Piano

Gadis itu menaikkan laju mobilnya. Seperti tidak sabar untuk segera tiba di tempat itu. Pikirannya sudah melayang terbang kembali ke masa lalu. Genggaman tangannya ke stir mobil semakin kencang ketika mobil sudah mulai memasuki wilayah tempat tujuannya. Butuh waktu kurang lebih setengah jam dari rumahnya untuk ke tempat itu.

            Mobil berdecit ketika gadis itu menginjak rem kaki mobil. Dia turun dari mobilnya dengan setelan dress merah marun dengan motif bunga-bunga disertai manik-manik. Gayanya manis dan kelihatan natural.           

Dengan kacamata hitam yang ia kenakan, dia berjalan menuju ke sebuah ruangan. Dia sampai di depan sebuah pintu, menatapnya sekilas kemudian mengetuknya.

            Tak lama, wanita paruh baya keluar dari ruangan. “Mencari siapa? Ada yang bisa dibantu?” tanya wanita itu.

            “Saya Joana. Ya, saya hanya sedang ingin menghampiri beberapa tempat disekolah ini.” jawabnya sambil tersenyum.

 

***

 

Gadis itu membuka tasnya, mencari buku tugasnya namun dia tak juga menemukannya padahal dia yakin kalau dia telah memasukkannya dan membawanya ke sekolah. Gadis itu masih berkutat dengan buku-bukunya dan membuat guru Matematikanya menunggu.

“Joana, kau tidak membawa buku tugasmu?”

“Tunggu sebentar, Pak. Saya sedang mencarinya.” Gadis itumengulang kata-katanya.

“Hentikan! Karena kau tidak membawa buku tugasmu, kau harus belajar diluar sebagai hukumannya.” perintah pria paruh baya itu.

Joana menurut saja. Dia melangkah keluar melewati ambang pintu kelasnya dengan kepala yang tertunduk malu.

“Ada lagi yang tidak membawa buku tugas atau tidak mengerjakan tugas?”

 

Joana duduk di lantai depan kelasnya. Bibirnya mengerucut. Menatap kosong apa yang ada dihapannya. Tiba-tiba suara lelaki mengagetkannya. Lelaki itu duduk disebelahnya dengan senyum mengembang. Hampir tidak ada jarak di antara mereka.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku di hukum Pak Joseph. Aku lupa membawa buku tugasku.” tuturnya sambil membenarkan posisi duduknya. Jo mengangguk mengerti.

“Siapa namamu?”

“Joana.”

“Joana? Baiklah, aku akan memanggilmu Jo.”

“Jo?” tanya gadis itu, nada suaranya terdengar tinggi. Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum lagi.

“Biasanya orang-orang memanggilku dengan sebutan ‘Ana’ bukan ‘Jo’. Kenapa kau bisa memutuskan untuk memanggilku ‘Jo’?” tanya Joana heran.

“Karena menurut penglihatanku, kau ini tipe gadis tomboy. Jadi, panggilan ‘Jo’ lebih tepat untukmu.”  jawab lelaki itu sambil memerlihatkan deretan giginya.

Joana mendesah. “Baiklah. Terserah apa katamu.”

Semuanya mengalir begitu saja. Waktu hukuman yang sangat lama terasa berlalu dengan singkat. Banyak yang mereka bicarakan. Selera mereka pun tak jauh beda dan pikiran mereka juga 80% sejalan. Yang jelas hari itu, Joana tahu bahwa nama lelaki itu adalah Arthur Maugham.

 

***

 

“Sebuah tempat?” tanya wanita paruh baya itu. Dia seorang tukang bersih yang bekerja di sekolah itu.

“Ya, antarkan saya menuju sebuah tempat. Saya sudah sedikit lupa denah sekolah ini.”

“Memangnya Kau mau kemana, nona?”

“Ke kelas XIA4.”

“Baiklah. Ikuti saya.” ajak wanita itu.

 

“Kau ini siapa, nona? Dan kenapa datang ke sekolah ini ketika hari libur?”

“Saya hanya tidak ingin bertemu dengan banyak orang.” jawab Joana, tersenyum lagi.

“Itu dia kelasnya.” sahut wanita itu sambil mengacungkan telunjuknya ke arah kelas itu.

Tiba-tiba kedua bola mata Joana berair. “Dulu di kelas ini aku menghabiskan banyak waktu bersamanya. Aku dihukum karena tidak membawa buku tugasku. Ah tapi itu sudah cukup lama.” kata Joana sambil menghapus air matanya. “aku menyesal sudah memarahinya hanya karena sebuah salah paham kecil. Maklum waktu itu aku masih berusia enam belas tahun. Sekarang aku penasaran, bagaimana wajahnya? Apakah dia masih setampan dulu?” Joana tertawa kecil.

Wanita paruh baya itu mengangguk mengerti. “Siapakah dia hingga membuatmu terus mengingatnya? Apakah dia penting, nona?”

Joana menyeka air matanya. “Aku juga bingung. Aku nyaman bersamanya sampai suatu hari kesalahpahaman itu terjadi. Aku suka bermain piano bersama dia. Ketika itu turts pianonya ada yang hilang dan aku menyalahkan dia. Ketika itu kita bertengkar. Tidak saling bicara. Dan aku menyesal karena bulan selanjutnya dia mau pindah dari sekolah itu. Tapi yang pasti sekarang aku merindukannya.” Karena dia cinta pertamaku. Joana berkata dalam hati.

Melihat kelas itu dan koridor depan kelas itu membuat memori dalam otaknya berjalan mundur, memutar kenangan dulu.

“Baik, sudah cukup. Aku harus pulang kembali ke rumah. Terima kasih, bu, karena telah mau menemaniku ke kelas ini bertemu dengan bayangan teman lamaku.” Joana melangkah pergi. Air mata sudah membanjiri pipinya. Dia meninggalkan wanita paruh baya itu. “Hati-hati di jalan, nona!”

 

Joana baru mau menaiki mobilnya ketika seorang lelaki muncul disisi mobilnya yang lain. “Arthur?” sahut Joana, dia tak menyangka.

“Rupanya kau masih ingat hari ini, bukan?” kata Arthur, wajahnya berseri.

“Tentu saja. Hari dimana kau menyatakan perasaanmu padaku. Maaf karena sampai sekarang aku belum bisa menjawabnya. Tapi sekarang, aku tidak akan menolaknya. Aku sangat menyesal karena telah salah paham padamu ketika dulu.” Joana tersenyum, lagi-lagi air matanya menetes. “Nona cantik, maukah kau menemaniku untuk minum teh?”

Kemudian mereka pergi bersama setelah sekian lama tak bertemu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close