Ferai or Reden?

Ferza memasukkan dua pasang pakaiannya ke dalam tas, menarik resleting tasnya. Baru sampai beberapa langkah dari pintu kamarnya, Zore memanggilnya.

“Kau mau pergi kemana?” tanyanya. Ferza menoleh ke belakang.

“Aku mau pergi ke sekolah untuk latihan basket. Titip salamku pada ibu jika dia sudah pulang, mengerti? Aku pergi dulu.” Ferza kembali menatap ke depan, melangkah menjauhi tempat Zore berdiri dengan tangan kanan yang masih menggenggam es jeruknya. Zore menghela nafasnya, dia sudah terbiasa dengan kegiatan-kegiatan Ferza itu.

 

 

“Teman-teman!” teriak Ferza dari kejauhan sambil melambaikan tangan. Mempercepat langkah kakinya. “Maaf aku terlambat.” katanya.

“Ya sudah, cepat ganti bajumu. Kita latihan 5 menit lagi.” perintah si kapten, Mora. Ferza berlari menuju ruang ganti dan kembali dalam waktu kurang dari 5 menit. Kemudian mereka mulai latihan untuk persiapan tanding mereka melawan sekolah lain di Piala Chammond tingkat Provinsi.

 

 

 

Gadis itu terus menekan remote TV-nya, mengganti channelnya tapi tak juga menemukan channel yang berisi acara TV yang mengundang moodnya. Dia mendesah.

“Re. Zore.” suara seorang wanita memanggilnya. Zore mencari sumber suara itu dan menemukan sesosok wanita dengan wajah sedikit pucat dan seragam ala orang kantoran yang sedikit berantakan ada diambang pintu ruang tamu. “Ibu, kau pulang. Aku tak mengiranya.” tanyanya heran.

“Aku sedang tidak enak badan, Re.” tuturnya, suaranya serak.

“Oh, begitu. Sini, bu, biar aku yang melepaskan sepatumu. Kau pasti sangat lelah. Wajahmu pucat.” kata Zore seraya berjongkok. Ibu hanya menarik nafas panjang sampai bisa terdengar. Lalu hening.

“Dimana Ferza?”

“Hm? Oh, dia sedang latihan basket untuk bertanding mendapatkan Piala Chammond tingkat Provinsi.” jelas Zore. “Sudah ku duga. Baiklah, tolong belikan aku makanan di perempatan sana. Aku lapar.” kata ibu sambil memegangi perutnya. Wajahnya memelas. Zero mengangguk, kemudian pergi.

Di persimpangan jalan, mudah bagi Zore untuk menemukan penjualnya karena hanya ada satu yang menjual makanan di persimpangan itu. Zore menghampiri seorang pria yang sibuk melayani pedagangnya. Cukup ramai. Mungkin makanannya memang enak. Mungkin.

Kemudian tiba giliran Zore memesan. “Tolong, dua bungkus nasi goreng special. Keduanya pedas.” kata Zore yang berdiri disebelah kiri penjualnya. Zore tidak menyadari kalau disebelah kirinya ada seseorang. Zore menginjak kaki kanannya, membuatnya sedikit teriak. Zore menoleh, matanya membulat ketika mendapati seorang pria, sepertinya seumuran dengannya, merintih kesakitan karena perbuatannya.

“Ya ampun! Maaf. Maaf, saya tidak tahu kalau ada orang disamping saya.” ucap Zore, wajahnya panik.

“Baiklah. Tidak apa-apa.” katanya, ujung bibir pria itu tertarik membuat guratan senyum di wajahnya. Untuk sepersekian detik Zore kehilangan akal.

“Permisi. Ini pesananmu. Totalnya Rp 21.000,-.” kata penjual itu, sambil mengulurkan plastik hitam berisikan makanan, sepertinya penjual itu melihat kejadian antara mereka berdua. Mata Zore mengerjap-ngerjap. “Oh, ini. Terima kasih.” Zore meninggalkan tempat itu. Mempercepat langkahnya dan meninggalkan rasa malunya. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku menginjak kakinya dan aku terpesona padanya? Oh, ayolah! Gumamnya.

 

Dia merogoh tasnya, mengambil sapu tangannya kemudian menyeka keringat dibagian wajahnya saja walaupun sebenarnya keringat mengucur deras hampir di seluruh tubuhnya. Ferza meneguk 1 liter air dingin itu dalam beberapa detik. Tenggorokannya terasa sangat kering.

“Kerja bagus, teman-teman! Besok kita pulihkan tenaga kita untuk menghadapi hari lusa, mengerti?”

“Baik!” jawab anak-anak basket itu serentak, kecuali Ferza yang sedang meneguk air dingin. “Oh, ya, mohon perhatiannya sejenak.” perintah Mora, si kapten basket.

“Saat ini kita kedatangan anggota yang baru bergabung beberapa hari yang lalu dengan tim basket pria tapi aku baru memberitahu kalian hari ini. Dia akan ikut bergabung juga di Piala Chammond. Ayo, masuklah.”

Pria itu melangkah masuk sambil menenteng sebuah plastik berisi makanan yang baru ia beli. Senyum di wajahnya menyeruak, “Hallo, nama saya Aiden. Saya belum lama ikut tim basket pria di sekolah ini, jadi mohon bantuannya.” ucapnya sopan, matanya berjalan menatap satu per satu pasang mata dihadapannya itu. Kurasa itu senyum terbaiknya, gumam Ferza. Benar, rupanya senyum itu bisa membuat gadis-gadis yang ada diruang latihan itu terpesona. Kehadiran pria itu mampu mengalihkan pandangan para gadis tertuju pada dia, tapi tidak bagi Ferza. Dia berbeda.

 

 

 

Zore dan Ferza sama-sama saling berkutat dengan buku-buku pelajaran mereka. Hening.

“Aish!” gerutu Zore sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Ferza melirik pada Zore. “Kau kenapa?”

“Bukan apa-apa. Aku hanya terpikirkan kejadian tadi siang di persimpangan jalan.”

“Memangnya ada apa?” tanya Ferza.

“Aku..tidak sengaja menginjak kaki seorang pria dan..membuatnya berteriak. Mungkin aku menginjak terlalu keras hingga membuat pria itu merintih kesakitan. Awalnya aku sangat ingin memarahinya karena jarak tubuhnya dan aku hampir tidak ada, tapi ketika aku menoleh, melihat wajahnya, aku terbungkam. Dia sangat tampan seperti pangeran khayalanku.” nada suaranya semakin pelan.

“Benarkah? Jadi, kau terpesona? Oh, ayolah, adikku ini juga mudah terpesona dengan pria yang belum dikenal sama sekali? Ya ampun.”

Mendengar itu, bibir Zore mengerucut. “Maklum, bukan? Memangnya kau tidak mengalaminya?”

“Hmm. Jarang. Bahkan mungkin hampir tidak pernah. Aku terlalu malas untuk memerhatikannya. Di tim basketku juga ada anak baru pindahan dari sekolah lain. Ketika dia memerkenalkan diri, semua mata teman-temanku hanya tertuju padanya dengan senyum merekah. Terlalu berlebihan menurutku.” dahi Ferza mengerut.

“Kau ini. Sudahlah lupakan saja. Kadang aku curiga, sebenarnya saudara kembarku ini perempuan atau laki-laki.” ledek Zore, kemudian sebuah pulpen mendarat di kepalanya. “Ah!!Ini sangat sakit, kau tahu?!”

 

 

 

Jam alarm Ferza berdering. Matanya masih terasa berat sekali untuk terbuka. Pandangannya masih buram, bola matanya memutar, mencari jam kecil yang terletak di atas meja kecil di sisi kasurnya. Matanya membulat, Ferza langsung lompat dari kasur membawa handuknya dan bergegas ke kamar mandi ketika dia ingat bahwa hari ini dia harus latihan basket. Ferza mandi secepat kilat.

“Hari ini hari Minggu, kau lupa? Apakah kau akan latihan lagi?” tanya Zore heran ketika melihat Ferza terburu-buru. Ferza mengangguk seraya mengikat tali sepatunya tanpa mendongakkan kepalanya.

“Apakah sepagi ini?”

“Aku sudah telat.”

“Hm, baiklah.” kata Zore sambil menyeruput susu coklatnya. Ferza bangkit dan berlari, “Aku pergi!” teriaknya pada Zore.

 

 

 

Ferza gelisah. Menebak-nebak pukul berapa sekarang karena saking terburu-burunya hingga dia lupa mengenakan jam tangannya. Dia tidak terpikirkan sedikit pun untuk membuka handphone-nya.

Ferza berlari menuju ruang basket ketika mobil yang ditumpanginya berhenti tepat di gerbang sekolah.

“Hallo, teman-te  ̶  ̶”

Kosong. Tidak ada siapa pun di ruangan itu. Ferza merogoh tasnya, meraih handphone-nya. Dia terkejut ketika membaca sms yang berisi “Latihan hari ini diundur jadi jam 10. Silakan gunakan waktu yang minim ini semaksimal mungkin untuk beristirahat, teman-temaaan!

Mora. Gumamnya.

“Kenapa aku begitu bodoh sekali?! Aaa!!” teriak Ferza sambil menginjak-injak bumi.

“Kau disini juga?” sahut seseorang diambang pintu ruangan itu. Aiden. Ferza tidak menjawab. Sementara Aiden berjalan mendekatinya.

“Aku mau latihan basket, tapi betapa bodohnya aku karena tidak membuka handphone-ku. Jadi, aku tidak tahu kalau ada pemberitahuan. Lagipula aku tidak mungkin kembali ke rumah, itu terlalu jauh.” paparnya. Bank! Persis sepertiku, gumamnya.

“Oh, ya, kau basket juga, benar bukan?” tanya Aiden. Ferza mengangguk.

“Apa kau mau kembali ke rumah?”

“Sepertinya tidak.”

“Bagus! Tunggu mereka disini bersamaku. Sekolah ini membuatku sedikit takut jika tidak ada murid-muridnya.”

Hening. “Hey, aku hampir lupa. Namamu siapa?”

“Ferza. Ferzaisli Choinnov.”  ̶  ̶  ̶

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close