Hari ini aku memutuskan untuk bangun siang. Jam menunjukkan pukul 11.05 waktu Korea. Sebenernya bisa saja aku meneruskan tidurku di libur akhir pekan berhargaku ini, tapi karena pukul 13.00 nanti ada agenda, aku mengurungkan niatku itu. Mataku rasanya masih berat sekali. Kalau tidak salah aku baru bisa (memaksa diriku) tidur sekitar pukul 4.30 pagi tadi. Oh percayalah, semenjak kedatanganku ke Korea Selatan, jam tidurku alhamdulillah semakin berantakan.

            Aku mengerjapkan mataku dengan berat menatap langit-langit kamar. Sempat terlintas, “Apa aku nggak usah ikut kegiatan itu aja, ya?” gumamku dalam hati. Dering alarm handphone-ku menarik kesadaranku sepenuhnya, memaksaku untuk bangun dan segera mematikan bunyinya yang ramai seperti di sebuah konser. Berat hati, aku mandi dan segera berpakaian. Untungnya pakaian yang kubawa dari Indonesia adalah pakaian yang kusuka dan pilihan Ibuke hohoho..

            Disusul Siwi yang juga segera bangun dan bersiap-siap. Kalau lagi siap-siap begini, ada kalanya aku yang lebih cepat, ada kalanya Siwi yang jauh lebih cepat. Ada kalanya lagi mood dandan, ada kalanya (karena kepepet) kita jadi nggak mood buat dandan. :’)

            Ternyata waktunya sudah hampir tiba. Minggu lalu aku ingat kalau  kita dianjurkan Bu Lee Yeon Hee, dosen mata kuliah Hangukeo Il, untuk datang sebelum jam satu siang karena waktu itu kita tidak jadi mendaftar melalui beliau, alhasil jadilah kita harus melalui proses pendaftaran di tempat terlebih dulu. Kebetulan acaranya berlokasi di Gangneung Daedohobu (Korean Traditional Privincial Office, Gangneung-si, Gangwon-do). Aku dan Siwi memutuskan berangkat lebih dulu karena waktu yang tersisa tidak banyak sedangkan aku dan Siwi masih belum tahu tepatnya dimana lokasi itu berada. Akhirnya kami pun jalan menuju gerbang utama kampus GWNU yang ternyata sudah ada dua orang teman kami asal Brunei Darrussalam, Amal dan Syer, yang juga sedang menunggu. “Haaaii!” sahutku sambil melambaikan tangan kepada mereka. Mereka pun melambaikan tangan kepadaku kompak. Aku menghampiri mereka.

            “Kalian sedang menunggu taksi juga kah?” tanyaku memulai percakapan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jujur aja, aku masih terkagum-kagum dan agak sedikit aneh juga dengan bahasa Melayu. Percayalah, bahasa mereka terdengar aneh sekali kalau buatku, mungkin buat orang-orang Indonesia juga. Tapi ya di situ letak uniknya. :’)

            “Iya, benar. Kami hendak berangkat ke downtown. Bagaimana dengan kau? Berdua ini hendak pergi ke mana?” tanya Amal. Kulitnya putih, senyumnya manis, tubuhnya juga mungil. Kyeopta!

            “Wah, kalau gitu naik taksinya bareng kami saja. Tujuan kami juga di sekitar downtown,” jawabku.

            “Iyeukah? Tempat apa itu?” tanya Syer, kulitnya sawo matang, senyumnya pun manis, dengan tubuh yang juga mungil dan agak gemuk.

            “Gangneung Daedohobu,” jawab Siwi.

            “Wah, kalau begitu serupa dengan kami pula. Kami pun hendak berangkat ke tempat itu, diberi tahu oleh seonsangnim di sana ada acara bagus. Kita berangkat bersama saja, ya?”

            “Iya oke, Syer. Tunggu sebentar lagi taksinya pasti datang.” Tak lama 10 menit setelahnya sebiah taksi pun datang menghampiri kami dan kami langsung masuk ke dalamnya, pergi ke lokasi acara. Di dalam mobil taksi, seperti biasa, bapak taksinya pasti selalu mengajak penumpangnya berkomunikasi. Awalnya mereka menggunakan bahasa inggris, menanyakan asal kami dan kemampuan berbahasa Korea kami. Setelah beliau tahu kami bisa berbahasa Korea, ia langsung menggunakan bahasa Korea dengan fasih, bahkan dengan dialek daerahnya (saturi). Heuheuheu..

            Bapak supir taksi juga mengatakan kalau ia pernah mengunjungi Indonesia untuk sekadar jalan-jalan. Ia juga telah mengunjungi Jakarta dan Bali. Yang lebih mengesankan lagi, ia juga sudah mengunjungi Yogyakarta, loh! Uniknya dari orang Korea, mereka orangnya serba kepo, jadi ketika di dalam taksi itu, kami banyak ditanya-tanya tetapi berhubung Amal dan Syeir tidak bisa berbahasa Korea, jawaban mereka jadi kuterjemahkan agar bapak supir taksi paham.

            Obrolan hangat di siang hari itu terpaksa harus berakhir karena kami sudah tiba di lokasi tujuan kami. Kami langsung mengucapkan terima kasih sembari membungkukkan badan kepada bapak tersebut sebagai tanda hormat. Wah, ternyata lokasi tujuan kami seperti tempat lokasi syuting drama kerajaan Korea Selatan. Kami masuk melalui sebuah pintu yang tembus ke sebuah lapangan yang berpasir lembut dengan banyak kumpulan orang di berbagai sudut. Beberapa orang yang kuketahui sebagai panitia acara tersebut memberikan sebuah kostum berbahan tipis dengan warna biru kehijauan. Itu adalah kostum bagi para peserta yang mengikuti acara ini. Kostum itu cocok untuk semua ukuran badan atau biasa disebut all size. Konon dulu di Korea terdapat beberapa golongan masyarakat, mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi. Tapi sayangnya aku lupa tingkatan golongannya:’)

            Pokoknya pada kesempatan kali ini, aku di sini pura-puranya jadi warga asli Korea Selatan dari kasta terendah yang datang ke kota untuk mengikuti semacam ujian negara supaya bisa naik kasta. Ujiannya dilakukan secara massal di tempat terbuka, seperti di halaman depan istana atau lebih tepatnya rumah para orang terpelajar.

            Begitu selesai mengenakan kostumnya, aku dan Siwi masih menunggu Tiara dan Ilham sampai akhirnya kami dipanggil dari jauh oleh panitianya untuk segera duduk mengambil posisi, lalu dengan terpaksa kami mengambil posisi di bagian depan sebelah kiri sambil berharap Tiara dan Ilham bisa cepat datang.

SAM_7302

Setelah mengambil posisi, aku baru menyadari bahwa di situ semua peserta duduk dengan sebuah alas ditambah sebuah bantal lebar dan sedikit tipis (tidak ada kursi ataupun meja). Lalu di tempatku juga sudah tersedia dua lapis kertas tipis ala kertas zaman dulu (bukan kertas A4, itu lebih terlihat seperti kertas kuno), sebuah pulpen kuas hitam, dua balok berukuran sedang, map kuning transparan yang berisi kipas berbentuk wajah harimau putih versi kartun bernama Suhorang (ikon dari Pyeongchang Olympics Winter Games 2018), sebuah proposal yang menjelaskan kegiatan tersebut secara singkat, dan sebuah kertas merah tebal.

            Setelah melihat barang-barang ini, aku semakin dibuat penasaran, sebenarnya bagaimana sih ujian negara yang dilakukan orang-orang Korea zaman dulu?

            Seolah menjawab pertanyaanku, seorang laki-laki paruh baya mengajakku untuk berbincang. Dari yang kuamati, sepertinya laki-laki ini adalah seorang wartawan lepas. Ia memakai kaca mata hitam dengan handphone yang ia biarkan menyala untuk merekam suaraku, lalu tangan kanannya menggenggam sebuah notes kecil dan pulpen. Biarpun singkat, ia mampu menjelaskan sedikit tentang kegiatan itu menggunakan bahasa Korea.

SAM_7309.JPG

            Berdasarkan penjelasan wartawan tersebut dan proposal yang kuterima, kegiatan Gwageo Siheom yang sedang kuikuti ini sebenarnya diselenggarakan dalam rangka memperingati Olympics Winter Games yang akan dilaksanakan 25 Februari 2018 di Pyeongchang, Gangwon-do. Kegiatan ini disponsori oleh Kementerian Seni, Pariwisata, Olahraga, dan Budaya Korea Selatan, Kota Gangneung.

            For you information, kegiatan Olympics Winter Games sendiri merupakan kegiatan yang diadakan setiap empat tahun sekali dan tahun 2018 nanti menjadi kesempatan yang berharga bagi Korea Selatan untuk menjadi tuan rumah dari kegiatan bergengsi ini. Untuk lebih jelasnya, temen-temen bisa mampir ke website resminya di link https://www.pyeongchang2018.com.

           Oke, setidaknya sekarang aku udah punya sedikit gambaran tentang kegiatan ini sebelum kegiatan ini dimulai.

            Tak lama berselang, seorang wanita membuka acara itu dengan menggunakan bahasa Inggris lalu diterjemahkan ke bahasa Korea. Ia terlihat sedikit gugup tapi kegugupan itu tidak terlalu kentara terlihat. Acara dimulai dari sambutan Kementerian Seni, Pariwisata, Olahraga, dan Budaya Korea,  Kota Gangneung. Dilanjutkan ke penampilan utama.

SAM_7301.JPG

Mulai dari sinilah kami memainkan peran kami sebagai masyarakat dengan golongan terendah. Satu persatu pemeran muncul dan memainkan perannya sebagai tokoh penting zaman dulu. Salah satunya yang paling terkenal adalah tokoh Yul Gok Yi I. Layaknya teater atau drama musikal besar, dikisahkan bahwa ia sedang mencari orang-orang bertalenta. Apabila mereka berhasil melewati ujian ini, kasta mereka akan naik sebagai seorang terpelajar atau biasa disebut sebagai Yangban. Di belahan Kota Gangneung lainnya, ada seorang wanita yang membutuhkan pertolongan untuk membebaskan ayahnya yang sedang dalam kesulitan. Wanita muda itu berkata bahwa seseorang telah menjebak ayahnya dengan tuduhan bahwa ayahnya itu sudah mencuri barang milik orang lain.

SAM_7316.JPG

SAM_7322.JPG

Lalu wanita itu pergi rumah seorang tabib untuk meminta pertolongan. Namun tabib itu berkata kalau orang yang bisa menolongnya bukanlah dirinya, tapi seorang pemimpin di pusat Kota Gangneung , Yang Mulia Yul Gok Yi I. Singkat cerita, bertemulah ia dengan Yang Mulia, rupanya Yang Mulia menyamar sebagai warga biasa. Yang Mulia menyarankan kepada wanita muda itu untuk mengikuti ujian negara yang akan dilaksanakan di depan istana yang tak lain adalah rumahnya sendiri. Sang wanita muda itu pun menyanggupi tawaran Yang Mulia dan pergi ke Kota untuk mengikuti ujian itu. Itu sekaligus jadi pertanda ujian akan dimulai.

SAM_7328.JPG

            Sebanyak lima pertanyaan diberikan oleh pembawa acara kepada para peserta. Jujur aja, sebenarnya aku belum banyak tahu tentang kegiatan ini. Jadi aku tidak bisa menjawab semuanya dengan jawaban yang meyakinkan. Semua jawabanku hanya perkiraanku saja, dengan dibantu beberapa wartawan yang berada di sebelahku yang membisikkan jawabannya kepadaku hahaha.. Dari kelima pertanyaan itu, aku mendapat 4 poin, dua yang murni jawabanku dan dua jawaban lainnya dari para wartawan di sebelahku. Aku nggak minta mereka buat ngasih tahu jawabannya, tapi malah mereka yang emang sengaja ngasih jawabannya. Hohoho… :’)

            Ujian selanjutnya ialah menggambar ikon dari Pyeongchang Olymphic 2018, yang tak lain ialah bentuk kartun dari seekor harimau putih dan beruang. Si harimau bernama Suhorang dan si beruang bernama Bandabi. Percaya atau tidak, kedua bintang ini merupakan binatang yang sudah menjadi legenda di Korea Selatan. Kedua binatang ini diketahui sebagai binatang yang berperan di awal terbentuknya Korea Selatan sejak dahulu kala.

SAM_7313.JPG

            Selanjutnya adalah ujian menulis dengan topik “Orang tua”. Para peserta rata-rata menuliskan kata-kata yang ingin mereka sampaikan kepada orang tua mereka. Aku masih dalam proses menulis kalimat ketiga ketika pembawa acara menunjuk seorang anak laki-laki yang usianya berkisar 8-10 tahun itu untuk membacakan surat miliknya sendiri tentunya dengan menggunakan bahasa Korea. Suaranya lucu, kata-kata yang ia lontarkan pun sederhana membuat siapapun yang mendengarnya, termasuk aku, ikut terenyuh dan terharu. Tanpa sadar, air mataku menetes. Seperti tidak mau kalah, aku jadi semangat menyelesaikan suratku dengan kata-kata sederhana seperti anak kecil itu juga. Ah, aku jadi rindu orang tuaku lagi.

            Surat yang dibuat Siwi dibacakan oleh pemain Yul Gok Yi I. Ilham juga dapat kesempatan membacakan surat buatannya sendiri. Tambah teringat orang tuaku deh hahaha… Btw aku nggak lihat kedatangan Ilham sama Tiara e dari tadi. Mungkin karena mereka duduk di deretan bagian belakang jadinya kedatangan mereka tidak kusadari. Heuheu..

            Oke, akhirnya kita berhasil menyelesaikan ujiannya. Selanjutnya, aku dan para peserta lainnya berkesempatan untuk mengikuti kegiatan memanah, yang pasti nggak pakai busur panah yang asli loh, ya. Bahaya atuh :’)

            Karena ini hanya latihan, jadi panah yang harusnya memiliki mata runcing yang tajam diganti dengan mata runcing yang tumpul, heuheu… Semua peserta membuat tujuh banjar, masing-masing mendapat giliran dua kali. Pada kali pertama tiap peserta berkesempatan untuk memanah sebanyak tiga kali. Tahap pertama ini bisa dibilang cuma latihannya aja. Sampai tiba pada kali kedua inilah yang menentukan apakah kemampuan memanah dari seorang kasta rendah ini bagus atau tidaknya. Ceritanya begitu…

            Setelah sempat dibuat gereget sama mata panah yang tidak kunjung tepat menembak sasaran, kami langsung beralih ke tantangan selanjutnya, yaitu beradu tongkat. Tinggi tongkatnya sekitar 183 cm. Kali ini kami diajari bagaimana cara menggunakan tongkat bagi pemula ketika sedang bertarung. Sebenarnya yang harusnya kita gunakan adalah sebuah pedang, karena pedang itu tajam dan berbahaya, jadilah kami menggunakan tongkat kayu yang lebih berat dan tinggi dariku. Awalnya pergerakan berlangsung tahap demi tahap dan perlahan, tapi semakin lama gerakannya semakin cepat. Untuk ukuran cowok sih, gerakan ini termasuk yang gampang banget. Nggak heran kalo Ilham berkesempatan untuk berduel memainkan pedang dengan pengajar tongkat itu. Harus kuakui, gerakannya cepat sekali dan tidak satupun dari mereka berdua yang keliru sehingga di akhir permainan ini Ilham mendapat tepuk tangan dari para peserta dan beberapa orang yang juga ikut menonton.

            Tak terasa hari sudah semakin sore. Tiba saatnya untuk pengumuman kelulusan ujian negara hari ini. Para peserta berkumpul di lapangan semula. Rupanya semua peserta yang mengikuti ujian itu dinyatakan lolos, termasuk aku. Siwi dan Ilham menjadi salah satu dari peserta lainnya dengan jawaban terbaik. Juara pertamanya ialah anak kecil yang duduk di belakangku. Lucunya lagi, ketika salah satu pemeran tokoh drama singkat tadi hendak membacakan siapa juara pertamanya, aku mendengar suaranya, “Please, please, please,” gumamnya dengan penuh harap. Aku langsung menengok ke belakang, ia memejamkan matanya sembari menundukkan kepala. Ternyata ujian ini begitu penting baginya meskipun tidak bagiku heuheu.. Namanya anak kecil, ia sangat mendamba hadiahnya yang berupa boneka ikon Suhorang. Begitu namanya dipanggil, kamu harus lihat senyum dan betapa antusiasnya ia sampai loncat dari tempatnya duduk hahaha.. Kaca matanya aja sampai nyaris terlepas.

SAM_7371
Foto ini kuambil beberapa saat sebelum pengumuman pemenang-pemenangnya. Ia terlihat sangat gelisah dan…. kepanasan (?) heuheu

            Tanpa pikir panjang, aku langsung ikut maju ke depan untuk mengabadikan momen ini dalam sebuah foto menggunakan kamera pribadi Siwi. Acara ditutup dengan beberapa atraksi dan penampilan dari para kru yang sudah ahli. Dilanjutkan ke sesi penyerahan hadiah lalu sesi pemotretan bersama. Btw, berhubung aku nggak  punya foto bersama yang secara keseluruhan, jadi aku hanya bisa memperlihatkan foto para pemenangnya aja. Foto ini kuambil sendiri, jadi jangan bingung kalau di dalam foto ini nggak ada aku, ya. Hehe..

SAM_7389.JPG

            Tak hanya usai sampai situ, Ilham juga sempat beberapa kali diwawancara oleh wartawan yang hadir meliput kegiatan ini. Selain sesi wawancara Ilham, ternyata para wartawan itu juga udah merekam jejak kepergian kami setelah acara ini usai. Simak gambaran keseruan aku dan teman-teman lainnya (selama berperan jadi orang biasa yang naik pangkat jadi pasukan Hwarang) di kegiatan ini lewat liputan dari YTN News di link berikut ini, ya!

Sesi Wawancara Ilham oleh Wartawan YTN News

SAM_7387.JPG
Ilham wawancara sesi pertama
SAM_7390.JPG
Ilham wawancara sesi kedua, tapi sayang sesi ketiga dan keempatnya nggak kufoto.

Satu tanggapan untuk “Happy April! – Part V: Satu Hari Jadi Pasukan Hwarang Setelah Lulus Ujian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s