Aku bukan pecandu rokok, tapi dia adalah jutaan racun yang perlu kuhisap setiap hari, membunuhku perlahan tapi pasti.
Aku bukan anak berpenyakit kronis, tapi dia adalah obat yang kuperlukan untuk membantuku bertahan hidup dari waktu ke waktu–meredam nyeri, meringankan luka, memaksa jantungku tetap berpacu lebih lama.
Aku bukan seorang pemabuk, tapi dia adalah anggur yang menyegarkan, memuaskan dahaga kerinduanku yang menggelegak dan takkan pernah padam.
Bagaimana bisa keceriaanku bertumpu pada sosok yang bahkan tak pernah menjanjikan waktunya untukku?
Lucu, ketika tangisku ditujukan pada seseorang yang bahkan tak pernah menjanjikan kebahagiaannya padaku.
Irasional, sudah tahu begitu masih kuserahkan saja hidupku untuk manusia yang bahkan tak pernah sadar, bahwa nyawaku berada di genggamannya.
Karena kalau ia terluka, aku akan sakit.
Kalau ia bersedih, aku akan menangis.
Kalau ia hilang, aku akan pergi.
Kalau ia tiada, tak ada artinya aku ada.
Sebutuh itu.
Dan ketika situasinya dibalik,
Kalau aku terluka, ia akan mencibir.
Kalau aku bersedih, ia akan mendengus.
Kalau aku hilang, ia takkan mencari.
Kalau aku tiada, mungkin ia akan tertawa.
Semenyedihkan itu.
Namun bagaimanapun, dia adalah matahari bagi siangku yang cerah, bulan bagi malamku yang kelam, awan bagi langitku yang senyap, dan bumi bagi jagat rayaku yang sunyi.

Dyalin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s