Jam menunjukkan pukul 2 siang ketika aku tiba dirumah. Terlihat adikku yang sedang belajar dan yang satu lagi sedang bermain robot-robotan, mereka bernama Farras dan Naddif. Keduanya perempuan. Namun, adikku Naddif sedikit agak tomboy. Entahlah, kata ibuku perilakunya sepertiku.

“Assalamu’alaikuum.” ucapku memberikan salam dan kemudian bergegas masuk kamar.

“Deyo, makan dulu gih, ibu sudah memasak masakan yang kamu suka. Jangan sampai telat lagi makannya, kamu punya maag.” perintah ibuku menghentikan aku ketika hendak menutup pintu kamar. “Mm, tadi disekolah Deyo sudah makan, bu.” kataku.

“Oh yasudah.” katanya singkat.

Kututup pintu kamar, kemudian dengan sedikit terburu-buru aku mengganti baju. Aku jadi memikirkan apa yang tadi Pak Kiki katakan. Dia berkata kalau kita harus punya banyak mimpi, dimulai dari mimpi terkecil hingga mimpi terbesar dalam hidup kita. Dia juga berkata kalau semua orang pasti punya mimpi yang amat banyak, namun terhalang oleh hambatan yaitu keadaan. Menurutku, kita bisa merubah keadaan asalkan kita mau dan berkeyakinan. Pak Kiki sependapat sepertiku, dia juga menambahkan kalau mimpi kita terlalu banyak, tulislah saja dikertas agar kita selalu ingat mimpi itu. Dan satu lagi, jangan pernah merasa malu atau apapun itu karena itulah mimpimu. Biarkan saja bila orang lain mau menertawakan sepuas hatinya. Sampai suatu saat kita bisa menghentikan tawaannya itu dengan tindakan. Buktikan kita pasti bisa. Tanamkan selalu keyakinan, dan semua akan terwujud, bahkan tanpa kita sadari semuanya diluar planning dan target kita. Lalu, tempel disudut kamar kita yang mudah kita lihat ketika kita bangun tidur dan ketika kita memasuki kamar.

Itulah yang dikatakan Pak Kiki. Beliau guru TIK disekolahku. Entah kenapa mungkin kata-katanya sudah merasuki alam bawah sadarku sehingga aku langsung mengikuti apa yang dikatakannya. Aku merasa kalau apa yang dia katakan itu real! Ya, percaya atau tidak, aku langsung menulis impian-impianku. Tapi kali ini impian kecilku saja. Dan ini bisa termasuk targetku setelah SMP.

Kutulis semuanya tapi belum sampai ke mimpi besarku. Ini baru butiran-butiran mimpinya. Persis seperti yang dikatakan guruku, aku menempelkan pada dinding kamarku yang mudah dilihat dari sisi manapun. Aku tak mengerti, mengapa ketika aku menulisnya hatiku penuh dengan rasa suka cita. Seperti lega telah menuangkan mimpiku disecarik kertas ini.

Paginya ketika disekolah, aku masih memandangi langit dari jendela kelasku sambil memakan snack-ku. “Deyo, rencananya mau SMA mana nanti?” suara Putri mengagetkan lamunanku.

“Oh iya, mungkin, SMA 1.” jawabku. “Wah, kamu yakin? Bukan maksud meragukan, tapi hanya memastikan saja. Bagus kalau gitu.” komentarnya. “Iya yakin pasti, karena dari kelas 8 aku sudah berencana mau kesana. Dan ketika itu aku belum tau sama sekali berita mengenai SMA 1.” jelasku padanya. Ya, itu benar. Aku memang belum tau sama sekali berita tentang sekolah itu. Apalagi tau kalau sekolah itu sekolah unggulan dan favorit.

“Oh ya? Aku bahkan belum ada rencana sama sekali mau ke SMA mana ketika itu. Bagus deh, berarti sudah mempersiapkan mental dari awal ya?” tanyanya sekali lagi. “Ya begitulah.” jawabku singkat.

Bel berdering tanda jam sekolah telah usai. Aku segera menghampiri ibuku yang telah menjemputku dihalaman sekolah. Diperjalanan aku masih terpikirkan kata-kata yang diucapkan Putri tadi pagi. Dia sempat menyinggung tentang mental. Memangnya ada hubungan apa mental dengan sekolah itu? Kurasa semua sekolah sama. Hanya bagaimana muridnya saja. Sekolah itu bagus dan unggul memang karena muridnya. Banyak hal negatif tentang sekolah itu dan begitu pula hal positifnya. Tapi aku cenderung tidak menghiraukan kedua hal tersebut. Yang jelas keyakinan hatiku yaitu bersekolah disekolah itu.

Usai menunaikan shalatku, aku mengisi buku absen kelas. Ini tugasku sebagai sekretaris kelas. Aku menyiapkan buku-buku dan segala keperluan sekolahku untuk besok, kemudian setelah itu aku pergi tidur.

“Pak, pak! Tunggu, pak! Jangan ditutup dulu gerbangnya!” kataku setengah berteriak pada satpam disekolahku, SMPN 1 Karawang Barat. “Hah, kamu ini kebiasaan dateng siang! Ayo, cepet lari!” perintah Pak Lili. Ku percepat langkahku, sedikit berlari untuk melewati gerbang itu dan sampai dikelas. Akhirnya aku sampai dikelas walaupun dengan nafas terengah-engah.

“Ah, Deyo. Lagi-lagi kamu hampir terlambat. Aku tidak heran kalau kamu seperti ini, karena ini hampir setiap hari. Dari dulu kamu memang tidak pernah berubah, ya.” komentar Rina. Suaranya saja sudah membuatku malas mendengar dan menanggapinya. Aku baru sampai kelas dia malah berkomentar seperti itu.

“Iya, karena aku diantar bapakku. Bapakku harus mengantar adik-adikku dulu. Baru setelah itu aku. Jadinya aku terakhir.”

“Kamu sudah pernah mengatakan itu. Lagipula rumahmu kan jauh dari sekolah. Jadi aku tidak heran kalau kamu hampir terlambat terus.” kata Astri menambahkan. Aku tersenyum meski kupaksakan. Bagaimana pun mereka teman-temanku. Mereka berkomentar itu bagus, daripada tidak. Berarti aku tidak diperhatikan, itu menurutku.

“Nanti les kan? Jangan sampai lupa.” Syifa mengingatkan aku dan yang lain. Kita semua mengangguk, saling tersenyum.

Anak-anak yang lain sudah pulang semua, tinggal aku sendiri menunggu ibu menjemputku. Tak lama, Pak Sukamto menghampirku. Dia wali kelasku sekaligus guru ditempat lesku.

“Belum dijemput toh, Ulfah?” tanyanya dengan logat Jawanya.

“Oh, belum, pak.” jawabku. “Oh. Ulfah, nanti nek ke SMA sing ndi?” tanya Pak Sukamto.

“SMA 1, pak. Do’ain yo pak semoga iso masuk.” pintaku.

“Lah iyo toh pasti, Ul. Bapa do’akan semua.”

Sesaat hening. Lalu, suaraku memecah heningnya. Aku dan Pak Sukamto mengobrol tentang SMA, terutama SMA 1 targetku. Obrolan tak terasa sudah satu jam lebih dan berakhir ketika ibuku sampai untuk menjemputku. Ku berikan salam kemudian aku pulang bersama ibuku.

Sudah pertengahan semester 1. Aku harus mematangkan persiapanku untuk UAS. Sebagai kakak tertua disekolah, aku dan teman-teman seangkatanku harus siap dengan berbagai tugas yang diberikan. Saking sibuknya sampai aku hampir lupa dengan tanggal ulang tahunku sendiri. Mungkin memang aku saja yang terlalu memfokuskan diri. Aku baru ingat ketika Wirza, pacarku, menanyakan padaku hadiah apa yang aku mau dihari ulang tahunku. Itu pun 12 hari sebelum tanggalnya.

Kalau untuk hadiah seperti itu, sejujurnya aku tidak biasa menentukan. Aku suka kalau diberi kado, tapi kalau pun tidak, aku tidak sedih atau pun menyesal. Karena menurutku, pemberian itu bukanlah utamanya, tapi ketulusan do’a dari orang-orang yang mengenal dan menyayangikulah yang ku butuhkan di hari spesialku ini.

Dan hari itu pun tiba. Mungkin nanti akan ada banyak orang dan teman-temanku yang memberikan selamat padaku. Ah, pede sekali aku ini. Namun ketika aku sampai disekolah, tepatnya dikelasku, semuanya nampak seperti biasa saja. Kursi tempatku duduk pun yang biasanya ramai ditempati teman-temanku jadi kosong. Aku duduki kursiku, aku menoleh ke kerumunan teman-temanku yang sedang tertawa-tawa itu. Tapi tak ada satupun dari mereka yang menoleh kearahku. Padahal aku sengaja berangkat pagi. Ternyata tak ada yang ingat dan mengucapkan selamat. Apa mereka lupa? Pikirku.

Mataku masih berat, aku malas untuk pergi jajan ke kantin. Teman-temanku pergi ke kantin tanpa aku, lagipula aku masih mengantuk. Dikelas, aku hanya ditemani Avif. “Kamu tidak jajan?” tanyanya memulai percakapan.

“Oh, aku lagi malas saja untuk kesana. Mataku sedikit mengantuk.”

“Kurang tidur ya? Kemalaman sih tidurnya.” komentarnya, aku hanya tersenyum mengangguk padanya.

Tak lama, Fachry masuk ke kelas menghampiriku. Kemudian, BRAKK !! Dia membanting mejaku. Sontak aku kaget dibuatnya. “Fachry!! Kamu apa-apaan sih? Jangan banting meja gini, dong! Bikin ribut aja, ih!” bentakku padanya.

“Ya gimana nggak marah? Lo nulis nama gue disini ko alfa sih?! Nggak terima gue!!” bentaknya tidak kalah keras denganku. Kulihat buku absennya. Seingatku dia memang alfa karena tidak ada surat izinnya. “Yaiyalah alfa, kan nggak ada surat izinnya!!”

“Kan gue udah nitip sampein lewat Nadia!! Masih kurang, hah?!”

Kenapa dia jadi nyolot begini? Bukannya dia tau peraturan disekolah ini apa. “Iya kurang!! Pokoknya nggak ada surat, berarti nggak ada keterangan, ngerti?!” kataku ketus padanya.

“Ih, parah lo! Gue udah izin lewat Nadia! Berarti ada keterangannya, dong! Gimana sih?!! Sekretaris nggak becus!!!” bentaknya lebih lebih keras dan ketus sambil melempar buku absen itu ke depan wajahku. Jujur aku sakit hati dibilang seperti tadi. Itu kata-kata kasar yang pernah aku dengar dari temanku sendiri, sekelas pula. Aku terduduk lemas dikursiku. Masih ada Avif dibelakang kursiku yang sedari tadi melihatku ribut dengan Fachry. “Sudah Deyo, biarkan saja Fachry. Jangan dimasukin ke hati, ya. Memang dia sudah tidak waras.” kata Avif menenangkanku.

Aku hampir nangis ditempat. Apalagi teman-temanku tidak menghiraukanku. Aku sendiri saja dikelas, tidak banyak bicara sampai jam pulang sekolah tiba. Jessica memintaku menemaninya. Dia menarikku ke saung sekolah. Aku mulai curiga ketika dia memintaku melepaskan kerudung dan tasku. Kemudian, BAAASSHHRR!!!! Air membasahi seluruh tubuhku. Ternyata aku dikerjai teman-temanku. Mereka telah mempersiapkan semuanya dengan matang, sepertinya. Aku disiram air comberan, tepung, dan air keran. Tak lama seorang lelaki, Wirza, menghampiriku dan mengucapkan selamat sambil memberikan kue ulang tahun beserta lilin yang menyala. “Selamat Ulang tahun ya, manis. Ini ada kue Ulang tahun buat kamu dari aku sama temen-temen aku. Tiup lilin dulu, ya. Tapi sebelumnya berdo’a dulu.” Ucapnya sambil tersenyum padaku. Aku berdo’a, istilahnya make a wish, kemudian kutiup lilinnya. Aku diberi kado oleh Wirza dan adik kelasku, dia temannya Wirza. Dan aku pulang dengan keadaan konyol seperti ini.

TEEETT… TEEEEETT….!! Bel berbunyi, jam menujukkan pukul 07.55. Pukul 08.00 sudah dimulai ulangannya. Hari berjalan terus sampai UAS berakhir pada Hari Jum’at. Aku sudah berusaha untuk belajar dengan sungguh-sungguh meskipun ada beberapa yang tidak bisa kujawab, tapi aku sudah melakukan yang terbaik. Dan aku sangat berharap minimal nilaiku tidak buruk.

Ketika tiba waktunya pembagian raport, aku datang bersama bapak. Aku dan teman-teman didepan kelas, menunggu orang tua sendiri keluar dari ruangan. Aku mulai resah. Pikiranku takut dapat nilai buruk, tapi hatiku tetap yakin. Dan ketika bapak keluar kelas, aku melihatnya seperti sedang memerhatikan nilaiku. “Gimana, pak?” tanyaku penasaran. “Apanya, hah? Dapat ranking berapa kamu?” bapak malah balik bertanya.

“Ya tidak tau, pak. Kan bapak yang didalam.”

Kemudian bapak menjulurkan tangannya padaku. “Selamat. Kamu jadi bapak beliin laptop!” sahut bapak semangat disambut teriakkan teman-temanku juga. Mereka memberi selamat padaku atas keberhasilanku. Aku kaget, sekaligus senang juga.

“Waaah! Memang Deyo ranking berapa, pak?”

“DUAA! Haha” kata bapakku antusias. Aku terdiam sejenak ditempat, sulit dipercaya. Teman-temanku memberi selamat lagi. Tapi yang pasti aku senang sekali.

Semester 1 sudah terlewati dengan hasil yang benar-benar diluar perkiraanku selama ini. Dan sekarang aku harus menghadapi Semester 2. Minimal aku harus bertahan, dan kalau bisa aku harus lebih bagus dari sebelumnya.

Di semester 2 ini aku bisa dibilang sangat sibuk. Karena aku harus menghadapi Try Out 1 dan 2, kemudian UN, lalu UAS, dan terakhir tes buat ke SMA. Lebih baik aku tidak usah terlalu memaksakan diri untuk belajar terus. Kata Pak Sukamto, belajar itu dinikmati, jangan ada paksaan. Yang ada malah stress.

Hasil TO 1 nilaiku ada diperingkat 72 dari 672 siswa. Selang beberapa hari, hasil TO 2 menunjukkan nilaiku ada diperingkat 121 dari 672 siswa, dan nilaiku turun. Kecewa sebenarnya, tapi bersedih pun tak ada gunanya. Lebih baik aku harus mempersiapkan diri lebih matang lagi untuk Hari H-nya.

“Wo, kamu harus bisa dapet nilai bagus kalau mau lulus ke SMA 1. Ibu tidak memaksakanmu, tapi ibu hanya memberitahu bahwa di SMA 1 itu bukan main-main nilainya. Persaingannya itu berat, Wo.” kata ibu menasihatiku. Dia memanggil dengan sebutan Wo, itu panggilan anak dalam bahasa Jawa. “Iya bu, pasti! Tenang saja.” balasku singkat. “Hm, ya kamu jangan terlalu memaksakan. Di SMA 3 juga tidak masalah. Sekolah itu juga bagus ko agamanya.” sanggah ibu. Aku mengangguk mengerti.

“LJK-nya jangan sampai kotor, ya. Selamat mengerjakan.” kata pengawas memulai. Soal-soalnya sungguh bukan main banyaknya. Aku harus fokus ke pertanyaan, bukan ke jumlah soalnya. Oke, fokus!

Tak terasa ternyata waktu sudah habis. Aku harus mengumpulkannya. Bismillahirahmaanirahiim. Aku terus belajar dengan cukup dan tidur dengan cukup. Aku tidak boleh menjalankan SKS, karena itu tidak baik untuk kesehatan tubuh dan pikiran. Setiap malam aku selalu belajar dan kertas mimpi itu selalu bisa kulihat dan kubaca. Itu membuatku ingat akan targetku. Aku tidak pernah lupa untuk selalu meminta do’a kepada Allah dan restu dari kedua orang tuaku. Mereka adalah orang yang paling ku sayangi.

“Bagaimana ulanganmu? Lancar tidak?” tanya bapak.

“Iya alhamdulillah lancar, pak. Yaa meskipun ada yang tidak bisa kujawab.” jawabku sambil nyengir.

“Banyak tidak?” bapak bertanya lagi. “Hanya beberapa saja, tidak banyak, kok, pak.” kataku. “Ya semoga saja hasilnya bagus ya, tidak mengecewakan.” kata bapak berharap. “Amiinn.” Aku sambil tersenyum.

Aku masuki kelasku, menghampiri bapak yang sedang duduk melihat seksama nilai UN-ku. “Bagaimana toh, pak? Hasilnya bagus tidak?” aku bertanya-tanya. “Nih, kamu dapat urutan ke-5 terbesar dikelas, Yo.” jawab bapak. “Waah, bagus, tuh! Do’anya dikabulin, alhamdulillah.” aku antusias. Bapak juga ikut senang walaupun aku bukan urutan pertama. Terlihat sekali dari matanya.

Selang beberapa hari kemudian saat pembagian raport, aku ditemani bapak lagi. Bapak duduk bangku depan, sementara aku sedang sedikit takut didepan kelas dengan teman-temanku. Kebanyakan karena takut dapat nilai jelek. Lebih-lebih aku, aku takut kalau nilai bahkan rankingku turun drastis. Sangat berharap sekali jika aku naik satu peringkat jadi ranking 1. Tapi, masih banyak teman-temanku yang lebih pintar dariku, jadi itu menjadi terasa tidak mungkin. Tidak! Aku harus yakin!

Tiba saat bapak keluar dari kelasku. “Yo, ayo pulang.” ajak bapak. “Ranking Deyo berapa, pak?” semakin penasaran aku hingga ku gigit-gigit bibir bawahku. “Dapat 1, Yo. Selamat ya, Wo.” Ucap bapak sambil sambil tersenyum bangga dan merangkulku untuk pulang. Ya Allah, bukankah ini harapanku yang barusan aku ucapkan? It’s like a dream, right?

Singkatnya saja, setelah beberapa peristiwa menakjubkan terjadi diluar perkiraan dan anganku, lagi-lagi aku dikejutkan oleh waktu. Setelah dua minggu menjalani tes di SMA, aku dan calon-calon siswa yang mendaftar ke SMA itu harus mengecek sendiri hasilnya di internet dengan password yang telah diberikan. Aku tidak sendiri, aku ditemani teman-temanku dan Pak Sukamto juga. Satu persatu mulai menerima hasilnya. Tentunya ada yang diterima dan ada yang tidak. Tiba saatnya giliranku. “Deyo, mana sini kata sandinya.” pinta Sasi, teman sekelasku juga. Kuserahkan kertas kecil berisikan password itu pada Sasi. Enter, dan Loading.. Kemudian terlihat tulisan beserta namaku dan tulisan bercetak tebal “…DITERIMA untuk menjadi siswa/siswi di SMAN 1 Karawang! Waah, Congrats ya, Deyoo. Dih, hebat!” sahutnya antusias. “Mana coba lihat? Wah! Oh, yasudah.” kataku singkat.

“Dih amit si Deyo mah datar aja tanggepannya! Nggak ada reaksi seneng kek, jingkrak-jingkrak apa gimana gitu. Ini malah ‘Oh, yaudah.’ Singkat banget!” protes Sasi meniru perkataanku. “Hahaha. Si Deyo mah memang datar tanggepannya. Huh, pitampoleun da!” tambah Fitri. “Senanglah pasti! Ya memang harus gimana, dong? Teriak-teriak gitu?” “Ah, tau ah!” kata Sasi mulai jengkel.

Sebenarnya aku senang, senang bukan kepalang dan bahkan tak menyangka. Aku sampai tidak bisa banyak berkata apa-apa. Namun, aku hanya tak bisa menunjukkannya. Tepatnya, aku bingung.

Sepulang dari sekolah, aku kembali melihat kertas mimpiku itu. “Benar-benar terjadi ternyata. Subhanallah, aku tidak pernah menyangka. Alhamdulillah sekali banyak do’aku yang telah terwujud. Walaupun tidak semuanya. Terima kasih Ya Allah.” kataku dengan suara pelan. Oh iya, ini yang kutulis dikertas itu:

You can believe or not for all my dream! ♥

· Pengen dapet nilai bagus Ya Allah L

· Dari dulu nggak pernah dapet 5 besar, aku pengen masuk 5 besar.

· Semoga UN nanti nilainya nggak mengecewakan, deh. Amin.

· Pengen buat orang tua bangga, nggak marah-marah lagi.

· Lulus SMP pengen masuk Smansa Ya Allah, semoga bisa! (҂’̀⌣’́)9

· Punya keyboard sama gitar tapi nggak bisa maininnya, bantu aku supaya bisaa

· Hobi nulis sama ngarang-ngarang cerita. Pengen jadi penulis novel terkenal. (⌒˛⌒ʃƪ)

(dan masih banyak lagi..)

Percaya tidak percaya yang pasti this’s my amazing experience. Yang aku percaya yaitu, Allah memang selalu mendengar do’a. Do’a itu terkabul baik secara kasat mata dan telanjang mata. Orang tuaku, aku menyayangi mereka. Sungguh merupakan kebahagiaan bagiku bila mereka senang. All my love is for Allah and my family.

-end-

hallo! Alhamdulillah ya akhirnya bisa ngepost meskipun baru satu hehe. Untuk postingan pertama, aku memilih cerpenku. Cerpen ini aku buat ketika aku duduk dikelas X.6 dan berkisah tentang real story of Deyo *maksudnya itu aku*
Apa yang kalian rasakan setelah membaca ini? Hanya kalian yang tau 🙂
Pesen aku nih ya, memang kita itu selalu dirundung keraguan. Tapi jangan karena keraguan buat kita jadi takut utuk melangkah. Apa yang kamu sukai, minati, dan senangi bisa kamu wujudkan dengan cara kalian sendiri dan memang hanya kalian yang tau. Jadi, jangan pernah takut ya buat melangkah!
Oke, sekian deh. Semoga readers sekalian jadi termotivasi ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s