THE SPECIMEN – Ten

Hari Minggu. Ini adalah hari yang tepat sebelum Gaby memutuskan untuk menemui Mr.McKnight dan mewawancarainya lagi secara langsung. Sebelum kegagalan kedua terjadi, aku harus menemui Mr. McKnight lebih dulu.

Semalam aku sudah berselancar ria di internet dan menemukan sebuah kontak pribadi yang mungkin saja bisa menghubungkanku dengan Mr. McKnight. Namun ajaibnya, begitu menghubungi kontak itu dan mengajukan permohonan pertemuan kepadanya, aku malah dipersilakan untuk datang langsung ke kediamannya. Lawan bicaraku di telepon yang mengaku sebagai manajernya itu juga mengatakan bahwa Mr. McKnight bukan tipe orang yang suka pergi keluar saat akhir pekan, kecuali ada urusan penting. Mendengar penjelasan itu, aku langsung menyetujuinya sambil berharap ini adalah jalan terbaik. Semoga saja bisa menghasilkan buah manis. Gumamku.

Aku mengikuti tuntunan alamat lokasi yang dikirimkan oleh manajer Mr. McKnight. Alamat itu menuntunku di sebuah apartemen megah yang gedungnya tinggi menjulang. Rupanya pria itu tinggal di apartemen ini. Boleh juga. Pikirku jahil.

Saking asiknya melihat-lihat sekelilingku, aku sampai nyaris lupa dengan tujuan awalku datang ke apartemen itu. Buru-buru langsung kubuka lagi handphone-ku dan membaca ulang alamat yang diberikan oleh manajernya tadi. Rasanya sudah benar, tapi mengapa di alamat ini tidak terdapat nomor lantai dan nomor kamarnya? Sebenarnya pria itu memang tinggal di sini atau bukan, sih?

“Permisi, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang satpam kepadaku. Ia tiba-tiba sudah berdiri tegap di sampingku tanpa kusadari. Mungkin memang terlihat terlalu jelas bahwa aku sedang kebingungan.

“Um.. begini, Pak, saya kan dikasih alamat. Nah, alamatnya benar menuju ke apartemen ini.” Aku membuka tasku dan berusaha mengeluarkan handphone dari dalam tas. “Alamatnya yang ini, Pak,” kataku sambil menunjukkan handphone-ku kepada Bapak itu.

“Oh, memang benar ini alamatnya. Tapi…,”

“Iya! Bapak pasti bertanya-tanya juga, kenapa nggak ada nomor lantai dan nomor pintu kamarnya, kan? Iya, kan? Sama Pak, saya juga heran,” keluhku.

“Waduh, gimana, ya..,”

“Kira-kira dalam apartemen ini ada kamar khusus atau eksklusif gitu kah, Pak? Siapa tahu ada dan memang kamar itu nggak dikasih nomor kamar karena bukan untuk disewakan kepada pelanggan biasa, tapi pelanggan spesial.” Wajahku kini sepertinya sudah terlihat sangat-sangat menanti jawaban dari Pak Satpam itu.

“Hmm, kalau kamar seperti itu, di sini mah nggak ada, sih,” jawab Pak Satpam, nada bicaranya masih terdengar ragu.

“Yah, sayang banget. Padahal saya mau—”

“Mohon maaf, tapi yang mau Anda temui itu siapa, ya? Siapa tahu saya kenal.”

“Ohiya, sebentar, nama teman saya itu sedikit panjang. Saya belum hafal. Jadi saya kudu lihat catatan saya terus. Bentar,” jelasku singkat sambil mengobrak-abrik tas selempangku. “Nah, ini ketemu!” seruku spontan.

“Siapa nama temannya?”

“Nama lengkapnya Richard Will McKnight, Pak.”

“OH, JADI ANDA INI TAMUNYA BELIAU?!” seru Pak Satpam, kedua matanya membulat besar begitu mengetahui aku adalah tamunya Mr. McKnight. Dan suara Pak Satpam terdengar sangat menggelegar hingga sukses membuat jantungku terlonjak kaget.

“Pak! Bikin kaget saja.” Aku mengusap-usap dadaku. Terasa degup jantungku yang masih berdetak kencang, sisa kekagetan tadi.

“Maaf, saya tidak menyangka wanita seperti Anda ini adalah tamunya Mr. McKnight. Saya kira Anda ini pengunjung yang ingin menempati apartemen di sini,” tutur Pak Satpam. Mungkin lebih tepatnya, dia mengira aku ini gembel, tidak terlihat seperti orang kaya yang mau menyewa apartemen di sini.  Memang sih, aku tak menyalahkan Pak Satpam juga. Baju yang kukenakan saja kaus belel berlogo Adidas yang dimasukan ke dalam celana jins dan jam tangan besar berwarna hitam di pergelangan tangan kiri. Sepatu pun sudah mangap-mangap.

Oke, baiklah.

“Ya sudah kalau begitu, mari saya antar langsung saja ke rumahnya,” lanjutPak Satpam.

“Oke, Pak.”

Akhirnya aku pun mengikuti langkah kaki Pak Satpam. Ia menuntunku melewati gedung-gedung apartemen yang berada di kanan dan kiriku. Apa pria itu tidak tinggal di apartemen iniLalu ke mana Pak Satpam itu akan menuntunku?

Kepalaku masih dipenuhi dua pertanyaan sama. Alih-alih menemui jawaban, aku malah berpikir Satpam ini mau menyesatkanku. Namun aku masih menahan diri untuk bersikap tolol dan mencoba untuk bersabar sedikit lagi hingga satpam ini membuktikan omongannya.

Pikiran was-was yang bersarang di dalam kepalaku mulai berkurang seiring dengan suasana apartemen yang makin bersahabat. Kanan kiri dipenuhi tumbuhan dan pohon-pohon rindang yang di bawahnya dihiasi juga oleh properti taman yang tidak berlebihan sehingga masih terlihat sangat alami dan natural. Saking hijau dan segarnya udara di sekitar sini, sampai banyak kupu-kupu yang beterbangan dan suara burung-burung yang berkicau ria. Untungnya cuaca pagi ini juga sangat mendukung. Ah, andai saja aku membawa laptop, tempat ini pasti sudah kujadikan jadi tempat favorit keduaku setelah kafe dekat kampus.

Aku melihat di ujung taman sana ada seorang wanita paruh baya yang sedang menyuapi kedua anaknya, seorang laki-laki dan perempuan. Mereka tampak senang sekali. Setelah mengunyah dan menelan habis makanan dalam mulut, mereka kembali berlari saling mengejar satu sama lain hingga membuat wanita paruh baya itu tampak kepayahan untuk memberikan suapan kesekian kepada mereka berdua. Meski nampak kelelahan, terlihat gurat bahagia juga di wajah wanita paruh baya itu. Terkadang ia juga menampakkan wajah galaknya kepada dua anak itu agar mereka sedikit ketakutan dan mau membuka mulut mereka untuk dimasukkan sesuap nasi dan lauk. Betapa rukunnya mereka.

Aku beralih melempar pandanganku ke sudut lain. Kumenemukan seorang pria dan wanita yang sedang duduk berdua di kursi taman sembari saling menatap satu sama lain. Mereka berdua nampak serius, terlebih lagi yang wanita. Ia bahkan nyaris meneteskan air mata. Namun tak lama, dia memandang langit, berusaha menenggelamkan kembali air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya yang seidkit sipit. Sementara wajah si pria tampak lelah sekaligus diliputi rasa sedih dengan sedikit penyesalan. Kedua tanganny terus-menerus menggenggam erat tangan kanan si wanita. Di mataku, pria itu seperti terlihat sedang memohon sesuatu. Namun nampaknya si wanita tak sanggup bicara barang sepatah katapun. Aku tahu rasanya. Pasti berat bagi wanita itu untuk menatap mata pria di sampingnya.

Aku tertunduk, menatap permukaan tanah yang sedang kuinjak dan kulangkahi. Mengenang masa laluku ketika dulu bertengkar dengan seorang pria yang kuanggap spesial. Mendadak semuanya terasa hening. Aku tak mendengar apa-apa, tapi pandanganku semakin blur dan terasa panas. Oh, tidak.

Tak lama, kepalaku menubruk sesuatu. Air mataku akhirnya menetes. Buru-buru kuhapus air mataku sebelum mengangkat kepalaku. Namun sebuah suara menyapaku lebih dulu.

“Kau lagi?” tanya sebuah suara bariton di depanku.

Aku mengerjapkan kedua mataku lalu mendongakkan kepala. Mataku dan matanya saling memandang. Matanya benar-benar mengunci mataku.

“Ada apa?” lanjutnya lagi.

Aku menghela napas singkat. “Saya ingin menemui Anda, Mr. Knight. Sa-saya kira Anda tinggal di apartemen tadi, tapi ternyata saya salah.”

“Mau bertemu denganku? Memang ada apa lagi?”

“Ini soal pertemuan terakhir kita dan tentang… Anda,” jelasku. Percayalah, jarakku dan dia saat ini terlalu dekat. Aku sampai berkali-kali mengingatkan diriku sendiri untuk tidak bersikap bodoh seperti layaknya aku di kampus.

Pria itu langsung menangkap maksudku dan mempersilakan satpam untuk meninggalkan kami berdua di situ dengan melambaikan tangan kepada satpam itu.

“Kurasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.” Napasnya menyapu wajahku.

“Anda salah. Apakah Anda mau saya membahasnya semua di sini?”

Pria itu mengangkat kepalanya sedikit dan melihat sekeliling. Ia baru menyadari bahwa tempat itu adalah tempat terbuka. “Baiklah. Kita ke rumahku saja.”

“Apa? Rumah?” Kemudian ia berbalik dan berjalan mendahuluiku. Aku mengikuti arah langkahnya dan melihat sebuah pagar putih kecil yang tingginya kurang lebih 2 meter meter dan lebarnya 1 meter. Rumah macam apa yang ada di balik pagar mungil seperti itu? Gumamku.

Setelah melewati taman nan hijau tadi, jalan setapak ini berakhir di sebuah pagar putih yang di sisi kanan-kiri pagar itu ditumbuhi tanaman merambat yang rindang juga. Mr. McKnight melewati pagar putih itu tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Padahal aku sudah tertinggal lumayan jauh di belakangnya. Langkah kakinya yang terlalu besar atau memang aku yang terlalu menikmati tur ini hingga membuat langkahku lambat dan kecil-kecil?

“Selamat datang di rumahku,” sambut pria itu.

Aku melemparkan pandangan ke pemandangan yang ada di hadapanku.Kau tidak akan percaya dengan apa yang kulihat detik ini juga! Ada halaman yang terbentang luas dan sebuah istana putih yang ia sebut sebagai rumah! Ini terlalu luas untuk bisa disebut sebagai halaman rumah. Bahkan, untuk bisa sampai ke depan pintu rumahnya, harus menggunakan mobil golf.

“Ayo, naik,” ajaknya yang tiba-tiba sudah menduduki kursi belakang mobil golf putih itu.

“Se-sekarang?”

“Ya kapan lagi? Mau besok aja? Besok saya nggak ada waktu, harus kerja.”

“O-oke,” jawabku singkat. Aku buru-buru menaiki mobil golf itu hingga tak sengaja membenturkan kepalaku pada tiang atapnya.  Aku mengaduh pelan. Dia pasti menangkap gelagat salah tingkahku. Sial.

Hening. Pria itu membuang pandangannya pada arah sebaliknya. Baguslah, sepertinya dia memang tidak tertarik padaku.

“Bagaimana Anda bisa tahu kalau saya sedang mencari Anda di tempat tadi?”

“Hanya kebetulan saja.”

“Saya kira Anda tinggal di apartemen tadi. Rupanya tinggal di belakang apartemennya.”

Dia tak bereaksi.

“Um.. Kenapa Anda mau tinggal di apartemen tadi? Kasihan, rumah Anda jadi ketutupan juga,” tanyaku lagi.

Seorang supir mobil golf yang sedang menyetir di depanku menoleh ke belakang dan menjawab, “Apartemen tadi itu milik Tuan McKnight. Tapi dia tidak tinggal di apartemen itu. Masa iya pemiliknya tinggal di miliknya sendiri..”

Ah, iya juga, ya. Ucapku dalam hati. “O-oh, gitu ternyata. Maaf, saya baru tahu kalau apartemen itu milik Anda.”

“Lagipula gerbang kecil yang tadi Anda lewati itu jalur rahasia, kok. Jalur utamanya mah beda lagi. Ada di sebelah sana pokoknya,” jelas supir itu sambil mengacungkan jari untuk menunjuk arah Barat Daya.

Mendengar jawaban supir itu, aku langsung memutuskan untuk diam dan bertanya hanya ketika sudah sampai di rumah pria di sampingku ini. Karena aku ingin membicarakan hal ini secara pribadi. Hanya berdua dengannya.

***

“Silakan,” kata pria itu begitu selesai meneguk sirup pandan. “Kau punya waktu 15 menit untuk membahas kejadian kemarin.”

“Saya mau minta maaf atas kejadian kemarin. Temanku, Gaby, benar-benar tidak tahu bahwa pertanyaan yang dia ajukan begitu sensitif dan membuat Anda risih.”

“Dimaafkan. Lalu?”

“Dan saya meminta kesempatan untuk mewawancarai Anda lagi.”

“Apa? Kau gila? Aku sudah memaafkanmu dan temanmu dan juga sudah menganggap wawancara kemarin tuntas. Jadi lebih baik kau dan temanmu cari saja narasumber yang lain dan—”

“Tidak bisa.” Aku tahu, aku sangat lancang memotong perkataan pria itu. “Hanya Anda narasumber yang memenuhi kriteria teman saya. Lagipula deadline-nya sudah mepet. Jika harus mencari narasumber lagi, akan membutuhkan waktu lebih panjang lagi untuk bisa mewawancarai narasumber itu,” tambahku. Aku masih bersikeras pada pendirianku.

“Saya bilang tidak ya tidak. Titik!” seru Mr.McKnight. Ia sampai bangkit dari tempat sofa ia duduki sebelumnya.

“Memangnya kenapa? Tolong jelaskan pada saya kenapa Anda menolak untuk meneruskan wawancara kemarin lagi,” tuntutku.

Dia terdiam. Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya.

“Jelaskan pada saya. Jangan hanya tiba-tiba menolak seperti ini. Saya dan teman saya ingin mendengar alasan Anda.” Suaraku sedikit memelan dan memelas.

“Saya.. Saya hanya tidak mau kalian mengulang pertanyaan terakhir itu,” tuturnya, nada suaranya melemah.

“Yang mana? Pertanyaan yang menyinggung soal masa lalu Anda? Iya?”

Pria itu mengangguk. Ia masih berdiri dan membelakangiku yang masih terduduk di atas sofa empuk ruang tamu.

“Oke. Saya minta maaf untuk hal itu. Terus terang, kami berdua pun tidak tahu-menahu bahwa Anda keberatan kalau kita membahas itu. Di lain kesempatan, saya berani jamin, teman saya tidak akan lagi mengajukan pertanyaan tentang masa lalu Anda.”

Dari belakang, aku melihat tangannya sedang terlipat di depan dada. “Apa ada hal lain lagi yang harus saya dan teman saya hindari?”

“Tidak. Hanya itu saja yang ingin kuberi tahu kepadamu dan temanmu agar kalian tidak mengecewakan narasumber yang baru lagi nantinya.”

“Tunggu, Anda tetap tidak mau kami wawancara?” tanyaku, masih berusaha memastikan keputusan pria itu.

Pria itu berbalik badan dan berjalan menghampiriku. Ia duduk di sebelahku, masih di sofa yang sama. “Dengar. Kau percuma jika datang jauh-jauh ke sini hanya untuk memohon padaku untuk kesempatan kedua karena itu takkan pernah terwujud,” ungkapnya dengan jujur.

“Kenapa? Bukankah Anda sudah memaafkan kesalahan saya dan teman saya yang kemarin?”

“Aku memaafkan kalian bukan berarti aku mengizinkan kalian untuk mewawancaraiku lagi. Bukan. Tapi aku hanya tidak ingin membuat kalian terbebani. Itu saja. Daripada terulang yang kedua kali. Lebih baik kalian cari narasumber lainnya yang karirnya jauh lebih bagus dariku.”

“Anda kan sudah tahu bahwa itu tidak mudah dan waktu yang kami punya tinggal sedikit.” Nada suaraku semakin terdengar memelas dan membujuk. Aku mendekatinya dan duduk sangat dekat di sampingnya. Sambil menatap lekat-lekat kedua matanya, “Anda tidak tahu bahwa Andalah harapan besar bagi karir jurnalistik teman saya, Gaby. Jika ia berhasil menyelesaikan rubrik itu dengan menjadikan Anda sebagai narasumbernya, nama besar majalah One Press akan semakin terangkat dan semakin banyak orang yang mengenal majalah One Press walaupun hal itu tidak akan mengubah status majalah One Press menjadi majalah nasional.”

Pria itu mematung lagi di tempatnya. Aku sedikit mendekatkan wajahku ke wajahnya. “Anda harapan satu-satunya bagi teman saya. Saya tidak mau dia bersedih lagi. Saya ingin karir jurnalistiknya terangkat lagi. Jadi tolong, tolong bersedialah untuk kami wawancara lagi. Tolong. Demi teman saya,” kataku dengan sangat memohon.

Untuk kedua kalinya, kedua mata kami saling beradu. Aku mencari kesempatan kedua di matanya, sementara ia mungkin mencari kesungguhan dalam mataku. Well, tanpa ia cari dan dilihat dengan seksama pun, kesungguhan dan ketulusan itu sudah terpampang jelas di bola mataku. Aku yakin ia akan kalah.

“Baiklah.” Pria itu menundukkan kepalanya, memutus pandangan kami satu sama lain. Kan, sudah kubilang, dia pasti kalah.

“Tapi sebelumnya, tolong lepaskan genggaman tanganmu. Tanganku sudah berkeringat.” Aku tak sadar, kedua tanganku sudah menggenggam erat kedua tangan pria itu. Bukan hanya tangannya, tanganku pun juga berkeringat.

“Aduh, sa-saya minta maaf. Saya tidak bermaksud—”

“Tidak apa-apa,” potong pria itu. “Aku hargai niat baik yang kaulakukan demi temanmu itu. Sangat menyentuh,” tambahnya sambil membenarkan posisi duduknya dan sedikit merapikan kaus polonya yang sedikit lecel akibat posisi duduk kami tadi. Buru-buru ia meminum es sirup pandan tadi hingga nyaris habis.

“Jadi, bagaimana?”

“Ya, saya bersedia,” jawab pria itu sambil sedikit tersenyum.

“Apa? Wah, yes, yes!”

“Tapi..,”

“Tapi apa?”

“Jangan sampai pertanyaan kemarin terulang kembali. Aku tidak akan memaafkan kalian jika itu terjadi,” jelasnya sedikit sengit.

Deal. Anda bisa pegang kata-kata saya.”

Good.”

“Kalau begitu, saya pulang dulu. Saya mau langsung menyampaikan ini kepada Gaby. Permis—”

“Tunggu.”

“Eh?”

“Tinggallah di sini sampai jam makan siang. Kau pasti lapar,” ajak Mr. McKnight.

“Tapi—”

“Dan aku tidak menerima penolakan. Itu syarat dariku. Kalau tidak, aku akan menarik perkataanku tadi. Kau boleh cari narasumber lain.” Pria itu memotong perkataanku untuk kesekian kalinya.

“Ah, jangan, jangan. Oke, saya makan di sini, Mr. McKnight.” Akhirnya aku mengalah.

“Ini bukan jam kantor. Panggil aku Will saja. Ayo,” ajaknya. Pria itu bangkit dari sofa dan menarik tangan kananku, menuntunku ke ruang makan. Pria itu tidak tahu, ada hati yang sedang berdebar-debar di belakangnya.

***

Selengkapnya di Jojannas on Wattpad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close