Tapak basah sepatuku di atas aspal pekat itu meninggalkan bekas basah di sepanjang jalan. Tatapanku masih kosong hingga tak sadar telah menginjak kubangan air bekas hujan tadi sore. Aku menghela napas panjang. Hari ini terasa berat sekali. Pundakku kaku, tidak, sekujur tubuhku kaku, lelah, pegal-pegal, ingin hancur rasanya. Seharusnya aku sudah menyerah sampai di sini. Namun, siapa sangka di balik lelahku ini, ada perdebatan hebat yang berlangsung dalam diriku.

“Aku tak kuat!” teriak si Tubuh. Si Akal dan Batin diam saja seolah keluhan itu hanya keluhan sementara.

“Dasar manja!” balas si Batin.

Tak mau kalah, si Akal menyahut, “Kau tak tahu, aku bekerja lebih berat daripada dirimu. Kau masih bisa beristirahat ketika si Dia tidur, tapi tidak denganku. Aku harus bekerja bahkan ketika Dia tidur dan bermimpi. Dan kau masih berani-beraninya teriak bahwa kau lelah?!” Akal menggelengkan kepalanya.

“Benar itu! Bahkan ketika Dia bermimpi indah dan buruk pun, aku juga harus bekerja menghasilkan perasaan-perasaan yang sesuai dengan mimpi yang sedang Dia dapatkan saat itu juga. Dari mimpi itulah Dia dapat menyimpulkan apakah itu mimpi buruk atau mimpi indah. Kau lebih beruntung daripada kami berdua, Tubuh!” sahut Batin yang senada dengan Akal.

Tubuh pun gusar mendengar jawaban-jawaban Akal dan Batin. Ia sadar bahwa ia sedang terpojok. “Kalian tidak tahu, bukan? Meskipun aku tertidur dan bermimpi bukan berarti aku beristirahat total. Dari aktivitas yang kalian lakukan selama Dia tidur itu memberikan efek padaku. Efeknya adalah kelelahan. Ya, aku jadi tidak bisa beristirahat dengan nyenyak dan maksimal karena kalian bekerja terus-menerus. Akibatnya apa? Dia jatuh sakit! Sekarang kalian lihat saja, Dia hanya terbaring lelah. Pekerjaanku menjadi tiga kali lipat lebih banyak dari biasanya karena aku sibuk untuk menyembuhkan bagian-bagian Dia yang rusak, belum lagi virus-virus yang dengan mudahnya masuk. Itu semua karena kalian juga!!” ungkap Tubuh dengan penuh amarah, suaranya bergetar. Tenaganya sudah menipis karena dipakai untuk bekerja habis-habisan menyembuhkan Dia.

Akal dan Batin hanya bisa terdiam. Terperanjat dengan jawaban si Tubuh. Mereka baru menyadari hal itu dan tak pernah menyangka bahwa dampaknya akan separah ini. Mereka berdua merasa bersalah pada Tubuh, karena mereka berdualah si Tubuh jadi harus bekerja tiga kali lipat dari sebelumnya.

Isak tangis Tubuh semakin terdengar jelas. “Kumohon, jangan sebut aku manja hanya karena aku punya kesempatan beristirahat. Jangan iri dengan apa yang kupunya. Aku bisa beristirahat karena memang sudah seharusnya seperti itu. Aku justru iri dengan kalian. Karena di bawah kalianlah aku bisa beroperasi. Aku selalu menunggu perintah dari Akal untuk bisa bergerak, aku selalu menunggu pesan hasil dari pengolahan Batin untuk bisa menunjukkan ekspresi wajah yang benar, dan masih banyak lagi. Semua itu karena kalian. Namun dari semua itu, yang kumohon dari kalian hanya satu.” Tubuh memberi jeda pada kalimatnya. Ia menatap langit, mengedip-kedipkan matanya beberapa kali sembari berharap air mata di pelupuk matanya bisa segera mengering.

“Tolong.. biarkan aku beristirahat. Akal, kumohon padamu jangan terlalu banyak bekerja membahas hal-hal yang segitu beratnya. Tentu saja kau jadi lelah. Kau seolah memaksa Dia untuk berpikir ketika mata Dia sudah terpejam. Dan kau Batin, kumohon padamu juga untuk tidak bekerja ketika Dia juga sedang tertidur, apalagi bekerja untuk membahas perasaan-perasaan tersakiti yang Dia rasakan. Dia bisa stres dan efeknya juga akan dirasakan oleh Akal dan aku!” Tubuh tak bisa tahan lagi, tangisannya sudah pecah.

“Tidakkah kalian kasihani aku sekarang? Pekerjaanku tiga kali lipat dari sebelumnya, sedangkan kalian tidak ada pekerjaan seberat aku akhir-akhir ini karena Dia pun sedang tidak banyak pikiran dan memendam perasaan. Kenapa? Karena yang Dia kerjakan hanya tidur-tiduran saja!!” teriak Tubuh. Akal dan Batin menundukkan kepala. Diam-diam juga ikut menangis, merasa bersalah.

Dengan energinya yang hampir habis, Tubuh memeluk Akal dan Batin. Tubuh meminta kerja sama Akal dan Batin untuk membuat Dia kembali pulih dan sehat seperti semula. Mereka saling meminta maaf dan menguatkan. Kini tak ada lagi bekerja sendiri-sendiri. Baik Akal, Batin, dan Tubuh, semuanya berkolaborasi bekerja untuk kesembuhan Dia.

Tas kulempar ke atas kasur dan langsung merebahkan diri. Sembari menatap langit kamar, aku mengulang kembali nasihat dan segala peringatan yang disampaikan atasanku. Terlalu banyak hal yang tidak kutahu. Aku bingung harus mulai dari mana. Sepanjang memikirkan kejadian hari ini, aku lupa kalau kondisiku sedang kurang sehat. Napasku panas, suaraku berat, tenggorokanku pun perih. Tiap memandang kilau lampu, mataku tak kuat karena silaunya terasa memedihkan. Aku bangkit. Otakku seolah berteriak-teriak memerintahku untuk mandi air hangat. Terpikirkan juga olehku untuk menyeduh mi kuah instan. Kali ini rasa malas sepertinya harus bersedia mengalah. Teriakan-teriakan dalam kepalaku nampaknya tak ada niatan untuk diam sebelum kuturuti pintanya. Tanpa basa-basi, aku meraih handuk yang tersampirkan di jemuran kecil di sisi lemari baju kemudian berjalan menuju kamar mandi. Terbayang kelezatan mi instan yang menyapu lidahku lalu memenuhi perutku yang kosong ini. Ah, baru ingat, kapan ya terakhir kali aku makan? Aku terlalu memikirkan banyak hal hingga lupa makan. Kemudian muncul perasaan syukur dalam hatiku. Aku memang sibuk akhir-akhir ini. Tapi aku harap kesibukan ini berbuah manis nantinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s