Dia…

Dia

bukan cuma menginginkanku mati. Dia menginginkan diriku. Bukan batu yang kucuri darinya, melainkan diriku.

Bagus, pikirku. Perasaanku hangat ketika teringat kembali saat aku berdansa dengan Seth, kecupannya, rasa hidungnya yang patah akibat hantaman lututku, juga sorot dendam yang ditunjukannya padaku.

Bagus sekali, Madison. Bukan hanya sudah menghancurkan reputasiku disekolahan yang baru, sekarang aku juga sukses menghina malaikat kematian sekaligus mencatatkan diriku di daftar teratasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close