Musim yang kami nantikan akhirnya tiba. Berbagai macam bunga bersemi dengan beragam warna, memanjakan mata yang lelah dari kepenatan kota. Ini menjadi salah satu kebahagiaan kecil yang sederhana bagi orang-orang Korea Selatan sendiri, tapi bagiku melihat berbagai macam bunga, terutama bunga sakura, di sepanjang jalan menjadi salah satu kebahagiaan besar selama di Korea Selatan karena hal ini tidak pernah ada di Indonesia yang rata-rata lingkungannya dipenuhi warna hijau saja dan mustahil bisa ditumbuhi pohon bunga sakura karena iklim dan letak geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa.

Sejak minggu lalu, aku dan Siwi berencana pergi ke Danau Gyeongpo dengan Mbak Indhira dan Mbak Nindi. Tapi kemudian Mbak Nindi tidak bisa berangkat bersama kami karena ada panggilan mendadak dari profesornya sehingga tidak bisa meninggalkan pekerjaan sampai dirasa sudah tuntas. Disusul Mbak Indhira yang kurang enak badan sehingga memutuskan untuk batal pergi ke Gyeongpo bareng aku dan Siwi. Jadilah aku dan Siwi berdua saja pergi ke Festival Bunga Sakura di Danau Gyeongpo.

Ini jadi pengalaman pertamaku menyaksikan bunga sakura bermekaran di sepanjang jalan yang kulewati. Sebenarnya di lingkungan kampusku, sekitar Taekji, dan pusat kota (downtown) sudah mulai bermekaran, aku tak perlu jauh-jauh ke Danau Gyeongpo untuk melihat itu, tapi aku ingin datang untuk menikmati kemeriahan Festival Bunga Sakura di sana. Suasananya pasti berbeda dari festival-festival yang pernah kudatangi di Yogayakarta, Indonesia.

Seperti rencana awal, kami memutuskan tetap jalan kaki berdua untuk menikmati suasana Kota Gangneung yang terasa dingin bersahabat. Sebenarnya kami bisa saja memanggil taksi agar lebih menghemat waktu, tapi kami menolak melakukan hal itu. Selain karena terinspirasi dari para seonbaeseonbae (kakak tingkat) terdahulu (Mbak Dilla, Mbak Leli, Mbak Nug, dan Mbak Mara), kami juga tertantang ingin menemukan jalan menuju ke danaunya. Itung-itung belajar menghafal jalan di Kota Gangneung.

SAM_7092

SAM_7100.JPG

SAM_7103.JPG

Selama perjalanan, kami sering sekali melewati pohon-pohon sakura yang bersemi dengan indah. Banyak juga orang-orang Korea yang berhenti sejenak untuk sekadar mengambil foto di bawah pohon itu. Banyak yang datang berpasang-pasangan, ada yang datang dengan keluarga kecil ataupun keluarga besarnya, ada yang datang bersama teman-teman sepermainannya, ada yang double date, dan mungkin saja ada yang datang dengan selingkuhannya. Jangan ditiru, ya!:(

Semakin lama tinggal di Korea Selatan, makin kerasa dan makin sering tersadar kalau aku jomblo a.k.a nggak punya pasangan. Agak nyebelin emang. Tapi yaudahlah ya, itu bukan masalah besar kok. Kalau kehabisan uang tuh baru masalah besar wkwkwk..

Aku sudah mulai melihat tanda-tanda keberadaan danau dan festival itu dari beberapa papan petunjuk jalan yang kulewati, juga ditandai dengan jalanan yang semakin dipenuhi oleh banyak orang. Jalanan juga jadi macet karena dipadati oleh sederet mobil-mobil keren. Aku berani bertaruh, pasti di dalam mobil-mobil itu berpasang-pasangan.

SAM_7115

IMG_20170408_164007

Okay, kembali ke topik.

Setelah cukup lelah menempuh perjalanan selama ±1.5 jam, aku dan Siwi pun tiba di Danau Gyeongpo. Aku disambut oleh pohon-pohon sakura yang lebih tinggi, besar, dan lebat dari pohon-pohon sakura yang kutemui di sepanjang jalan menuju danau. Percaya atau tidak, bunga-bunga sakura itu kalau dari jauh terlihat seperti kapas-kapas yang menempel di ranting pohon. Cantik sekali.

SAM_7164.JPG

 

Aku dan Siwi memutuskan untuk istirahat sebentar di pinggir danau sambil menikmati suasana sekitar dan pemandangan Danau Gyeongpo. Banyak anak-anak kecil yang berlarian dengan logat orang Gangneung yang khas.

Tak lama, ada seorang anak kecil yang datang mendekat ke arah mejaku. Perlahan ia mengambil posisi untuk duduk di kursinya. Ada sebuah tas kecil dan jaket di kursi yang ada di hadapanku. Oh tidak, aku tidak menyadari kalau kursi ini sudah ada yang menempati. Lalu seorang wanita paruh baya yang menggandeng seorang anak kecil pun datang mendekat ke arahku. Ia segera menggamit tas dan jaketnya dan menyuruh anaknya yang satu lagi untuk turun dari kursi. Merasa tidak enak, aku tersenyum ramah pada sang ibu yang dibalas dengan senyum ramah juga olehnya. Untunglah, kukir ia marah karena kursinya kutempati.

Siwi yang sedari tadi asyik mengambil foto Danau Gyeongpo pun datang menghampiriku, menempati kursi di hadapanku. Aku baru ingat kalau hari ini belum makan sama sekali padahal waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Untung saja sebelum datang ke sini, Aku dan Siwi sempat mampir dulu ke minimarket untuk membeli beberapa roti dan air mineral.

IMG_20170408_174733.jpg

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan kami menuju ke tempat para penjual menjajakan dagangannya. Siapa sangka, tanpa sengaja kita bertemu dengan Ilham dan Seosam. Mereka telah berkeliling pasar itu rupanya. Daripada hanya-berdua-berdua, Ilham dan Seosam meminta kami untuk kembali ke bertemu dengan mereka lagi di depan jalan keluar-masuk pasar. Aku dan Siwi pun mengiyakan ajakannya dan langsung masuk ke dalam pasar.

Seperti layaknya pasar pada umumnya, pasar ini juga dipadati oleh para pengunjung yang datang. Pasar ini, bisa dibilang mirip kayak Pasar Sekaten Yogyakarta. Suasananya sangat khas. Bedanya, kalau di sini ada sul (minuman beralkohol yang mudah dibeli di Korea Selatan) dan dwaejigogi (daging babi).

IMG_20170408_182956.jpg

IMG_20170408_182959.jpg

Ahiya! Luar biasanya lagi, ada satu ekor babi berukuran besar tanpa kepala yang telah dibumbui lalu dipanggang secara utuh di sebuah alat pemanggangan yang berukuran lebih besar dari babinya. Alat pemanggang itu bermutar sendiri supaya dagingnya matang secara merata.

Melihat itu, aku jadi ngiler alias lapar. Ingin coba makan jajanan di pasar itu, tapi makan apa?  Siwi yang sepertinya juga merasa lapar, mengajakku membeli daging kambing. Lebih tepatnya sebut saja sate kambing. Tapi bedanya, potongan dagingnya lebih besar, tusukannya lebih panjang sehingga daging kambingnya lebih banyak, bumbunya pun berbeda (yang pasti nggak ada bumbu kacang. Paling hanya ada kecap, itu juga kecap asin). Sate satu tusuk itu seharga ₩ 5000, kalau dirupiahkan sekitar Rp50.000,00.

Setelah habis melahap sate kambing yang lezat itu. Kami jadi ketagihan ingin coba membeli daging ayam tepung. Lalu kami berdua patungan (iuran) dan membeli daging ayam tepung itu. Kira-kira wadahnya itu seukuran gayung yang biasa kita pakai buat mandi. Harganya pun sekitar ₩ 14.000. Porsinya lumayan banyak dan rasanya pun enak karena sudah dilapisi dengan bumbu dan saus (aku nggak paham bumbu apa dan saus apa yang dicampurkan ke dalamnya heuheu).

IMG_20170408_185229.jpg

Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku dan Siwi secara bersamaan. Rupanya Ilham dan Seosam.

“Kalian udah selesai belum jalan-jalan di sini?” tanya Ilham.

“Ya belumlah, baru juga sebentar masuk sini, Ham,” sahutku.

Ilham ingin ikut dengan kami, katanya biar nggak bosan karena hanya berdua saja dengan Seosam. Aku terkikik, paham dengan apa yang Ilham maksud apalagi hari ini Hari Sabtu. Kkk..

Ilham dan Seosam pun terpaksa berkeliling lagi mengikuti aku dan Siwi. Kami juga mampir di tempat penjualan alat-alat perlengkapan. Aku pun berhasil membeli dua buah tip-ex seharga ₩ 1000 dan gantungan baju seharganya ₩ 2000. Kebetulan tip-ex yang kubawa dari Indonesia sudah mau habis, aku juga tidak punya gantungan baju untuk menggantung baju-baju yang masih bersih.

 

To be continued…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s