Hari ini kuliah berjalan seperti biasanya, tidak ada yang istimewa. Selepas menghabiskan makan siangku di kantin kampus, aku berjalan menuju ruang kelas dengan menggendong ransel berbahan jeans ukuran besar yang dibelikan oleh Ibuku, kebetulan aku dengan Ibu memiliki selera yang sama ketika memilih tas ini. Sekarang giliran mata kuliahnya Pak Rio, aku sengaja datang lebih awal bukan karena hari ini kelompokku mendapat giliran presentasi atau harus mengumpulkan tugas lebih awal, tetapi karena aku paham betul kalau Pak Rio adalah salah satu dosen yang selalu datang tepat waktu bahkan terkadang sudah ada di ruang kelas sebelum tiba waktunya, dan aku salut dengan hal itu. Meniru hal yang baik, bukan hal yang aneh, kan? Terkadang anggapan mahasiswa suka berlebihan mengenai hal ini, termasuk aku.

            Kedua jarum jam sudah menunjuk ke angka 1, sudah lebih dari lima menit. Seharusnya kuliah sudah dimulai, tapi belum ada tanda-tanda yang menunjukkan kedatangan Pak Rio. Khawatir ada kabar dadakan dari beliau, aku memutuskan untuk membuka HP-ku, memeriksa pesan-pesan yang masuk di Line, WhatsApp, atau di pesan masuk. Tetapi tidak juga kutemukan pesan yang kumaksud itu.

            “Yo, kok Pak Rio belum datang juga, sih? Coba cek, di HP-mu ada pesan dari beliau nggak?” tanya Evina sembari membenarkan posisi kaca mata di batang hidungnya.

            “Aku udah coba cek HP, tapi nggak ada dari beliau, tuh,” jawabku dengan kening mengkerut heran.

            “Yang bener, Yo? Tahunya nanti malah udah nunggu lama, eh tahunya beliau berhalangan hadir. Pastiin lagi, Yo,” timpal Lulu sembari menatap layar HP-nya. Kesukaannya pasti Yoona atau Donghae.

            Aku mencoba memastikan lagi, me-reload semua notifikasi aplikasi di HP-ku tapi tidak kutemukan juga, sampai akhirnya ada notifikasi email masuk di akun Yahoo-ku. Spam. Aku langsung membuka dan menghapus email spam itu. Notifikasi email masuk lagi. Nyaris saja aku hampir menghapusnya ketika kulihat nama pengirimnya tidak seperti akun-akun spam yang masuk ke email-ku. Judul email itu pun bukan berbahasa Inggris apalagi berbahasa Indonesia. Kudekatkan layar HP-ku dan kubawa baik-baik. Aku tertegun. Keningku berkerut dalam. Otakku berpikir keras. Apa ini? Aku nggak salah baca, kan? Gumamku dalam hati. Semakin dibuat penasaran akhirnya kubuka akun Yahoo-ku dan membaca isi email itu.

            Satu kali.

            Hah? Nggak, deh. Kayaknya salah baca.

            Dua kali.

            Ini pesan dari mana, sih? Salah kirim po, ya?

            Tiga kali.

            “AAAAA!!! Siwi!! Siwi mana?! Sekarang Siwi dimana, kalian tahu nggak?” tanyaku setengah berteriak ketika usai membaca kalimat awal dalam isi email itu.

            “Heh! Apa sih, Yo? Ribut aja. Siwi ada di luar, kenapa heboh gitu, sih?” jawab Mbak Nik, nama panggilannya Niken. Dia seangkatan denganku sekaligus teman sekelasku tapi beda dua tahun di atasku.

            “Nggak apa-apa, Mbak Nik. Makasih, ya,” jawabku singkat dan langsung berlari ke luar ruang kelas mencari keberadaan Siwi sambil berteriak menyebut namanya di sepanjang koridor kampus.

            “Heh, heh, heh. Apa, sih? Teriak-teriak kayak di pasar aja,” sahut Siwi sesampainya aku di kursi tempat ia duduk mengerjakan tugas terjemahan.

            “Siw, kamu udah cek emailmu?” tanyaku dengan napas terengah-engah.

            “Email? Email apa?”

            “Udah ada pengumumannya, Siw. Aku lihat nama pengirimnya dan pake huruf hangeul,” jelasku dengan tidak sabar dan agak terburu-buru. Sebenarnya itu belum menjelaskan apa-apa.

            “Pengumuman apa? Dari siapa?!”

            “Nih, kamu baca coba. Baca baik-baik,” kataku sembari memberikan HP-ku kepadanya. Siwi mencoba membaca isi email itu dengan baik. Bola matanya bergerak dari kiri ke kanan dengan perlahan. Semakin terus ia membaca isi pesan itu, ekspresi di wajahnya berubah sedikit demi sedikit sampai akhirnya ia…

            “Loh ini pesan dari sana?” tanyanya. Aku mengangguk.

            “Kita ke Korea, Siw. Kita lolos. Kita habgyeok, tuh.”

            “HAH?! LOH YO, KITA HABGYEOK HAYEOSSEUMNIDA?! KITA LULUS, YO?!!” tanyanya setengah berteriak. Aku yang terdiam mematung dengan perasaan campur aduk tak karuan hanya bisa mengangguk.

            “WAAAAAAAA!!! AAAAAAAAA!!!! Yo, kita lolos, yo! Kita loloooooss!!!” teriaknya tak karuan. Tentu saja teriakannya jauh lebih tinggi dari pada aku.

            “Yo, kita harus kabari Pak Adi. Kita harus ke ruangannya sekarang.”

            “Yah Siw, tapi aku mau ada kelasnya Pak Rio.”

            “Duh, gimana dong? Kalau nggak sekarang, nanti takut kesorean dan keburu beliau pulang,” ujar Siwi, wajahnya panik juga. Tak lama kemudian terlihatlah sosok Pak Rio yang berjalan dari ujung koridor menuju ruang 108. Beliau datang di detik-detik terakhir menuju menit ke-14 saat aku ingin dengan leluasa menggunakan HP-ku.

            Aku berpikir sejenak. “Oke, aku izin ke Pak Rio dulu, ya. Beliau baru aja masuk kelas. Tunggu, ya,” ucapku lalu berlari menuju ruang 108 dan meminta izin kepada Pak Rio untuk ke luar sebentar menemui Pak Adi di ruangannya. Beliau mengangguk memberikan izin. Aku pun langsung pergi ke luar kelas setengah berlari bersama Siwi tapi sayangnya Pak Adi sedang tidak ada di tempatnya. Ia sedang ada mengajar di kelas seonbae (senior/kakak tingkat). Kami pun memutuskan untuk menemui beliau sehabis mata kuliah Terjemahan kelas A.

            Sehabis keluar kelas, aku segera datang menghampiri Siwi. Ia baru mendapat kabar bahwa Pak Adi hari ini memang sedang tidak masuk karena istrinya sedang ‘siaga 1’ alias sedang menghadapi detik-detik kehadiran seorang bayi di keluarga barunya yang dibangun sekitar satu tahun yang lalu. Ini salah satu berita bahagia tentunya bagiku dan Siwi, tapi karena ketika itu waktu yang tersisa tidak banyak, akhirnya kami langsung menghubungi Pak Adi melalui WhatsApp, aku dan Siwi tidak sempat untuk datang menengok keadaan bayi beserta istrinya Pak Adi. Beliau malah meminta kami untuk langsung mengurus semua keperluan yang harus segera dilengkapi. Dikarenakan pengumumannya baru diterima tepat pada hari Selasa 14 Februari 2017 dan tertera dengan sangat jelas di email aku dan Siwi bahwa kami akan dijemput di Bandara Incheon Korea Selatan pada 28 Februari, waktu yang tersisa untuk kami bersiap-siap hanya kurang dari dua minggu. Sebenarnya hanya satu hal yang penting ketika itu…

            Visa.

            Ini memang terdengar biasa saja. Aku dan Siwi pun bisa saja meminta jasa agen seperti yang dilakukan oleh kawan-kawan lain yang juga mendapat beasiswa ke Korea. Namun usut punya usut, agen tidak akan menerima permintaan pembuatan visa tersebut jika waktunya terlalu mepet dengan waktu keberangkatan kliennya ke Korea. Jadilah aku dan Siwi memutuskan untuk sesegera mungkin mempersiapkan semua persyaratan dibantu keluarga kami di kampung halaman juga (karena separuh persyaratan yang dibutuhkan juga ada di rumah orang tua). Kalau ditanya, “Apa aja persyaratan pembuatan visa ke Korea?”, aku akan menjawab dengan singkat, “Banyak!”.

            Sebenarnya kalau kamu berencana ingin ke Korea dan membuat visa melalui agen, persyaratannya akan lebih sedikit daripada membuatnya secara langsung dengan menyerahkan berkas-berkas persyaratan tersebut ke Kedutaan Besar Republik Korea Selatan yang terletak di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Persyaratan tersebut di antaranya, formulir pendaftaran visa, pas foto berukuran 3 x 4 dengan latar putih, surat keterangan sebagai mahasiswa aktif dari kampus, surat undangan dari universitas di Korea, surat keterangan kerja orang tua, Letter of Admission, fotokopi (KTP, kartu keluarga, NPWP, surat pajak tahunan, rekening tabungan orang tua 3 bulan terakhir, cover paspor depan dan belakang yang bagian dalamnya juga kalau sudah stamp isi, tiket pesawat yang sudah dipesan), dan paspor asli. Namun, tentu saja harga pembuatan visa melalui agen jatuhnya menjadi lebih mahal ketimbang mengurusnya secara langsung ke Jakarta dan memakan waktu selama satu minggu paling cepat untuk proses pembuatan visa tersebut. Ini salah satu pertimbangannya.

            Sebenarnya pertimbanganku dan Siwi bukan hanya itu saja, ada satu pertimbangan penting yang membuat aku dan Siwi memutuskan untuk mengurusnya secara langsung ke Jakarta, yaitu karena waktunya yang lebih singkat ketimbang meminta jasa agen. Jika kami mengurus secara langsung, maka kami hanya membutuhkan waktu empat hari untuk proses pembuatan visa terhitung setelah penyerahan berkas-berkas persyaratannya ke Kedutaan Besar Republik Korea Selatan. Selain berkas-berkas persyaratannya pun ditambah ijazah terakhir (fotokopi dan asli), bukti keuangan (boleh pilih salah satu, sur yang kusebutkan sebelumnya, ada juga persyaratan lainnya di antaranya, referensi bank terbaru atas nama pribadi atau orang tua dengan saldo minimum USD 20.000), dan Certificate of Health (TB). Ketika aku memeriksa website Kedubes langsung, ternyata di situ tertulis bahwa penerima beasiswa dari Pemerintah Korea, Perusahaan Korea, maupun Pemerintah Indonesia yang biaya hidup dan biaya sekolahnya ditanggung tidak perlu melampirkan bukti keuangan. Aku juga termasuk ke dalam mahasiswa penerima full beasiswa. Namun karena orang tuaku sudah terlanjur menyiapkan bukti keuangan itu, aku meminta pada Bapakku untuk tetap membawa berkas-berkas itu ke Kedutaan Besar Korea Selatan.

            Setelah berunding banyak dengan kedua orang tuaku mengenai berkas-berkas apa saja yang harus mereka siapkan di Karawang melalui free call di WhatsApp, aku dan Siwi mulai menyusun rundown agar semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Esok harinya aku pun langsung pergi ke Rumah Sakit Sardjito di lingkungan kampusku, Univesitas Gadjah Mada, untuk melakukan pemeriksaan kesehatan TB bersama Siwi. Namun sayangnya pemeriksaan ini harus dilakukan secara bertahap, tidak bisa selesai dalam satu hari. Kami harus bersabar melalui setiap tahapannya yang berjalan selama tiga hari berturut-turut. Sembari menjalani proses pemeriksaan kesehatan selama 3 hari itu, setiap sepulangnya dari rumah sakit baik aku dan Siwi masing-masing mempersiapkan persyaratan lainnya agar nanti ketika Hari Senin sehabis sertifikat kesehatan itu kami terima, aku dan Siwi bisa langsung berangkat ke Jakarta menaiki kereta dengan tujuan Stasiun Pasar Senen.

            Jujur saja, aku masih belum memiliki banyak pengalaman. Kesempatanku menaiki kereta dengan tujuan Stasiun Pasar Senen saja merupakan kali pertama bagiku sehingga akupun masih belum mengerti bagaimana cara pemesanan tiket kereta dan harus ke Stasiun Tugu atau Stasiun Lempuyangan (karena Yogyakarta memiliki dua stasiun). Ketika itu aku banyak dibantu oleh Amel, Shinta, dan Mutia. Aku sudah kenal dengan Amel sejak aku dinyatakan diterima di UGM. Mulanya hanya mengenal Amel melalui Line hingga akhirnya aku baru sadar kalau aku sudah berteman baik dengan Amel sejak awal masa kuliahku di UGM. Setelah itu barulah aku mengenal Shinta. Aku juga sudah berteman baik dengan Shinta sejak awal masa kuliah dulu. Dan Mutia, aku baru berteman dengannya ketika awal-awal semester 2.

            Seketika di hari-hari terakhir keberangakatanku ke Jakarta, hatiku diliputi perasaan haru, sedih, bimbang, kecewa, senang, bingung, dan masih banyak perasaan lainnya. Aku terharu karena aku memiliki tiga orang teman terdekatku di masa kuliah serta melakukan banyak aktivitas yang menyenangkan bersama kawan-kawan serta rekan-rekan yang luar biasa. Senang karena impianku untuk mendapatkan beasiswa ke Korea dapat terwujud, bisa membuat keluargaku bangga dan tidak dipandang sebelah mata, karena bagaimanapun ini adalah doa kedua orang tuaku yang terwujud. Sedih karena aku harus meninggalkan semua yang ada di Indonesia, catatan harianku selama di Indonesia terhenti untuk beberapa waktu demi merajut kisah yang baru. Bimbang karena merasa khawatir serta ragu apakah aku memang bisa merajut karir gemilang nantinya ketika di Korea. Kecewa karena impian kecilku untuk bisa studi di Korea bersama Amel harus terhenti di jalan dan aku sangat berharap aku benar-benar bisa bertemu dengan Amel, Shinta, serta Mutia di Korea, juga teman-teman Prodi Bahasa Korea yang lainnya.

            Sore hari pukul 17.15 WIB aku diantar Amel ke Stasiun Tugu menggunakan motor Hana disusul Johan, Shinta dengan Mutia, Riski dengan Cho, serta Hilda dengan Mas Ilham. Aku tiba di stasiun di menit-menit menjelang tibanya kereta yang kutumpangi. Sesudah parkir, aku langsung mengambil koperku yang dibawakan Cho dan Riski. Aku mencari Shinta dan Mutia, mereka membawa barangku berupa kresek kuning besar, tapi aku tak melihat kedatangan mereka sekalipun dari jauh, mereka tak kunjung datang. Lantas aku langsung masuk ke Stasiun Tugu dengan ransel punggung, tas slempang berisi laptop, dan juga koper. Bisa kalian bayangkan berat beban yang kubawa ketika itu tidak sebanding dengan kekhawatiran dan situasi yang membingungkan bagiku, karena ini adalah pengalaman pertamaku. Amel memanduku untuk menukar tiket kereta berwarna biru itu dengan tiket yang berwarna jingga. Saat itu tiket Siwi dan Ibunya masih kupegang. Aku berangkat terpisah dari Siwi. Siwi bilang ia sudah tiba di Stasiun sejak satu jam sebelumnya. Ternyata aku dan Siwi berada di pintu masuk yang berbeda. Setelah bertanya-tanya kepada satpam, aku memutuskan untuk masuk ke stasiun.

      Teman-teman hanya bisa mengantarku sampai di sini. Aku memeluk mereka satu persatu. Memeluk teman-teman Prodi Bahasa Korea dari mulai Amel, Shinta, Mutia, dan Cho. Lalu menyalami Riski, ia juga mengusap pundakku. Entah kenapa ketika ini hatiku bergetar. Air mataku belum menggenang, tapi hatiku sudah menangis menerima kenyataan harus meninggalkan mereka setelah masa-masa susah dan senang yang kita lewati bersama. Kemudian aku memeluk Hilda sembari bersenda gurau dan menyalami Mas Ilham serta Johan. Ia menggenggam tanganku lebih lama. Tangannya yang lebih besar dariku, membungkus tanganku dengan erat. Semester tiga kemarin memang sudah membuat jarak antara aku dan teman-teman Surat Kabar Mahasiswa UGM Bulaksumur. Setelah hati mantap, aku berjalan menuju gerbang masuk. Tak beberapa lama kemudian Riski memanggilku dari jauh sambil berlari menghampiriku bersama dua orang di belakangnya. Siapa dua orang yang ikut berlari di belakang Riski itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s