Culture Shock dengan Budaya Negara Sendiri (Part II)

Melanjutkan postingan sebelumnya, tulisan ini menjadi esai pertamaku yang menceritakan secara singkat pengalaman-pengalamanku sepulang dari Korea Selatan sejak awal bulan Januari 2018 silam. Selamat menyelami kisahku!

 

Sejak awal kedatanganku ke Indonesia, aku sangat tertarik untuk membahas tentang ini. Ya, seperti judul di atas, aku tertarik sekali membahas tentang beberapa hal kecil yang membuatku terkejut bahkan terheran-heran dengan lingkunganku sendiri di tanah air (Karawang-Jogja).

Sebenarnya ide cerita ini terinspirasi dari perbincangan kecil dengan salah satu temanku asal Brunei Darrussalam. Ketika itu sedang minggu ujian. Dia bercerita kepadaku bahwa esok hari ia ada ujian bahasa Inggris, membahas tentang culture shock yang dialami oleh para mahasiswa pertukaran pelajar setelah kembali ke tanah airnya. Sejak saat itu aku berpikir tema tersebut menarik untuk aku angkat sebagai konten blog pribadiku. Sekarang aku tertarik untuk menuangkannya ke dalam sebuah esai.

Seperti yang dikutip dari e-book milik Media Edukasi Internasional mengenai tahapan culture shock, terdapat lima (5) tahapan culture shock yang dialami oleh seseorang, di antaranya:

  1. Fase honeymoon

Fase ini terjadi saat sobat sedang terkagum-kagum dengan tempat baru yang sobat datangi. Sobat menikmati semuanya dan tidak menyesal meninggalkan tempat lama sobat.

  1. Fase critical

Sobat mulai merasa ada hal-hal yang menurut sobat tidak benar di tempat tersebut. Sobat mulai mudah mengeluh, ragu-ragu dan suka menghakimi. Sobat mulai ‘sadar’terhadap masalah-masalah yang mengikuti proses adaptasi sobat. Fase ini bisa diasosiasikan dengan culture shock.

  1. Fase penyesuaian

Sobat mulai merasa sebagai bagian dari lingkungan baru sobat, mulai melakukan tindakan-tindakan positif untuk memperbaiki masalah yang sobat hadapi. Akhirnya sobat sadar, “After all, things aren’t so bad.”

  1. Fase adaptasi

Sobat mulai bisa menghargai budaya tempat sobat tinggal, mulai mengadaptasi kebiasaan setempat dalam hidup sehari-hari dan telah menyesuaikan diri dengan hidup baru sobat.

  1. Fase re-entry

Bisa disebut reverse culture shock, adalah shock budaya saat sobat kembali ke negara asal sobat.

 

Fase-fase tersebut pasti dialami oleh semua mahasiswa pertukaran pelajar, termasuk aku yang telah menghabiskan dua semester untuk berkuliah di sana. Semua fase tersebut akan aku jelaskan satu-persatu untuk memberikan sedikit gambaran dari tiap fase tentang bagaimana culture shock yang sesungguhnya dari kacamataku. Barulah nanti kita akan lebih rinci membahas tentang culture shock terhadap budaya Indonesia yang kualami sendiri.

 

 

FASE HONEYMOON

Ini terjadi padaku saat dua bulan pertama keberadaanku di Korea Selatan. Dimulai saat aku sudah mendarat di Bandara Incheon. Sebenarnya tidak ada yang berbeda dari Indonesia dan Korea Selatan. Keduanya sama saja. Pembeda yang paling menonjol saat itu di mataku adalah masyarakatnya dan tulisan-tulisannya. Dari yang mulanya aku  melihat orang-orang berkulit sawo matang, para perempuannya yang berkerundung, mata belo (besar) dan kelopak mata berlipat, serta ramah-ramah, hingga orang-orang yang berkulit putih (khas kulit orang-orang Asia), para perempuannya berdandan (khas dadanan orang Korea Selatan), mata sipit dan tidak semua orang punya lipatan kelopak mata, serta terlalu individual. Itu gambaran singkatku saat aku sudah mendarat di Bandara Incheon.

 

Sarana dan prasarana

Saat itu, aku punya sisa waktu sebelum penjemputku yang diutus dari kampus GWNU datang ke Bandara Incheon. Kugunakan untuk istirahat sejenak dengan menempati bangku yang disediakan di Bandara Incheon, Seoul. Oh iya, di dekat bangku-bangku yang disediakan di Bandara Incheon juga biasanya selalu sedia stopkontak bagi para pendatang yang butuh untuk mengisi ulang daya handphone-nya. Wifi yang melimpah ruah di bandara juga sangat membantu dan memudahkan para pendatang (untuk tetap berkomunikasi dengan kerabat di luar Korea Selatan) yang belum memiliki kartu SIM Korea Selatan.

Setelah penantian panjang, aku turun ke lantai satu untuk menemui keluargaku yang sudah menunggu sejak empat jam lalu. Tak nampak kederadaan mereka, aku yang masih memakai kartu SIM Korea Selatan tidak bisa melakukan panggilan dalam negeri sehingga aku memutuskan untuk menggunakan akses free wifi yang ada di bandara. Memang ada banyak wifi yang aktif, tetapi sedikit di antaranya yang bisa dipakai gratis. Ada yang harus memasukkan PIN dan password, ada yang harus memasukkan kata sandi, dll. Akhirnya aku meminta bantuan kakaknya Siwi untuk menelpon kedua orang tuaku. Tak lupa setelah mengucapkan terima kasih kepada kakak Siwi dan berhasil memberitahukan lokasiku, nampak empat orang dari kejauhan datang menuju ke arahku. Itu keluargaku. Ada Bapak, Ibu, Farras, dan Naddif. Mereka sengaja datang beramai-ramai untuk menjemputku. Betapa terharunya diriku saat itu. Lalu aku teringat akan rindu terhadap keluargaku yang telah menumpuk selama di Korea Selatan. Senyum seakan tak bisa kusembunyikan dari wajahku.

 

Berbahasa Korea

Lalu, selain dibuat takjub dengan sarana dan prasarananya, Aku dibuat kagum saat melihat banyak tulisan berhuruf Hangeul di mana-mana. Luar biasa! Aku juga takjub mendengar suara dari masyarakat Korea Selatan secara langsung. Mereka semua menggunakan bahasa Korea, guys! Sebenarnya aku sudah beberapa kali bertemu dengan orang Korea Selatan dan bercakap-cakap dengan mereka menggunakan bahasa Korea, tapi tetap saja tertutupi dengan bahasa Indonesia karena latar tempatnya saat itu di Indonesia. Namun, karena itu berlatar tempat di Korea Selatan, tidak ada seorangpun yang menggunakan bahasa Indonesia kecuali diriku dan satu temanku setanah air. Ini memudahkanku untuk memperdalam kemampuanku berbahasa Korea.

 

Poster artis

Bosan hanya duduk saja selama menunggu di bandara, aku memutuskan untuk berkeliling bandara sejenak untuk melepas penat akibat jetlag. Suasana baru dari Korea Selatan sangat kunikmati ketika itu. Enaknya berkeliling sambil ditatap oleh oppa-oppa boyband terkenal dan beberapa bintang aktor lainnya. Poster mereka semua terpampang besar di bandara. Kalau begini kan jadi betah banget berlama-lama di bandara sembari memandangi mereka. Hahaha.

 

Tepat waktu

Tidak berhenti sampai di situ, aku juga dibuat takjub dengan sarana dan prasarana serta transportasi umumnya Korea Selatan. Teratur dan tepat waktu. Hal ini terbukti saat aku yang berencana untuk ke Seoul lagi setelah dua bulan menetap di Gangneung dan bus yang kami tumpangi datang lima (5) menit sebelum waktu keberangkatan yang dijanjikan di tiketnya. Bersama dengan Tiara, Siwi, dan satu orang temanku asal Thailand, akrab dipanggil Kik, kami bersama-sama pergi ke Seoul. Sesuai omongannya, bus benar-benar berangkat lima menit setelahnya. Jadi, risiko akan ditanggung sendiri bagi yang datang terlambat karena dari pihak petugasnya memang tidak akan menunggu yang belum datang jika memang sudah waktunya untuk berangkat. Nah, buat sobat yang terbiasa datang terlambat, ini bisa jadi ajang latihan untuk belajar tepat waktu.

 

Cewek dan cowok Korea

Cewek-cewek Korea tampil cantik dengan make-up yang sederhana, setidaknya dandanan mereka tidak seribet sepeti dandanan orang-orang Indonesia yang berwarna-warni dan meriah. Bagiku, dandanan mereka itu sangat simple tapi kecantikan mereka tetap terpancar.

Tidak hanya ceweknya, cowoknya pun terlihat bersih-bersih. Tak heran jika cowok-cowok Korea Selatan banyak digandrungi oleh para kaum hawa Indonesia. Penampilan mereka juga fashionable. Kadang aku suka dibuat gemas dengan para cowok Korea yang tampil keren dan trendy di tempat umum. Rasanya pengen dibawa pulang. Hm.

Tiga bulan pertama selama di Korea Selatan aku nyaris tidak pernah melihat orang Korea yang tidak tampil cantik (tanpa make-up) dan tidak tampil ganteng. Mereka pasti selalu totalitas dengan penampilannya jika mau pergi keluar. Itu mereka lakukan untuk kepuasan diri sendiri dan untuk memikat lawan jenisnya.         

 

Suhu rendahnya

Oleh karena dua bulan pertama suhu di Korea Selatan masih rendah, aku harus memakai baju hangat dan jaket jika mau pergi keluar. Aku yang biasanya di Indonesia hanya memakai kemeja atau kaus biasa, jadi harus dibiasakan untuk selalu ingat membawa jaket.

 

Ramalan cuaca yang akurat

Nah, ini salah satu yang unik. Korea Selatan mempunyai empat musim dan itu yang membuat mereka harus selalu waspada terhadap kemungkinan perubahan cuaca setiap harinya. Orang-orang Korea Selatan sudah terbiasa untuk selalu melihat ramalam cuaca di website Naver. Dan sebanyak 97% ralaman cuaca dalam Naver selalu benar. Jika besok paginya akan turun hujan, maka mereka semua sudah siap sedia membawa payung sebelum pergi keluar untuk sekolah, kuliah, ataupun kerja. Mereka akan terbebas dari siraman air hujan.

Dibandingkan dengan ramalan cuaca di dalam handphone-ku, ramalan di Naver lebih akurat dan nyaris tidak pernah meleset. Jadi ketika itu aku mulai beralih menggunakan Naver.

 

Lalu lintas yang tertib

Ini salah satu yang paling kusuka. Para pengendara mobil (karena jarang banget ada pengendara motor di Korea Selatan) semuanya sangat menghargai para pejalan kaki. Jika mereka berada di perempatan dan ada seorang pejalan kaki yang hendak menyebrang jalan, mereka pasti mendahulukan pejalan kaki tersebut untuk menyeberang. Tidak heran bila selama tinggal di Gangneung, aku merasa aman bila berjalan ke mana-mana.

Selain itu, para pengendara mobil juga sangat tertib. Mereka sangat menaati lampu lalu lintas, tidak pernah sekalipun kulihat ada yang jalan duluan sebelum lampu hijau menyala.

 

Layanan pesan antar makanan dan barang

Layanan ini bisa juga disebut penyelamat perut yang malang karena kelaparan di tengah malam. Hahaha. Aku sering sekali delivery makanan tengah malam karena perutku sering lapar kalau sudah tiba tengah malam. Bahkan pernah dalam waktu satu minggu kau dan teman sekamarku delivery makanan berutut-turut. Jangan ditiru ya, sob! Itu pemborosan namanya. Tapi saat itu keadaannya aku dan teman sekamarku sedang tidak punya simpanan makanan sama sekali, sementara kegiatan dan tugas kuliah selalu menanti kami. Alhasil jalan satu-satunya untuk mengisi energi adalah layanan pesan antar makanan.

 

 

FASE CRITICAL

Fase ini terjadi di bulan ketiga hingga bulan kelimaku di Korea Selatan. Beberapa fenomena yang tidak bisa kuterima dengan akal dan dirasa aneh akan kurangkum dalam fase ini.

 

Trend dan fashion

Fenomena yang membuatku terkejut terhadap cewek-cewek Korea seakan tiada habis-habisnya. Setelah dibuat terkagum-kagum dengan gaya dandanan mereka yang simple, aku juga dikejutkan dengan trend serta fashion mereka terapkan. Meskipun cuaca masih menguarkan hawa dinginnya, mereka tetap bertahan dengan style mereka yang cenderung ingin tampil cantik dengan memakai rok mini atau celana pendek di atas paha meski cuacanya dingin. Padahal logikanya kalau di Indonesia pasti tidak akan pernah terpikirkan untuk memakai rok mini kalau tahu cuacanya sedang sedingin itu. Yang ada malah dikira aneh oleh masyarakat sekitar.

Lagi, berbeda dengan masyarakat Indonesia yang cenderung membeli pakaian atau barang-barang baru dan berbeda dari yang lainnya, masyarakat Korea Selatan malah membeli barang yang memang sudah banyak dipakai. Mereka menganggap kalau pakaian yang mereka pakai itu beda sendiri alias tidak sesuai dengan trend masa kini itu aneh. Seakan mereka dikucilkan dari kelompoknya karena beda sendiri atau bahasa Sundanya cing calang. Jadi jangan heran jika kamu sudah sampai di sana, trend pakaiannya banyak yang sama plek-plekan (sama persis).

 

Malu tak berdandan

Tiga bulan aku tinggal di Korea Selatan membuatku semakin banyak melihat orang-orang Korea Selatan yang sangat mementingkan make-up. Tidak hanya ceweknya aja, cowoknya pun sama.Setidaknya minimal mereka keluar itu sudah pakai foundation dan lipbalm. Sisanya, itu tergantung kebutuhan masing-masing. Kalau di Gangneung, cowoknya masih tidak sebegitu gilany terhadap make-up. Tetapi beda halnya dengan para cowok di Seoul. Nyaris semuanya aku melihat wajah bening mereka. Terkadang ada pula yang bermake-up karena wajahnya banyak noda hitam. Karena malu, mereka jadi bermake-up untuk menutupi noda tersebut. Terkadang saking tebalnya, bikin aku gerah sendiri melihatnya. Maklum, terbiasa meluhat cowok-cowok Indonesia yang gentle (tidak ketergantungan dengan make-up).

Ceweknya pun sama. Awalnya aku mengira mereka hanya bedakan sedikit saja ditambah lipstick dan eyeshadow. Namun, setelah melihat beberapa tutorial make-up orang Korea Selatan, mereka juga memakai foundation, bedak dan sejenisnya dengan banyak walaupun memang mau sebanyak dan setebal apapun mereka memakai bedak, itu tidak akan terlihat karena kulit mereka juga putih (putihnya nyaris sama dengan foundation dan bedak yang mereka gunakan).

 

 

 

Salju di musim semi

Bulan Maret diperkirakan menjadi bulan terakhir dari musim dingin yang sedang berlangsung di Gangneung pada saat itu. Namun, sudah memasuki pertengahan bulan April, suhu di Gangneung masih juga rendah. Tidak hanya orang-orang asing saja yang merasa heran, orang-orang asli Gangneung pun samanya. Bahkan yang lebih mengherankan lagi, suatu hari di Gangneung pernah turun salju padahal faktanya saat itu sudah masuk masa peralihan ke musim semi. Meskipun hanya dua jam, untuk pertama kalinya aku bisa merasakan sensasi turunnya salju secara langsung di Gangneung.

Masuk ke musim semi, suhunya masih juga rendah. Kalau bagi orang Korea Selatan, 17 derajat termasuk suhu yang sejuk. Berbeda dengan orang-orang Indonesia yang akan langsung beranggapan kalau 17 derajat itu termasuk dingin. Pada musim itu, jika mau keluar aku harus memakai baju hangat yang didobel jaket pemberian Ibu dan Bapakku.

 

Pasangan kekasih

Selanjutnya hal yang buat aku nggak habis pikir dan terheran-heran adalah para pasangan kekasih di Korea Selatan. Seperi tidak ada tempat lain lagi, banyak di antara mereka yang berciuman bibir di tempat-tempat umum. Aku yang melihat hal-hal ini pertama kalinya pun kaget. Kalau mereka berciumannya di rumah atau di asrama sih aku nggak akan sampai sekaget ini. Tetapi karena mereka terang-terangan melakukannya di tempat umum, aku jadi kaget dan risih. Ya seperti yang sobat tahu, di Indonesia, berciuman di tempat umum itu hal yang masih tabu di kalangan masyakarat Indonesia. Hal tersebut juga tentunya bertentangan dengan norma-norma yang berkembang di tanah air.

Seperti yang kita tahu bahwa Korea Selatan masih terkena pengaruh dari Amerika Serikat. Jadi budaya berciuman di tempat umum bagi sebagian besar masyarakat Korea Selatan sudah bukan lagi hal yang aneh. Bahkan saat kunjunganku ke Seoul untuk pertama kalinya, aku menemukan kurang lebih tujuh pasang kekasih yang saling berciuman, bahkan sambil berjalan!

 

Kakao Talk & Naver VS WhatsApp & Google

Bagi sobat yang pertama kali datang ke Korea Selatan, pasti bertanya-tanya kenapa hampir semua orang-orang Korea Selatan lebih suka memakai Kakao Talk dan Naver daripada WhatsApp dan Google. Itu bukan tak beralasan. Mereka lebih suka memakai aplikasi buatan dalam negeri dikarenakan aplikasi tersebut memakai bahasa Korea, bukan bahasa Inggris. Oleh karena sebagian besar masyarakat Korea Selatan tidak bisa berbahasa Inggris, jadi mereka banyak memakai aplikasi buatan dalam negeri. Mereka memang menggunakan Iphone (produk Barat), tapi mereka tidak menginstall Spotify sebagai aplikasi pemutar lagu pengganti iTunes. Mereka juga tidak menginstall Yahoo! ataupun Gmail sebagai aplikasi penerima surel (surat elektronik). Mereka punya Melon (aplikasi pemutar musik dan lagu buatan Korea Selatan) dan Naver Mail (aplikasi penerima surel).

Oleh sebab itu, selama sepuluh bulan di sana, aku banyak memakai aplikasi tersebut. Di laptop pun sama saja. Yang awalnya aku hanya memakai Google Chrome dan Mozilla Firefox sebagai search engineer (mesin berselancar di internet) andalanku, menjadi sering memakai Internet Explorer juga untuk bisa membuka web Naver.com atau hanya sekadar membuka web resmi kampusku. Oh iya, web kampusku hanya bisa dibuka di Internet Explorer. Jadi selama pengunggahan file tugas, aku selalu membuka web kampus melalui Internet Explorer. Kadang yang membuatku tidak betah memakai Internet Explorer adalah mesin pencaharian tersebut membutuhkan koneksi internet yang lebih kuat sehingga loading-nya pun tidak lama seperti saat koneksi internetnya kecil.

 

Kesukaan terhadap daging babi

Orang Korea sangat suka makan daging babi. Di setiap kesempatan mereka pergi makan, pasti ada daging babi yang tersaji di atas meja makan mereka. Entah itu saat makan siang, makan malam, perayaan dengan teman kerja, perayaan kelulusan, pesta pernikahan, membership training, rapat kantor (kadang rapatnya di ruang kantor sambil memakan paket makanan delivery), dan momen-momen lainnya. Nyaris semua jenis acara dan makanan yang disediakan di acara tersebut mengandung daging babi dan nyaris semua perusahaan di Korea Selatan mengolah makanan berbahan dasar daging babi. Fakta tersebut kuketahui tidak hanya dari banyak bungkus makanan Korea yang bertuliskan “Produk ini satu pabrik pengolahan dengan produk berbahan dasar daging babi”, tapi juga kuketahui dari teman-teman Koreaku selama di Gangneung. Bahkan beberapa dari mereka ada yang sangat cinta dengan daging babi sampai-sampai tidak bisa memakan daging lain selain daging babi. Daging sapi, daging ayam, daging kelinci, daging kambing, dan daging-daging lainnya itu tidak cocok di lidah mereka hingga mereka.

 

Budaya minum soju

Tidak hanya berhenti di makanannya saja, orang Korea Selatan juga dikenal dengan kebiasaan serta kegilaannya minum sul (minuman beralkohol). Kalau sobat semua ajak orang Korea Selatan minum sul, jangan pernah bermimpi kalau sobat bisa lebih jago dari mereka. Mereka yang sudah terbiasa minum sul pasti tingkat kemabukannya akan semakin tinggi. Sama halnya seperti daging babi, sul seolah sudah mendarah daging di lapisan masyarakat Korea Selatan. Di setiap kesempatan, bukan hanya pesta atau acara kumpul-kumpul saja, bahkan di saat mereka sedang terpuruk pun merea terbiasa membeli sul sebagai minumannya daripada air putih. Kalau sobat pergi ke restoran di Korea Selatan, ibarat es teh manis yang selalu menjadi teman makan kita, sul juga selalu ada di setiap meja para pelanggannya seakan tidak pernah absen. Jadi slogan yang tepat buat mereka, “Apapun makanannya, minumnya sul.”

Namun, memang tidak menutup kemungkinan ada orang Korea Selatan yang tidak tahan dengan alkohol, bahkan alergi. Contohnya saja ada satu orang Korea Selatan yang pernah kukenal. Dia tidak sengaja menelan makanan mengandung sedikit alkohol. Reaksi alkohol tersebut terhadap tubunya tidak baik sehingga ia harus dilarikan ke rumah sakit secepatnya. Badannya yang lemah akibat alergi alkohol itu jadi menghambat dia untuk beraktivitas seperti biasanya.

 

 

FASE PENYESUAIAN

Menginjak fase ini, aku mulai menerima kondisi yang ada di sekitarku. Aku yang tadinya tidak punya niatan sama sekali untuk berdandan, jadi mulai belajar sedikit demi sedikit untuk berdandan. Sebelum itu, beberapa orang Korea yang kenal denganku sering mempertanyakan kenapa aku tidak berdandan padahal itu hal yang mudah untuk dilakukan, apalagi bagi seorang cewek yang notabene-nya memang harus selalu tampil cantik. Sejak saat itu aku berpikir, aku tidak bisa speerti ini terus. Aku harus menyesuaikan diri dengan lingkunganku. Aku pernah mendengar ada yang mengatakan, “Dimana kamu tinggal, di situlah kamu menjadi” yang intinya menjelaskan bahwa mau sekuat apapun aku menolak untuk seperti lingkunganmu, pada akhirnya aku juga harus menerimanya, pada akhirnya aku akan mengikuti norma dan kebiasaan  serta pandangan umum yang hidup di lingkungan masyarakat itu sendiri.

Aku yang tadinya termasuk cuek dan tidak terlalu memperhatikan penampilan, jadi sangat memperhatikan penampilan saat keluar rumah. Aku juga jadi terkena pengaruh dari semangat orang Korea Selatan yang meningkatkan kualitas diri serta membangun karir yang cemerlang di masa depan.

 

 

FASE ADAPTASI

Pada fase ini, aku mulai beradaptasi dengan baik terhadap semua hal yang ada di sekitarku. Budaya make-up ala Korea, budaya trend dan fashion ala Korea, budaya minum sul, drama hidup orang Korea, kedisiplinan, budaya tertib, musim, cuaca ekstrim, sarana, prasarana, transportasi, teknologi komunikasi, dan semua dinamika Korea Selatan. Tidak lagi sekaget dan seterkejut saat awal-awal keberadaanku di Gangneung.

 

Asyiknya ikut pers kampus GWNU

Salah satu tujuanku ke Korea Selatan adalah ingin mengenal kehidupan orang Korea yang sebenarnya, apa memang persis seperti yang diperlihatkan di drama-drama atau kebalikannya? Demi menemukan jawaban itu, aku memberanikan diri untuk mendaftar ke ekstrakurikuler pers kampus. Semuanya kumulai dari awal. Pengumpulan berkas-berkas, tes tulis, hingga interview. Kemudian aku dinyatakan diterima. Untuk merayakannya, diadakanlah suatu acara (semacam makrab gitu) di mana aku warga asing sendiri dan satu-satunya pemakan daging ayam saat itu. Mereka makan daging babi seperti yang suda kubilang pada poin sebelumnya.

Jujur saja, saat itu bahasa Koreaku masih gagu sekali. Aku hanya bisa berkomunikasi sedikit-sedikit dengan mereka. Berguyon dalam bahasa Korea pun masih belum bisa. Jadi aku hanya bisa tertawa, menimpali sedikit, dan menyantap makanan yang ada di hadapanku, saat itu makanan yang harus kumakan (sayur-sayuran dan daging ayam) melimpah ruah hingga aku sempat kualahan menghabiskan semua itu sendirian. Walaupun begitu, aku memetik satu hal berharga dari makrab pada malam itu. Mereka juga terbuka terhadap foreigner. Aku senang karena mereka menyambut kehadiranku sebagai anggota baru sekaligus foreigner pertama yang tergabung dalam pers kampus GWNU pada perkuliahanku di sana.

Dengan mengikuti organisasi pers kampus, aku terpacu untuk bisa mencari kabar berita terbaru tentang di sekitar kampusku. Tidak hanya itu saja, aku juga jadi serba tahu dengan keadaan terbaru kampus saat kami mengadakan rapat tema setiap satu bulan sekali (lalu semester dua diperbarui menjadi satu minggu sekali). Setiap perilisan edisi terbaru, ketua dan pembina pers kampus selalu mengajak kami makan di luar. Ah, aku jadi merindukan mereka semua (Song Yeong-nok oppa, Jeon In-ho oppa, Choi Hae-hong oppa, Kim Eun-bin, dan Ji-yeon eonni). Kita berenam sudah bersama-sama sejak semester satuku di sana.

 

Part time di restoran

Setelah bahagia karena diberikan kesempatan untuk bergabung dalam organisasi pers kampus GWNU, aku juga mencari kesempatan untuk bisa melakukan part time agar pendapatannya nanti bisa kugunakan untuk tambahan uang jajan. Ditolak lima kali tidak membuatku menyerah sampai di situ saja. Lama tidak ada lowongan part time, akhirnya aku mendapat kabar ada lowongan di salah satu restoran. Setelah datang penolakan keenam, aku sempat berpikir untuk berhenti. Namun, Allah seakan tidak aku bersedih terlalu lama, lowongan part time datang kepadaku tanpa kucari. Datangnya dari temanku asal Thailand. Ia menawarkan aku untuk bekerja bersama dia. Dia bilang kalau dia tidak sanggup bila harus kerja sendirian setiap harinya. Ia juga jadi cepat lelah dan tidak ada waktu untuk belajar.

Lantas aku mengiyakan tawarannya dengan sumringah. Esoknya ia membawaku untuk ia perkenalkan kepada pemilik restorannya. Setelah persetujuan dari ketiga pihak (aku, pemilik restoran, dan temanku asal Thailand), mulai minggu itu aku diperbolehkan untuk bekerja di tempatnya. Pendapatan part time kugunakan untuk membeli kebutuhan tambahanku selama di sana.

 

Menjadi sobat siar Radio PPI Dunia

Setelah diterima bekerja di salah satu restoran Korea yang terkenal di Gangneung, aku juga diterima di Radio PPI Dunia sebagai seorang penyiar atau biasa disebut dengan sobat siar. Aku salah satu perwakilan pelajar di Korea Selatan, setelah sebelumnya ada Mbak Imey yang masih tinggal di Seoul dan maish aktif sebagai bagian dari RPD. Para penyiar dan kru RPD yang lain juga merupakan mahasiswa yang berkuliah di luar negeri. Pernah aku dan seorang teman di RPD belajar bahasa Korea. Ia minta kau untuk mengajarinya bahasa Korea. Aku pun memintanya untuk mengajariku bahasa China. Jadi di samping kegiatanku bersiaran, kami juga menyempatkan diri untuk belajar bahasa dari beberapa negara.

 

 

 

 

 

 

 

FASE RE-ENTRY

Sampailah kita pada fase yang terakhir. Ini yang menjadi fokus pembicaraanku. Latarnya akan lebih banyak menggunakan latar Indonesia (Jakarta-Karawang-Jogja). Fase yang awalnya kukira bakal mustahil akan terjadi kepadaku tapi ternyata benar terjadi. Kira-kira ada apa aja, ya?

 

Lupa kosakata bahasa Indonesia

Fenomena ini kutempatkan di nomor satu karena, menurutku, ini yang paling fatal. Aku merasa malu terhadap diri sendiri. Merasa bodoh. Kok bisa sih kamu sampai lupa beberapa kosakata Indonesia? Kok bisa kamu sampai lupa ungkapan-ungkapan sederhana dan bahasa-bahasa gaul Indonesia? Begitu tanyaku pada diri sendiri. Hahaha. Lucu sih. Dulu aku pernah ngobrol dengan kakak tingkatku, ia juga pernah ke Korea Selatan dengan program yang serupa denganku. Dia sempat kesulitan mengungkapkan istilah dalam bahasa Indonesia. Obrolan kami jadi lama terhenti untuk memikirkan istilah itu. Ia pun sulit mengungkapkannya kepadaku, jadi aku pun tidak bisa membantunya mengingat kembali istilah tersebut. Ketika itu aku mengira kakak tingkatku itu cuma pura-pura lupa kosakata Indonesia saja karena perkiraanku ketika itu satu tahun memang waktu yang cukup lama tapi tidak sebegitu lama untuk membuat seseorang melupakan kosakata bahasa ibunya.

Eh, semuanya malah terbukti. Aku menemukan jawabannya sendiri bahwa ketika sobat mengunjungi suatu negara maka kemungkinan untuk melupakan bahasa ibunya pasti ada, entah besar atau kecil itu tergantung masing-masing orangnya. Oleh karena itu, untuk menyeimbangkan bahasa Korea dan bahasa Indonesiaku, aku memutuskan untuk tetap menulis di blog pribadi, jadi editor artikel SKM UGM Bulaksumur, jadi penyiar di Radio PPI Dunia, dan jadi reporter di pers kampus GWNU.Ini pernah kubahas di blog pribadiku.

Kita boleh saja mengunjungi negara orang, tapi kita tidakmesti harus menjadi ‘mereka’ untuk bisa seperti mereka. Kita bisa seperti ‘mereka’ dengan tanpa meninggalkan identitas asli kita.

 

Pesatnya penggunaan GO-jek

Jujur aja, ini salah satu yang membuatku kaget, takjub, sekaligus nggak menyangka aja. Penggunaan aplikasi GO-jek ini setahuku dulu, sebelum keberangkatanku ke Korea Selatan, belum sepesat sekarang.  Awal mulanya aku mengikuti kegiatan yang diadakan oleh prodiku. Nama kegiatan tersebut adalah Pacific Asia Society, berlangsung selama tiga minggu hingga akhir Januari. Karena kegiatan ini merupakan kegiatannya mahasiswa Prodi Bahasa Korea S1 dan D3, kegiatan ini berlokasi di dua tempat. Ada di Fakultas Ilmu Budaya dan Sekolah Vokasi. Selama berkegiatan, aku sempat kaget ketika diminta beberapa teman untuk memanggil ojeg melalui sebuah aplikasi. Aku menimpali dengan menyarankan untuk memanggil ojeg secara langsung di tempat mangkal mereka yang biasa. Anehnya, aku ditertawakan oleh teman-teman. Mereka menyebutku jadul, katrok, polos, dan panggilan sejenisnya. Sementara satu teman sibuk memanggil sang ojek melalui aplikasi tersebut, satu teman lainnya menjelaskan kepadaku bahwa tidak beberapa lama sejak kepergianku ke Korea Selatan, GO-jek mulai banyak digunakan hingga akhirnya berkembang pesat sampai dengan sekarang.

Tidak hanya sebagai aplikasi pemanggil ojek, aplikasi tersebut juga bisa untuk memanggil taksi atau akrab disebut GO-car. Kelebihan lainnya terdapat pada layanan pesan antar yang, kabarnya, disediakan khusus untuk orang-orang yang malas keluar rumah tetapi perut lapar. Ini cocok banget dengan mahasiswa zaman sekarang. Sehingga tak heran bila layanan pesan antar makanan (GO-food) ini sebagian besar digunakan oleh para mahasiswa.

 

Trend dan fashion di Indonesia

Semakin lama kenapa aku jadi semakin merasa kalau trend dan fashion di Indonesia jadi semakin mirip dengan Korea Selatan? Ya, trend di mana ketika satu style dianggap bagus oleh kebanyakan orang lalu banyak yang menirunya. Masih ingatkah sobat dengan fenomena syal merah yang digunakan oleh Ji Eun-tak saat sedang di pantai bersama Kim-shin (Goblin)? Lainnya lagi, masih ingatkah kalian fenomena ramainya  penggunaan long padding beberapa bulan sebelum dimulainya acara Pyeongchang Winter Olympic 2018? Kedua fenomena tersebut menjadi salah satu bukti ‘latahnya’ trend fashion di Korea Selatan.

Anehnya, aku mulai merasakan ‘latahnya’ trend fashion Korea Selatan di Indonesia. Butuh bukti? Coba lihat saja di lingkungan sobat, akhir-akhir ini banyak sekali yang memakai jaket jeans biru, baik biru tua dan biru muda. Ini semua karena film Dilan 1990 di mana tokoh utamanya, Dilan, memakai jaket biru muda berkerahkan bahan kulit. Gayanya yang nyeleneh disertai gombalan-gombalannya kepada Milea membuat karakter dari Dilannya semakin kuat. Ini yang membuat beberapa penikmat film Dilan 1990 ingin berubah menjadi Dilan dimulai dari penampilannya.

 

Kurang disiplin waktu

Kurang disiplin waktu yang melekat pada orang Indonesia seakan tidak bisa lepas. Aku langsung mengalaminya begitu sampai di Indonesia. Masih segar diingatanku, ketika baru turun dari pesawat yang mengantarku hingga tiba di Indonesia dengan selamat. Aku sudah penuh sesak dengan barang-barangku. Ingin lekas beristirahat, aku memutuskan untuk langsung mengambil koper di tempat pengambilan koper. Aku berdiri di tengah orang Korea yang juga sedang menunggu barangnya muncul dari mesin besar berjalan yang mengantarkan koper-koper para penumpang pesawat. Lima menit, 20 menit, 30 menit berlalu tapi koperku tidak muncul juga. Aku sudah memeriksa beberapa kali, memastikan kalau mesin tersebut memang tempat pengambilan koperku. 45 menit berlalu, koperku tak jua muncul. Satu jam berlalu, akhirnya koperku muncul. Berwarna merah terang dengan berukuran sedang, telungkup di atas mesin tersebut, berjalan mendekat ke arahku. Akhirnya koper ini datang juga.

Nah, berbeda dari Indonesia, ketika kedatanganku ke Korea Selatan, hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk bisa menemukan koperku. Jadi penumpang yang telah menempuh perjalanan panjang, tak perlu lagi menunggu lama hanya untuk mengambil koper dan barang-barang pribadinya. Waktu jadi lebih efisien dan tidak terbuang sia-sia.

 

Nggak bisa makan makanan pedas

Selama aku di Korea Selatan, makanannya rata-rata asin. Yang bagi orang Korea Selatan itu makanan pedas, bagiku malah nggak pedas sama sekali. Lama dalam keadaan seperti itu, aku jadi terbiasa memakan makanan pedas yang pedasnya sesuai kemampuan orang-orang Korea Selatan. Padahal dulu sebelum ke Korea Selatan aku bahkan bisa memakan makanan pedas yang pedasnya itu sampai membuat kepala sakit dan menangis karena saking pedasnya. Hahaha.

Eh, tapi sekarang level kemampuan memakan makanan pedasnya jadi turun. Kalau sampai aku memakan makanan yang pedasnya smapai membuat kepala sakit, yang langsung kambuh penyakit maagku.

 

Bermunculan restoran dan kafe baru

Ini seru, sih! Dari mulai kafe elit hingga kafe sederhana yang sesuai dengan kantung mahasiswa juga mulai bermunculan di Indonesia, apalagi di Jogja. Fenomena ini jadi mengingatkanku terhadap kebiasaanku yang suka melakukan kegiatan cafe tour selama di Gangneung. Aku nggak sendiri, paling sering aku ditemani oleh Mbak Indhira. Aku seirngkali kafe, entah itu untuk belajar ataupun hanya sekadar nongkrong aja.

Nggak cuma kafe, restoran juga mulai banyak bermunculan di Jogja. Ini jadi semakin meyakinkan aku kalau perubahan yang terjadi di Jogja semakin mirip dengan Korea Selatan.

 

Kartu transportasi dan kereta cepat di Jakarta

Yess, akhirnya tulisan ini berakhir dengan kebanggaan terhadap fakta bahwa Indonesia juga punya kereta cepat dan jalur transportasi umum yang akan berkembang seperti di negara-negara maju Asia (Korea Selatan, Jepang, China, Singapur, Malaysia). Yap, katanya kereta cepat di Jakarta sudah mulai digunakan beberapa bulan lalu. Tidak hanya itu saja, nantinya jalur bus juga sistem pembayarannya akan menggunakan kartu khusus transportasi (seperti T-money-ny a Korea Selatan). Kartu terssebut bisa dibeli di minimarket-minimarket terdekat. Walaupun memang pembenahan sarana transportasi Indonesia baru dilakukan di Jakarta, diharapkan pembenahan tersebut juga nantinya dilakukan di kota lainnya demi kelancaran perjalanan masyarakat.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close