Aku nggak pernah menyangka, ucapan terima kasih bisa seistimewa itu kalau diucapkan sama dia. Awalnya sebelum aku mengenal dia, pandanganku tentang seorang pria nggaklah seperti sekarang. Jujur, pandanganku terhadap pria saat itu masih terdengar mainstream. Masih kayak perempuan pada umumnya. Dan tahu nggak? Saat kali pertama aku bertemu dia untuk urusan organisasi, aku sempet mengira dia adalah pria yang sama seperti pria pada umumnya. Yang aku nggak habis pikir juga, sempet terlintas di pikiranku untuk mendekati dia.

Awalnya aku iseng, lebih tepatnya perasaanku pada saat itu lebih kepada rasa ‘penasaran terhadap dia yang baru pertama kali kutemui’. Ternyata, setelah beberapa kali pertemuan, aku sadar kalau dia memang benar-benar nggak terpancing dengan umpanku. Dan anehnya, itu yang membuatku semakin penasaran dengan ‘cowok kayak apa sih kamu ini?’. Lantas pada pertemuan serta ajakanmu selanjutnya, untuk memenuhi tugas organisasi yang sama, selalu ku-iya-kan aja.

Lagi, hal aneh yang selalu saja kualami kalau sedang bersama dia itu hari selalu hujan. Awalnya pada pertemuan ketiga sekaligus menjadi hari berhujan ketiga kita itu, aku nggak menganggapnya apa-apa. Namun, ku harus apa kalau ternyata hari selalu berhujan kalau bersama dia ketika pertemuan kita menginjak pertemuan yang keenam kali? Ya, yang keenam kalinya aku harus rela kebasahan sampai di kost-an dengan tas yang kotor akibat dari motor besar yang dia bawa.

Aku nggak punya kendaraan pribadi di sini. Sejauh ini hanya mengandalkan teman-temanku di sekitar yang dengan murah hati menawarkan tumpangan.  Maka dari itu, ketika menjalankan tugas organisasi, aku nggak jarang meminta tolong ke dia. Motornya itu motor besar, yang kalau aku boncengan dengan dia, otomatis aku rela tasku kotor akibat dari roda besar motornya. Seiring dengan waktu-waktu bersama yang sebenarnya nggak terlalu kuharapkan, perasaan itu tumbuh semakin dalam dan tinggi.

            Namun, aku harus menerima pil pahit ketika orang lain mengira bahwa perasaan ini nggak lain ialah hanya karena sebuah motor besar, kekayaan, kharisma, atau apapun itu yang dimilikinya. Aku nggak bisa membatasi dan mencegah pendapat serta pandangan orang terhadapku. Itu hak setiap individu. Oleh karena itu, kuhanya bisa diam dan bersandiwara karena saking kaget dan saking kecewanya. Aku juga merasa nggak perlu mengonfirmasi bagaimana hal yang sebenarnya terjadi karena kalian pun nggak mempunyai hak untuk itu.

Sampai dengan saat ini, kalau kalian bertanya, “apa yang buat aku suka sama dia?”, aku nggak akan mampu menjawabnya. Tapi, kalau kalian bertanya, “bagaimana kamu bisa suka sama dia?”, mudah-mudahan kalian mau bersabar kalau memang aku bersedia untuk berbagi cerita dengan kalian. Satu yang penting di sini, perasaan itu sebuah anugerah. Dan aku mensyukuri itu. Aku sungguh nggak pernah mengharapkannya membalas perasaanku, tapi aku malah berharap akan bertemu dengannya nanti ketika kita sudah ‘punya nama’ masing-masing. Mengulang cerita dari nol lagi. Entah itu lebih indah ataupun lebih suram dari yang sekarang. Entah itu antara aku atau kamu sudah mendapatkan yang terbaik, ataupun belum.

Bagaimanapun itu, kalau memang kita digariskan bertemu lagi, kuberharap kita bersedia memulai percakapan lagi dan mengawalinya dengan, “Bigbos!” lalu dijawab dengan, “Hey, Ulf!”.

 

Moral of the story is, “Appreciate everyone who stay with you and don’t judge who leave you behind”. –Rinni Wulandari Indonesian Idol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s