Ini ungkapan kesedihan sebenernya, sih. Aku udah nggak bisa merasakan keseruan ngeblog kayak dulu lagi, kayak pas zaman aku masih duduk di bangku SMP.

Masih membekas di ingatanku, pada waktu itu, aku suka sekali membaca cerpen, cerbung, bahkan fanfiction di blog orang lain. Saking sukanya, aku bahkan sampai pengen ikutan kayak mereka juga: bikin blog pribadi untuk membagikan kumpulan-kumpulan cerita yang ada dalam pikiranku. Saking pengennya juga, aku sampai memohon-mohon kepada Bapake untuk membelikanku sebuah laptop agar bisa mengetik cerpen dengan sesuka hati kapanpun dan di manapun.

Lantas Bapake mengiyakan pintaku, tapi dengan satu syarat. Bapake menantangku. Jika aku bisa masuk ranking tiga besar di kelas 9, maka tak diragukan lagi, Bapake akan dengan senang hati berkorban untuk membelikanku laptop alias permintaanku untuk memiliki laptop akan diprioritaskan *terharu*

Namun jika tidak masuk ranking 3 besar, maka aku harus rela menunggu waktu yang tepat hingga Bapake bisa membelikanku laptop alias permintaanku bukan suatu prioritas. Mendengar itu, aku langsung bersungguh-sungguh mengikuti pelajaran dengan baik, bahkan aku rela belajar mati-matian meskipun itu pelajaran yang paling tidak kusukai. Aku rela jika itu demi impianku untuk memiliki sebuah laptop.

Waktu berlalu, tidak terasa telah di penghujung semester satu. Wali kelasku di kelas 9E adalah Pak Sukamto (beliau salah satu guru matematika yang tiada tandingannya). Ketika beliau mengumumkan bahwa ranking tiga dan dua diraih oleh temanku yang lainnya, aku sudah benar-benar pasrah. Tenggorokanku tercekat kemudian dalam hati menyalahkan diri sendiri.

Benar yang dikatakan oleh diriku yang dulu. Mana mungkin aku bisa masuk ranking 3 besar. Seumur-umur ranking tertinggiku aja cuma mentok di ranking enam pas kelas 5 SD. Ini lagi, pakek mimpi bisa masuk 3 besar dengan pedenya di bangku SMP. Kayaknya rasa percaya diri dan pikiran positif yang selalu mengendap dalam otak dan hatiku ini udah parah banget. Mesti dikurang-kurangin juga kalau malah akhirnya bikin sakit hati.. padahal aku udah semangat dan yakin bakal bisa masuk, seenggaknya ranking tigalah. Ini malah nggak sama sekali..

Begitu pikirku saat nama siswa peraih ranking dua dipanggil maju ke depan kelas. Aku tertunduk lemas hingga beberapa menit kemudian, aku mendengar namaku dipanggil. Dari luar kelas, aku melihat Bapake maju ke depan kelas dan mengucapkan terima kasih beberapa kali setelah Pak Sukamto menyelamati Bapake. Tunggu.. apa ini?

Seketika semua hening. Aku tak mendengar apa-apa. Mataku hanya tertuju pada Bapake yang berjalan mendekatiku sambil membawa map serta rapot biruku. Dengan senyumnya yang manis dan menenangkan itu, Bapake mengulurkan tangannya kepadaku dan berkata dengan lantang, “Selamat Deyo, kamu jadi Bapak belikan laptop!!”

Bodohnya aku malah bertanya, “Loh, kenapa, Pak? Kan Deyo nggak–“

“Yah, malah nanya kenapa..” potong Bapake dengan suara keras hingga terdengar ke ujung koridor kelas. Suara tawanya memenuhi pendengaranku. “Kamu nggak mau Bapak belikan laptop, nih? Kalau nggak mau, yaudah. Laptopnya dipake sama Bapak aja.”

Kemudian ia melanjutkan, “Kamu ranking satu, Woo. Yeeeh, masa nggak paham, sih! Udah cepet, kamu mau laptop apa?!” seru Bapake yang diiringi dengan sorak-sorai suara teman-teman sekelasku. Beramai-ramai mereka memberiku uluran tangan sebagai tanda ucapan selamat. Aku tidak menyangka sekali ketika itu. Aku memang sudah belajar sungguh-sungguh, tapi aku merasa masih belum pantas untuk mendapat ranking tertinggi di kelas ketika itu.

Esoknya ketika memulai semester dua, aku ceritakan keraguanku ini pada Pak Sukamto di tempat bimbel UN yang diadakan serentak di sekolah. Dan kalian tahu apa yang ia sampaikan?

“Loh, kenapa? Kamu memang pantas mendapatkannya, kok. Kamu rajin, semangat belajar di kelas, rela jadi sekretaris kelas dan sekretaris guru-guru (sebagai penulis di papan tulis, menggantikan guru mata pelajaran kalau mereka sedang capek), dan saya rasa kamu jauh lebih pantas untuk mendapat ranking satu di kelas dibandingkan teman-temanmu yang lain. Saya aja yakin, mosok kamu nggak yakin?”

“Iya, nggak yakin, Pak.”

“Oyaudah kalau gitu, saya tarik aja lagi rankingmu, ya? Saya kasih ke yang lain.”

“Y-ya sudah pak, nggak apa-apa. Terserah Bapak saja. Kan Bapak yang memberi nilai.”

Beliau tertawa. “Gimana, to? Orang lain mah malah mohon-mohon ke saya buat memberi nilai bagus tapi saya malah nggak mau kalau diminta kayak gitu. Nggak suka. Eh, kamu malah bukan cuma nilai bagus, bahkan saya kasih ranking satu. Eh, malah ragu dan ikhlas wae rankingnya dikasih ke yang lain. Ckck.”

“Ya habis gimana, Pak. Tiba-tiba saya menduduki ranking satu kan kayak aneh. Padahal di semester dua kelas 8 sebelumnya, saya bahkan nggak dapat ranking 10 besar sama sekali.”

“Loh, kamu ini wagu. Ya terserah saya mau ngasih berapa, dong. Kamu memang pantas dan saya juga ikhlas sekali ngasih kamu ranking satu itu. Saya juga ndak sembarangan ngasih ranking karena saya pun survei ke guru-guru mata pelajaran lainnya. Kita sepakat memberimu nilai tinggi. Eh, pas dijumlahkan nilainya, ternyata nilaimu paling tinggi di kelas. Lah, yawis koe sing dadi ranking sijine.”

Aku tak bisa mengelak bahwa hati kecilku senang. Terlebih lagi ada satu kalimat beliau yang hingga kini masih membuatku senang ketika memikirkannya dan membekas di ingatanku.

“Saya yakin, kamu ini nantinya bakal jadi orang besar. Sekalipun kamu ndak bisa melihat itu, tapi saya bisa. Tunggu aja. Nanti kamu pasti bakal datang dan berterima kasih ke saya sambil bawain bakso,” ucapnya yang diakhiri dengan canda.

Seketika aku terpana dengan perkataan beliau. Tapi aku juga tidak bisa menutupi fakta bahwa aku masih merasa diriku tidak pantas mendapatkannya bahkan hingga detik ini. Namun siapa sangka, dari perkataan beliau itu secara tidak sadar menanamkan sugesti pada alam bawah sadarku untuk bisa menjadi orang besar seperti yang beliau harapkan.

Semangat mulai membara ketika laptop impianku mendarat di hadapanku dengan selamat. Aku akhirnya bisa menulis cerita dengan bebas di laptopku. Ini semua secara tidak langsung berkat Pak Sukamto juga yang telah memberikan kepercayaan dan mempersilakan aku untuk berkarya dan menjadi bakal orang besar nantinya.

Perjalananku masih jauh. Masih banyak PR yang harus kuselesaikan: draf cerita pendek dan cerita bersambung yang mengendap di laptopku!😭 Hanya yang kurasa layak saja yang kuunggah ke blog ini.

Mulai dari situ aku mulai rajin ber-blogging ria. Mencari inspirasi konten yang tepat untuk kutulis di blogku sendiri tapi hasilnya nihil. Selama lima tahun aku nulis ngalor-ngidul di blog ini sambil sibuk berkomen-komen ria di blog orang yang juga sesama WordPress. Aku juga mengumpulkan karya cerita orang lain yang dipajang di blog mereka masing-masing. Saat itu, aku begitu iri dengan orang-orang yang bisa membuat blog dengan konten yang menarik. Untuk waktu yang lama, aku masih sibuk mencari jati diri dari blog ini. Hingga saat ini aku mulai menyadari satu hal, yaitu kepercayaan diri dalam mengungkapkan isi pikiranku melalui blog ini, baik dalam bahasa Indonesia dan bahasa Korea! Yap! Akhirnya aku memutuskan untuk membagikan konten-konten sesuai dengan pengalamanku selama ini.

Alhamdulillah.. sekarang aku sedang dalam mood untuk menulis dan ngeblog via handphone, loh! Wkwkwk.. tapi yang aku sedihkan saat ini adalah aku tidak lagi menemukan blog-blog yang aktif dan bisa diajak mutualan seperti dulu 😦 para pengguna blog rata-rata sudah beralih ke situs lainnya. Pengguna WordPress pun mulai berkurang, walaupun tetap masih banyak yang pakai. Tapi tetap saja tidak sebanyak dulu 😦

Meskipun begitu, aku tidak larut bersedih, kok. Aku malah berpikir untuk menarik minat mantan pengguna blog untuk kembali blogging bareng lagi. Bukan malah hanya memanfaatkan website/blog pribadi untuk membagikan portofolio karya dan CV demi kepentingan profesional kerja saja. Hei, bukankah itu membosankan? Jika kalian salah satu yang seperti itu, aku yang mampir ke blog pribadi kalian itu kan jadi tidak bisa menemukan tulisan kalian di blog kalian sendiri. Sedih sekalee.. Bagiku, berbagi cerita lewat tulisan sesungguhnya jauh lebih ngena dibandingkan dengan hanya berbagi informasi pribadi berupa CV dan portofolio karya kalian aja 😦

Akhir kata, yuk blogging bareng lagi! Yuk, mutualan denganku di WordPress! ❤️

2 tanggapan untuk “Saat Sudah Bukan Zamannya ‘Ngeblog’ Lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s