The Wonderful Night

Gambar

 

Selama perjalanan, Kyuhyun dan Ahna menikmati pemandangan dalam diam. Keadaan ini membuat mereka sedikit canggung, bingung bagaimana untuk memulai pembicaraan. Mungkin karena suasana musim semi yang membuat ini menjadi sedikit canggung. Sesekali Kyuhyun berpura-pura melihat keluar jendela ketika gadis itu menyadari kalau Kyuhyun sedang meliriknya diam-diam. Kyuhyun masih menunggu apakah gadis itu akan memulai pembicaraan dengannya.

“Ahna-ya.”

“Apa?” sambil menoleh, menatap pria yang duduk disampingnya.

“Sepulang dari sini, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Tidak.” jawab gadis itu singkat walaupun dia belum tahu kemana tempat tujuannya.

Kyuhyun menatapnya bingung.

“Aku tidak akan mau bila kau tidak mengatakan ke mana kau membawaku pergi.”

Kyuhyun tertawa kecil. “Tapi sayangnya kau tahu aku, kan? Aku tidak akan bisa menerima penolakan. Jadi jika kau ingin tahu jawabannya, satu-satunya cara adalah kau harus mau ikut denganku, Ahna-ya.”

“Kau ini licik sekali!” geram Ahna, yang pada akhirnya dia menyerah juga.

Mendengar jawaban gadis itu Kyuhyun tertawa. “Aku memang selalu menang darimu, Ahna.”

 

***

“Sebenarnya kau mau mengajakku ke mana?”

“Sabar, sebentar lagi kita sampai.”

“Ini namanya menyiksaku, kau tahu? Kenapa kita tidak naik mobilmu saja? Kau kan punya mobil yang banyak. Untuk apa kau membuat koleksi mobilmu itu menganggur?” gerutu Ahna.

“Kalau kau merasa lemas, tidak kuat, dan ingin pingsan, katakan saja padaku. Aku akan menggendongmu.” jawab Kyuhyun yang terus berjalan menatap ke depan tanpa melihat Ahna yang tertinggal di belakangnya. Dibandingkan Kyuhyun, tubuh gadis ini lebih kecil sehingga langkah kakinya pun tidak dapat mengalahkan langkah kaki Kyuhyun yang panjang ketimbang dirinya.

“Memangnya kau kuat? Kau bilang tubuhku ini berat.”

“Dan kau percaya saja?”

“Memangnya kenapa?”

“Untuk badan yang tinggi dan bobotnya sepertimu itu tidak mungkin berat bagiku apalagi gadis itu kau. Lagipula kau ini mudah sekali kutipu.”

“Yak, Kyuhyun-ah, yang kau katakan tadi itu memujiku atau meledekku?”

“Tentu saja memujimu, Ahna-ya.”

“Baguslah.”

“tapi mungkin bisa jadi ledekkan juga untukmu.” lanjut Kyuhyun.

“Ya, Cho Kyu  ̶  ̶”

“Kita sampai. Ayo!” Kyuhyun memotongnya dan langsung meraih tangan kanan Ahna untuk masuk ke dalam toko yang menjual gaun-gaun mahal itu.

“Untuk apa kau mengajakku ke sini?”

“Sekarang, kau pilih satu gaun yang sesuai dengan seleraku. Setelah itu, jika kau mau membeli lebih atau tidak, itu terserah padamu. Pilih saja sesuka hatimu. Kau tidak lupa kan kalau toko ini juga termasuk milikku?” jelas Kyuhyun, “dan satu lagi, aku tidak ingin kau banyak bertanya. Mengerti?”

Ahna tidak percaya ini. Dia menyerah hanya karena Kyuhyun sudah lebih dulu melarangnya bertanya bahkan untuk satu hal pun, sepertinya Kyuhyun sudah mulai pandai membaca garis mukanya.

Ahna berjalan melihat-lihat gaun-gaun yang tersedia di toko itu. Dia bingung, karena tidak biasanya dia memilih sendiri gaun apalagi dia harus mengira-ngira gaun mana yang Kyuhyun suka.

Sementara Kyuhyun, hanya menunggunya sambil melipat kedua tangannya didada dengan kedua kaki yang diselonjorkan lurus dan memperhatikan gadis itu dari posisi dia duduk. Kyuhyun yakin pasti gadis itu pasti sedikit kesulitan untuk memilih sebuah gaun yang sesuai dan itu pasti membutuhkan waktu cukup lama.

Setelah 30 menit berlalu, Ahna selesai memilih gaun-gaun yang akan dia coba dan pergi ke ruang ganti untuk memperlihatkan hasilnya pada Kyuhyun.

“Bagaimana?” tanya Ahna yang susah payah mengangkat bagian bawah gaun itu.

“Ganti.” jawab Kyuhyun singkat.

Ahna masuk ke kamar ganti lagi kemudian keluar dengan gaun yang lain. Kyuhyun menggeleng. Dia mencoba gaun lagi sampai gaun yang ke enam dan masih belum cocok juga.

“Ini gaun terakhir yang kupilih tadi. Apa tidak ada sama sekali yang cocok untukku?”

Pria itu mengangguk.

“Sudahlah, aku memang tidak cocok memakai gaun seperti ini, terlalu menyusahkan. Kita pergi saja dari sini dan batalkan semua rencanamu.” ucap Ahna dengan nada frustrasi. Ahna duduk disamping Kyuhyun, kakinya diselonjorkan untuk mendapat posisi nyaman seperti yang dilakukan Kyuhyun dengan kepala menunduk.

“Pasti ada.” sahut Kyuhyun yakin.

Kyuhyun bangkit, menghampiri karyawan wanita yang berdiri tidak jauh dari kamar ganti yang Ahna pakai.

“Apakah disini masih banyak gaun yang mungkin cocok untuk wanita yang duduk disana?” tanya Kyuhyun setengah berbisik sambil menunjuk Ahna.

“Ya, Tuan.”

“Kalau begitu, saya ingin gaun yang simple dan bisa memperlihatkan keelokkan tubuh gadis itu. Ada?”

“Mm, saya rasa ada, Tuan. Gaun terbaru kami. Tunggu sebentar, akan saya bawakan.” kemudian pergi dan membawa gaun yang kira-kira sesuai.

“Ini ada satu lagi gaun. Saya pikir gaun ini cocok.” sahut karyawan wanita itu sambil menyodorkannya pada Ahna yang sedang duduk tertunduk.

Ahna mencobanya lagi. Susah payah dia memakainya karena gaun kali ini lebih rumit dari yang terlihat sampai harus meminta tolong pada karyawan wanita untuk membantunya memakai gaun itu diruang ganti. Beberapa menit kemudian Ahna keluar.

“Bagaimana dengan yang ini?”

Pria itu mengangkat kepalanya dan melihat penampilan gadis itu. Untuk beberapa detik pertama pria itu masih tidak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Pantulan cahaya lampu memperindah gaun yang dihiasi kelap-kelip maniknya sampai membuat pria itu terdiam beberapa detik sebelum akhirnya suara Ahna menyadarkan pria itu dari lamunannya.

“Kenapa? Gaun ini terlihat aneh, ya?”

Kyuhyun mengumpulkan fokusnya kembali kemudian menimbang-nimbang, menilai cocok atau tidaknya gaun itu.

“Kau nyaman?”

Ahna menunduk untuk melihat gaun yang dipakainya. “Mm, entahlah. Gaun ini kelihatan lebih simple dari gaun-gaun yang ku pilih tadi, tapi…”

“Aku pilih yang ini.” sahut Kyuhyun dengan senyum terukir diwajahnya dan tidak membiarkan Ahna menyelesaikan kalimatnya

“Sekarang, terserahmu mau mengambil gaun yang mana. Aku tunggu kau diluar.”

“Tidak. Aku tidak mau memilih gaun lagi.” Tolak Ahna sambil menggelengkan kepalanya.

“Kau yakin? Kau tidak ingin untuk tampil cantik lagi dihadapan suamimu dengan memakai sebuah gaun selain di hari pernikahan kita? Aku mengizinkanmu untuk memilih yang benar-benar sesuai dengan seleramu, tapi kau malah menolaknya. Apapun pilihanmu pasti akan ku sukai.”

“Sudahlah. Aku hanya tidak mau berlama-lama lagi disini.”

“Kenapa? Kau ingin buru-buru pulang ke rumah untuk berkencan denganku?”

“Ya!”

Kyuhyun tertawa lepas karena berhasil menggoda gadis itu. Ahna memukul lengan Kyuhyun supaya dia berhenti tertawa karena itu memalukan. Kyuhyun kesakitan, dia mengusap lengannya

“Kalau kau tidak puas dengan gaun yang dipajang, kau bisa meminta model gaun terbaru pada karyawan disini. Pasti ada model yang pas dengan seleramu. Tapi saranku, lebih baik kau memilih gaun yang sedikit memperlihatkan paras dan bentuk tubuhmu, Ahna-ya.” goda Kyuhyun lagi.

“Cih. Aku tidak akan betah berlama-lama memakai gaun yang seperti itu.” ujar Ahna.

“Baiklah kalau itu maumu.” Kyuhyun mengangguk mengerti.

“Lagipula aku semakin penasaran dengan apa yang kau rencanakan, Cho Kyuhyun.” lanjut Ahna menatap tajam wajah Kyuhyun.

“Sabarlah untuk beberapa jam lagi, Nona Cho.”

“Apa?!”

***

Malam ini langit diselimuti gumpalan awan. Awan-awan itu bukan membuat langit mendung ataupun akan turun hujan, melainkan membuat langit semakin indah dengan ukiran-ukiran keelokkannya. Membuat pembiasan cahaya bulan terlihat lebih sempurna dari biasanya. Keputusan Kyuhyun mungkin tepat untuk mengadakan surprise kecil untuk Ahna.

“Kita sampai.” kata supir hotel itu yang dibalas dengan anggukan Kyuhyun.

“Kau keluarlah duluan. Tunggu aku di lobi. Aku tidak akan lama.”

“Baiklah.” Ahna membuka pintu mobil dan pergi ke lobi hotel. Gadis itu masuk ke dalam hotel besar itu dan duduk disofa yang disediakan untuk menunggu. Sesekali gadis itu menggigit bibirnya. Dan benar. Tak beberapa lama kemudian Kyuhyun muncul di antara orang-orang yang berlalu lalang dan berjalan menghampiri gadis itu.

Kyuhyun meraih pergelangan tangan Ahna.

“Kyuhyun-ah, apa yang tadi kau lakukan?” tanya Ahna yang berada disamping kanan Kyuhyun.

“Memangnya kenapa?”

“Aku hanya ingin tahu saja apa yang kau lakukan sampai menyuruhku untuk pergi duluan.” ujar Ahna.

Diam-diam pria itu tersenyum karena sepertinya gadis itu semakin penasaran dan tidak sabar dengan apa yang akan dia lakukan.

“Mm, rahasia.”

“Cih. Ya sudahlah.” ucap Ahna, berpura-pura tidak begitu memperdulikannya.

Mereka menaiki lift untuk sampai ke lantai 7 dan berhenti di depan pintu sebuah kamar hotel.

“Aku hanya mengantarmu sampai sini. Sebentar lagi akan ada penata rias yang datang meriasmu. Turuti saja mereka dan berdandanlah dengan sangat cantik untuk malam ini.” ujar Kyuhyun.

Ahna mengangguk. “Lalu bagaimana denganmu?”

“Aku akan membuatmu terpesona malam ini.”

“Benarkah? Baiklah, aku juga akan membuatmu terpesona melihatku.” balas Ahna.

Jawaban Ahna membuat Kyuhyun tertawa kecil. “Sampai bertemu nanti malam.” Kyuhyun melambaikan tangan dibalas dengan lambaian tangan Ahna. Kemudian gadis itu masuk ke dalam kamar hotel untuk menunggu para penata rias itu.

***

Sudah 2 jam berlalu dihabiskan hanya untuk mendandani gadis itu. Memoles tubuhnya dengan beberapa alat make-up yang terbuat dari bahan kimia dan aksesoris cantik yang cocok dengan gaunnya. Memang dibutuhkan waktu yang cukup lama karena Ahna tidak biasa dengan hal yang menyangkut alat kosmetik yang biasa dipakai oleh wanita kebanyakan karena Ahna tidak suka dengan hal yang merepotkan. Dia lebih suka sesuatu yang simple dan praktis. Selesai memolesi sebagian tubuhnya, terutama wajahnya, para penata rias itu mulai memakaikan gaun yang dipilih Kyuhyun untuk Ahna.

Tiga jam berlalu, tepat pukul 7 malam. Ahjjuma-ahjjuma yang merias Ahna sedang menunggu gadis itu keluar dari kamar. Tak beberapa lama Ahna keluar dari kamar lengkap dengan gaun pilihan Kyuhyun yang sedang dikenakannya.

“Kau cantik sekali, Ahna-ssi.” sahut salah satu penata rias, penata rias yang lainnya juga berpendapat sama.

“Benarkah? Terima kasih, ahjjuma.” Ahna tersenyum simpul, muncul semburat merah dipipinya.

“Sepertinya semuanya sudah siap. Mari saya antar ke tempatnya.” ajak pria paruh baya itu yang muncul di ambang pintu ruang tamu, dari penampilannya sepertinya dia orang yang diutus oleh Kyuhyun untuk menjemput gadis itu ke tempat tujuan. Ahna mengangguk.

Gadis itu tidak sabar untuk bertemu dan melihat bagaimana penampilan pria itu mengingat bahwa apapun yang dikenakan oleh pria itu selalu membuat gadis itu terpesona dan terpikat. Dalam hatinya dia masih menebak-nebak tempat yang dipilih oleh pria itu. Dan gadis itu juga masih mengira-ngira apa yang sedang pria itu rencanakan terhadapnya.

***

Kyuhyun masih menunggu gadis itu. Dia terus melihat jam ditangannya dari 15 menit lalu. Pria itu sepertinya tidak cukup sabar karena dilanda rasa penasaran ingin melihat penampilannya.

“Tuan Cho, mobilnya sudah hampir dekat. Sebaiknya Tuan masuk ke dalam untuk bersiap.” ujar salah seorang penjaga gerbang depan. Kyuhyun menurutinya. Dia kembali ke dalam dan duduk di kursi kecil empuk tanpa sandaran yang cukup untuk di duduki dua orang kemudian memainkan piano besar yang ada dihadapannya.

Ahna mengangkat kakinya keluar pintu mobil ketika penjaga itu membukakan pintu untuknya. Bola matanya memutar untuk dapat melihat tempat itu yang nampaknya masih asing baginya. Pandangannya terhenti ketika salah seorang penjaga itu berbicara padanya.

“Nona, mari saya antar ke dalam untuk menemui Tuan.”

“Baiklah.”

Ahna berjalan mengikuti langkah pria yang ada di depannya. Langkah gadis itu sedikit mengalami kesulitan karena sepatu high heels yang menempel di kakinya. Jika bukan karena pria itu, dia tidak akan melakukannya karena ini sama saja menyiksa dirinya sendiri. Sabarlah untuk beberapa jam ke depan, Ahna-ya, gumamnya.

Perlu waktu sekitar 5 menit untuk bisa sampai ke tempat yang sebenarnya dituju. Ahna harus memasuki rumah besar itu yang dihiasi dengan ukiran cantik yang memberi kesan elegan. Bangunan itu terlalu besar untuk bisa disebut “rumah”. Mungkin lebih tepatnya disebut istana. Ahna terlalu sibuk dengan high heels-nya yang cukup tinggi sehingga dia tidak terlalu memperhatikan ruang-ruang yang dia lewati meskipun memang ada beberapa ruangan yang masih dia ingat. Dan sejauh ini tanggapan gadis itu dengan bangunan ini adalah sangat baik. Dia mengakui selera pria itu begitu tinggi untuk memilih tempat ini. Ah, Cho Kyuhyuh, gadis itu menggumam lagi.

Langkah Ahna terhenti ketika akhirnya dia sampai pada sebuah tempat yang luas dan tepatnya berada di belakang “rumah” itu. Taman yang sudah ditata dengan sangat rapi. Perpaduan warna bunga-bunga dan lampu-lampu kecil mendominasi tempat itu sehingga tampak seperti taman bunga namun masih terlalu mewah untuk disebut sebagai taman bunga. Ahna masih mengikuti langkah pria penjaga tadi melewati jalan setapak. Mata Ahna tak juga berhenti melihat sekeliling diiringi dengan alunan musik yang membuat gadis itu terlarut dengan suasana malam yang cukup dingin di tempat itu.

Selain lampu-lampu kecil yang memberi cahaya pada bunga-bunga itu, lilin-lilin yang terdapat pada tepi jalan setapak juga memberi kesan tersendiri baginya. Tempat ini membuat dia sibuk dan tak mau ketinggalan untuk menikmati keindahannya sampai gadis itu lupa tujuan utamanya ke tempat ini.

Saking sibuknya memperhatikan keadaan sekitar, Ahna sampai tertinggal cukup jauh dari penjaga yang menuntun ke tempat yang dianggapnya sebagai taman bunga. Kemudian pandangannya berhenti pada sesosok pria dengan setelan jas putih dan rambut yang tersisir rapi ke belakang  ̶ ̶kali ini tidak menutupi keningnya ̶ ̶ berdiri tepat didepannya yang hanya berjarak sekitar 2 meter dari titik Ahna berdiri. Disamping pria itu ada penjaga yang tadi menuntun Ahna ke taman itu, kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Kyuhyun melemparkan senyuman padanya, membuat gadis itu terdiam dalam tatapan kosong pada pria itu karena sempat kehilangan fokusnya dalam beberapa detik.

Ahna terus berjalan mendekati pria dihadapannya. Ahna sudah berada tepat di depan pria itu dalam jarak beberapa cm. Gadis itu sampai harus mendongak agar bisa menatap wajah Kyuhyun dengan jarak dekat.

“Kyuhyun-ah?” panggil Ahna, memastikan apa yang dilihatnya.

Kyuhyun hanya mengangguk. Pria itu tersenyum. Senyumnya sederhana tapi memikat. Ahna mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya. Ini Cho Kyuhyun. Ahna menyadari kalau pria itu memang sangat tampan, dia menyadari itu sudah sejak lama. Tapi kali ini beda. Cho Kyuhyun… Kenapa kau bisa sangat… semenarik ini? Aish, aku bisa gila! ucapnya dalam hati.

“Ahna-ya?” ucap Kyuhyun sambil melambaikan tangan di depan mata Ahna. Ahna mendesah.

“Kau ini kenapa? Apa ada yang salah dengan penampilanku? Kau tidak suka?”

“Bukan, bukan itu maksudku. Hanya saja awalnya, aku kira tadi itu bukan kau. Tapi ternyata ini memang benar kau. Ayo, kapan kita akan memulai acaranya?”

Kyuhyun terkekeh. “Kau ini tidak sabaran atau bermaksud mengalihkan pembicaraan? Apa aku semenarik itu di matamu sampai kau tak menyadari kalau yang ada dihadapanmu ini adalah kekasihmu, hm?”

“Tadinya aku ingin memarahimu kenapa kau memilih pakaian ini, tapi berhubung kau sepertinya sumringah sekali, jadi aku mengurungkan niatku. Jujur saja penampilanmu malam ini cukup menarik dan tak perlu kuberi tahu tentang ketampananmu itu, kan? Hanya itu saja.”

Jawaban gadis itu membuat Kyuhyun senyum-senyum sendiri.

“Memang semenarik itu, ya, penampilanku saat ini? Padahal aku hanya butuh jawaban ‘aku suka’ atau ‘aku tidak suka’, tapi ya sudahlah mungkin itu akibat dari bentuk pesonaku padamu.”

Ahna membulatkan matanya. Bingung tak bisa berkata lagi untuk membalas godaan Kyuhyun.

“Tapi malam ini, jujur saja, aku terpesona sekali padamu. Gaun ini telah membuat tubuhmu sangat berkilauan di mataku.”

Kata-kata Kyuhyun membuat gadis itu terdiam dengan bibir yang sedikit terbuka dan mata yang masih menatap dua mata pria itu. Padahal di dalam hatinya dia melonjak gembira.

Dibawah sorotan lampu, Kyuhyun tanpa sungkan mengungkapkan keindahan yang ada dihadapannya, yaitu gadis ini. Gaun ini membalut tubuh Ahna dengan sempurna. Menghiasi tubuhnya dengan kilauan manik-maniknya dan memancarkan paras kecantikan gadis itu. Sebenarnya Kyuhyun juga sempat kehilangan kesadaran dirinya ketika melihat Ahna memakai gaun pilihannya itu. Tapi itu hanya sepersekian detik terjadi pada Kyuhyun yang kemudian langsung mengumpulkan fokus untuk tetap memberikan senyum sambutan pada gadis itu.

“Mau sampai kapan kau terdiam seperti ini?” Kyuhyun terkekeh lagi melihat ekspresi Ahna yang begitu sangat menarik matanya dan hasratnya.

Ahna tertegun dan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya untuk memulihkan kesadaran jiwanya. Gadis itu sedikit menyesali, kenapa ekspresinya selalu terlihat bodoh ketika pria itu mengatakan hal yang membuat jantungnya seperti ingin melompat keluar. Kyuhyun menarik tangan Ahna lembut kemudian menepuk-nepuk kursi panjang yang dia duduki, mengisyaratkan supaya Ahna duduk disampingnya.

“Kau tahu alunan musik yang tadi aku mainkan saat kau masuk ke taman ini?”

“Mm, ya, memangnya kenapa?”

“Bantu aku untuk menyanyikannya.”

“Kau mengejekku? Suaraku jelek untuk menyanyikan lagu itu.”

“Aku tidak menerima penolakan, kau tahu?”

Ahna menggeleng.

“Ayolah.” bujuk Kyuhyun.

Gadis itu menggeleng lagi. Kemudian Kyuhyun mencondongkan badannya, membuat wajah Kyuhyun hanya berjarak beberapa cm dari wajah Ahna. Ahna menggigit bibir bawahnya. Bersiap-siap untuk sesuatu yang tidak terduga. Dan benar saja karena kemudian tatapan Kyuhyun berpindah ke bibir Ahna. Jantungnya berdegup kencang. Apa yang mau kau lakukan, Kyuhyun-ssi? Tanya Ahna dalam hati.

“Ya, ya! Baiklah.” ucap  Ahna, pada akhirnya gadis itu menyerah.

Pria itu tersenyum puas. Tatapannya berhasil membuat gadis itu takut atau lebih tepatnya menyerah.

“Aku harus memulai dari nada apa?”

Tanpa menjawab pertanyaan Ahna, Kyuhyun langsung mengawalinya. Dimulai dari intro. Alunan musiknya lagi-lagi membuat Ahna terhanyut hingga mata Ahna terpejam untuk bisa benar-benar menikmatinya. Suara Kyuhyun memulai awal dari lagu kemudian Ahna mengikutinya.

Close your eyes

Give me your hand, darling

Do you feel my heart beating?

Do you understand?

Do you feel the same?

Am I only dreaming?

Is this burning an eternal flame?

I believe it’s meant to be, darling

I watch when you’re sleeping

You belong to me

Do you feel the same?

Am I only dreaming?

Or is this burning an eternal flame?

Say my name, sun shines through the rain

A whole life so lonely

And then you come to ease the pain

I don’t want to lose this feeling

 

Is this burning an eternal flame?

An eternal flame?

 

Kyuhyun mengakhiri lagunya. Dia menatap Ahna yang duduk disampingnya, gadis itu masih memejamkan matanya ketika Kyuhyun menatap wajahnya. Mungkin gadis itu terlalu menghayati lagu yang tadi mereka nyanyikan. Diam-diam Kyuhyun terus berkata dan memuji penampilan gadis itu.

Gaun itu tidak menutupi kedua pundak Ahna, membiarkannya terlihat begitu saja. Tidak hanya itu saja, lehernya juga semakin sangat terlihat menggairahkan. Panjang gaun itu hanya sampai dibawah lutut, memamerkan kakinya yang indah. Kyuhyun bisa saja lepas kendali mengingat banyak bagian tubuh Ahna yang tidak ditutupi, hanya saja dia ingin menikmati malam ini dengan hikmat bersama Ahna. Kyuhyun ingin sesuatu yang berbeda dari yang biasa mereka lakukan.

Ahna membuka matanya perlahan ketika menyadari piano dihadapannya telah berhenti mengalunkan nada. Dia menangkap mata Kyuhyun yang sedang memandangnya.

“Apa kita sudah selesai? Hanya ini saja?” tanya Ahna yang tanpa sadar mengangkat kedua alisnya.

“Memangnya kau mau apa lagi, hm?”

“Bukan, maksudku..disini..kita hanya..bernyanyi saja? Tidak ada…yang lain?” tanya Ahna

terbata-bata.

“Kau mau yang lainnya?”

Ahna mengerutkan dahinya, mulutnya sedikit terbuka. Matanya masih menatap Kyuhyun heran. Ini yang Kyuhyun suka, membuat gadis itu penasaran dan kebingungan.

“Sini kau.” ajak Kyuhyun sambil meraih tangan Hye-Na membawanya menyusuri jalan setapak yang tadi Ahna lewati.

Pria itu menarik Ahna. Gadis itu masih menebak-nebak apa yang dilakukan Kyuhyun.

“Disini.” ucapnya dengan senyuman.

“Untuk apa disini?”

“Berdansa denganku.” jawab Kyuhyun yang sudah mengulurkan tangan kanannya.

Lagi-lagi kedua alisnya terangkat, raut wajah Ahna sedikit terkejut. Kyuhyun tidak meminta persetujuannya dulu. Tanpa pikir panjang, Ahna langsung menyambut uluran tangan Kyuhyun. Secara tersirat Ahna menerima ajakan Kyuhyun. Namun sedetik kemudian Ahna baru sadar bahwa dia tidak pandai berdansa. Ahna mendengus. Dia pikir dia telat untuk menyadari dan menolak ajakan Kyuhyun. Tapi setelah Ahna pikir lagi hal itu tidak menjadi masalah besar untuknya mengingat hari ini adalah hari ulang tahunnya.

“Kau kenapa?” tanya Kyuhyun ketika mendengar gadis itu mendengus. Ahna mendongak. Kini mereka sedang berdiri berhadapan. Tubuh mereka tidak berjarak.

“Aku tidak pandai berdansa.” Ahna mengaku.

“Aku tahu itu. Lalu kenapa?”

“Yaa itu akan menjadi masalah untukmu. Bagaimana kalau tiba-tiba aku terjatuh dan menyusahkanmu?”

“Kau pikir aku tidak memperkirakan ini?”

Ahna terdiam. Menunggu Kyuhyun menjelaskan maksud ucapannya.

“Aku sudah menemukan cara mengatasinya.”

“Caranya?”

“Injak kedua kakiku dan jangan banyak bertanya.” perintah Kyuhyun.

Ahna menurutinya. “Katakan padaku kalau kakimu sudah sangat terasa sakit, Kyuhyun-ah.” ujar Ahna. Raut wajahnya menunjukkan bahwa gadis itu khawatir dengan kaki Kyuhyun yang dia injak.

Jari-jari tangan mereka saling bertautan, mengisi selah jari masing-masing. Tangan mereka yang satu saling menggenggam dan satu lagi saling memegang bagian belakang tubuh, Kyuhyun memegang bagian tengah punggung Ahna, sedangkan Ahna memegang leher Kyuhyun. yang kemudian membuat jarak diantara mereka semakin lekat.

Musik pengiring menyala otomatis. Gerakan mereka lambat. Tapi mereka menikmatinya. Mata mereka saling bertukar pandang. Memandangi satu sama lain sampai Ahna memilih untuk menundukkan kepalanya agar semburat merah di pipinya tidak terlihat oleh Kyuhyun.

Di tengah alunan musik, gadis itu memanggil namanya tapi kemudian tidak ada kata apa-apa yang terlontar dari bibirnya.

“Hm?”

Ahna mengangkat kepalanya agar bisa menatap wajah Kyuhyun. “Saengil chukhahae.”

Kedua ujung bibirnya tertarik hingga membentuk lengkungan senyuman mempesona. “Gomawo-yo, Ahna-ya.”

Lagi-lagi untuk kesekian kalinya gadis itu terjerat. Jantungnya berdegup, mendesak untuk keluar dari tubuhnya saking hebat degupannya.

Gerakan mereka kian melambat seiring semakin dalam tatapan mereka hingga gerakan badan mereka berhenti. Kyuhyun memiringkan kepalanya dan semakin menundukannya. Ahna terdiam. Tidak. Gadis itu beku di tempat seolah membiarkan wajahnya semakin dekat dengan wajah Kyuhyun. Ahna ingin berteriak tapi dia tidak mampu dan lagi-lagi karena pria itu. Apalagi detik ini Ahna semakin tak berdaya ketika bibirnya dengan bibirnya sudah bersentuhan. Mata mereka terpejam. Kedua telapak tangan Kyuhyun menelungkup kepala Ahna. Bibir mereka hanya menempel namun ini hanya terjadi beberapa detik saja karena kemudian bibir Kyuhyun bergerak perlahan tapi pasti dan membuat Ahna terhanyut. Lagi-lagi dia membiarkan permainan pria itu. Mungkin saat ini setengah nyawa Ahna sudah melayang terbang meninggalkan raganya. Tiap detik semakin liar namun tidak sampai membuat Ahna lemas. Hanya kehabisan napas.

Kyuhyun memundurkan kepalanya. Melepaskan bibirnya yang menempel dipermukaan bibir Ahna. Membiarkan gadis itu menghirup oksigen. Hening. Yang ada alunan musik saja. Kyuhyun dan Ahna sama-sama terkejut dalam hatinya. Tak lama gadis itu memanggil namanya.

“Hm?” sahut Kyuhyun. Dia menunggu kata-kata itu. Kata-kata yang membuat hatinya melompat-lompat kegirangan. Yang membuat seakan dialah pria terbahagia di dunia ini. Dan itu semua karena gadis ini. Hanya gadis ini.

“Saengil Chukhahae-yo.”

“Kau sudah mengucapkannya tadi.”

“Maaf karena aku tidak bisa memberimu kado yang bagus seperti sepasang kekasih pada umumnya.” ujar Ahna, suaranya serak.

“Itu sama sekali bukan masalah bagiku. Karena kaulah kado terindah yang diciptakan Tuhan untukku. Gomawo.” Kyuhyun mengangkat dagu Ahna.

“Untuk apa?”

“Karena telah menjadi salah satu bagian hidupku.”

Ahna tersenyum hampir membentuk garis tipis. Matanya berbinar. “Saranghae” ujarnya cepat.

Kyuhyun tidak menyangka akhirnya yang ia tunggu, keluar juga dari bibir Ahna walaupun gadis itu mengucapkannya dengan cepat, tetapi Kyuhyun merekam dengan jelas suara Ahna yang terkesan malu-malu. Kyuhyun tahu gadis itu sudah berupaya menyingkirkan gengsinya dan mengumpulkan keberaniannya untuk mengucapkannya. Lain kali, bisakah kau ucapkan dengan lebih pelan lagi agar aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas, Ahna-ya. Kata Kyuhyun dalam hati. Pria itu tidak henti-hentinya tersenyum.

Kyuhyun terkekeh pelan.

“Kenapa?” tanya Ahna heran.

“Tidak. Justru itu yang kutunggu-tunggu, Ahna-ya. Gomawo.” ucapnya lagi. “dan aku tahu itu.”

“Kau ini, jangan ucapkan ‘gomawo’ terus menerus.” protes Ahna.

“Ternyata musiknya sudah berakhir.” seru Ahna, suaranya memecah kesunyian.

“Hm, tidak terasa.”

“Kau tahu berapa lama durasi musik dansa yang tadi dimainkan?”

“Mungkin sekitar 1 jam.”

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Kalau begitu lebih baik aku menolak ajakanmu daripada kakimu gepeng karena kuinjak selama itu.”

“Untuk badan yang tinggi dan bobotnya sepertimu itu tidak mungkin berat bagiku. Kau lupa?”

Sebenarnya Ahna mengingatnya, tidak mungkin gadis itu lupa.

Cho Kyuhyun.

Kadang gadis itu tidak habis pikir dengan apa yang ada dipikiran pria itu.

“Oh ya, pasti kau lapar.” kata Kyuhyun kemudian meraih tangan Ahna dan membawa gadis itu ke sebuah meja yang hanya tersedia dua kursi disisi meja itu. Diatas meja itu juga tersedia ‘paket’ makanan disertai tiga batang lilin ditengah meja dan memang sudah dikemas khusus.

Melihat itu, Ahna tidak perlu bertanya siapa yang telah menyiapkan dua paket makanan itu karena gadis itu tahu persis bahwa Kyuhyunlah ‘dalang’ dari semua ini.

Pria itu melepaskan genggaman jemari tangannya yang melingkar dipergelangan tangan Ahna dan mempersilakan gadis itu untuk duduk dikursi, membuat gadis itu semakin yakin kalau pria yang ada dihadapannya ini telah memperlakukan dirinya layaknya seorang ratu.

Kyuhyun duduk dikursinya.“Terima kasih.” ucap Kyuhyun sembari membungkukkan badannya pada seorang pelayan wanita yang telah menyediakan makan malam.

Walaupun mungkin hanya untuk satu malam, sampai detik ini pun presentase rasa senang dalam diri Ahna terus bertambah karena pria itu.

“Selamat makan.” kata Kyuhyun, kemudian meraih sendok dan garpunya untuk memulai makan.

“Ahna-ya..” Kyuhyun menggantung kalimatnya, menunggu sahutan dari Ahna. “Hm?”

“Apa kau senang malam ini?”

Pertanyaan Kyuhyun membuat tenggorokan Ahna tercekat. “Apa maksudmu?”

“Iya, apa yang kau rasa malam ini? Apa kau senang?”

“Mengapa kau bertanya seperti itu?”

“Tidak, aku hanya ingin memastikannya langsung dari bibirmu apakah aku berhasil membuatmu merasa jadi yang paling bahagia walaupun hanya satu malam atau tidak. Jawablah pertanyaanku dengan jujur, kesampingkan dulu gengsimu itu, Ahna-ya.”

Ahna terdiam sejenak, matanya masih menatap mata Kyuhyun. Gadis itu memilih-milih kata yang tepat sambil mengunyah makanan yang masih ada dimulutnya.

Ahna menghela nafas sambil tersenyum.

“Kau tahu sebelumnya aku jarang sekali memakai gaun sangat indah seperti sekarang ini kecuali jika keadaan benar-benar memaksaku. Tapi untuk sekarang ini aku memakainya, tanpa sadar aku menuruti kemauanmu yang tidak mengizinkanku untuk menolaknya. Awalnya aku mengutuk diriku sendiri tapi kemudian aku sadar bahwa aku melakukannya sama sekali tanpa paksaan, aku rela kalau harus melakukan hal yang paling tidak aku suka karena itu untukmu. Semua yang telah kau siapkan ini membuatku tidak menyesalinya sedikitpun. Aku malahan takut jika aku tidak bisa membuatmu terpesona padaku sesuai janjiku tadi siang. ” jelas Ahna. “untuk persembahan yang kau berikan malam ini membuatku merasa diperlakukan layaknya seorang ratu. Gomawo, Kyuhyun-ah.” lanjut Ahna.

Kyuhyun terdiam. Memang, yang Kyuhyun inginkan adalah kejujuran gadis itu, tapi terkadang penuturan Ahna membuat Kyuhyun tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Tidak diragukan lagi, gadis itu memang mengatakan yang sebenarnya. Rasanya Kyuhyun sudah tidak sanggup lagi menahan rasa bahagianya yang sepertinya sebentar lagi mau meledak.

“Apakah ini sudah menjadi malam yang paling membahagiakan dihari ulang tahunmu?”

“Mm.” Kyuhyun mengangguk, bermaksud meng’iya’kan pertanyan Ahna.

“Kau yakin?”

Gadis ini tidak tahu  ̶  ̶ tepatnya belum tahu  ̶  ̶ betapa bahagia dirinya malam ini. Kyuhyun menganggap hari ini adalah hari ulang tahun terindah sepanjang hidupnya karena ia bisa menghabiskan waktu satu hari hanya bersama gadis ini. “Ya, Yoo Ahna, habiskan dulu makananmu.”

“Kenapa harus terburu-buru? Kita baru saja memulai makan malamnya.”

Kyuhyun meletakkan sendok dan garpunya kemudian tersenyum simpul. “Karena setelah ini aku ingin meminta kesediaanmu sebagai Nyonya Cho, Ahna-ya.”

̶  ̶FIN  ̶  ̶

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close