Happy April! – Part I: Menelusuri Sejarah Ojukheon Di Gangneung

            Hari ini, sehabis kelas eohakdang, dosen mata kuliah Korean Culture, Bapak Park Do Sik, mengajak kami untuk mengunjungi salah satu tempat bersejarah di Korea Selatan yang berlokasi di Gangneung, namanya Ojukheon. Sebenarnya Ojukheon sendiri merupakan nama daerah di mana dalam daerah ini terdapat tempat tinggal salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah perpolitikan Korea Selatan, Shin Saimdang beserta anaknya, Yul Gok Yi Lee.

            Tahukah kalian, tempat ini juga menjadi salah satu lokasi syuting drama Saimdang, The Her Story pada tahun 2016 silam. Adanya keterkaitan alur cerita drama ini dengan sejarah Ojukheon menjadikan tempat ini sebagai salah satu lokasi syuting drama tersebut. Peran Shin Saimdang sendiri diperankan oleh aktris Lee Yong Ae. Drama Saimdang, The Her Story  sekaligus menjadi drama debutnya setelah break dari dunia peran sejak drama Dae Jang Geum.

84681_saimdang

            Biaya masuknya cukup murah, sebesar ₩ 3,000. Berhubung kami datang ke sini bersama dosen, jadi biaya masuknya ditanggung oleh beliau. Hehehe…

            Ketika masuk ke tempat ini,  aku disambut oleh sebuah patung yang merupakan perwujudan dari sosok Shin Saimdang yang sedang duduk bersila mengenakan pakaian hanbok (pakaian tradisional Korea Selatan). Selain pembuatan patung, Pemerintah Korea Selatan juga memasukkan sketsa tokoh Shin Saimdang dalam pecahan mata uang ₩ 50.000, dan tokoh Yul Gok Yi Lee pada pecahan mata uang ₩ 5,000 sebagai bentuk penghormatan terhadap peran beliau pada masa Dinasti Joseon. Shin Saimdang sendiri merupakan seniman perempuan hebat yang mendidik dan membesarkan anaknya, Yul Gok Yi Lee, sehingga terlahir menjadi seorang politikus terkenal di Korea Selatan pada masanya.

1492325559031.jpeg

1492325568123.jpeg

            Beranjak dari sang patung, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan lainnya. Sepanjang perjalanan, mataku sangat dimanjakan dengan kondisi lingkungan yang sangat bersih. Orang-orang Korea memang sangat menjaga apa yang mereka punya. Seperti kata orang, kesan pertama itu penting. So, rasa kagum menjadi salah satu kesan pertamaku ketika berkunjung ke tempat ini.

            Tak lama berselang, kami dipertemukan dengan sebuah papan besar yang berisi penjelasan tentang sejarah tempat ini secara singkat. Tentu saja dalam papan itu hanya ada tiga bahasa yaitu bahasa Korea, bahasa Mandarin, dan bahasa Inggris. Tiga bahasa ini bisa kita temukan di berbagai tempat umum di Korea Selatan. Tidak ada bahasa Indonesia loh, ya!

             Saat itu beliau menjelaskan apa yang dijelaskan dalam papan tersebut. Sebenarnya banyak yang dijelaskan oleh Pak Park, tapi aku tidak dapat menangkap seluruh penjelasannya. Selain karena kosa kataku masih sangat kurang, terlebih kosa kata dunia perpolitikan, situasi belajarnya pun kurang kondusif. Sebagian besar dikarenakan suara teman-teman dari Cina yang banyak bercanda dan banyak bicara, sehingga sering kali aku tidak menangkap maksud Pak Park.

            Secara garis besar, tempat ini merupakan Kuil Munseongsa yang dibangun pada masa Joseon. Setelah dari papan tersebut, Pak Park mengajak kami ke objek yang lainnya, yaitu ke sebuah rumah kayu tempat tinggal rakyat biasa yang disebut 초가집atau “Chogajib”. Atap rumah ini terbentuk dari jerami-jerami yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat bertahan dengan kokoh sebagai atap rumah (kala itu belum ada genteng atau asbes heuheu..). Dindingnya berwarna putih dengan perabotan berbahan dasar kayu dan tanah liat seperti keramik dan guci. Meski luasnya yang tidak seberapa, rumah inilah yang menjadi saksi bisu lahirnya Yul Gok ke dunia. Berdasarkan penjelasan Pak Park, Shin Saimdang diketahui mulai mengandung Yul Gok setelah ia bertemu dengan seekor naga dalam mimpinya. Mereka hidup dalam rumah ini dan menghasilkan karya-karyanya. Shin Saimdang sendiri ialah seorang pelukis. Beberapa lukisannya pun dipajang di museum yang terletak tidak jauh dari rumah ini.

            Beralih dari rumahnya, kami diajak untuk melihat secara langsung sebuah bangunan yang persis seperti sebuah rumah namun dengan ukuran yang lebih kecil. Tempat ini digunakan sebagai tempat penyimpanan harta miliknya. Bangunan ini disebut Eojaegak. Tidak hanya itu, terdapat bangunan yang juga khusus untuk tempat beribadahnya. Namun sayangnya, aku tidak tahu secara detail mengenai tempat ini.

IMG_20170330_160252.jpg

            Hari semakin sore, Pak Park mengajak kami untuk mendatangi museum di sini juga. Memasuki museum ini, aku disambut oleh sebuah foto Kota Gangneung berukuran besar pada masa sekarang dan masa dulu. Perbandingan yang sangat terlihat ini menyadarkanku, betapa cepatnya dunia ini berubah.

            Setelah takjub dengan tampilan foto berukuran besar, kami masuk ke dalam museum. Suasana yang berbeda dari suasana museum di Indonesia bisa kurasakan meskipun memang tampilan museum ini memiliki kesamaan seperti Museum Vredenburg di Yogyakarta, Indonesia. Ada hanbok zaman dulu yang kainnya telah usang, guci, keramik, perabotan dapur, alat berburu bintang, alat-alat tradisional untuk perang, replika mini dan replika besar yang ukurannya kira-kira sebesar tubuhku.

IMG_20170330_163546.jpg

IMG_20170330_163519

IMG_20170330_163057

            Museum ini merupakan bangunan baru yang sengaja dibuat oleh pemerintah Korea Selatan untuk menyimpan barang-barang yang diketahui sebagai peninggalan Shin Saimdang dan Yul Gok Yi Lee pada masanya. Pak Park sendiri tidak menjelaskan secara detail mengenai barang-barang yang dipajang di museum ini. Ia hanya menjelaskan secara garis besarnya saja sehingga yang kami banyak mengamati barang-barang kuno yang dipajang tersebut.

           Waktu yang kami miliki pun tidak banyak untuk menjelaskannya satu-satu secara detail karena terlalu banyak. Pak Park pun segera mengajak kami keluar museum dan memberitahu beberapa hal penting untuk ujian tengah semester tiga minggu ke depan. Setelah itu kelas dibubarkan. Teman-teman Cina yang sekelas denganku semuanya bergegas pulang tapi kami berempat, aku, Siwi, Ilham, dan Tiara memutuskan untuk menetap di Ojukheon beberapa menit, sekadar untuk mengambil beberapa foto di beberapa sudut tempat ini.

            Ini nih beberapa fotonya. Ohiya, Sreylin juga ikut foto bareng, dia teman sekelas kami asal Kamboja. Tapi dia menolak untuk ikut foto bareng. Sepertinya karena dia ingin cepat-cepat pulang ke asrama. Maklum, cuaca di tempat ini sekarang masih termasuk dingin bagi kami yang sedari kecil hidup di negara khatulistiwa, heuheu..1490863447051.jpeg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close