Satu – Kabar dari Negeri Ginseng (Part II)

Semester tiga kemarin memang sudah membuat jarak antara aku dan teman-teman Surat Kabar Mahasiswa UGM Bulaksumur. Setelah hati mantap, aku berjalan menuju gerbang masuk. Tak beberapa lama kemudian Riski memanggilku dari jauh sambil berlari menghampiriku bersama dua orang di belakangnya. Siapa dua orang yang ikut berlari di belakang Riski itu, ya?

Bayangan mereka semakin dekat dan terlihat jelas. Rupanya Fadil dan Rini. Suara langkah kaki mereka semakin terdengar nyaring. Tanpa pikir panjang, Fadil memukul pundakku sampai aku mengaduh pelan.

            “Kamu gimana, sih? Kok lama datangnya? Malah lewat gerbang yang ini lagi. Payah,” protesnya dengan wajah bersungut-sungut. Aku terpatung sejenak dengan dahi berkerut dalam. Apa-apaan dia?

            “Ya sorry, Dil. Tadi berangkat bareng Amel, dia ada urusan dulu. Ya lagipula kamu juga datang telat, sih,” sanggahku.

            “Nggak, ya. Aku sudah mencari kamu tapi kamu ternyata datangnya nggak bareng Siwi. Gimana, sih. Siwi ada di gerbang satunya lagi, tuh.”

            Lalu pandanganku beralih ke Rini. “Ya ampun Rin, kamu sampai keringetan begini. Kalian berdua sampai lari-larian begini cuma untuk––”

            “Michin sekki (Iyalah, gila emang lu),” umpat Fadil dengan suara pelan di depan wajahku. Sial, dia mengatai aku gila.

            “Kamu juga, Ki. Pake segala ikutan lari-larian juga lagi. Kayak drama aja lu,” ledekku.

            “Mereka tu mau ketemu kamu dulu, Dey,” jawab Riski yang berada di belakang Fadil.

            “Tahu, nih. Jadi kamu nggak mau kita ke sini? Huu, dasar, huu. Kamu juga dateng kenapa telat segala, sih? Siwi udah dateng dari tadi, loh,” tanya Rini hingga aku bingung mau menjawab pertanyaannya yang mana dulu.

            “Kan tadi aku udah bilang.”

            “Tapi sudah siap semua, kan? Nggak ada yang ketinggalan?” Rini ingin memastikan lagi. Aku menjawabnya dengan menggeleng. “Tenang saja, Rin. Semuanya sudah di dalam tas-tas ini.” Aku menepuk empat barang yang kubawa. “Serius? Gila ini berat-berat banget, Dey.”

            Aku hanya tersenyum pasrah kepada Rini. Dalam hati aku sangat-sangat tersentuh karena mereka berdua datang menemuiku sampai rela lari-lari begitu. Aku melihat sosok Fadil dan Rini yang berbeda dari yang sebelumnya. Bentuk perhatian Rini seperti kakak untukku, dan bentuk perhatian Fadil seperti orang-orang tua-_-

            “Kamu sudah siap semuanya? Nggak ada yang ketinggalan, kan? Tiketnya jangan lupa.” Rini memperingatkan aku.

            “Itu barang-barangmu. Apalagi barang-barang penting harus selalu kamu bawa. Jangan panikan. Kamu sudah tahu kan masuknya ke mana? Kamu ketemu sama Siwi dulu baru nungguin keretamu datang.” Fadil memberi nasihat.

            “Iya, iya, iya, iyaa.. Haduh. Ya sudah, aku masuk ke dalam dulu. Ah, mana katanya mau foto berempat. Cho mana coba, Ki.”

            “Ah, sudah sana masuk. Lagian siapa suruh datang telat,” sahut Fadil.

            “Nggak jadi, kan. Nyebelin emang. Mana katanya mau makan eskrim tempo gelato,” kataku menagih janji. Itu rencana aku, Riski, Fadil, dan juga Cho yang nyatanya sampai dengan detik keberangkatanku ke Korea tidak bisa terwujud.

            Akhirnya aku pun benar-benar masuk ke dalam stasiun dan bertemu Siwi beserta Ibunya. Aku meminta maaf kepada Siwi dan Ibunya lantaran datang telat sehingga mereka harus menunggu di luar cukup lama. Kami menunggu kedatangan kereta bersama-sama. Tak beberapa lama ada pesan masuk di akun Line-ku. Beberapa pesan dan beberapa kali panggilan Line dari Mbak Devi. Tepat di panggilan terakhir aku mengangkatnya. Mbak Devi memintaku untuk kembali keluar sebentar. Rupanya mereka datang meskipun telat. Aku langsung meminta izin kepada Ibunya Siwi untuk keluar sebentar menemui rekan-rekan sekaligus teman-teman satu organisasi di SKM UGM Bulaksumur. Selain Mbak Devi, ternyata ada Mbak Delfi, Anin, dan Mas Dandy.

            Aku berlari ke arah mereka disambut dengan pelukan hangat dari Mbak Delfi, Anin, dan Mbak Devi. “Wah Dey, kamu langsung berangkat, nih?” tanya Mbak Devi.

            “Iya, Mbak.”

            “Balik ke sini lagi nggak, Dey?”

            “Nggaklah, Nin,” jawabku tersenyum dengan nada suara agak bergetar.

            “Owalahh, nggak nyangka yaa mimpimu ke Korea bisa jadi nyata, Deey,” ujar Anin kagum dengan mata berbinar-binar. Aku mengangguk sambil tersenyum.

            “Jangan lupa, kalau kamu ke Seoul dan ketemu Park Bo Geom, sampaikan salamku buat doi, yaa,” sahut Mbak Delfi dengan antusias.

            “Kalau aku, salamin aja buat Kim Jong Un, ya,” ucap Mas Dandy. “Yeehh Dan, itu mah Korea Utara. Kalau si Deyo kan kuliahnya di Korea Selatan,” timpal Mbak Devi.

            Aku tertawa. Belum genap 15 menit kita mengobrol dan bersenda gurau sampai akhirnya aku memutuskan untuk kembali masuk ke dalam. Aku tidak percaya harus berpisah dari mereka. Mbak Delfi, Mbak Devi, dan Mas Dandy sudah seperti orang tuaku kalau sedang di Bul. Anin, sudah seperti saudara perempuanku, dia satu tahun di atasku. Satu hal yang masih mengganjal di hatiku. Ada satu orang yang ingin kutemui tapi sampai detik terakhirku di Yogyakarta pun aku belum pernah bisa menemuinya bahkan sekalipun aku berencana untuk menemuinya.

      Aku kembali masuk ke dalam stasiun, meninggalkan mereka semua agar segera kembali pulang karena matahari semakin tenggelam di ufuk barat. Kereta akhirnya tiba. Para penumpang bergegas masuk mengisi setiap kursi sesuai dengan nomor kursi yang tertera pada tiket yang dipegang. Setelah mengambil posisiku dan duduk, aku menghela napas panjang. Betapa lelahnya hari ini, pikirku. Selama di kereta aku hanya tidur tiga jam, karena sibuk memeriksa ulang berkas-berkas yang akan diserahkan kepada pihak Kedutaan Besar Republik Korea. Aku juga sibuk mengabari Bapak dan Ibu di rumah, memastikan berkas yang harus mereka siapkan itu memang sudah lengkap. Niat awalnya aku tidak ingin tidur hingga pagi menjelang. Namun aku juga menyadari bahwa tubuh ini juga butuh istirahat. Satu permohonan penutup menjadi pengantar tidurku malam itu di kereta.

Jika bukan pada-Mu, lalu pada siapa lagi aku bergantung? Ya Alloh, berikanlah kekuatan kepadaku serta kelancaran esok paginya jika memang Korea Selatan sudah menjadi salah satu bagian kisah hidupku, ya Alloh. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close