Udah intip Part I-nya belum? Kalau belum, mendingan baca Part I dulu deh. Kalau kalian baca artikel yang ini dulu terus membayangkan yang indah-indah tapi ujung-ujungnya malah dilempar telak ke tanah karena baca Part I-nya belakangan, nanti malah nyalahin penulisnya karena udah bikin kalian perih, sakit, terluka. Nanti malah nangis dipojokan, trus ngadu ke enyak babeh. Ujungnya, aku-akuu lagi lah yang kena *ngomong ala jarjit*

Tapi, beklah, jika kalian tetap bersikeras untuk membaca artikel ini dulu. Sesungguhnya aku percaya pada, penyesalan datangnya terlambat. Tapi bukan berarti aku mendoakan kalian menyesal loh ya, bukan! Ya pokoknya mah dinikmati aja nanti penyesalannya 😂 *minta ditimpuk*

Oke. Cukup dengan intermezzonya! Jadi, apa yang mau kubahas pada artikel kali ini? Yap, betul! Setelah kemarin malam kita membahas tentang dukanya, kali ini kita akan membahas sukanya menjadi translator orang Korea. Tenang, sekarang mah yang senang-senangnya aja, kok. Hmm, udah terbayang nih, pasti kalian bakal senyum-senyum sendiri sepanjang baca artikel ini 🤪 Langsung aja yuk, ah!

Nah, sukanya adalah..

1. Bisa Ngobrol Ngalor-ngidul dengan Orang Korea

Ini sih nggak usah ditanya lagi, ya. Bisa bahasa Korea, otomatis ya bisa ngobrol dengan orang Koreanya juga. Syukur-syukur suatu hari nanti ketemu dengan artis Korea dadakan, pasti udah bisa ngobrol santai dah, berasa teman dekat hoahahah (pasti kalian lagi bayangin ngobrol dan bercanda manis manja sm idola kalian, deh. Ketahuan!😪)

Pokoknya jangan kayak pas aku dulu, pas datang ke Dream Concert di Pyeongchang, aku nggak berekspektasi sama sekali untuk bisa bertemu atau bahkan ngobrol langsung dengan artis Korea, eh malah dikasih jalan buat bertemu bahkan diwawancarai langsung oleh Mas Leeteuk Super Junior di tengah dinginnya malam kala musim dingin yang menggigit itu. Alhasil, ketika ditanya sama Mas Leeteuk, horeeee aku terbata-bata ria, deh. Hahahaha ampun😭

Nah, itu salah satu keuntungannya. Contoh yang serupa lagi nih, misalnya kalian kerja di perusahaan Korea dan perusahaan tersebut menjalin kerja sama sekaligus punya projek bareng dengan artis Korea, bukan tidak mungkin lagi, kalian bisa ditunjuk sebagai TRANSLATOR PRIBADI mereka juga! See? Kesempatan baik bisa datang di tempat dan waktu yang tepat di saat kalian sudah siap, gaesss!

2. Paham Betul Budaya Korea Selatan

Jangan sebut diri kalian translator kalau kalian belum paham dengan budaya negara incaran kalian, dalam kasus ini yaitu negara Korea Selatan. Para translator pasti paham bahwa bahasa dan budaya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan sehingga proses pendalaman budaya sangat penting dalam mendukung proses pembelajaran bahasanya. Nah, tidak jarang, proses pembelajaran bisa menjadi membosankan, betul apa betul? Nah, untuk menyiasati, kalian bisa mengimbanginya dengan proses pendalaman budaya yang mengasyikkan, loh! Btw, ini salah satu bagian yang kusuka juga, ihiw.

3. Nonton Drakor tanpa Subtitle

AKHIRNYA AKU BISA NONTON DRAKOR TANPA SUBTITEEELLLL, EVERIBADEH! *tebar bunga dan petasan* *kemudian diseret ke kantor lurah karna bikin keributan*

Ya gimana nggak, tiap hari aja hidupku dah kayak di drama korea, bahkan aku juga ikut berperan sebagai pemain utama ceweknya wkwkwk.

Kata kalian dalam hati, “POIN INI BISA DISKIP AJA NGGAK, SIH?!”

Bisa kok, nggak apa-apa asalkan kalian nggak berhenti ngikutin postingan di blog ini aja. Canda dikit nggak apa-apa dong, jangan serius-serius amat, ah. 🤪

4. Bisa Tahu Lirik Lagu Korea tanpa Lihat Mbah Gugel

Biasanya begitu ada lagu baru K-Pop rilis di radio atau di YouTube, para translator bisa langsung tau lirik lagunya tanpa lihat Mbah Gugel. Malah hebatnya, ada translator yang bisa tau lirik lagu bagian ngerapnya, kalau aku mah apa. Pas bagian ngerapnya, aku cuma bisa bantu nge-amin-in aja. *tiba-tiba ngeluarin tasbih*

5. Kerja Serba Cepat dan Lebih Disiplin

Bukan hanya aku saja yang merasakan, kakak-kakak translator lainnya pasti juga merasakan ini. Ugh, bukan ngerasain lagi, udah mendarah daging malah! Jawab mereka😂😂

Pola kerja cepatnya orang Korea sedikit-banyak akan mempengaruhi pola kerja translator-nya juga. Translator yang notabenenya orang Indonesia, yang pada dasarnya kalau kerja itu oya-oya-o santai kayak di pantai, jadi ikut-ikutan bekerja serba cepat dan gesit seperti orang Korea. Ini dikarenakan para translator sudah terbiasa dengan ritme kerja orang Korea. Eits, biasanya nih ya, karena sudah terbiasa kerja dengan orang Korea, translator kadang suka dibuat greget sendiri begitu harus kerja dengan karyawan Indonesia lainnya yang kerjanya kurang gesit. 😦 Untuk kasus ini, memang translator dianjurkan untuk menasihati karyawan Indonesianya juga untuk disiplin dan kerja cepat mengikuti ritme kerja orang Korea agar semua pekerjaan bisa selesai tepat pada waktunya. Dari poin ini, apa salahnya kita tiru hidup cepat dan disiplinnya orang Korea? Waktunya Indonesia berubah!

6. Bisa Keliling Indonesia

Oh, nooooo! Ini salah satu impianku dari kecil yang masih membara hingga kini! Aku ingin sekali keliling Indonesia suatu hari nanti. Aku ingin mengenal Indonesia lebih jauh dan lebih dalaaamm.. sedalam rinduku padamuh! Apaseh yo🤯

Aku percaya suatu hari nanti kesempatan itu bisa datang. Kalau kata Mbak Kharin lagi, kesempatan itu bisa datang saat translator harus menemani bos (orang Korea) untuk liburan atau dalam rangka kunjungan ke cabang lainnya di belahan Indonesia bagian lain. Uh, membayangkannya saja sudah mengasyikkan sekali sepertinya.. Iya.. sepertinya…..

7. Menambah Ilmu dari Berbagai Bidang

Di bangku kuliah, aku memang hanya mempelajari bahasa Korea. Namun, begitu terjun ke dunia kerja, aku mempelajari teori marketing dan bisnis sedikit demi sedikit dalam waktu yang bersamaan, loh! Selain itu, aku juga mempelajari public speaking, biologi, teknologi, bahasa Indonesia, sejarah, seni, bahkan matematika 😦 Semuanya komplit! Walaupun mempelajarinya sedikit demi sedikit, tapi aku senang dan puas karena itu ilmu yang kudapatkan sendiri dan lebih berarti bagiku. Aku mendapatkan ilmu-ilmu itu secara otodidak di lingkungan kerja dan aku belajar sendiri tanpa ada guru yang mengajariku secara khusus.

Dan, penghargaan untuk kalian yang selalu bekerja keras sambil belajar adalah kelancaran rejeki. Dalam kamusku, rejeki itu sendiri maknanya luaaasss sekaleee, nggak cuma dalam bentuk materi. Bisa berbentuk seperti kelanggengan hubungan dengan rekan kerja, menambah banyak koneksi, mengetahui banyak hal, bisa beradaptasi di lingkungan yang benar-benar baru, bahkan sampai kenaikan gajih! Eh, gaji maksutee. Bener, to? Bukankah kerja keras itu berbanding lurus dengan rejeki yang akan didapat nantinya?☺️

Naah, itu dia 7 (tujuh) poin besar dari sukanya menjadi translator orang Kroyah, eh, Korea! Pasti yang udah paham banget dengan bidang ini, sepanjang baca tulisan di atas, cuma bisa angguk-angguk kepala sambil senyum-senyum aja, deh. Yakan, yakan?! Wwkkwk..

Gimana? Rupanya sukanya sama dengan dukanya, Bung! Jadi, kalau kalian emang bertekad untuk jadi translator, apa yang perlu ditakutkan? Kalau ada suka, pastilah ada duka. Bukankah di dunia ini sukaduka itu selamanya akan selalu berdampingan? Mereka tidak bisa dipisahkan bagai kedua belah mata uang yang ada di dompet kalian. *auto cek dompet*

Atau mungkin kalian ada tambahan suka yang lainnya lagi? Boleehh banget ditambahin pada kolom komentar di bawah tulisan ini. Atau barangkali ada adik-adik emesh yang pengen tanya-tanya lebih detail lagi seputar dunia translator, ya monggo. Nanti selain aku, bakal ada kakak-kakak translator lainnya yang juga bakal bantu jawab, yakan kakak-kakak? ☺️

Yah, pokona mah kitu weh.

APA-APAAN INI?! ENDINGNYA KOK BEGINIH?!!

Maap atuh. Sebage permintaan maapku, kukasih poto ini, deh, supaya kalian tambah syemangat.

Ucapan terima kasih kuucapkan spesial untuk Mbak Kharin, Mbak Nindi, Mbak Nadia, dan Mbak Amel yang telah bersedia kurepotkan untuk membagikan pengalaman suka-duka mereka selama menjadi translator. Lopyupul!

2 tanggapan untuk “Suka dan Duka Jadi Translator Orang Korea (Part II)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s