Pertanyaan di atas adalah salah satu pertanyaan yang paaaaaaling sering kudapatkan ketika bertemu dengan orang baru. Yaa meskipun memang kemunculan pertanyaan di atas tidak lebih banyak dibandingkan dengan pertanyaan ‘siapa nama kamu?’ atau ‘nomor hape-mu berapa?‘ huahahaha. Namun, percaya atau nggak, jawaban yang kulontarkan ketika menjawab pertanyaan di atas bisa berbeda-beda. Mungkin tergantung mood juga kali, ya. Heuheu..

Sejujurnya agak bosan juga ketika dapat pertanyaan itu untuk kesekian kalinya. Tapi aku nggak pernah bosan menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yaaaaang bervariasi. Salah satu jawaban yang sering kuberikan kepada lawan bicara ketika diberi pertanyaan seperti itu adalah ‘karena saat SMA, aku suka belajar bahasa dan berminat untuk mempelajari bahasa lebih dalam lagi, bahasa apapun di dunia. Makanya itu aku mulai mempelajari bahasa Korea.

Usai kujawab seperti itu, biasanya muncul lagi pertanyaan seperti, ‘loh, kenapa harus bahasa Korea? Kenapa nggak bahasa Mandarin atau bahasa Jepang aja yang lebih jelas prospek kerjanya? Kalau bahasa Korea ‘kan masih jarang banget.‘ Biasanya pertanyaan seperti itu dilontarkan oleh ibu-ibu atau bapak-bapak yang memang belum banyak tahu tentang kokoreaan (dunia tentang Korea). Jadi aku pun memaklumi saja dan menjawab dengan santai, ‘loh, bahasa Korea justru lebih gampang dipelajari, Pak/Bu. Kalau huruf Jepang (Katakana, Hiragana, sampai Kanji) kan susah banget, apalagi huruf Mandarin (Hanca) tuh, beuh. Nah, kalau masalah prospek kerja sih saya nggak pernah ambil pusing itu. Beneran, deh. Justru dulu saya baru tau istilah prospek kerja ketika saya sudah terlanjur kuliah semester 1 di prodi ini. Saya ketika itu belum tau apa-apa tentang apa itu prospek kerja. Yang saya tau hanya tentang memilih jurusan yang kira-kira saya bisa maksimal di dalamnya. Itu semua berkat Bapak dan Ibu saya yang membebaskan saya untuk mengambil jurusan yang saya minati, jadi saya pun memilih bahasa Korea. Karena ini adalah pilihan sendiri, jadi saya pun nggak merasa terpaksa dalam belajarnya. Malah menikmati.. Kalau udah menikmati ‘kan artinya kita suka dengan apa yang kita pelajari. Kalau udah suka, mau sesulit apapun proses belajarnya, pasti akan kita lalui. Dengan begitu, nantinya rejeki mah bakal ngikut sendiri tanpa harus dicari. Hehehe..’

Itulah makna prospek kerja yang selama ini kuyakini. Dan itu pula jawabanku ketika disinggung tentang prospek kerja mahasiswa Prodi Bahasa Korea. Adakah yang sepemikiran? Ada?! Oke, kita toss dulu! Tosss! Aku juga meyakini bahwa tak ada satupun jurusan yang prospek kerjanya rendah. Kembali lagi, itu semua bergantung pada kesungguhan dalam diri sendiri.

Lalu bagaimana dengan yang tidak sepemikiran?

Coba kalian tanyakan lagi pada diri kalian sendiri, kira-kira apakah aku memang benar-benar suka belajar bahasa Korea? Kalau nantinya aku merasa tak sanggup lagi dan akhirnya menyerah sebelum menulis Skripsi/Tugas Akhir, bagaimana jadinya?

Nah loh. Aku tidak bermaksud membuat kalian ragu dengan pilihan kalian, tapi ya apa salahnya mengajukan pertanyaan kecil itu dulu pada diri sendiri biar tidak menyesal nantinya? Walaupun kelihatannya sepele, itu pertanyaan paling mendasar yang jadi pondasi kuat buat kalian untuk tetap bertahan menjalani proses belajar bahasa Korea. Akupun dulu begitu, memberikan pertanyaan itu pada diri sendiri ketika hendak memilih jurusan Biologi atau Pendidikan Biologi di universitas lainnya. Dan kalian tau apa jawaban yang kuberikan pada diriku sendiri itu..?

Tidak. Aku kayaknya nggak bakal sanggup deh buat belajar Biologi selama empat tahun. Aku nggak sanggup kalau harus menghafal banyak istilah-istilah asing dalam dunia Biologi. Aku harus cari jurusan lain, jurusan yang masih berhubungan dengan hobiku, mungkin? Hm, tapi apa? Aku suka menulis, aku suka bercerita, aku suka nonton film, aku suka dengar lagu, aku suka berimajinasi, aku suka bicara sendiri, aku suka bertemu orang baru… Hmm..

Sepanjang memikirkan itu, jujur saja aku sangat stress, bahkan bisa dibilang itu salah satu masa terberat dalam hidupku. Kenapa? Begini, aku ini orang yang serba pas-pasan, katakanlah seperti itu. Nilai-nilai semasa SMA rata-rata pas-pasan. Ranking juga sama, nggak diurutan atas dan nggak di urutan terbawah juga. Aku tipe murid yang kalem dan santai kayak di pantai 😦 kebanyakan kegiatan di SMA itu cuma melakukan apa yang kusuka aja, contohnya seperti ikut kegiatan dalam sekolah. Udah itu aja. Bukan tipe murid yang demen banget ikut olimpiade atau english debate competition sana-sini sampai bolak-balik ke luar kota. Aku bukan kayak temen-temenku yang hebat itu. Aku hobinya jago kandang. Diam di dalam sekolah aja, nggak pernah keluar. Tapi aku enjoy saja, kok. Ikut banyak kegiatan dalam sekolah? Of course. Pada dasarnya, aku anaknya bisa dibilang aktif dalam kandang dan nggak bisa diam. Aku pun terdaftar sebagai pengurus OSIS dan ekstrakurikuler Navoska (Nada Vokalia SMANSA KARAWANG). Punya banyak temen? Maybe. Banyak yang kukenal tapi nggak banyak yang dekat denganku, hanya beberapa saja. Kepada merekalah aku selalu menceritakan kebimbanganku ini (Meyta, Sani, Azzahra, Dewi, dan Alin). Anehnya setiap bersama mereka, aku selalu melakukan hal-hal gila dan asyik yang kusuka seperti nonton drama Korea dan anime Jepang, berkhayal dan berimajinasi tentang masa depan, sampai mejeng di kantin memandangi kakak kelas yang lewat heuheu.. Dari kegiatan-kegiatan yang kusuka itulah aku melihat ada benang merah yang tersambung. Akhirnya, aku memutuskan untuk memulai semuanya dari bahasa. Bahasa yang pertama kali memikat hatiku (ceileehh dah kayak jodoh aje) adalah bahasa Jepang! Tapi karena ada temanku dari kelas IPS yang juga mengambil jurusan bahasa Jepang di universitas tujuan yang serupa dengan pilihanku, maka aku mundur dan memutuskan untuk mempelajari bahasa Korea saja. Dari bahasa Korea inilah, suatu hari nanti aku berharap bisa melebarkan sayapku di Korea Selatan! (read: bekerja di Korea Selatan)

KOK BISA? BIASANYA KAN KALAU KULIAHNYA JURUSAN BAHASA KOREA, UJUNG-UJUNGNYA CUMA JADI TRANSLATOR SAJA..

Memang kebanyakan dari lulusan seperti aku ini bakal jadi penerjemah ketika sudah terjun ke dunia kerja, tapi penerjemah itu bisa jadi batu loncatan atau bahkan batu awalan saja bagiku. Kenapa? Tentu saja karena aku masih punya mimpi dengan profesi lain yang ingin kuraih di masa depan, bukan di Indonesia, tapi di Korea Selatan. Eits, bukan berarti aku tidak ingin berkarir di Indonesia, tapi aku ingin menantang diriku sendiri untuk terjun langsung di medan perang bersama dengan native-nya. Entah itu sebagai penulis novel, penulis skenario drama/film Korea, jurnalis, pembawa acara TV (host, MC), penyiar radio, diplomat, apaaaapun pekerjaan yang akan kuemban, aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku bisa, dan juga membuktikan pada orang Korea Selatan bahwa SDM di Indonesia tidak bisa mereka remehkan. Dan ketika sudah sampai pada tahap mempertaruhkan nama negara dan agama, di situlah tanggung jawab terbesar yang nantinya akan kupikul. Kemampuan berbahasaku sebagai penerjemah sekaligus sebagai pekerja di Korea Selatan asal Indonesia, yang nantinya akan jadi modal dasarku dalam berkarir entah di Indonesia, Korea Selatan, atau bahkan dunia.

WOW!

Oke, sudah cukup ya berimajinasinya. Kembali lagi ke masa sekarang.. Maksudku menceritakan masa laluku bahkan sampai mimpi-mimpiku adalah memberikan gambaran betapa indahnya ketika kita melakukan apa yang kita suka. Intinya yaa kamu suka atau nggak. Itu saja sudah cukup. Dengan itu, aku yakin kalian sudah bisa menentukannya sendiri.

Bagaimana? Sudah terbayang ‘kan ya di mana letak benang merahnya ketika aku memutuskan untuk melakukan apa yang kusuka dari awal hingga kini..? Nah, sekarang giliranmu! Yakin masih mau pilih jurusan bahasa Korea? Kenapa? 😀

Kukasih hadiah foto, nih. Ini pas aku ikut pers kampus di Korea. Kenapa aku pilih ekskul ini? Karena aku suka! Sesederhana itu, kok.

4 tanggapan untuk “Kenapa pilih Jurusan Bahasa Korea?

  1. Bener banget yo! Ada banyak DM yang masuk ke instagram aku yang nanyain tentang prospek kerja, passing grade, akreditasi jurusan dll. Jujur aku sebelum masuk kuliah ga tahu dan ga pernah mau tahu tentang hal kaya gitu. Karena menurut aku, aku kuliah dengan jurusan yang aku suka dan menurut aku mampu. Sama yang kaya kamu bilang, kalo prinsipku sih, yang penting kita suka dan sesuai dengan passion kita jadi bisa maksimal saat kuliah. Insyallah kalau maksimal pasti mendapat hasil yang terbaik! Bener ga? Percuma kalau pilih jurusan yang prospek kerjanya ‘katanya’ bagus/tinggi tapi ga sesuai dengan passion kita. Dijamin hasil nya ga baik deh

    Suka

    1. Yess, sependapat, ham! Mungkin maksudmu bukan hasil yang ga baik tapi hasilnya kurang maksimal kali ya, ham? Yep, ada benarnya juga. Intinya, mulai dari diri sendiri, jangan pilih jurusan bahasa Korea hanya karena faktor luar atau faktor ikut-ikutan tren aja. Itu sebenarnya yang mau kutekankan juga.

      Suka

  2. Suka banget sama cara berpikirnya, ternyata ngga cuma saya yg bimbang sendiri mikirin jurusan kuliah, salam kenal kak.
    Oiya! makasih banyak buat afifah yg sudah membawa saya mampir kesini :3 loplop ♡

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s