Wow, tumben banget ya bahasnya soal beginian.

Ada apa gerangan kok tiba-tiba bahas tentang ini?

Wih, bagus nih, bahasnya udah mulai ke ranah yang serius!

Eh, loh, kok udah part 3 aja, sih? Part 1 dan 2-nya mana?

Yah, nggak bahas soal Korsel lagi?

…dsb.

Sebelum aku mendapat pertanyaan itu dari temen-temen, aku udah memperkirakan temen-temen kurang lebih akan bertanya-tanya seperti itu begitu post ini kurilis, terlebih bagi para follower blog ini. Hanya kalian yang tahu bagaimana sepak terjang tulisanku selama ini. Wuahahaha..

Aniwei, pertanyaan-pertanyaan di atas kujawab satu-satu deh, ya. Pertama, aku lagi malas bahas soal Korsel, nanti lagi ya. Hahaha.. Kedua, sebenarnya aku sudah lama membahas soal ini dengan teman-teman sepermainanku di Jogja. Sempat terpikirkan juga untuk mengangkatnya di blogku tapi aku belum punya keberanian untuk mempublikasikannya. Istilahnya, aku masih atut bahkan sampai sekarang sebenarnya masih atut

Lalu gimana ceritanya kok bisa timbul keberanian buat ngangkat tema sensitip ini?

Bermula saat aku sedang berselancar ria di dunia Instagram, aku tertegun melihat postingan seseorang. Ia adalah kakak tingkat di jurusanku, panggil saja Kak Bels. Begitu melihat postingan ia tentang ini di blog pribadinya yang ia promosikan di instagram story-nya itu, aku langsung berseru dan mengirimnya direct message. Bukan untuk memprotesnya karena mengangkat tema yang sensitip, tetapi untuk mengapresiasi keberaniannya mengangkat tema ini di blognya. Bagi yang tertarik membaca tulisan Kak Bels, bisa kunjungi langsung ya website-nya Kak Bels. Di sana ada part I dan part II-nya. Post ini hanya melanjutkan postingan Kak Bels dengan pandanganku sendiri. Karena itu, judul post ini jadi part 3.

Kami bertukar pikiran lewat DM. Lewat percakapan teks nan singkat itu, aku paham bagaimana posisinya dan kegundahan hatinya itu dan jadi termotivasi untuk membahas hal yang serupa tapi dengan sudut pandangku. Maka lahirlah post ini!

Sebelumnya, aku ingin membahas tentang isi postingan Kak Bels di blog pribadinya itu. Di dalam postingannya itu, ia masih mencari arti kata kedamaian itu sendiri. Tidak hanya Kak Bels, temen-temen mungkin juga ada yang begitu, dan aku pun salah satunya yang pernah mengalami hal serupa. Berbagai cara kutempuh dari mulai membaca buku dan artikel, menonton dan mendengar dakwah melalui TV dan radio, hingga mendengar pengalaman orang secara langsung pun sudah pernah kujalani demi mencari kedamaian itu sendiri. Namun, tak kunjung kudapatkan. Hingga pada suatu masa aku dihadapkan pada suatu hal yang menyentak dan menarik kesadaranku sepenuhnya akan kuasa-Nya. Aku mendapatkan kesadaran (atau bisa disebut dengan hidayah) itu saat akhir masa-masa SMA-ku. Saat itu aku benar-benar menyadari (melalui pengalamanku sendiri secara nyata di depan mataku) bahwa Ia tidak tidur barang sedetikpun. Mulai saat itulah aku, meyakini sepenuhnya apa yang Ia perintahkan itu memang untuk kebaikan hidup setiap hamba-Nya, termasuk perintah untuk mengenakan jilbab. Alhamdulillah keraguan untuk melaksanakan perintah-Nya sudah tidak ada dalam diriku. Aku sudah menemukan rumahku. Insyaa Allah..

Walaupun begitu, aku juga masih sangat haus akan ilmu tentang rumahku ini. Lebih dalam lagi, aku perlu tahu apa yang ada di rumahku. Aku perlu tahu apakah rumahku ini adalah rumah yang bagus dan indah. Aku perlu tahu bagaimana cara untuk merawat dan mengelola rumahku ini. Lantas bagaimana caranya untuk mengetahui itu semua? Salah satunya adalah dengan cara pergi ke luar rumah dan melihat bagaimana keadaan rumah kita dari luar. Yang perlu diperbaiki bagian mana saja? Apakah ada yang keliru dalam pembangunan rumahku ini?

Dan untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, aku perlu pendapat orang lain. Aku ingin tahu bagaimana pendapat tetangga dalam memandang rumahku ini.  Apakah rumahku yang berlantai dua ini mengganggu masuknya sinar matahari ke rumah mereka, apakah rumahku ini terlalu gelap sehingga butuh pencahayaan matahari yang lebih banyak, apakah suara tangis bayiku ini mengganggu tidur mereka di pagi buta, dsb.

Perumpamaan di atas adalah contoh kecil saja. Lantas apa hubungannya dengan tema post ini? Kak Bels bilang bahwa ia masih ragu dan justru masih bertanya-tanya, sebenernya kenapa sih aku pake kerudung? Untuk apa? Karena belum menemukan kedamaian itu, Kak Bels lantas tidak jarang membuka-tutup kerudungnya sendiri. Sama sepertiku, dulu. Sempat ada keraguan juga terhadap agama sendiri yang dianut. Namun, satu yang membuatku salut dari sosok Kak Bels adalah ia tidak mau menyerah begitu saja dan tenggelam dalam sebuah ketidaktahuan dan keraguan soal Islam.

Saya ingin benar-benar meyakini bahwa jilbab itu memang bagus untuk perempuan. Karena sekarang banyak pelecehan yang terjadi kepada perempuan berjilbab. Pasti ada makna yang lebih dalam dari sekedar kata ‘menutup aurat’, ‘menjaga kehormatan’. Kedua hal itu masih terlalu abstrak di pikiran saya.

Lantas ia mencari tahu sendiri. Berbeda dari aku yang mendapat kesadaran itu dari pengalaman pribadi, yap, Kak Bels mendapat kesadarannya sendiri dari sebuah buku.

Kita nggak akan bisa tahu apa itu warna hitam kalau kita tidak melihat warna putih terlebih dahulu. Kita nggak akan bisa menyadari bahwa sekarang kita sudah meraih kesuksesan besar kalau sebelumnya kita tidak mengalami kegagalan bertubi-tubi. Kita nggak akan tahu bahwa kita sudah bertumbuh besar sebelum kita melihat wujud kita dalam album masa kecil. Begitu pula dengan kita yang nggak akan menjadi tahu kalau sebelumnya kita sudah tahu. Intinya semua perlu proses. Manusia itu makhluk sosial, dia perlu belajar untuk memahami segala sesuatu dari sekelilingnya, termasuk memahami tentang agamanya sendiri. Itu bukanlah hal yang jelek, itu bagus. Karena itu Sang Pencipta juga menganjurkan kepada kita untuk senantiasa membaca dengan berseru, “Iqra!

Dan langkah yang ditempuh oleh Kak Bels itu adalah langkah yang tepat. Dia mencari tahu lewat buku yang ditulis oleh salah satu ulama termahsyur di Indonesia. Melalui buku itu, ia menyadari banyak hal, tentunya. Salah satunya adalah pemahaman sederhana mengenai makna dari sebuah kerudung dan jilbab yang menyatakan bahwa kerudung dan jilbab bukan hanya sekadar untuk ‘menutup aurat’ dan ‘menjaga kehormatan’ tetapi juga untuk ‘menutup mahkota’ miliknya sehingga ketika mahkota milik seorang perempuan sudah ditutupi dengan kerudung atau jilbab, dirinya akan dipandang sebagai seorang manusia apa adanya (tanpa embel-embel gender). Selain melindungi dirinya, ini tentunya akan memuliakan derajat seorang perempuan di mata-Nya.

Lantas apa yang harus dilakukan oleh orang-orang sekitar?

Mendukung, tentu saja.

Loh, mendukung bagaimana maksudnya?

Kalau dalam postingan Kak Bels, orang yang masih ragu itu diibaratkan dengan orang yang berlayar di tengah laut lepas dan dihadapkan dengan badai serta terjangan ombak. Dalam keadaan seperti itu yang dibutuhkan sudah pasti kesabaran, ketahanan, serta petunjuk arah agar bisa keluar dari badai laut. Sama seperti kasus ini, yang perlu dilakukan oleh orang-orang sekitar adalah mengingatkan dan menasihati. Akan lebih baik lagi jika menasihati dengan bahasa yang baik. Orang yang mendengar pun akan sangat menghargai dan mendengarkan nasihat itu. Miris sekali rasanya ketika mendengar omongan dari teman sendiri, bahkan teman dekat, yang justru malah membuat down. Tahukah kalian jika itu malah membuat seorang yang dinasihati malah kesal, dongkol, dan ingin marah meletup-letup. yang terjadi malah kebalikannya, keadaan jadi semakin buruk. Bukannya pemahaman atas esensi memakai kerudung dan jilbab serta kedamaian  yang dapat dirasa setelah memakainya, malah ketidaksukaan atau parahnya sampai kebencian yang timbul dalam hatinya. Jadi, tolonglah lebih bijak dalam berkata, terutama saat menasihati, sebelum menyesal nantinya.

Itulah secuil kisah tentang gemelut hati dari dua orang perempuan. Selamat telah menemukan salah satu kepingan jawaban ya, Kak Bels! Sedikit demi sedikit, pertanyaan-pertanyaan lain yang masih bergaung-gaung juga pasti akan menemukan jawabannya sendiri hingga Kak Bels makin mengerti bahkan mencintai Islam.

Nah, kami juga masih belajar, kamu pun begitu, bukan? Aku juga mau dengar gimana pandangan temen-temen mengenai hal ini. Ada yang sependapat? Berbeda pendapat? punya pandangan baru? Atau bahkan nggak paham dengan postingan ini? Yuk, sampaikan di kolom komentar.

 

 

2 tanggapan untuk “Lepas Jilbab: Sekadar Social Experiment? (Part III)

    1. Aku juga suka gaya tulisan mbakbel yang lugas dan nggak bertele-tele. Straight to the point! Pengen bisa kayak gitu, tapi apa daya aku bisanya yang seperti ini:” sama-sama mbakbeell.. Semangat juga mbaak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s