemu lagi di masa depan nanti. Kamu.. akan berpura-pura tidak mengenalku lagi. Kita… bukan.. siapa-siapa lagi.

Bersambung…

***

****

Best Song Playlist

Vierra – Rasa Ini

Vierra – Perih

Vierra – Takut

Closing Song: Vierra – Semua Tentangmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s