Suka dan Duka Jadi Translator Orang Korea (Part I)

Setelah baca judul di atas, pasti beberapa di antara kalian ada yang penasaran, loh jadi translator emang ada dukanya juga? Sementara jawabanku ketika dengar reaksi kalian, YA ADA DONG *nangis darah*

Hahahahaha ngga ding, ngga sampe nangis darah kok, paling cuma sampe nangis sambil guling-guling di lantai huahua..

Yang pasti dari reaksi yang kuberikan itu seengganya kalian bisa tahu kalau jadi translator ini juga ada dukanya. Apalagi kalau pengen jadi translator yang profesional, perjuangannya mah BEUH! Gitu dah.

Nah, kira-kira apa aja sih suka dan dukanya menjadi seorang translator? Oke, aku akan jabarkan satu-persatu dari kacamata translator bahasa Korea, yaa. Jadi, semisal ada di antara kalian yang tertarik banget pengen jadi translator oppa-oppa atau noona-noona, seenggaknya kalian sudah punya gambarannya dulu bagaimana perjalanan seorang translator dari pas masih terseok-seok saaampai bisa berlari kencang (maksudnya jadi seorang translator mahir yang sudah diakui kemampuannya).

Seperti kata peribahasa Indonesia,

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

aku akan bahas mulai dari dukanya menjadi seorang translator atau penerjemah terlebih dahulu. Simak, yuk!

1. Teman Korea dengan Rekan Korea Jelas Berbeda

Inget banget saat pertama kali masuk kerja, aku banyak buanget hah-heh-hoh-nya kalau lagi bicara dengan orang Korea. Wkwkwkwk.. Kenapa? Karena mereka bicaranya super cepat, mungkin karena mereka menganggap aku bisa bahasa Korea jadi, ‘yaudahlah pasti dia ngerti omonganku’ pikir mereka. Tapi nyatanya aku masih belum sepandai itu. Apalagi ini kan di lingkungan kerja yang menuntut para pekerjanya untuk kerja super cepat, bicarapun juga cepat-cepat. Jadi ya mau nggak mau kemampuan berbahasanya harus banyak dilatih dan harus bisa beradaptasi, dong. Awalnya sempat keteteran, tapi lama-lama mulai bisa mengikuti.

Berbeda dengan saat aku masih di bangku kuliah. Aku juga punya teman Korea saat ikut kegiatan volunteering di kampus Jogja dan Gangneung (nama salah satu kota di Korsel). Banyak di antara mereka yang kalau bicara denganku pasti tidak cepat-cepat dan tentunya dengan bahasa sederhana yang sangat mudah dipahami. Sejauh itu, aku merasa, oke aku masih bisa menanganinya. Eh, begitu masuk dunia kerja… Surprise! Ternyata lebih menantang dibandingkan dengan saat di bangku kuliah huahahaha..

2. Harus Pandai Memfilter

Sebagai penerjemah, tentunya tugasku ialah menyambung lidah atasan ke karyawan, begitupun sebaliknya. Namun, dalam penerjemahan, pada dasarnya seorang translator tidak bisa menerjemahkan secara gamblang semua yang diucapkan atasan ke karyawan dan sebaliknya, harus ada filternya dulu. Ini nih yang kadang bikin aku kesulitan wkwkwk. Sulitnya kenapa? Karena saat menerjemahkan spontan di tempat, jadi butuh waktu lebih lama lagi untuk bisa mendapatkan kata-kata yang pas tanpa menyakiti hati kedua belah pihak. Walaupun salah satu pihak (baik atasan atau karyawan) ingin diterjemahkan apa adanya tanpa filter, tapi tetap saja seorang translator harus memfilter ucapan mereka dan menyampaikan ke lawan bicara dengan kata-kata yang memiliki makna sama tapi tidak terdengar brutal.

3. Dianggap Anak Kesayangan

Ini nih yang kadang kala aku rasakan. Rekan-rekan kerja Indonesia tak jarang menganggap seorang translator di perusahaan Korea adalah anak kesayangan, padahal tidak persis seperti itu. Mungkin karena seorang translator memahami bahasa ibu mereka jadi kelihatannya seperti anak kesayangan kali, ya? Aku kurang setuju dengan sebutan itu karena memberi kesan seolah-olah para translator diistimewakan oleh orang Korea, padahal ya sama saja, kok. Mungkin sebutan orang kepercayaan atau tangan kanan orang Korea lebih mendekati kali, ya. Seperti yang sudah disebutkan pada poin 1, watak orang Korea yang ingin selalu bekerja cepat mengharuskan seorang translator untuk selalu tanggap atas perintah yang mereka sampaikan langsung sehingga rasanya tidak ada waktu sama sekali untuk menerjemahkan via Google translate. Karena itulah, seringkali orang Korea langsung meminta translatornya yang melaksanakan tugas dengan tanggung jawab yang cukup besar kepada translator.

4. Kesalahpahaman yang Mungkin Bisa Terjadi

Wah, yang ini bukan main-main! Kalau saat menerjemahkan terjadi kesalahpahaman, bisa jadi berantakan dan berbahaya untuk karir perusahaan. Makanya itu, ketika menerjemahkan, jangan ada kata ragu dalam hati seorang translator. Jika masih ada keraguan, tanyakan dan pastikan terus kepada orang Korea atau orang Indonesianya bahwa pesan yang kalian tangkap itu sudah sama dengan yang mereka maksud. Jangan sampai kalian masih ragu tapi tetap menerjemahkan ke lawan bicara dengan pesan yang kalian tangkap seadanya. Kalau seperti itu, kesalahpahaman pasti tak terelakkan lagi dan kalian pasti bakal kena amuk atasan karena ini menyangkut tanggung jawab yang besar dari seorang translator. Makanya, kudu hati-hati, yak!

5. Ketika Harus Menerjemahkan Kalimat Separagraf Sekaligus

Langsung blank! LOL. Ya bagaimana tidak? Kalimatnya saja kebanyakan, sedangkan setiap manusia mempunyai kapasitas maksimalnya masing-masing dalam menangkap poin-poin penting yang disampaikan lawan bicara (orang Korea/Indonesia). Makanya itu, lebih baik persatu atau perdua atau pertiga kalimat saja, jangan banyak-banyak. Karena kalau tidak begitu, translator bisa pusing karena terlalu banyak informasi penting yang harus dicatat di otaknya. Maka jangan heran saat translator meminta lawan bicaranya untuk mengulang kembali ucapan mereka sampai translator memahami pesannya.

6. Ketika Sudah Klop dengan Orang Korea

Bayangin deh, kalian sudah lama bekerja di perusahaan Korea sebagai translator dan kalian sudah berhasil mengalahkan segala rintangan pada awal masa kerja. Kalian pasti senang kan, ya? Karena badai sudah berlalu. Selamat! Eits, tapi jangan salah, bukan berarti kalian tidak akan menemukan duka lainnya. Duka yang akan datang tanpa diduga salah satunya saat kalian sudah nyaman kerja bareng salah satu orang Korea lalu harus rela dipisahkan dari orang Korea itu. Huhuhu.. sedih sih, tapi itulah dunia kerja. Ada kalanya kita harus keluar dari zona nyaman.

Kalau poin 6 ini, jujur, aku pun secara pribadi belum pernah mengalaminya secara langsung. Bukan berarti aku membual. Poin 6 ini memang benar ada, kok. Ini salah satu contoh duka yang disebutkan Mbak Kharin, selaku seniorku di tempat kerja. Karena aku masih newbie, jadi aku belum mengalami poin 6 ini. Tapi lumayan lah bisa bantu memberikan gambaran kasarnya.

7. Harus Rela Pulang Telat

Kalian pasti sering nonton drama Korea kan, ya? Biasanya di drama Korea suka ada adegan orang Korea yang pulang kerja dan langsung mampir ke rumah makan lalu memesan makanan dan soju. Nah, itu juga yang aku alami. Sepulang kerja, kadang kala orang Korea mengajak karyawan Indonesia makan di luar (yang pasti restoran Korea di Indonesia) dan biasanya baru bubarnya jam-jam waktu Isya’. Namun kadang, saat terlalu keasyikan makan-makan dan minum soju, biasanya orang-orang di situ tak sadar tiba-tiba jam di tangan memberi tahu bahwa saat itu sudah larut malam!😂😂

Yap! Itu dia tadi 7 (tujuh) duka menjadi translator orang Korea. Seperti yang sudah kusampaikan, dari postingan ini, aku hanya ingin memberi gambaran aja tentang dunia translator biar kalian ada persiapan dari sekarang dan tidak kaget nantinya begitu terjun ke dunia kerja. Wihiiw.. Untuk kakak-kakak translator lainnya juga, mungkin ada dari kalian yang juga seprofesi denganku dan merasakan hal lain yang tidak ada dalam daftar di atas. Boleeh banget ikut menambahkan di kolom komentar. Kita bisa saling berbagi duka di sini yaaaa heuheuheu.. 😂

Ohiya, untuk sukanya, nanti bakal kubagikan di postingan selanjutnya, yaaaaa. Sebelum kututup, aku pengen membangkitkan semangat kalian dulu lewat sebaris kalimat ini.

Sebuah duka akan tetap menjadi duka yang menghasilkan kesedihan ketika kita tidak mau mencoba melihat lebih dalam sisi positif dari apa yang kita jalani.

Ya intinya, jangan patah semangat untuk terus belajar, para translator muda!! ❤️

16 tanggapan untuk “Suka dan Duka Jadi Translator Orang Korea (Part I)

  1. Halo De! Aku mau nambahin nih, duka nya yang paling banget aku rasain waktu jadi penerjemah. Kadang jadi penerjemah ga ada istirahatnya, contoh saat jam istirahat makan pun misalnya, pasti otak kita dipaksa bekerja. Karena atasan (orang korea) untuk bicara atau sekedar mengobrol dengan Karyawan nya pun masih butuh kita sebagai penyambung. Padahal logika nya itu diluar konteks ‘kerja-an’ dan mau gamau kita gabisa istirahat lagi deh walaupun itu jam istirahat.

    1. Wahh, makasih udah ikut nambahin ya, Haam.. btw, kamu udah coba ngomong ke atasan kah kalau kamu emang butuh jam istirahat yang murni tanpa ada kegiatan menerjemahkan? Kalau belum, coba deh diomongin, barangkali beliau akan mempertimbangkan keinginanmu, Ham. 🙂

    2. Wah ilham keren, jadi penerjemah muda jugaa.

      1. Sudahi saja aktingmu ini, Shin!😂

  2. Wahh, tulisanmu bagus kak. Aku juga pengen bisa kayak kakak. Jadi penerjemah orang asing. Tapi aku pengennya bahasa belanda kak. Sukses selalu kak deyo.

    1. Wah, halo, dek! Makasih udah mampir. Sini, kakak ajarin bahasa tubuh aja biar mantep, kan jadi ga perlu belajar banyak bahasa di dunia, dek.

      Btw, selamat ya dek, bentar lagi mau wisuda. Udah dapet MUA-nya belum?😂

  3. Halo kakak Deyo, kakak Ilham, dan kakak Shin :3 wah kalian hebat! Bangga banget rasanya dengan kalian :”) *peyuuukk*
    Wah rasanya berat ya, tapi kalian bisa melaluinya! Aku yang tidak punya pengalaman banyak, mikir kalo ngomong langsung/menerjemahkan lansgung itu jauh lebih sulit dibandingkan dengan misalnya chatting sama orang Korea, yang santai, dan ga selalu harus jawab saat itu juga. Karena kalo kita nerjemahin langsung orang yang bicara, otak kita harus serba cepat seperti yang Deyo jelaskan di sini. Tapi kalo kita chatting, kan menulis, jadi misal kita tidak paham arti, kita bisa sambil lihat2 kamus dulu, atau tanya dengan kawan.
    Sukses selalu untuk kalian teman-teman ^-^)9

    1. Halo, Fazaaa! Makasih ya sudah mampir wehehhee..
      Iya pertamanya pasti sulit. Asalkan ada kemauan, pasti selalu ada jalan. 🙂
      Aamiin.. sukses juga untuk Fazaaa ❤️

  4. Halo milea. Iya semua pas tepat sasaran. Mau nambahin lagi, kalo kita lagi kerja lah si doi yang lagi belajar bahasa indonesia, tanya-tanya kosakata apalagi klo doi tanya perbedaan pakai kosakata 1 dengan 2 apa. Kebayang ga sih kosakata indonesia kan banyak yg mirip dan susah menjelaskan 🙂

    1. Hai, temennya Milea. Iyak, ini sih sedih juga. Kalau aku ngalaminnya agak beda lagi, yaitu saat aku harus menjelaskan budaya dan kebiasaan yang dilakukan orang Indonesia dan mendeskripsikan buah-buahan Indonesia! Bersyukurlah ada Google dan Kamus Naver yang bisa selalu siap sedia ketika kita kehabisan kata-kata😭
      Btw, makaciw sudah mampir dan ikut meramaikan blog iniii☺️

  5. Wkwkw mau ikutan komen, Yo. Meskipun nggak jadi penerjemah, tapi kerjaku kemarin berhubungan erat dengan mereka.
    Kemarin, sih, kerjanya sama orang Tiongkok, ya. Kayaknya karakter mereka mirip2, pengennya serba cepat. Sampe pernah salah satu atasanku orangnya ga sabaran. Temenku, si translator, mau ngejelasin tapi masih milih kata. Nah, itu si beliau udah bilang “Ah, udahlah!” Aku yang dengernya aja sakit ati 😥
    .
    Trus, dalam hal “harus pandai memfilter.” Pernah tuh si bos marah2 trus kata2nya termasuk kasar. Temenku sih nerjemahinnya selow, cuma bilang “intinya beliau marah.” Padahal abis itu, dia bilang “Untung kalian nggak tahu dia ngomong apa.” 😥

    1. Iya budaya mereka kurang lebih mirip-mirip, Mbakdin. Wkwkwk emang bener, kata-kata “Ah, udahlah!” dari native itu kadang untuk beberapa kasus, terasa paling nyess buat translator. Tapi kalau aku, untuk menghindari kebaperan, makanya aku belajar bodo amatan ketika mendengar kata-kata itu. Alhamdulillah sikap kebodoamatanku ternyata kepake di sini :’)

      Iya mendingan nggak usah tau, Mbakdin. Yang menanggung kata-kata itu jadinya cuma si translatornya. Kalau ketemu dia lagi (translator mandarin itu), disayang-sayang ya, Mbakdiin, bukan apa-apa, takut mentalnya jatuh. :’)

  6. Waah bener banget, Yo. Apalagi poin kedua itu PR banget sih buat penerjemah. Kayak pas atasan marah ke karyawan sebisa mungkin kita nyampaiin nya diperhalus pas disampein ke karyawannya. Jadinya itu amarah yang nelen bulat2nya ya cuma si penerjemah karena cuma dia yg paham. Oh iya aku juga mau nambahin, dukanya jadi penerjemah itu kalo dapat user yang satoorinya kental banget sampe suka salah denger padahal perbedaan cuma dikit kayak kata ‘덜’ dan 더. Mau nangis aja kalo udah salah nerjemahin pas presentasi ㅜㅜ Semangat kerjanya yo~~

    1. Iyaaaa kita yang tahu semua apa yang mereka bicarakan😭 Tapi ndak apa-apa, para translator kan orang-orang yang kuat, jadi udah bebal lah kalau yang macam gini. Wedyan.
      IYAAA ITU AKU JUGA NGALAMIN! Huahahaha.. makasih semangatnya faaa, kamu juga harus lebih syemangaatt! Btw, makasih udah ikut meramaikan dan memfollow blog usang ini ya, Faaa :’)❤️

      1. Makasih semangatnya yo~~ oh iya kalo boleh followback blogku yg baru tak urus lagi ini yak 🙈😄

      2. Ohiyaak! #anaknyakurangpeka-_- kwwkwk Sudah kufollow ya faa, dengan senang hatiii uhuyy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close