Pria misterius.

Jika kalian tahu, sebenarnya ia tidak benar-benar misterius. Hanya saja karena aku belum pernah bertemu dengannya, aku memanggilnya seperti itu. Itu pula yang membuatku menjadi tidak memasang fotonya sebagai featured image di postingan kali ini. Aku kenal dengannya sejak di bangku SMP lewat akun Plurk-ku. Dia satu tahun di atasku tapi karena dia tidak keberatan jika kupanggil nama saja, jadilah sampai sekarang aku hanya memanggil namanya saja. Arkha.

Dulu di awal masa kuliah kala ku masih di semester satu, Pemerintah Yogyakarta selalu mengadakan Festival Kesenian Yogyakarta dan ketika itu ada parade di sepanjang jalan. Arkha bilang padaku bahwa ia akan main ke Yogyakarta untuk sekadar menikmati penampilan FKY. Ketika itu, di sepanjang jalan sepulangnya dari kampus, aku dan dia berencana untuk bertemu. Tapi takdir berkata lain. Hari itu aku nggak bisa bertemu dengannya. Hal yang aku agak sesali adalah ketika Arkha mengakui bahwa ia melihatku (yang kebingungan seperti mencari-cari seseorang) dari kejauhan tapi dia tidak memanggil namaku. Ya, waktu itu memang kuakui ramai orang berdatangan untuk melihat parade FKY di sepanjang Jalan Kaliurang. Namun entah kenapa aku menyayangkannya.

Aku juga tak tahu kenapa ketika hari itu, meskipun memang aku hanya sebatas melihatnya lewat foto, tapi aku seperti sudah tahu bagaimana Arkha secara persis. Ia sudah tergambar dengan jelas di pikiranku ketika itu. Menggantungkan kamera SLR (entah miliknya atau tidak) di lehernya, berdiri di pinggir jalan bersama seorang temannya tanpa ransel di punggungnya sembari menengok ke kanan dan kiri mencari momen-momen yang tepat untuk koleksi foto pribadinya. Sekilas itulah ia di bayanganku.

Meskipun tidak pernah bertemu, tapi kami berteman baik. Kalau memang sudah jalannya, pasti dipertemukan. Bagaimanapun Arkha sudah beberapa kali menjadi pembaca pertama cerpen-cerpenku yang ngawur. Aku berhutang padanya, setidaknya ia mau bersabar dan tetap menerima tawaranku untuk membaca dan me-review tulisanku dengan senang hati. Lain waktu rasanya ingin sekali main ke Kudus.

Dalam satu tahun ada 365 hari, maka dalam satu tahun itu pula setiap insan memiliki 365 kesempatan untuk bertemu dan berbagi cerita, dan kita memiliki kesempatan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s